Kitab Naga Sakti

Kitab Naga Sakti
7.KNS


__ADS_3

Hari mulai beranjak siang, angin bertiup rapi menghempas daun-daun pepohonan. Di tengah hutan, Kaesang berjalan perlahan menyusuri jalan setapak.


Ia merasakan hawa dingin di punggungnya. Merasa ada seseorang yang terus mengikutinya setelah keluar dari padepokan. Ia terus berjalan dengan sesekali terus menoleh kebelakang, dan mengalihkan pandangannya ke sekeliling hutan. Semua tampak sunyi, hanya terdengar suara kicauan burung hutan. Akan tetapi nalurinya sangat tajam. Dia merasakan pasti ada orang yang sedang bersembunyi dan terus mengawasinya.


DIa terus berjalan sampai ke sungai kecil di bawah tebing. DIa melihat sekeliling, namun belum terlihat sosok sosok yang mengikutinya. Kaesang berjongkok di tepi sungai, Diaa memasukan tangannya kedalam air. Dengan tangannya, Dia meminum air sungai yang jernih itu. Dia juga membasuh wajahnya, terasa sejuk. Seketika hilang rasa haus dan lelahnya selama berjalan menyusuri hutan.


Kaesang pun duduk bersila untuk membuka bekal makanan yang di bawanya. Dengan duduk beralaskan daun kering perlahan Dia bersantap. Sembari menikmati hembusan angin, dan pemandangan sungai kecil di hadapannya.


Suiitt. Suuitt.


Kaesang bersiul-siul sembari melihat sekeliling. Dia merasa harus waspada, siapa tau sosok yang mengikutinya muncul.


Selang beberapa waktu, setelah suara siulannya menghilang terbawa angin.


Wuusss.


Angin dengan kencang berhembus dan seketika muncul 2 orang dihadapan Kaesang. Kaesang terjingkat kaget, dia melihat dua orang yang ada di hadapannya dengan tajam. Jarak mereka lima langkah kaki orang dewasa.


Dua orang dengan pakaian warna merah, dengan membawa golok dan celurit. Satu berbadan tinggi dan yang satunya gempal.


Berdasarkan rumor, mereka sering merampok bahkan banyak membunuh orang orang tak bersalah. Julukan mereka ialah, si SETAN MERAH.


"Hei anak muda! Apakah istirahat mu sudah selesai? " Tanya salah satu dengan menyeringai.

__ADS_1


"Sudah. Maaf, siapakah Kisanak berdua ini? Tiba tiba muncul mengagetkan orang saja." ujar Kaesang merendah dengan senyuman kecil.


"Tak perlu tau nama kami, tetapi perlu kau ingat! Kau sedang berhadapan dengan Si Setan Merah. " ujar Si tinggi dengan nada tak bersahabat.


"Ya, baiklah jika begitu. Tetapi ada maksud apa Tuan Kisanak menemui saya ini? Tanya Kaesang dengan tenang.


"Jangan banyak tanya! Cepat kau serahkan Kitab Naga Sakti kepada kami" gertak Si gempal.


Kaesang yang mendengar ucapan Si setan merah merasa terkejut. Namun sebenarnya ia sudah menduga pasti karena kitab naga sakti. Wajah Kaesang yang terlihat tenang, ia masih duduk santai walau Setan merah meng-gertaknya.


"Saya tidak tau apa yang di maksudkan Kisanak ini " Dengan santainya.


"Jangan main-main nak, cepat serahkan kitab itu!


"Sungguh! saya tidak main-main dengan Kisanak " dengan nada santai merendah.


"Anak muda ini! " Si gempal mengepalkan tanganya merasa sudah habis kesabaran. Namun di hentikan oleh Si tinggi.


"Hei nak, sebaiknya kau bekerja samalah. Jika kau berikan kitab itu, maka aku akan membiarkan kau pergi dengan selamat " ujar Si tinggi tenang.


"Membiarkan ku pergi dengan selamat!? Kaesang mengucapkan dengan menyeringai.


"Lucu sekali kisanak berdua ini!" lanjut kesang lirih.

__ADS_1


"Jujur saja, aku tak punya Kitab Naga Sakti itu. Jadi, lebih baik Kisanak berdua yang pergi dengan selamat " ketus Kaesang sangat mantap.


"Lancang! "Sahutan Si gempal.


"Nyali mu besar juga ya anak muda. Pantas saja kau berani mencuri kitab itu! " Si tinggi dengan tenang berucap.


"Terimakasih atas pujian Kisanak, tetapi kau bisa tarik kembali ucapan pencuri itu? Aku tidak melakukannya. " kembali tenang Kaesang menjawab.


Tidak?


"Jelas-jelas teman seperguruan mu mengatakannya. Lalu dimana kau sembunyikan kitab itu?


Lebih baik serahkan saja! " desak Si tinggi.


"Maksud Kisanak, murid padepokan Tunggal Kecher yang berkata padamu?" Tanya Kaesang pura-pura penasaran.


"Iya, mereka bilang kau mencuri dan membawa lari kitab Naga Sakti. " jawab Si tinggi.


"Kisanak telah di bodohi!" Sahut Kaesang menunjuk kearah Setan merah.


Kaesang yang dengan tenang mengatakan bahwa Setan merah telah di bodohi. Setan merah yang melihat reaksi wajah Kaesang, mulai percaya dengan ucapannya. Si setan merah mulai ragu-ragu dengan tindakan mereka tersebut.


Bersambung.

__ADS_1


#*A*mpun kesupen LIKE and klik ♡


__ADS_2