Kitab Naga Sakti

Kitab Naga Sakti
18.KNS


__ADS_3

***


Di dalam PADEPOKAN SEDAYU.


"Guru, Guru."Suara teriakan se-orang lelaki dengan nafas tidak beraturan. Dia berlari kearah seorang lelaki berumur 50 tahunan.


"Ada apa? " tenang jawab lelaki tua itu.


"Sona." Hah. Hah. Hah.


Bernafas menggunakan mulutnya.


"Kau sebaiknya mengatur nafas mu terlebih dahulu. " perintah lelaki tua yang mengenakan ikat kepala, beserta pakaian serba putih.


Selang beberpa waktu.


"Maaf karena sudah tidak sopan, Guru." Kembali murid itu berbicara  dengan tenang.


"Apa yang ingin kau sampaikan? " tanya Guru dengan sabar.


"Sona,


"Ada apa dengan Sona? " menatap kosong kepada muridnya.


"Sona kembali membuat masalah di desa, aku dengar kalau Sona pergi keluar menyelinap dari padepokan bersama Trio. " merasa gugup.


"Lalu dimana anak itu sekarang?


"Tidak tahu, mereka berdua belum kembali. Mungkin sedang di perjalanan menuju padepokan. "


Lanjut anak muda itu, merasa khawatir.


"Lalu, dengan siapa dia berkelahi hari ini?" Lelaki itu masih tenang.


"Kalau tidak salah, penduduk desa menyebut nya, PASANGAN EDDAN."


hmm, kenapa mendadak aku lupa nama mereka.


Batin pemuda itu terlalu panik sampai lupa akan nama Si pendekar.


"Iya, itu Guru."


Katakan saja begitu lah


Batin anak muda itu lagi setelah berusaha untuk mengingatnya. Namun tetap lupa.


"Ki bargo, Nyi sami? Suami Istri itu.


Pergi cari Sona dan Trio, sekarang ! " keras perintah lelaki yang di panggil Guru itu yang mulai merasa khawatir.

__ADS_1


Anak muda itu lekas memberi hormat, lalu lekas berjalan pergi. Dengan perasaan khawatir membuat langkah kaki nya semakin di percepat. Sampai di depan pintu masuk Padepokan. Tiba tiba langkah kaki nya terhenti. Pandangan nya tertuju kepada sekelompok orang orang yang berjalan menuju kearah nya. Dengan cepat dia menyadari salah satu dari mereka yang sedang menunggangi kuda.


"Bukan kah itu Trio? " pertanyaan terucap di mulutnya pelan.


Semakin dekat mereka, semakin anak muda itu yakin. Bahwa yang dilihatnya benar benar adalah Trio. Seketika anak muda itu berlari meng-hampiri mereka.


Dia mencoba menghentikan langkah mereka. Namun kereta kuda itu terus berjalan melewati nya. Namun Trio bersama dengan kuda nya berhenti. Dengan rasa ingin tahu yang kuat, anak muda itu segera bertanya kepada Trio.


Karena tidak dilihatnya kemunculan Sona.


"Dimana Den Sona?" ujar anak muda yang dikenal dengan sebutan Priyono.


"Dia berada di dalam tandu itu. " menunjuk ke arah tandu yang sudah masuk kedalam Padepokan Sedayu.


"Apakah lukanya begitu parah, sampai harus menggunakan tandu?"


wajahnya meng-gambar kan ke khawatiran setelah mendengar ucapan Trio.


"Tentu, sebaiknya cepat minggir.


jangan halangi jalan ku, aku harus segera memberitahu Guru."


Dengus Trio merasa terganggu oleh Priyono yang berdiri meng-hadangnya.


Mendengar suara Trio yang keras. Seketika membuat Priyono berpindah beberapa langkah dari tempatnya. Trio pun lekas pergi,  ia mehentakkan kedua kakinya pada kuda yang di tungganginya itu. Meninggalkan Priyono yang masih berdiam diri.


Karena, bagi murid-murid Padepokan Sedayu. Ini bukanlah kali pertama Sona terluka karena perkelahian atas kenakalannya.


"Kalian, kemarilah. Bantu aku untuk meng-angkat seseorang." Ujar Sona kepada murid-murid Padepokan yang mengelilinginya.


"Seseorang?"


Terdengar pelan suara murid-murid itu saling menatap dan saling bertanya dengan murid lainnya.


"Iya, cepatlah."


Tegas Sona sudah tidak sabar.


"Baik, baik."


Segera beberapa murid lekas membantu Sona. Untuk mem-bopong tubuh lelaki muda yang tidak mereka kenali. Menuju ke dalam sebuah ruangan.


Tidak lama datang Trio setelah meng-ikat kudanya. Dia bergegas menghampiri Sona dengan langkah kaki yang cepat. Bersamaan dengan itu. Tanpa sepengetahuan Sona dan Trio. Ayah Sona sudah berada di belakang mereka berdua.


Mereka berdua sangat terkejut melihat Ayah yang tiba-tiba sudah berdiri tepat di belakang mereka. Seketika Sona dan Trio memberi salam dengan mem-bungkukkan badan. Ayahnya hanya terdiam. Lelaki tua itu berjalan masuk kedalam ruangan dimana Kaesang di baringkan.


Dengan rasa penasaran yang tinggi. Di dekati tubuh Kaesang yang terbaring itu. Dilihatnya dengan jelas kalau Kaesang dalam keadaan terluka. Dengan tenang, perlahan dirobeklah pakaian kaesang yang sudah koyah itu. Dan setelah robek, dilihat olehnya dada Kaesang yang memar biru.


"Pindahkan anak muda ini ke ruangan pengobatan. Sekarang!"

__ADS_1


Perintah Ayah Sona setelah membalikkan tubuhnya.


Melihat tindakkan Sang Bopo. Membuat Sona yakin, bahwa luka anak muda ini sangatlah parah hingga harus segera diobati. Dengan cepat Kaesang segera dipindah kan ke ruangan pengobatan khusus Padepokan SEDAYU. Setelah semua bahan obat telah disediakan. Pemimpin padepokan me-merintahkan, agar semua orang keluar dari ruangan itu.


Lelaki tua yang dikenal dengan sebutan Ki Mbangun Rekso. Dia terkenal karena keahliannya dalam meramu obat, menyembuhkan luka dalam. Meramu racun dan penangkal nya. Bahkan dia sempat menjadi tabib di dalam Istana.


Dengan pikiran yang tenang.


Ki Mbangun Rekso mulai meracik bahan untuk membuat ramuan obat. Dia sangat hati-hati dalam setiap meramu obat. Setelah selang waktu yang cukup lama. Ramuan obat pun selesai dibuat. Setelah itu Ki Mbangun Rekso mulai membuka baju Kaesang. Dibasuhnya tubuh Kaesang dengan kain yang sudah dibasahi air hangat. kemudian dengan sabar dan telaten. Tangan Ki Mbangun Rekso mulai mengoleskan ramuan itu ke dada Kaesang. tepat di tempat lukanya.


Hari berlalu sangat panjang. Ki Mbangun Rekso keluar dari kamar Kaesang saat matahari mulai tenggelam. Di depan bangunan itu sudah ada Sona dan Trio beserta Priyono yang menunggu.


Setelah menutup pintu. Dia melesatkan pandangan tajam ke arah Sona. tatapan itu sangat lama hingga membuat Trio ikut menundukkan kepalanya.


"Kalian berdua tidur di sini. Jaga anak ini sampai lukanya pulih. kalau badannya berkeringat, harus segera dilap dengan kain basah.


Begitu perkataan Ki Mbangun Rekso.


"baik, Bopo. baik, guru." bersamaan Sona dan Trio.


Setelah mengucapkan kalimatnya. Lekas Ki Mbangun Rekso meninggalkan mereka berdua. Dia berjalan menuju kediamannya. Tanpa ragu Priyono mengikuti langkah Sang Guru di belakang nya. sampai di depan pintu kediaman Sang Guru. Tiba tiba Priyono terhenti karena tubuhnya membentur sesuatu.


"Sampai kapan kau akan berjalan di belakang ku?


"Maaf, Guru!" segera bangkit dari tanah.


"Kembali ke ruang pengobatan. tetap di sana, bantu Sona menjaga anak muda itu sampai lukanya sembuh.


"Baik, Guru."


Guru pun lekas masuk ke dalam kediamannya. Dan menutup pintu dengan segera. Priyono lekas menuju tempat pengobatan dengan terus menggerutu.


"Kenapa tidak bilang dari tadi saat di sana. Sudah berjalan sampai kediaman nya. Guru baru berkata seperti itu." Dengan wajah kesal yang terlihat bodoh.


Kaki ku sampai sakit untuk berjalan.


sebaiknya aku duduk dulu disini.


Batin Priyono mulai duduk di bawah pohon rindang.


#Bersambung >>


Jangan lupa klik suka dan favorit ♡♡♡


Dukungan kalian sangat membantu.


Beri like, favorit dan berikan ratting.


Terimakasih pembaca tercinta ku.

__ADS_1


__ADS_2