Kitab Naga Sakti

Kitab Naga Sakti
26.KNS


__ADS_3

#Kesabaran senopati Gondo yang sedang di uji.


.


.


Senopati Gondo menunggu ketiga saudara dari lembah katak. Agar menyerah kan kembali keris nya. Dia duduk bersila dengan tenang. Di lihat ketiga saudara itu sangat berjuang keras. Untuk mempertahankan agar keris itu tetap berada di genggaman mereka.


Seluruh kekuatan dengan tenaga dalam mereka telah di keluarkan. Lalu membaca semua ajian yang mereka miliki. Namun keris itu tetap terasa berat. Dan semakin mereka berusaha semakin keris itu terasa panas.


Sesekali kakak tertua melihat ke arah senopati gondo. Di dalam hati nya, ia sangat ingin membunuh lelaki itu. Namun mau bagaimana? keris nya saja dia tidak sanggup untuk menakluk kan. Apa lagi membunuh pemilik nya. Sekarang kakak tertua baru lah sadar. Bahwa lelaki yang sedang duduk bersila itu. Bukan lah orang biasa, dan bukan tandingan untuk mereka. Kakak tertua pun memutar otak. Mencari akal agar bisa kabur dari senopati Gondo.


*Beberapa waktu kemudian.


"Bagaimana? sudah begitu lama.


Belum puas mencoba nya?


Sudah punya cara untuk menaklukkan keris milik ku? || senopati memandang mereka dengan tatapan biasa. Masih menahan diri.


"Aku akui, kau sangat lah hebat kisanak! Kami bertiga bukan tandingan mu. || kedua adik nya terkejut mendengar ucapan kakak tertua nya.


"Kakang!? || ujar kedua adik serentak.


Kakak tertua itu meng-isyarat kan agar kedua adik nya diam. Mereka pun menuruti perintah nya.


Kedua adik nya merasa heran dengan tindakan kakak pertama nya itu. Biasa nya dia sangat keras kepala. Kenapa sekarang dia menyerah dengan mudah. Padahal tadi, dia begitu bersemangat.


"Kalau begitu,


sekarang! kembalikan keris itu padaku. || perintah senopati kepada ketiga bersaudara.


"Tunggu tuan kisanak. || dengan nada memohon.


"Ada apa? Enggan? Masih tidak mengakui perbuatan salah kalian?"


"Bukan begitu, kisanak. || menunjukkan wajah memelas.


Senopati Gondo diam sejenak. Di perhatikan wajah lelaki itu yang penuh dengan kepalsuan. Namun senopati masih menahan diri. Dia ingin tau!sampai mana ingin lari dari masalah yang di perbuat oleh mereka sendiri.


"Keris ini terasa begitu berat dan panas. Kami sudah tidak sanggup membawa nya. || senopati menatap dingin tanpa berucap.


"Ah, maaf kisanak. || merasa tertekan melihat raut wajah senopati yang berubah.


"Mohon agar kisanak, menghilangkan kan terlebih dahulu ajian nya. Agar, aku bisa menyerahkan keris ini sendiri, kepada kisanak. || senopati masih tenang dengan tatapan dingin.


Wajah senopati yang tidak menunjukkan rasa curiga. Memberikan harapan tinggi untuk ketiga bersaudara kabur. Setelah melihat situasi. Kakak pertama mulai membisikkan rencana yang ia miliki, kepada kedua adik nya.


Sebentar di baca rapalan oleh senopati. Seketika keris itu normal kembali. Tidak terasa panas dan tidak terasa berat. Senopati bersabar menunggu agar ketiga saudara itu mengembalikan keris nya. Dan memohon maaf atas tindakan mereka.


Tetapi, setelah ajian pada keris itu di lepas. Ketiga saudara itu segera melarikan diri. Mereka terbang dengan cepat ke arah wetan (timur).


Senopati Gondo menghela nafas panjang. Dan hanya tersenyum kecil melihat mereka telah melarikan diri. Dengan tenang tanpa rasa peduli. Dia bangkit dari duduk nya. lalu kembali ke rumah penginapan.


.


.


***


Di hutan yang gelap, hanya cahaya rembulan yang menyinari.

__ADS_1


Karena memiliki ajian peringan tubuh. Ketiga saudara dapat terbang di udara. Melompat ke setiap dahan pohon. Melayang dengan ringan, layak nya daun kering yang terhempas angin.


Sesekali salah satu dari mereka menengok ke belakang.


Takut kalau kisanak pemilik keris itu akan menyusul.


 "Apakah lelaki itu sudah mengejar atau belum. Harus kabur lebih jauh lagi!. Jangan sampai tertangkap!."


Kata-kata ini yang terus ber-putar putar di dalam kepala ketiga bersaudara. Perasaan takut, gelisah, waspada, dan lelah. Bercampur aduk menjadi satu.


.


***


Waktu menunjukkan sepertiga malam. Di tengah hutan.


Mereka melarikan diri cukup jauh. Sudah begitu lama. Tetapi lelaki itu tidak mengejar juga. Kakak pertama memutus kan untuk berhenti. Sesuatu yang tidak terduga pun terjadi.


"Kita istirahat di sini! || aku berkata kepada kedua adik ku. Mereka pun meng-iakan.


"Kakang! || seru adik ketiga membuat aku seketika menoleh.


"Ada apa? "


"Kenapa keris nya sama sekali tidak terasa panas dan sangat ringan!? || adik ketiga meng-genggam keris yang baru saja aku letak kan di dadaku.


"Seketika aku tersadar, ini terasa aneh. Lelaki itu sangat hebat? tetapi sama sekali tidak mengejar. Bahkan sudah sampai sejauh ini, dia tidak muncul. Apa dia menaruh jebakan? tetapi tidak ada yang terjadi. keris? masih sama.


Ahh- biarlah. sekarang istirahat dulu. Hooaaam . . aku mengantuk sekali.


"Di-am, jangan ngoceh terus!


Aku genggam dan peluk keris itu di atas dada. Membawa nya tidur bersama, memberikan rasa aman. Dan waktu terus berjalan, ketiga bersaudara itu pun sudah tertidur lelap.


.


.


***


Pagi hari di dalam hutan.


Cuuiiit . . . Cuuiit . . . Cuit.


Suara burung-burung kecil yang begitu indah. Terbang kesana kemari, hinggap di dahan pohon. Mencari buah-buahan, biji-bijian untuk di makan.


Sraaakk . . . Sraaakk . . . Sraaakk .  .


Satu biawak lewat di depan ketiga saudara yang masih tertidur. Besar nya se-ukuran kaki orang dewasa. Biawak menengok ke arah mereka. Melihat salah satu dari mereka ada yang meng-gerakkan kaki nya. Lantas biawak itu lari dengan cepat.


Wuuhss . . Wuush . . Wuuushh . .


Angin berhembus pelan. Menerpa dedaunan kering. Angin yang terasa dingin di pagi hari. Serta hawa sejuk dari sisa embun semalam. Membuat ketiga bersaudara semakin ingin tidur lebih lama.


Namun matahari sudah muncul sedari tadi. Cahaya nya menyilau kan. Menembus sela-sela dedaunan dan dahan pohon pohon besar. Sampai ke wajah ketiga lelaki itu. Ketiga nya saling merenggangkan tangan secara bergantian.


"Huh, punggung ku sakit sekali. || meng-usap punggung nya dengan lembut.


"Sampai ka-pan? terus tidur beralaskan tanah seperti ini! || seketika kedua kakak nya menatap tajam.


"matilah aku, salah bicara lagi!"

__ADS_1


Adik ketiga merasa tertekan dengan tatapan kedua kakak nya. Lantas dengan wajah tegang, dia berusaha untuk senyum. tetapi masih terlihat palsu.


"Huh, ka-kang. Aku hanya guyon jangan di anggap serius! sung-guh!!."


Kedua kakak nya segera membuang wajah. Adik ketiga merasa bersalah. Dia menyadari keris yang di pelukan kakak tertua nya telah hilang.


"kakang! dimana keris itu? || kakak tertua nya masih melantur karena bangun tidur.


"kakang keris nya tidak ada. || setelah mencari sekeliling.


Kedua adik itu mencoba membangun kan kakak tertua nya.


"PLakkkk" suara tamparan yang di layangkan oleh adik kedua kepada kakak pertama.


"Kalian adik edan!!!


kenapa memukul aku? || mata nya langsung terbuka lebar karena kaget.


"keris nya hilang? || jelas kedua adik dengan rasa tidak percaya.


"hilang!?? || melihat tangan nya, dada nya. membalik kan tubuh nya, lalu kakak pertama bangkit dari tanah. Di sibak kan pakaian nya. tetap tidak di temukan keris itu.


Wajah nya menandakan akan kemarahan. Mata nya menatap tajam, seperti mau keluar. "Berengsek!" ungkapan dari dalam hati untuk senopati Gondo.


"kembali ke Lembah Katak, kita beritahukan ini kepada guru! "


"Baik, kakang! || Mereka lekas berjalan kembali untuk menemui guru nya.


Dalam perjalanan kembali ke Lembah katak. Tiba-tiba kakak pertama merasa kedua tangan nya sangat gatal. Dia garuk tangan itu saat perjalanan.


Selang beberapa waktu. Kedua adik nya juga merasakan gatal di kedua tangan mereka. "ada apa ini?" pertanyaan ketiga bersaudara itu sama.


"kenapa tiba-tiba tangan ini menjadi gatal sekali? || ujar kakak pertama terus meng-garuk tangan nya.


Karena masalah ini perjalanan mereka berhenti. Ketiga bersaudara itu masih sibuk dengan tangan nya yang terasa gatal.


"kenapa tangan ini jadi sangat gatal, tidak tahan lagi. Rasa nya gatal, seperti kesemutan. aku tidak bisa menahan nya lagi. bagaimana dengan kedua adik ku. mereka juga merasakan hal yang sama."


Karena tidak sanggup menahan rasa gatal. mereka memutuskan untuk segera kembali. Berharap guru nya dapat menyembuhkan tangan mereka.


Sudah satu hari dalam perjalanan. Rasa gatal itu masih terasa sama. Tidak di sadari banyak bintik bintik hitam muncul. Dalam sehari itu bintik hitam membesar. Sebesar biji jagung. lalu meletup mengeluarkan nanah.


Setelah sehari mereka sampai di Lembah katak. Guru nya sangat terkejut. melihat keadaan tangan ketiga murid kesayangan nya itu.


.


.


.


.


.


#Bersambung>>


♡Jangan lupa LIKE dan klik ♡ untuk pembaca baru.


♡Jika kalian bersedia. silahkan vote novel ini.


♡IKUTI GRUP SAYA, DAN DAPATKAN HADIAN POIN SECARA REBUTAN DI DALAM NYA.

__ADS_1


__ADS_2