
Lembah Katak, menjelang sore.
Ketiga bersaudara sudah sampai di Lembah katak. Mereka segera menghadap Sang Guru yang tidak lain juga Ratu dari Lembah Katak.
"Kalian sudah kembali?"
Tanya wanita berparas ayu. Yang duduk di singgah sana.
Wanita ini adalah manusia setengah setan. Nama besar nya sudah tidak di ragukan lagi di kalangan aliran hitam.
Sering menculik gadis perawan untuk tumbal agar tetap awet muda.
Dia adalah Ratu di Lembah katak ini. Sekaligus Guru bagi murid-murid nya. Nama besarnya adalah Nyi Paraswati.
Kembali ke tiga bersaudara.
Mereka duduk bersila di bawah singgah sana. Dengan segela hormat yang mereka tunjukkan.
"Maaf Ratu, kami bertiga belum menyelesaikan tugas yang Ratu berikan." Begitu ujar kakak pertama merasa takut.
Ratu sedikit kecewa. Namun dia mempertanyakan alasan nya. Kenapa? Apakah sesulit itu untuk mendapat kan Kitab nya. Tatapan tajam yang begitu menusuk di lesatkan Sang Ratu.
"Mohon ampuni ketidak becusan kami Ratu." Seketika bersujud memohon ampun berulang-ulang kali.
Ketika mereka bersujud di hadapan Ratu. Mata Ratu tertuju kepada tangan ketiga murid nya. Apa yang telah terjadi dengan tangan kalian?. Begitu tanya Ratu dan menghampiri ketiga bersaudara. Ketiga bersaudara masih dalam keadaan bersujud.
"Bangun, biar aku lihat tangan kalian."
Perintah Ratu keras.
Ketiga nya lekas bangkit. Di lihat tangan mereka dengan jelas. Sangat menjijikkan seperti luka bakar.Penuh memar dan nanah. Bintik hitam yang berisi nanah di dalam nya. Ada yang sudah meletub. Semua luka itu menutupi seluruh lengan. Bahkan ada salah satu kuku mereka yang terlepas. Darah yang masih menempel di bekas luka. Menambah rasa jijik Sang Ratu saat melihat nya.
"Bagaimana rasa nya? "
__ADS_1
"Sangat gatal." singkat jawab mereka.
"Penyakit apa ini? Apa lelaki yang kalian ceritakan padaku yang melakukan ini?" wajah Ratu terlihat marah.
"Kita tidak yakin Ratu."
"Baik lah, biar aku melihat nya. Seperti apa lelaki yang melukai kalian."
Ratu berjalan ke tempat per-sembahyangan. Duduk bersila di depan tungku kecil. Arang yang merah membara ada di dalam nya. Menaburkan sesuatu yang telah di genggamnya. Asap dari tungku itu pun semakin tebal. Sang Ratu merapal mantra. Sesaat terlihat lelaki yang sedang menunggangi kuda. Dia masuk ke sebuah bangunan tertulis di pendoponya "Padepokan Tunggal Kecher". Ratu memperlihatkan itu kepada ketiga murid nya. Dan bertanya kepada mereka.
"Apakah dia lelaki yang kalian maksud?"
Mereka segera mengangguk setelah melihat wajah Senopati Gondo di asap itu. Ratu menyudahi kegiatan nya. Dan mencari tau penyebab luka pada lengan ke 3 muridnya. Segera di perintahkan mereka untuk keluar dari tempat itu. Ratu mulai mencari jawaban untuk cara mengobati luka muridnya. Dengan menaburkan sesuatu benda lagi ke tunggu yang berisi arang.
Padepokan Tunggal Kecher.
Tuk tak. tuk tak. tuk tak.
Senopati Gondo tetap bersikeras ingin menemui Sang Maha Guru. Dia meminta dengan sopan. Tetapi kedua murid itu tetap menolak. Senopati dengan rendah hati. Sekali lagi meminta mereka untuk menemui Pimpinan Padepokan. Untuk mengatakan kalau ada utusan dari Kerajaan.
HAHAHA
Begitu tawa kedua murid sangat keras di hadapan Senopati Gondo. Senopati geram melihat kelakuan dua murid ini.
Setelah selesai dengan tawa yang menghina. Kedua murid itu menuduh Senopati Gondo sebagai Pendekar aliran hitam. Mereka berkata jika Senopati ingin merebut Kitab Naga Sakti. Dan bermaksud buruk kepada Maha Guru.
Senopati Gondo memaklumi perlakuan kedua murid itu. Mungkin itu adalah perintah dari pemimpin Padepokan atau perintah sang maha guru. Dengan rendah hati Senopati Gondo meminta kepada kedua murid untuk menyampaikan pesannya kepada sang maha guru. Bahwa dia adalah seorang Senopati dari kerajaan Mohotegguh. Diutus untuk menjemput seseorang murid dari Padepokan Tunggal Kecher.
HAHAHA
Sekali lagi kedua murid itu tertawa keras. Dan mengira kalau perkataan lelaki di hadapannya itu adalah kebohongan. Dan hanya bualan agar bisa memasuki Padepokan Tunggal Kecher dengan mudah.
"Sampaikan dulu pesanku kepada Maha Guru baru kalian akan tahu siapa diriku sebenarnya ".
__ADS_1
Mereka berdua masih tidak yakin dengan perkataan lelaki di hadapannya. Mereka menatap satu sama lain, lalu berbalik badan mem-belakangi Senopati. Berbicara bisik-bisik tentang masalah ini. Kedua murid sepakat untuk mengusir lelaki yang di belakang mereka. Setelah selesai, kedua murid kembali berbalik arah ke Senopati Gondo. Tatapan dingin yang hanya di berikan Senopati.
"Lewati kami terlebih dahulu, jika kisanak ingin pergi menemui Maha Guru." Begitu ujar salah satu murid.
Perkataan kedua murid itu adalah sebuah tantangan. Senopati Gondo hanya mengangguk setuju dengan mereka. Belum selesai dengan kata-katanya. Kedua murid sudah menyerang bersamaan. Senopati dengan cepat menghindar. Kekiri kekanan, mundur sampai terbang ke udara.
Melawan dua murid ini hanya dengan waktu singkat sudah membuat mereka tumbang. Bahkan 1000 murid pun mampu di hadapi oleh Senopati. Jika kemampuan nya sama seperti kedua murid ini.
Di kediaman Maha Guru.
Kedua murid tadi akhirnya membawa Senopati untuk menemui Maha Guru. Selama perjalanan menuju kediaman Maha Guru. Semua mata murid-murid menatap tajam. Mengarah ke Senopati Gondo yang mengikuti kedua murid.
Akhirnya Maha Guru keluar dari kediaman nya.
Senopati di persilahkan untuk masuk ke dalam kediaman Sang Maha Guru. Senopati duduk di ikuti oleh Maha Guru. Seorang wanita separuh baya keluar meletakkan kendi air di atas meja. Juga meyuguhkan jaggung rebus dan sekeranjang buah segar. Wanita yang menyebut dirinya sebagai istri Sang Maga Guru. Mempersilahkan tamu nya untuk menyantap makanan di meja. Senopati mengangguk sungkan.
"Ada perintah apa dari sang Raja? sampai mengutus seorang Senopati datang kemari." tanya Maha Guru.
"Hamba di perintah untuk menjemput Raden Kaesang. Untuk memboyong nya ke Kerajaan."
Maha Guru tertegun, dia mengira Kaesang sudah sampai di Kerajaan. Tetapi sekarang Raja mengutus seseorang untuk menjemput anaknya.
Kaesang kemana? sudah 1 setengah purnama masih belum sampai di Kerajaan. Apakah terjadi sesuatu pada dirinya. Terlalu banyak penggangu yang datang kemari. Sampai aku lupa melihat keadaan putra ku.
Sebentar Maha Guru memejamkan kedua matanya. Dalam bayangan dia melihat Kaesang yang berada di sebuah Padepokan.
#Bersambung⏩
Terimakasih atas dukungan nya.
Berikan Like, Ratting dan klik Favorite. Novel ini sedang saya ikut sertakan dalam Lomba Menulis Season 3.
MOHON DUKUNGAN KALIAN.
__ADS_1