Kitab Naga Sakti

Kitab Naga Sakti
30.KNS


__ADS_3

Perjalanan menuju Kerajaan Mahategguh.


Tuk tak Tuk tak.


Suara langkah kaki kuda yang berlari kencang. Memasuki sebuah desa yang ramai penduduk. Dari hutan kecil yang baru saja mereka lewati. Sudah banyak melihat penduduk desa yang berjalan kaki.


Senopati Gondo dan Kaesang sudah sehari semalam melakukan perjalanan. Dari Padepokan Sedayu mereka berangkat sebelum fajar datang. Berpamitan dengan Ki Mbangun Rekso. Kaesang sangat berterimakasih atas bantuannya. Karena sudah menyembuhkan lukanya. Tidak lupa berterimakasih kepada Sona dan Trio. Karena mereka yang membawa Kaesang ke Padepokan Sedayu.


Hari sangat terik, panas matahari menyengat sampai terasa menembus kulit. Mereka berdua sudah memasuki pasar didesa itu.


"Pencuri, pencuri, pencuri! Cepat kejar!" segerombolan bapak-bapak mengejar seorang pencuri. Mereka orang-orang pasar. Sebagian pedagang, dan sebagian pembeli.


"Cepat! dia lari kesana."


Teriakan mereka terdengar oleh seluruh orang didalam pasar itu.


Suaranya sangat keras, dan saling bersahutan. Kaesang dan Senopati juga mendengar itu. Mereka melihat seorang anak laki-laki lari kearahnya. Beberapa lama kemudian disusul orang-orang pasar itu yang mengejarnya.


Gubrak.


Anak laki-laki itu menabrak seorang pedagang yang sedang membawa buah pisang. Menggunakan keranjang bambu yang diangkat diatas bahu. Menggunakan sebatang kayu panjang.


"Tangkap anak ini. Ayo! Kita bawa dia ke Kepala desa. Biar tau rasa anak ini." Kata salah satu lelaki yang ikut mengejar.


"Kita pukuli saja sekarang. Tidak perlu lapor-lapor." Kata salah satu pemuda yang sudah memukulnya.


Diikuti oleh penduduk yang lain. Ada yang memukul dengan tangan, menendangnya. Bahkan ada yang menggunakan sapu lidi. Ada yang menggunakan selendang yang dia bawa. Mereka begitu semangat memberi anak itu pelajaran. Tanpa rasa belas kasih sedikit pun. Orang-orang yang melihat kejadian itu hanya diam tak bergeming. Hanya kata "Kasian sekali anak itu!" tetapi tidak menolong.


Buk, bak, Buk bak, Buk.


Anak laki-laki itu menunduk,menutupi kepalanya. Sekarang dia tersungkur ditanah. Masih berusaha melindungi kepalanya.


Kalau dilihat dari tindakan anak itu. Sepertinya dia sudah pernah mengalami ini sebelumnya. Sampai dia bisa tau melindungi kepalanya terlebih dahulu. Jika di pukuli seperti itu.


"Paman?"


Panggil Kaesang kepada Senopati.


"Ya Raden. Ada apa?"


"Tolong berhenti sebentar!"


Senopati menghentikkan kudanya melihat Raden Kaesang.


Melihat Senopati berhenti, dia pun turun dari atas kuda. Dia berlari kearah anak laki-laki itu. Mencoba membubarkan sekerumpulan orang-orang yang memukuli anak laki-laki yang di sebut pencuri.

__ADS_1


"Berhenti!" Ucap Kaesang tegas.


Semua penduduk memandang kearahnya. Melihat anak muda yang cukup gagah berdiri tegap.


Mereka menghentikkan kegiatan itu sementara.


"Siapa kamu?" Tanya salah satu lelaki yang umurnya sekitaran 30-an.


"Iya siapa kamu, berani-beraninya menyuruh kami." Susul temannya yang lain ikut bicara.


"Saya Kaesang. Maaf kalau boleh tau, sebab apa paman sekalian memukuli anak ini?"


Tanya Kaesang dengan sopan.


"Dia adalah seorang pencuri. Dia sering mencuri dipasar ini, baru kali ini saja dia bisa tertangkap."


Jelas lelaki yang kali pertama bicara.


"Betul, dia sering mencuri dipasar ini. Sekarang Apes kamu!"


Ucap lelaki yang lain lagi memaki anak laki-laki itu.


"Kalau dia benar mencuri. Seharunya kalian membawanya ke Kepala desa atau Adipati. Kalau perlu! laporkan ke Kerajaan."


"Dan paman sekalian tidak perlu repot-repot mengotori tangan untuk memukulnya, bukan?"


Ucap Kaesang menambah kegusaran untuk penduduk yang sudah memukuli pencuri itu.


"Memangnya kenapa kalau kami memukulnya. Ini sebagai pelajaran untuk anak ini. Lagi pula kamu ini siapa, huh? Anak muda tidak tau apa-apa. Berani-beraninya ikut campur urusan kami."


"Betul, pakai sebut-sebut Kerajaan segala. Memangnya orang di Kerajaan itu peduli dengan kami wong cilik ini. Ngomong ngawur aja!"


"Yah, terserah paman mau bicara apa soal Kerajaan. Aku juga belum pernah melihat orang didalamnya."


Jawab Kaesang terdengar aneh di telinga mereka.


"Ayo bangun, saya bantu!"


Kaesang berjalan menuju anak laki-laki itu. Mengulurkan tangan membantunya untuk bangkit.


Kaesang memapah anak itu disampingnya. Mereka berdua berdiri sejajar sekarang. Namun penduduk pasar itu kelihatannya tidak senang dengan sikap Kaesang. Yang sok peduli dan menjadi pahlawan kesiangan.


Kaesang tidak peduli, berjalan menjauhi orang-orang yang masih bergerombol. Mendekati Senopati Gondo yang menunggu dikejauhan. Memegangi kedua kuda mereka.


Tidak tau apa yang dipikirkan para penduduk dipasar ini. Mereka marah dan mulai menyerang Kaesang begitu saja. Mungkin tidak terima dan merasa terhina oleh anak kecil. Yang sama sekali bukan penduduk desa ini.

__ADS_1


"Dasar anak muda tidak tau sopan santun! Suka ikut campur urusan orang lain!" Ucap paman yang pertama bicara.


"Ayo kita hajar dia sekalian, biar tau sopan santun."


"Iya betul, Ayo!"


Segerombol orang-orang tadi sudah mengepung Kaesang. Bersiap menghajarnya. Kaesang terlihat tenang-tenang saja. Anak laki-laki itu di suruhnya menjauh. Pergi kearah Senopati Gondo.


Hyaak.


Salah satu dari mereka menyerang Kaesang dengan tinjuan. Disusul penduduk yang lain dengan serangan tangan terbuka.


Wuush.


Kaesang menghindari kedua orang tadi. Cukup gesit tetapi terlihat memaksakan dirinya. Penduduk yang menyerang ini mungkin ada sepuluh orangan. Mereka memukul secara bergantian tanpa henti.


Buk, Gusraak.


Kaesang membalas juga dengan pukulan dari tangan. Salah satu orang itu tersungkur.


Melihat temannya jatuh terkena pukulan. Orang-orang ini menjadi marah. Terlihat dari tatapan mata mereka yang tajam itu. Seperti ingin membunuh Kaesang secara bersamaan.


Hyakk.


Serangan tangan dengan telapak tangan terbuka lebar. Gerakanya seperti tangan macan hendak mencakar. Tidak hanya sekali gerakan. Terus berulang-ulang sampai Kaesang berhenti menghindari.


Buk.


Ditinju tepat dihulu ati olehnya. Orang itu terpental cukup jauh. Tersungkur ketanah sambil memegangi dadanya.


Huuufft, huh. Huuuft, HUH.


Lelaki yang terpental tadi seketika sesak nafas. Dadanya jadi sesak, susah menghirup udara yang membuatnya hidup. Mukanya memerah, keringat dingin mengucur deras. Dilehernya terlihat jelas keringat itu jatuh berkali-kali.


Sebagian orang-orang itu membantunya. Sebagian masih menyerang Kaesang. Seolah dendam kareana sudah melukai temannya.


Hyakk.


Wuushh. Sekelebat lelaki gagah terbang dan serangan itu di tangkis olehnya. Dia Senopati Gondo berdiri tepat didepan Kaesang. Senopati Gondo turun tangan kali ini. Dia melebarkan tangan mengisyaratkan agar Kaesang mundur. Serahkan sisanya padanya.


Kaesang menuruti itu, kenyataan dia sudah tidak kuat lagi. Bekas lukanya belum sembuh total. Bahkan Ki Mbangun Rekso masih memberinya ramuan obat. Dan masih harus meminumnya.


Sebentar mereka semua tumbang oleh Senopati Gondo. Mereka memohon ampun kepadanya. Senopati menolak itu, menunjuk kearah anak muda. Meminta mereka memohon ampun kepada Kaesang.


Like, Komentar, kasih Ratting dan Vote ya! Terimakasih Readers ku sayang!!!

__ADS_1


__ADS_2