
Masih dalam suasana di belakang halaman kediaman Maha Guru.
Maha Guru yang masih melanjutkan cerita, tentang Ayahanda dan Ibunda Kaesang.
"Karena perawan itu dibutakan oleh rasa cinta, gadis itu mencari Dukun Sakti dan mempelajari ilmu sesat. Saat dimana Ibunda mu hendak malahirkan dirimu, gadis busuk itu menyusup kedalam Istana Kaputren dan menyamar sebagai dukun bayi."
Tiba tiba Maha Guru menghentikan ceritanya, membuat kaesang semakin penasaran.
"Kenapa berhen,
"Ahh, aku haus ambilkan air sana! " menyela perkataan Kaesang, bibir Maha Guru terlihat sangat kering karena kehausan.
"Baik Maha Guru" sahut Kaesang lalu berlari kearah dapur dan mengambil kendi berisi air, serta cangkir bambu.
Kaesang menuangkan air, dan menyerahkan kepada Maha Guru. Setelah meneguk air, Maha Guru terlihat tersenyum kepada Kaesang. Bibirnya yang kering karena haus, mulai terlihat basah. Dengan menarik nafas dalam, Maha Guru mulai melanjutkan ceritanya kembali.
"Gadis itu menyamar menjadi dukun bayi untuk Ibunda mu. Ia memberikan secangkir air berisi ramuan jahat kepada Ibunda mu. Setelah kau lahir, ia merapalkan mantra terkutuk untuk kau dan Ibunda mu. Setelah dayang dayang merasa curiga, mereka melapor kepada Ayahanda mu. Adiputra datang melihat Ibunda mu, namun gadis itu telah menghilang tanpa jejak."
Maha Guru melihat wajah Kaesang yang mendengar kan dengan seksama. Maha Guru menelan ludah nya saat ingin melanjutkan ceritanya. Terlihat sorot mata Maha Guru yang menunjukkan sedih yang mendalam.
"Lanjutkan saja Maha Guru, aku sanggup mendengarnya "
__ADS_1
ujar Kaesang dengan senyuman pahit di wajahnya. Dadanya sesak mendengat kenyataan ini.
Huh.
Maha Guru menghela nafas.
Baik lah! Disaat Adiputra sampai, terlihat Ibunda mu terbaring di ranjang dan kau ada di pelukannya. Tubuh kalian kaku dan berwarna biru, namun saraf nadi dan nafas masih berhembus. Di saat bersamaan terdengar suara gadis itu samar.
JIKA KAU INGIN ISTRI DAN ANAK MU HIDUP, MAKA! KAU HARUS MEMISAHKAN MEREKA.
JIKA KAU BIARKAN MEREKA TETAP BERSAMA, MAKA MEREKA AKAN TETAP DALAM KEADAAN SEPERTI ITU, UNTUK SELAMA-LAMANYA! HAHA HA HAHA HA HAHA HA.
SEBELUM ANAK MU BERUSIA 17 TAHUN, MAKA KALIAN TIDAK AKAN BISA HIDUP DALAM KEDAMAIAN, HA HA HA HA HA.
Terlihat Kaesang mengepalkan tangannya, raut wajahnya berubah seketika penuh amarah. Maha Guru yang melihatnya, lalu berkata.
"Tenang, gadis itu sudah mati ! Kau tidak akan bisa balas dendam."
Lalu Maha Guru tersenyum kecil, mencoba memadamkan api amarah Kaesang.
"Mati? Apa Ayahanda telah membunuhnya? Lalu kenapa aku,
__ADS_1
"Benar, Gadis itu mati. Adiputra mencari gadis itu keseluruh pelosok desa, akhirnya gadis itu di temukan di dalam Goa. Namun, gadis itu dalam keadaan tak bernyawa. lebih tepatnya dia bunuh diri. Sepertinya ia berniat membawa kutukan itu, pergi bersamanya. Karena ia menumbalkan nyawanya, untuk membuat kutukan itu berfungsi."
Mata Maha Guru berkaca kaca, mengingat kesedihan saat itu. Suasana sesaat menjadi hening.
"Saat itu Ayahanda mu mencari ulama, dukun! bahkan penyihir ! untuk menghapus kutukanya. Namun, Tidak ada yang sanggup, yang dapat menghapus kutukan itu hanya darah sang perapal. Karena melihat kondisi kau dan Ibunda mu yang semakin memburuk. Maka Adiputra menitipkan dirimu yang masih bayi ke padaku."
"Melihat saudaraku butuh bantuan, dan aku pun tak memiliki keturunan. Maka Aku dan Biyung mu bersedia untuk merawat dirimu." Dengan senyuman kasih sayang yang terlihat saat Maha Guru membelai lembut kepala Kaesang.
Kaesang merasa sangat sedih, dadanya semakim sesak mendengar cerita Maha Guru. Tidak dapat dia percaya, kalau dirinya bukan anak kandung Bopo dan Biyungnya. Perlahan Kaesang meneteskan air mata, ia merasa bersalah kepada Ayahanda dan Ibundanya.
"Apa semua karena aku? Ujarnya dengan pipi berlinang air mata.
"Tidak! semua karena takdir, jangan salahkan dirimu." suara lembut Maha Guru yang mencoba menenagkannya.
"Aku menceritakan semua ini, karena usia mu sudah hampir mencapai 17 tahun. " lanjut Maha Guru, mengisyaratkan untuk menghapus air mata Kaesang.
Kaesang merasakan kasih sayang Maha Guru. Tentu saja, ia merawat Kaesang sedari bayi. Maha Guru merasakan sedih yang amat dalam, sebenarnya ia juga tak menginginkan Kaesang pergi. Namun dengan bijaksana ia harus melepas Kaesang! karena itu sudah takdirnya. Mencari dan membawa kembali Kitab Naga Sakti.
#Bersambung»
#Author: matur suwon sampun ningali novel kulo..MOHON LIKE NYA, RATTING DAN KLIK FAVORITE.
__ADS_1