
***
Ke esokkan harinya.
Ciet Ciet Cieit.
Se-ekor tikus besar berwarna hitam pekat, tiba tiba melompat kearah Kaesang. Tidak sengaja tikus itu membangunkan Kaesang dari tidurnya.
Tubuh Kaesang bergerak, dan mulai bangkit untuk duduk. Wajahnya memerah. Karena terkejut melihat tikus besar yang ada di pangkuannya.
"Wuaaaahhhh. huus, huss" mencoba mengusir tikus dengan suaranya yang keras.
Dengan tangan yang masih terikat, tubuhnya mencoba bergerak dengan mengeluarkan segala kekuatannya.
Namun dia hanya bisa bergerak sebisanya.
"Krieeet" (Suara pintu terbuka).
Terlihat Parga dan Pargi berjalan masuk kedalam ruangan itu. Mereka tertawa geli melihat kelakuan Kaesang yang lucu. Terlihat ia mencoba bangkit dari duduknya. Namun ia kesulitan, dan lagi tikus yang mengigit bajunya. Tidak kunjung melepaskan diri meski kaesang terus menggoyangkan tubuhnya itu.
"Dasar bocah bodoh!"
Sindir Pargi dengan menyeringai sinis.
Parga berjalan mendekati Kaesang dan melepaskan tikus itu dari bajunya. Terlihat wajah Kaesang memerah dan tubuhnya bergetar ketakutan. Hanya karena seekor tikus kejadian itu membuat Parga kesal.
"Sepertinya kamu tidak pantas berada di padepokan ini". Ketus Parga memandang rendah kepada Kaesang.
__ADS_1
Haha
"Setelah Maha Guru tiba. Lihat seperti apa reaksi wajah ketakutan mu."
Lanjut Parga mencengkram tangan Kaesang.
Parga dan Pargi membawa pergi Kaesang dengan kasar. Tubuh Kaesang yang lemas hanya mengikuti tindakan mereka berdua.
Selang beberapa waktu.
Setelah Pemimpin melaporkan kejadian semalam, dan setelah Parga, Pargi menyerahkan Kaesang kehadapan Maha Guru. Sungguh di luar dugaan. Pemimpin padepokan serta Parga dan Pargi tercengang dengan tindakan Maha Guru. Kaesang di ajak berbincang di halaman belakang kediaman Maha Guru.
Terlihat Maha Guru duduk bersila dengan Kaesang. Di bawah pohon rindang di atas tempat duduk yang terbuat dari bambu.
"Kamu pasti sudah jelas dengan masalah ini, Kaesang?"
Ujar Maha Guru memulai percakapan.
"Iya, tentu Maha Guru!"
Kaesang menjawab dengan nada rendah.
"Kitab itu sangat berarti bagi Padepokan, dan tentunya untuk diriku sendiri." Jelas Sang Maha Guru.
"Kau tau kenapa! Kaesang? "
Sang Maha Guru melanjutkan, dan sekilas menatap Kaesang yang terus menunduk. Tidak tau apa yang di pikirkan olehnya. Dia terlihat lesu tidak berdaya.
__ADS_1
"Sungguh, murid tidak tau Maha Guru." Jawab Kaesang rendah.
"Di dalam kitab itu tertulis berbagai jurus bela diri dan berbagai ramuan obat-obatan. Yang telah aku pelajari bersama Ayahanda mu. Setengah kitab itu juga berisi ilmu yang di wariskan oleh Kakek Buyutku. "
Ujar Maha Guru menjelaskan.
Maha Guru menghela nafas panjang. Mengingat janjinya untuk menjaga Kitab itu. Sampai menemukan pewaris Kitab Naga Sakti.
"Seandainya aku tidak melakukan semedi. Mereka tidak akan berani menyelinap dan mencuri Kitab Naga Sakti." Lanjut seorang Maha Guru, menarik nafas dalam.
Kaesang yang masih mencerna perkataan Sang Maha Guru. Terlihat bingung, banyak hal yang ingin ia tanyakan. Namun! tak bisa keluar dari mulutnya itu.
Maha Guru yang menunggu Kaesang berbicara, dengan sabar mengatakan. Bicaralah! Katakan apa yang sedang kau pikirkan, jangan takut.
"Apa maksud Maha Guru, dengan sebutan Ayahanda ku?"
Tanya kaesang dengan mengumpulkan segala keberaniannya sebelum berbicara. Karena tadi hampir tidak bisa berucap sama sekali.
"Aku dan Ayahanda mu adalah saudara seperguruan. Ayahanda mu menitip kan dirimu disisi ku, sedari kau bayi. agar kau selamat dari bahaya kutukan." Ujar Maha Guru menjelaskan.
Dengan wajah murung Kaesang melayangkan sebuah pertanyaan. Kutukan apa kah itu Guru?.
"Dahulu, setelah Adiputra (Ayahanda Kaesang) menikah dengan seorang Putri dari kerajaan tetangga yaitu Ibunda mu. Mereka memiliki 1 Putra dan 1 Putri. Di daerah Kerajaan sangat ramai dan banyak penduduk yang masuk dan menetap di daerah Kerajaan saat itu.
"Suatu hari ada satu perawan yang sangat cantik dan anggun. Banyak Putra Adipati dan Putra Tumenggung yang ingin menikahinya. Namun ia menyukai Ayahanda mu. Karena Adiputra dan Ibunda mu sudah janji pati, dimana yang tidak setia maka ia akan mati terbakar api. Jadi selama menjadi suami Ibunda mu, dia tidak akan mempunyai istri lain selain Ibunda mu.
Bersambung»
__ADS_1
#author: matur suwon sampun ningali novel niki. MOHON LIKE NYA UNTUK MENDUKUNG KARYA AUTHOR.
Jangan lupa saran, kritik dan masukannya.