Kitab Naga Sakti

Kitab Naga Sakti
13.KNS


__ADS_3

"Setelah kalian kuat, baru bisa membantu Kaesang!"


***


Keesokkan harinya.


Di sebuah rumah penginapan, di dalam kamar Kaesang. Terdengar suara ayam berkokok yang berulang-ulang membuat Kaesang terbangun dari tidurnya. Ditambah silau cahaya matahari yang masuk dari celah-celah jendela kayu. Membuat Kaesang sulit untuk memejamkan matanya kembali.


Anak muda itu terlihat duduk diatas dipan kayu dimana dia tertidur semalam. Tangan nya mulai mengosok gosok kedua matanya yang terasa sulit untuk dibuka. Ia melihat kekanan, lalu kekiri sejenak ia berdiri dan berjalan kearah jendela. Dibuka jendela kayu itu oleh Kaesang. Tangannya di rentangkan, ia mengambil nafas dalam menghirup udara segar disekitarnya.


Tiba-tiba melintas Paman pemilik rumah peginapan, ia terlihat sedang meng-genggam sebuah sapu lidi ditangannya. Baru ingin mulai menyapu halaman penginapan.


"Selamat pagi anak muda! Bagaimana tidur kau semalam?"dengan senyuman hangat, dan nada bersahabat.


"Pagi Paman! Yah, tidur ku cukup nyenyak semalam." Jawab Kaesang, seraya membalas senyum.


"Ya, kalau begitu keluarlah anak muda, ada makanan di meja tamu." Memberitahukan bahwa dia telah meletakkan sarapan gratis. Di atas meja untuk pemuda itu.


"Ya baiklah, terimakasih atas makanannya Paman." Kaesang pun keluar dari kamarnya.


Dia berjalan menuju meja persegi panjang dengan kursi kayu yang panjang juga. Berada di tengah ruangan rumah itu. Kaesang duduk di kursi itu, dia mengambil gelas bambu yang sudah di isi air olehnya. Dia meneguk air untuk membersihkan rongga mulutnya. Setelah itu, ia mulai memakan singkong rebus dan memakan pisang kepok goreng. Makanan yang di maksudkan oleh Paman tadi.


***


Di waktu yang sama didalam rumah makan milik Si paman.


"Hei, keluarkan makanan yang paling enak di warung ini. Cepat!" bentak satu orang lelaki kekar dengan rambut panjang dan seorang wanita di sebelahnya.


"Ah, iya iya Kisanak ! " jawab Istrinya Paman pemilik warung sembari berlari kearah dapurnya dan menyiapkan makanan.


Tak lama,


"Hei, cepat! Kenapa lama sekali." lelaki berambut panjang, dengan tangan kosong meng-gebrak meja di depannya.

__ADS_1


Suara hentakan meja membuat Istri dari Paman yang di kenal dengan sebutan Bi Wijah bergetar ketakutan. Ia telah menyiapkan semua makanan ter-enak di meja lelaki kekar itu.


Semua orang yang berada di warung itu bergetar ketakutan hanya dengan melihat mereka berdua. Mereka memang sudah sering makan di warung milik Paman dan Bi Wijah tanpa membayar. Mereka adalah Pendekar golongan hitam yang suka merampok penduduk desa. Maupun penduduk yang hanya melewati desa ini. Mereka berdua sering di kenal dengan  'Pasangan Edan' namun itu julukan dari para warga desa. Sedang nama asli mereka ialah Ki Bargo dan istri nya Nyi Sami.


"Kenapa kalian! tidak pernah lihat orang makan, ya? " dengus Ki Bargo dengan mata melotot memandang menge-liling ke semua orang.


Mendengar itu, seketika semua orang di dalam warung itu menunduk kan kepala mereka masing masing. Tidak dapat di sembunyikan lagi. Semua orang bergetar, mulai dari kaki juga tangan.


"Tundukkan kepala mu, jika tidak ingin mati" ujar salah satu pemuda kepada temannya. Dengan nada lirih.


Namun pemuda yang memakai pakaian serba coklat itu tidak menghiraukan perkataan temannya. Ia terus memandangi 'Pasangan Edan' itu dengan tatapan dingin. Pemuda itu merasa jijik melihat kedua orang itu yang makan dengan rakusnya.


"Seperti tidak makan setahun saja!" batin pemuda itu terus memandangi kedua orang yang asing di matanya.


Tiba-tiba Ki Bargo merasakan telinganya bergetar kecil. Lalu sebentar dia tersenyum kecil dan melirikkan matanya kearah anak muda yang berbaju coklat itu. Namun karena Ki Bargo masih bersabar, ia tak meng-hiraukan anak itu dan melanjutkan makannya.


Namun setelah beberapa lama, anak muda itu masih memandangi dan mem-batin jelek untuk Ki Bargo dan istrinya. Ki Bargo yang sudah merasa kenyang itu, mulai merasa ingin marah.


"Hei, anak muda! Apa kau tidak pernah melihat orang makan?" Kata Ki Bargo berbalik.


"Semua orang disini melihat kalian makan, kenapa harus marah padaku?


Lagi pula, mata memang berguna untuk melihatkan." jawab anak muda itu begitu tenang. Dengan nada sedikit angkuh.


"Nyali mu sungguh besar! Berani beradu mulut dengan ku." Ujar Ki Bargo seraya menyilangkan kakinya.


"Apa harus butuh nyali yang besar, kalau hanya berbicara saja." jawab Kaesang lagi, tidak kenal takut.


"Husstt! sudah hentikan. Jangan membuatnya marah, atau kita bisa celaka " bisik teman di sebelahnya.


Melihat tingkah temannya yang sangat ketakutan, Ki Bargo menyeringai dingin.


"Sebaiknya kau dengarkan omongan teman mu itu." ujar Ki Bargo malas meladeni. Ia memutar posisi duduknya kembali.

__ADS_1


"Aku sudah kenyang!" ujar Nyi Sami kepada Ki Bargo.


"Baiklah, ayo pergi!" jawab Ki Bargo sembari mengambil goloknya.


Ki Bargo dan Nyi Sami mulai berjalan kecil, mereka hendak meninggalkan warung makan itu. Semua orang hanya terdiam, mereka merasa lega karena mereka akan pergi meninggalkan rumah makan. Namun tiba-tiba ada seseorang yang bersuara.


"Maaf Ki, apakah kalian tidak perlu membayar dulu makanan yang telah kalian makan itu? " ujar pemuda tadi membuat langkah Ki Bargo terhenti di depan pintu.


"Sona apa yang kau lakukan? " ujar temannya pada pemuda pemberani itu.


"Diamlah, aku hanya ingin membantu pemilik warung ini." Jelas Sona pada Trio si temannya itu.


Sejenak Ki Bargo memutar tubuh nya, dan memandang Sona dengan tajam.


"Apa aku perlu membayar?" tanya Ki Bargo di lontarkan untuk Bi Wijah sebagai pemilik warung.


"Ah, tidak perlu Ki, silahkan datang lagi jika Ki Bargo dan Nyi Sami.ingin makan warung saya." Sahut Bi Wijah dengan mem-bungkuk kan tubuhnya.


"Kenapa tidak perlu!? Jelas dia harus membayar semua makanan itu." Sahut Sona kembali memanaskan suasana.


"Tenang saja Bibi, aku akan membela mu. Biarkan aku yang menagih uangnya!" ujar Sona dengan baik, namun tidak baik untuk Bi Wijah.


Semua orang yang berada di dalam warung itu sudah merasa gelisah. Semua karena perbuatan Sona yang tidak tahu akan keadaan ini. Orang orang yang di dalam warung bergetar ketakukan melihat raut wajah Ki Bargo yang berubah kejam.


"Bagaimana ini?" ujar salah satu orang yang di dalam warung Bi Wijah.


"Aku tidak mau mati"sahut temannya.


"Sebaiknya kita cepat pergi." ujar satu orang lagi. "Ayo, ayo, ayo kita pergi saja, makannya bisa nanti lagi."


Semua orang yang terus berbisik itu satu persatu pergi meninggalkan warung setelah membayar.


#Bersambung>>

__ADS_1


Ampun kesupen pencet ♡ dan Votenya ya. Terimakasih untuk pembaca ter UWUH ku. Love u So much.


__ADS_2