Kitab Naga Sakti

Kitab Naga Sakti
29. KNS.


__ADS_3

#Dia adalah seorang Pangeran?


Sona menatap tajam kearah Senopati Gondo. Melihat dengan wajah penuh kebencian. Tetapi lelaki itu tidak menghiraukan Sona! Dan terus memperhatikan Kaesang.


Siapa orang ini? Sedari tadi menatap Kaesang dari kaki sampai kepala. Apa yang salah dengan dia?


Senopati tersenyum lebar membuat ketiga anak muda itu bingung dan tercengang. Apa yang membuatnya begitu senang. Sampai tersenyum begitu lebar. Pikir mereka bertiga saling menatap satu sama lain.


*Ini pertama kalinya Senopati tersenyum selama berada di dalam Kediaman Ki Mbangun Rekso.


"Nama anda Kaesang Mahesa? Datang dari Padepokan Tunggal Kecher."


"Iya. Benar."


Sebenarnya Kaesang sedikit ragu oleh pertanyaan ini. Haruskah dia menjawab dengan jujur. Karena Senopati terus menatap dengan tatapan yang aneh kepadanya. Namun dia percaya kepada Ki Mbangun Rekso. Tidak mungkin dia mencelakainya, bukan.


"Senopati memberi salam kepada Pangeran!." tiba-tiba berlutut didepan Kaesang.


Sona dan Trio terkejut bukan main oleh tingkah lelaki ini. Begitu juga dengan Kaesang. Tiba-tiba seorang lelaki separuh baya mengaku sebagai Senopati. Berlutut dengan begitu sopan menunjukan hormatnya. Seakan aku ini seorang yang pantas mendapatkan ini. "Siapa paman ini?" begitu terbesit pertanyaan dikepalanya.


Namun mereka lebih terkejut lagi sekarang. Melihat Ki Mbangun Rekso, Bopo, dan sebagai Sang Guru. Seorang pendiri Padepokan Sedayu dan dikenal sebagai Tabib terbaik. Banyak penduduk yang mengenal dan menghormatinya. Dia memberi salam dan berlutut. Menyebut Kaesang sebagai Pangeran.


"Ada apa ini sebenarnya?" begitu Sona dan Trio bertanya-tanya dengan saling menatap. Bingung dengan situasi dihadapan mereka berdua.


"Paman berdirilah. Anda juga Ki."


ucap Kaesang sopan, merasa itu tidak perlu.


Begitu setelah Kaesang sadar diri dan mengingat perkataan Maha Guru.Bahwa dia adalah seorang Pangeran. Walau dia juga belum yakin dengan ini semua. Sebelum bertemu dengan Ayahanda dan Ibundanya.


"Mohon maaf, siapakah Paman ini sebenarnya?"


Senopati mempersilahkan Kaesang untuk duduk dikursi terlebih dahulu. Sebelum dia menjawab pertanyaan darinya. Lalu setelahnya dia, begitu juga Ki Mbangun Rekso ikut duduk. Sedang Sona dan Trio masih bingung dengan keadaan ini. Mereka masih berdiri ditempat semula. Menunggu apa yang akan terjadi setelah ini.


"Dengan segala hormat, saya akan menjawab pertanyaan dari Pangeran."


Lagi-lagi menyebut Kaesang sebagai Pangeran. Apa dia sungguh seorang Pangeran?


Sona menatap serius kearah Senopati. Menunggu jawaban darinya untuk Kaesang. Kaesang juga menunggu jawabannya.


"Saya Senopati Gondo Purwo diutus oleh Raja yang tidak lain adalah Ayahanda dari Pangeran Kaesang."


Hmmm


Jawaban Kaesang singkat. Karena ingin segera mendengar kalimat selanjutnya. Senopati juga segera melanjutkan ucapannya. Melihat Kaesang sudah tidak sabar lagi.


Dia berkata bahwa dia diutus untuk memboyong Pangeran pulang ke Kerajaan. Sesegera mungkin harus kembali ke Kerajaan. Karena Sang Ratu atau Ibundanya Kaesang sudah sangat menanti kepulangan putranya. Tidak lupa dia juga berkata kalau sudah mencarinya ke Padepokan Tunggal Kecher. Dan menyampaikan salam dari Maha Guru untuknya.

__ADS_1


"Wa'alaikumsallam. Lalu?"


Sela Kaesang menjawab salam dari Maha Guru.


"Mohon Pangeran agar bisa ikut hamba untuk pulang ke Kerajaan!"


"Tidak"


HAH


Senopati terdiam mendengar jawaban ini. Berpikir tentang ucapannya. Apakah ada yang salah, atau tidak percaya dengan dirinya. Bagaimana caranya untuk membujuk Pangeran agar mau ikut dengannya.


"Apa yang membuat Pangeran menjawab tidak, ini perintah dari Sang Raja!" Senopati sedikit menekan nada bicaranya.


"Tidak! siapa yang berkata tidak?"


"Pangeran baru saja menjawab tidak, tadi."


"Maksud ku tidak ingin mendengar perkataan Paman itu. Aku mau dengar perkataan dari Maha Guru ku. Salam darinya?"


"Oooooh" Senopati merasa lega sekarang.


Aku pikir Pangeran tidak ingin ikut ke Kerajaan. Aku tadi sudah berencana untuk membawanya secara paksa kalau kalau Pangeran tetap menolak. hehe


Paman?


Panggilan ini membuat Senopati Gondo terkejut. Sedari tadi Kaesang melihatnya terus terdiam. Tidak mengucapkan apa lagi pesan dari Maha Gurunya. Dia sudah tidak sabar ingin mendengar.


"Begini. Putraku jadilah anak yang baik dan penurut. Begitu pesan Maha Guru untuk Pangeran."


Kaesang terdiam setelah Senopati mengucapkan pesan itu. Sebentar senyuman tipis diwajah Kaesang. Dia berkata kepada Senopati untuk segera kembali ke Kerajaan. Tentu saja dia juga ikut dengan Senopati.


Sekarang Ki Mbangun Rekso mulai angkat bicara. Dia meminta agar Sona dan Trio memberi salam kepada Kaesang sebagai seorang Pangeran.


Sona dan Trio pun menganggukkan kepala. Dan menghampiri Kaesang untuk memberi salam hormat.


"Tidak perlu, kita adalah teman. Lagi pula yang berteman dengan kalian adalah Kaesang Si anak muda biasa. Bukan Pangeran!"


"Tetapi kau tetaplah seorang Pangeran."


Kaesang memapah kedua temannya untuk bangkit.


"Akan aku terima sembah kalian, jika kita bertemu di dalam Kerajaan!"


Senyum terpancar diwajah Kaesang.


Hahahaha.

__ADS_1


Disusul tawa oleh ketiganya bersamaan. Selama Kaesang tinggal di Padepokan Sedayu Sona dan Trio lah yang merawatnya dibantu juga oleh Priyono. Sejak saat itu mereka berteman baik bagai saudara. Bahkan Kaesang dan Sona memanggil Trio dengan sebutan kakang karena usianya lebih tua. Walau sebenarnya kalau dilihat dari derajat dia jauh lebih rendah.


Malam hari di Kediaman Ki Mbangun Rekso.


Nyi Sariyah sedang menyiapkan makan malam untuk semuanya. Dengan bantuan dari Priyono dan Trio. Semua makanan di letakkan di atas dipan bambu. Ada nasi 2 bakul, ikan bakar, ayam bakar, tumisan jamur barat. Rebusan daun singkong muda tidak lupa sambal juga ada.


Setelah semua selesai di sediakan. Nyi Sariyah menyuruh Priyono agar menyampaikan ucapannya kepada suaminya. Tidak lain Ki Mbangun Rekso yang juga Sang Guru.


Priyono segera menemui Sang Guru. Mengatakan ucapan istrinya yaitu. "Makanannya sudah siap. Cepat kesini untuk makan." Begitu juga Priyono menyampaikan. Sang Guru mengangguk dan mulai mempersilahkan Pangeran dan Senopati untuk makan malam.


Pangeran dan Senopati pun mengikuti langkah Ki Mbangun Rekso. Pindah ke ruangan sebelah untuk makan. Ki Mbangun Rekso, Senopati dan Pangeran duduk bersila diatas dipan. Di hadapan mereka sudah banyak makanan tersaji rapi. Mereka segera mulai makan bersama-sama.


Tengah Malam di kamar Sona.


Sona dan Kaesang berbaring di satu dipan yang sama. Keduanya belum tidur masih berbincang. Tadinya mereka berempat, tetapi Trio dan Priyono sudah tidur duluan. Tinggal mereka berdua saat ini.


"Ka, kau."


Ucapan Sona terhenti. Aku ragu untuk mengatakannya atau tidak.


"Katakan! kau ingin bertanya-tanya tentang aku kan?"


Ucap Kaesang yang mengetahuinya.Ketika sekilas melihat raut wajah Sona. Itu sangat jelas, tentu saja aku tau.


"Kau sungguh seorang Pangeran? Anak ragil dari Raja Adiputra?"


Raut wajah dan nada bicaranya masih belum yakin.


"iya, sebenarnya aku juga belum yakin. Sama seperti pikiran kamu saat ini. Tetapi Maha Guru bicara begitu, aku menurut saja." Jelas Kaesang membuat Sona semakin penasaran.


"Aku tidur dulu, besok aku harus pergi saat matahari belum terbit!" Kaesang mulai menutup mata, bersiap untuk tidur.


"Baiklah, aku juga tidur."


Sebenarnya banyak yang ingin aku tanyakan padamu. Tapi, ya sudahlah. Aku pikir kita bisa berteman dan hidup bersama seperti keluarga. Seperti saat kau sedang terluka.


"Kita tetap bersaudara, siapa yang tau akan takdir. Suata saat kita pasti bertemu lagi. Jangan lupakan saudaramu ini, ingat!" Suara Kaesang yang terdengar berat. Ternyata dia belum tidur.


"Baik, Semoga takdir mempertemukan kita. Saat kita sudah sama-sama hebat!"


YAH.


Begitu jawaban singkat Kaesang malam itu. Sebagai akhir dari perbincangan.


#Bersambung»


Hai! Readers tercinta ku. Terimakasih masih setia menunggu Up. Terus dukung Novel ini dengan Beri Like, Komentar, Ratting bintang 5. LoveYou.

__ADS_1


Gabung Grup Chat?


Silahkan klik Profil ya!!!


__ADS_2