Kitab Naga Sakti

Kitab Naga Sakti
28.KNS


__ADS_3

Perjalanan menuju Padepokan Sedayu.


Menjelang sore Senopati Gondo pergi meninggalkan Padepokan tunggal kecher. Setelah mendengar penjelasan dari sang maha guru. Senopati pergi menuju Padepokan Sedayu untuk menjemput Raden Kaesang Mahesa. Dengan menunggangi kudanya yang berlari dengan begitu cepat.


Semalaman Senopati Gondo menunggangi kudanya untuk sampai di padepokan Sedayu. Saat di pintu masuk Padepokan Sedayu dia dihadang oleh murid Padepokan. murid itu bertanya ada maksud apa kisanak datang kemari. Aku ingin menemui Guru kalian. Katakan bahwa aku adalah utusan dari Kerajaan. Mendengar jawaban lelaki yang masih di atas kudanya itu. Kedua murid seperti tidak percaya jika Raja mengutus seseorang untuk datang ke Padepokan mereka.


Tetapi jika lelaki ini benar-benar utusan dari Kerajaan. Jika berbuat salah kepadanya, kita berdua bisa di hukum mati.


Kedua murid saling meyampaikan pendapat dengan tatapan. Akhirnya memutuskan untuk memberitahukan terlebih dahulu kepada Guru mereka. Senopati mengangguk, berarti dia setuju. Salah satu dari mereka segera menghadap Gurunya.


Selang beberapa waktu.


Murid yang tadi kembali keluar menuju ke arah Senopati. Dia memberi isyarat kepada teman sesama murid itu. Mereka segera berlutut memberi hormat dan memohon maaf. Mohon maaf kan kelancangan kami Tuan Senopati. Kami tidak tau soal kebenarannya. Dan hanya menjalankan perintah untuk menjaga gerbang masuk. Begitu ujar kedua murid sopan dengan terus berlutut.


Senopati memaafkan kedua murid itu. Namun wajah nya masih sama, datar.Tidak memperlihatkan senyuman sedikit pun. Senopati meminta kedua murid itu untuk membawanya ke hadapan Guru mereka.


Murid itu dengan sopan mempersilahkan Senopati Gondo. Berjalan melewati halaman Padepokan yang cukup luas. Ada pekarangan yang luas di sebelah kediaman Guru Padepokan. Banyak tanaman obat yang tumbuh di sana.


Senopati masuk ke dalam kediaman Sang Guru. Lelaki tua sedang duduk dengan tenang. Dia telah menunggu Senopati dari tadi. Senopati mengucap salam, dan dibalas salam itu oleh Ki Mbangun Rekso. Meminta nya agar lekas duduk dihadapannya. Ki Mbangun Rekso meminta istrinya untuk menyediakan air minum. Dan makanan yang istri nya miliki di dapur.


Istri Ki Mbangun Rekso keluar dengan membawa kendi air dan buah-buahan. Dia memberi salam kepada Senopati yang sudah di kenal nya itu.


Istri Ki Mbangun Rekso bernama Sariyah. Dia lebih muda 2 tahun darinya. Meski umurnya sudah tua, wajahnya masih terlihat lebih muda dari wanita seumuran nya. Mungkin karena tubuhnya yang kecil. Terlihat lebih awet muda. Rambutnya putih disisir kebelakang. Dengan ikatan khas nenek-nenek yaitu Gelungan. Meski dia belum menjadi seorang nenek. Hanya sebutan nya saja, karena biasa nya seorang nenek-nenek lebih sering menggunakan gaya rambut ini.


*Gelungan : dari 2 kata Gelung-an.


Disebut Konde, Sanggul, Gelung rambut. Kata -an bermakna menggunakan.


Kembali lagi dengan Ki Mbangun Rekso dan Senopatih.


"Apa kabarnya Senopati Gondo? sudah lama tidak datang kemari."

__ADS_1


Sambutan ramah dari Nyi Sariyah dengan senyuman. Kepada Senopati Gondo yang juga menatapnya. Setelah dia selesai meletakkan kendi dan buah-buahan yang di bawanya dari dapur. Nyi Sariyah berdiri di sebelah suaminya.


Senopati Gondo menyambut dengan ramah tanpa senyuman. Bangkit dan menyambut tangan Bi Sariyah dan mencium punggung tangannya. Bi Sariyah ingin menarik tangan nya karena kedudukan Sang senopati. Tetapi kekuatan tangan Senopati lebih kuat dan cepat. Tidak sempat Bi Sariyah menarik tangan. Sampai Senopati melepaskan tangannya. Senopati duduk kembali di tempat nya semula.


"Senopati masih sama seperti dulu. Sangat menjaga sopan santun. Dan, masih sangat tidak suka TERSENYUM."


Pujian Nyi Sariyah dengan sedikit ledekan dengan kata tersenyum.


"Terimakasih Bibi atas pujiannya. Bibi juga semakin terlihat awet muda, meskipun sudah ber-UMUR."


HAHAHA


Tawa Nyi Sariyah lebar dengan menutup mulutnya. Ki Mbangun Rekso juga sempat tersenyum tipis mendengar ucapan istrinya itu. Sudah tua masih saja mengganggu anak muda. Ujar Ki Mbangun Rekso sangat pelan. Agar tidak di dengar oleh Senopati Gondo.


"Lihat, bahkan saat kami tertawa. Senopati masih saja memasang wajah sangar."


**Sangar : berarti menakutkan.


Hmmm.


Begitu jawaban Senopati singkat dengan sebentar menundukkan kepalanya.


Ki Mbangun Rekso segera menyudahi kelakuan istrinya. Dan menyuruhnya kembali kedapur untuk segera menyiapkan makanan untuk makan malam. Istrinya segera pergi meninggalkan kedua lelaki di hadapan nya.


"Bagaimana kabar Akik?" Tanya Senopati Gondo sopan.


"Alhamdulillah saya selalu diberi sehat oleh Yang Kuasa."


Ki Mbangun Rekso meneguk air didalam cangkir yang di genggamnya. Tidak lupa mempersilahkan tamunya untuk minum dan menikmati buah di meja.


Setelah meneguk air, Senopati mulai menjelaskan maksud dari kedatangannya. Bahwa dia di utus oleh Sang Raja untuk mencari Sang Pangeran. Untuk memboyong nya kembali ke Kerajaan. Nama Pangeran adalah Raden Kaesang Mahesa. Dia juga mengucapkan untuk segera membawa nya ke Kerajaan sesegera mungkin.

__ADS_1


Ki Mbangun Rekso mendengarkan dengan seksama. Setiap kata, setiap kalimat yang di katakan oleh Senopati itu. Tetapi dia terlihat bingung dan gusar. Bingung dengan perkataan Senopati yang sedang mencari Pangeran. Lantas kenapa Raja mengutusnya ke Padepokan Sedayu.


Apa Raja meminta bantuan aku. Tetapi bagaimana aku bisa membantu mencari Pangeran. Jika aku tidak pernah melihat Raden Kaesang Mahesa.


Ehh, Ra den Kaesang Ma he sa?


Sepertinya aku tidak asing dengan nama ini?


"Benar. Anak muda itu adalah Raden Kaesang yang aku maksud."


Seketika buyar pikiran Ki Mbangun Rekso. Dia melongo. Hanya menatap kagum ke arah Senopati Gondo. Bagaimana dia bisa tau apa yang sedang dipikirkannya. Sungguh lelaki yang hebat, hanya dengan melihat sudah tau isi kepalaku.


Tentu saja dia lelaki hebat dan sakti. Makanya baru bisa mendapat posisi sebagai Senopati didalam Kerajaan. Dia juga salah satu dari orang kepercayaan Sang Raja. Karenanya dia diutus oleh Sang Raja untuk melaksanakan tugas rahasia ini.


Tidak lama datang 3 orang anak muda ke Kediaman Ki Mbangun Rekso. Mereka masuk begitu saja. Tidak sadar keberadaan Senopati disana. Yang sedang duduk berhadapan dengan Ki Mbangun Rekso. Salah satu dari mereka me-manggil Biyung. Mengarah kedapur dengan pelan. Belum sampai dia kedapur suara berat terdengar menyebutkan namanya.


"Sona? "


Dia me-edarkan pandangan ke sekeliling. Dilihat boponya duduk dengan lelaki yang belum pernah dilihatnya sebelumnya. Kedua anak muda yang bersamanya juga memandang ke arah dua lelaki yang sedang duduk dengan penuh kehormatan.


Sona berjalan menuju kearah Boponya. Kedua anak muda itu juga mengikuti langkah Sona dari belakang. Mereka memberi salam kepada kedua lelaki itu.


Ki Mbangun Rekso menatap Kaesang yang berdiri di belakang Sona. Trio berdiri di samping Kaesang. Ki Mbangun Rekso tersenyum lebar memberi isyarat kepada Senopati.


Senopati melihat Kaesang dari ujung kepala sampai kaki. Dan lagi dari ujung kaki sampai ujung kepala. Kaesang mengenakan pakaian serba coklat. Sama dengan pakaian Sona dan Trio. Sebenarnya itu pakaian milik Sona yang dia berikan kepadanya.


Ketiga anak muda ini merasa aneh dengan kelakuan lelaki yang dihadapan mereka ini. Tentu karena Ki Mbangun Rekso belum mengatakan siapa dia sebenarnya.


#Bersambung >>


Mohon dukungannya dari pembaca TER TER TER CINTA KU. Untuk Novel ini, karena sedang saya ikut sertakan dalam Lomba. Silahkan beri Like, Ratting, Vote dan Komentar saran. Terimakasih ♡♡

__ADS_1


__ADS_2