
***
"Kau pergilah, cari Kitab Naga Sakti itu.
Namun sebelum itu, kau kembalilah kepada Ayahanda dan Ibunda mu terlebih dahulu." Ujar Maha Guru.
Tidak.
Sedikit keras, dan menekan.
"Aku tidak ingin kembali, aku takut Ayahanda dan Ibunda akan terkena kutukan kembali. " sahut Kaesang keras kepala.
"Lagi pula, Aku senang berada di padepokan ini. Menjadi murid Maha Guru" Sekilas air matanya lagi-lagi menetes, ia meraskan sedih yang amat dalam. Namun segera di usapnya.
"Hemm, aku sudah menganggap mu
sebagai anak kandung ku sendiri. Namun, kau harus tau, setelah menghilangnya Kitab itu. Akan banyak masalah datang menghampiri."
Ujar Maha Guru menatap jauh kelangit biru yang cerah saat ini.
"Ini sudah takdir mu, Kaesang!
Pergi, dan cari kitab itu sampai dapat." Titah Maha Guru tegas.
"Tapi, apakah aku sanggup mencarinya. Pencuri itu pasti sangat sakti, sehingga ia dapat mencuri, dan menyelinap masuk kedalam padepokan kita." Sahut Kaesang.
"Benar! namun, Bisa jadi dia hanya cerdik dia mungkin sangat tau keadaan Padepokan. Karenanya, bisa mencuri Kitab itu." Jelas Sang Maha Guru.
__ADS_1
"Jadi, ku harap kau mau mengemban tugas ini Kaesang! " menatap tajam mata Kaesang, seakan ingin menelannya.
"Baik Maha Guru, akan ku laksanakan titah ini. " jawab Kaesang yang.sebenarnya ragu-ragu karena melihat tatapan Maha Gurunya.
"Bagus, Sekarang kembali dan segera kemasi barang mu." Dengan nada seakan mengusir.
"Setelah itu, kembali kesini." Maha Guru bangkit dari duduknya, ia berjalan perlahan masuk ke kediamannya.
Sedang Kaesang yang terdiam mendengar perkataan Sang Maha Guru. Perasaannya mulai tersentuh, ia berpikir kalau semua orang tak menginginkannya. Ia membulatkan tekad, bahwa ia akan benar benar pergi dan mencari Kitab Naga Sakti. Lalu membawanya kembali ke Padepokan.
Setelah Kaesang mengemas barangnya dalam buntalan kain, dan menggendong buntalan itu. Ia kembali menghadap Sang Maha Guru. Maha guru tersenyum kecil saat melihat tekad yang sangat kuat terpancar dari wajah Kaesang.
"Kemari lah" memerintah Kaesang untuk lebih dekat dengan Maha Guru.
Kaesang pun terlihat duduk di hadapan Sang Maha Guru. Maha Guru memberikan sesuatu kepada Kaesang.
"Tunjukkan ini kepada Ayahanda mu, saat kau menemuinya nanti " menunjuk sebuah kalung berbandul batu permata merah.
"Gunakan cincin ini ketika engkau menghadapi kesulitan. Kau hanya perlu mengucap bismillah, lalu mengosoknya. " ujar Maha Guru mencontohkan gerakan yang benar.
"Lalu buku ini!? " tanya Kaesang heran, menunjuk buku yang sudah usang itu.
Guru dengan senyum lebar di wajah nya, ia berkata. "Pelajari apa yang ada di buku ini, aku sudah menyiapkannya untuk mu." Melihat Kaesang yang masih tampak bingung.
"Hmm, kau sudah mempelajari semua jurus dan ilmu di Padepokan ini, sedari kau kecil. Sekarang hanya perlu menyempurnakannya. Selama perjalanan mencari kitab Naga Sakti, akan ada banyak kesulitan yang harus kau hadapi. Jadi, pelajarilah!" jelas Sang Maha Guru sangat panjang.
"Baik, Maha Guru!" Kaesang
__ADS_1
menundukkan kepalanya.
"Sekarang, cepat pergi." dengan nada mengusir, Maha Guru membalikkan badannya.
"Ingat, Jangan kembali sebelum engkau menemukan Kitab Naga Sakti itu" memperingatkan Kaesang dengan nada tegas.
Mendengar ucapan Sang Maha Guru, hati Kaesang sedih sampai ingin mengeluarkan air mata. Dia tak mengira, bahwa Maha Guru akan berucap seperti itu. Namun ia sadar, mungkin ini memang takdirnya. Dengan berat hati, Kaesang mengangguk dan memberi salam.
Setelah itu, ia terlihat berjalan keluar dari kediaman Sang Maha Guru. ia terus berjalan menyusuri padepokan Tunggal Kecher. Melihat halaman yang luas, mengingat setiap hari ia dan murid-murid lain selalu latihan disana.
Dia masih terus berjalan, dari kejauhan ia melihat pintu keluar padepokan.
"Dasar pencuri, cepat pergi dari padepokan ini!" sengit salah satu murid Padepokan.
"ia, cepat pergi. Pergi."
"Pergi dari sini, iya pergi sana."
Suara murid-murid lain mengikuti, satu suara murid lainnya. Terus meminta agar Kaesang cepat meninggalkan Padepokan.
Suara mereka terus terngiang mengikuti langkah kakinya sampai keluar Padepokan. Dia menahan hinaan murid-murid lain, menelan semua perkataan mereka. Dari luar Padepokan tepat di depan pintu masuk. Kakinya menghentak ketanah sebanyak 3x. Mebatin
"Bismillah. Kaki danyang, Nyai danyang, seng ngemong jiwo rogoku. Ayo milu aku"
Dengan tekad yang bulat ia mulai berjalan, menjauhi Padepokan Tunggal Kecher.
#Bersambung»
__ADS_1
Author : Terimakasih sudah membaca Novel karya saya. Mohon dukungan nya dengan klik Love, Like, dan Beri Ratting kalian.