Kitab Naga Sakti

Kitab Naga Sakti
11.KNS


__ADS_3

Terlihat seorang murid Padepokan Tunggal Kecher, berjalan dengan sangat tergesa-gesa. Melihat sekeliling Padepokan, untuk memastikan tidak ada orang lain yang melihatnya. Ia terus berjalan kearah kediaman Sang Maha guru.


Suasana terasa hening, murid itu secara perlahan mengetuk pintu kediaman Sang Maha Guru. Sesaat setelah pintu itu terbuka sedikit, murid itu pergi masuk kedalam kediaman Maha guru.


Setelah masuk, terlihat Maha Guru yang sedang duduk di sebuah kursi kayu berbentuk bulat. Di hadapannya ada meja kecil yang berbentuk bulat juga, diatas meja ada sebuah kendi air dan cangkir yang terbuat dari tanah.


"Murid memberi hormat kepada Maha Guru!" seraya menundukkan kepala, dan tangan kanan di letakkan diperut.


"Ada apa? Sehingga membuat engkau begitu tegesa gesa!" bertanya dengan tenang.


"Maaf Maha Guru, tetapi aku mendapatkan berita buruk."


"Sepertinya Guru Prambana telah mengutus Parga dan Pargi untuk menguntit Kaesang" jawab murid itu setelah duduk bersandingan dengan murid lain. Murid yang embukakan pintu untuknya tadi.


"Menguntit Kaesang? Lalu."


"Mereka telah kembali, namun Pargi terluka dan sepertinya dia telah terkena racun, Maha Guru!


"Racun! Racun apa? "


Tanya Guru dengan khawatir.


"Murid tidak tau, Maha guru."


"Tetapi murid mendengar, mereka berhadapan dengan Pendekar Setan merah. Dia terkena sebatan celurit Setan merah, Maha Guru"


"Celurit Si Setan merah, berarti dia telah terkena racun kobra! Darimana kau tau kabar ini?"

__ADS_1


"Murid tidak sengaja melihat Parga yang sedang mencari dedaunan di kebun belakang. Karena mencurigakan, aku mengikutinya dan mendengar tentang semua ini, Maha Guru."


Tiba-tiba Maha Guru terdiam, suasana didalam ruangan menjadi hening seketika. Lelaki berusia 80 tahunan itu merasa khawatir dengan Kaesang yang sedang mengemban tugas darinya. Ia termenung, hanyut dalam lamunan. Seketika Maha Guru memejamkan kedua matanya. Dalam bayangan angan-anganya, terlihat keadaan kaesang malam itu. Setelah beberapa selang waktu, tergambar senyuman kecil diwajah Maha Guru.


"Dasar anak nakal !" batin Maha Guru seraya membuka kedua matanya.


Sedang kedua murid yang duduk berhadapan dengan Maha Guru. Yang di kenal dengan Yangsa dan Joko. Yangsa adalah murid sekaligus pengikut setia maha guru. Tubuhnya tinggi dan bersih, wajah nya manis ketika tersenyum. Sedang Joko berbadan kekar, kulitnya sawo matang tetapi wajahnya masih terlihat seperti anak-anak.


Mereka berdua saling menatap keheranan, saat melihat Maha Guru tersenyum.


"Apa yang Maha Guru sedang pikirkan!


Bisik kedua murid itu heran.


"Syukut lah, tidak ada hal buruk yang terjadi kepada Kaesang " Ucap Maha Guru setelah membuka matanya.


Bagaimana Maha Guru bisa tau, kalau tidak terjadi apa-apa kepadanya."


tanya Yangsa begitu penasaran.


Maha Guru terdiam, seketika suasana menjadi hening.


"Hmm, bagaimana dengan keadaan Pargi saat ini? Tanya Maha Guru mengalihkan pembicaraan.


"Dia telah diobati, dan Guru Prambana sendiri yang telah meramu obatnya. "


Jawab yangsa berwajah datar.

__ADS_1


"Memang muridku, sepertinya keahlian meramu obatnya semakin berkembang" dengan senyuman bangga.


"Te- tetapi Maha Guru, mengenai k Kaesang." Yangsa dengan ragu-ragu.


"Apa baik, Maha Guru memberikan tugas seberat itu kepada Kaesang?"


Lanjut Yangsa dengan tutur yang sopan.


"Tentu, tidak tau itu baik atau buruk yang akan terjadi kepada dia. Itu sudah bagian dari takdirnya, hilangnya Kitab Naga Sakti hanyalah sebab sehingga Kaesang harus meninggalkan padepokan ini. " jelas Sang Maha Guru.


"Lalu, apakah Maha Guru telah mengetahui ini sebelum Kitab Naga Sakti dicuri?" Sela Yangsa penasaran.


"Berarti, Maha Guru sebenarnya tau siapa pencurinya?" Sambar Joko, dengan cepat bertanya.


"Kalian ini!" tersenyum kecil.


Maha guru bangkit dari duduknya, berjalan perlahan menuju jendela. Dia menatap jauh keluar jendela yang terbuka itu.


"Setiap takdir mahluk hidup, adalah kehendak Yang Maha Kuasa. Meskipun aku mengetahui semua itu, tetapi aku tidak boleh memberitahukannya. itu adalah rahasia yang di Atas.


"Aku hanya dapat diam dan melihat. Karena, jika aku memberitahukan satu saja takdir manusia. Itu akan merusak catatan takdir Yang Maha Kuasa, yang telah berikan kepadanya.


"Aku akan berdosa" tandas Maha Guru di akhir penjelasan yang di ucapkan dengan tenang itu.


#Bersambung>>


Ojo lali pencet ♡ nya, matursuwon.

__ADS_1


Para pembaca teruwuh ku. Love u full.


__ADS_2