
#Semua orang berjalan keluar meninggalkan warung makan, kecuali Sona dan Trio.
"Sona, sebaiknya kau jangan bicara lagi" ujar Trio merasa sangat cemas, oleh kelakuan temannya ini.
"Sudah, kalau kau takut jangan ikut bicara." sahut Sona mengabaikan, semua peringatan dari Trio.
"Sepertinya kau bukan penduduk di desa ini, benar?" tanya Ki Bargo mencoba sabar. Kalau dia penduduk sini, tidak mungkin berani menentangnya.
"Aku penduduk desa ini, murid dari Padepokan Sedayu" sahut Sona perlahan bangkit dari duduknya.
"Haha, pantas kelakuan mu sama dengan Guru busuk mu itu! Sangat suka mencampuri urusan orang lain." dengan tersenyum pahit mengejek.
***
Di sisi lain, di rumah penginapan milik Paman yaitu suami Bi Wijah.
Setelah Kaesang selesai makan, dan mem-bersihkan tubuhnya.
Terlihat kaesang berjalan keluar dari dalam rumah penginapan. Dengan semua barang-barang dalam buntelan kainnya. Dia menghampiri Paman pemilik rumah yang sedang menyirami tanaman di halaman depan.
"Paman!" seru Kaesang seraya tersenyum. Berjalan mendekati Paman yang sedang menyapu.
"Ya anak muda? Apa kau akan pergi sekarang? Tanya Paman itu setelah melihat buntelan kain yang di bawa oleh Kaesang.
"Benar, aku tidak bisa berlama-lama, aku harus terus berjalan." jelas Kaesang.
"Ya, baiklah kalau begitu, lain kali silahkan mampir lagi jika ingin bermalam" kata Paman dengan ramah.
"Baik, oh ya aku pergi dulu Pam- "
Belum selesai Kaesang berkata,
__ADS_1
tiba-tiba terdengar teriakan B Wijah. Begitu keras teriakan itu, sampai terdengar oleh kedua orang ini.
"Waaaaaa, TOLONG HENTIKAN!!"
Teriakan Bi Wijah membuat Paman dan Kaesang saling memandang seolah bertanya "Apa yang terjadi?".
"Suara istri ku? Ujar Paman mulai cemas.
"Mari kita lihat Paman." mereka mulai bergegas menuju sumber suara. Langkah kakinya di perlebar dan di percepat.
Tak lama, Kaesang dan Paman melihat banyak orang telah berkerumunan di depan warungnya. Sedang suara Bi Wijah yang terus berteriak.
HENTIKAN.
Terdengan teriakan itu dari dalam warung. Kaesang dan Paman mulai lari sekarang.
Setelah sampai di depan warung makan, di lihat sebagian meja dan bangku kayu telah rusak. Penduduk hanya berani melihat dari luar perkelahian antara dua orang di dalam warung itu.
"Bagaimana ini, kenapa bisa hancur warung ku!" Ujar Paman memukul pelan kepalanya dengan kedua tangannya.
"Hentikan, kalian bisa merusak warung makan milik Paman" ujar Kaesang dengan merentangkan satu tangannya.
Sebentar perkelahian itu berhenti, mereka sama-sama memandang Kaesang dengan wajah kusam. Merasa terganggu dengan kedatangannya.
"SIAPA KAU?" Serentak Ki Bargo dan Sona.
"Tidak perlu tau, yang jelas! segera hentikan perkelahian kalian." Desak Kaesang.
"Jangan meng-ganggu, lebih baik kau menyingkir." perintah Ki Bargo.
"Pergilah" disusul suara Sona dengan kasar.
__ADS_1
"Hah, ku kira dia saudara seperguruan mu, sama-sama suka ikut campur!" senyum jahat Ki Bargo, lagi-lagi di perlihatkan.
"Tutup mulut mu Paman tua, jangan menghina Guru dan Padepokan ku!" dengus Sona di susul dengan cakaran dari tangannya dengan gerakan.gesit.
Seketika Kaesang mundur tiga langkah, karena mereka berdua mulai berkelahi kembali. Brak, brak, brak, suara meja yang kembali hancur karena di gunakan sebagai tameng oleh Sona.
Melihat itu, Kaesang semakin tidak sabar ia mencoba kembali untuk melerai. Baru dia ingin bertindak tiba-tiba "BRRUAKK" suara tubuh Sona yang terlempar ke satu meja sampai meja kayu itu terbelah menjadi dua. Ki Bargo dengan gesit menghampiri Sona, ia meng-angkat satu kaki dan hendak menghabisi Sona. Dengan niatan menginjak kepalanya. Lalu meninjak hidungnya, agar tidak lagi bernagas. Namun tindakan Ki Bargo di hentikan oleh Kaesang.
"Dia sudah kalah, mohon Kisanak melepaskan dia" ujar Kaesang sopan, berharap dia akan mendengarkan.
"Apa kau murid Padepokan sedayu juga?" tanya Ki Bargo serius.
"Bukan!"
Jawab Kaesang mantap.
"Kalau begitu, jangan ikut campur!"
Ki Bargo tidak peduli, mulai menginjak kepala Sona dengan sangat kuat.
Sebentar dia meng-angkat kakinya, menyeringai melihat wajah Sona yang merasa kesakitan. Melihat perbuatan Ki Bargo, membuat Kaesang kesal.
Sama sekali tidak di dengarkan ucapannya itu. Meski sudah sangat sopan. Ketika ki bargo hendak meng-injak kepala Sona lagi, kakinya di tendang oleh kaki Kaesang.
Merasa marah oleh tindakan Kaesang, Ki Bargo mulai menyerang Kaesang.
Beberapa gerakan tangan yang kesit membuat Kaesang terpukul mundur.
Dengan cepat Kaesang melompat keluar dari jendela yang terbuka lebar tepat di belakangnya. "Hiaaat"
#Bersambung>>
__ADS_1
Sampun kesupen ♡ kaleh Vote kanggo nambah semangat author.
Pembaca ter UUWUH ku, love u full.