
*
Jatuh cinta mungkin sesederhana itu. Saat hanya bertemu satu kali, menatapnya beberapa detik, telah menimbulkan debar yang sangat entah di jantung milik gadis bernama Rubi. Rubi tidak pernah menyangka akan datang hari di mana dia akan jatuh cinta pada seorang pria bernama Arya Bayu.
"Mah, Rubi berangkat," ucap Rubi pada mamanya dengan terburu- buru.
"Sarapan dulu, Bi!"
"Aduh, Mah, enggak sempat. Takut telat."
"Baiklah, tapi bawa sanwich-nya buat bekal!"
"Iya, Mah. Dah."
Rubi menyambar kotak kecil berwarna pink di atas meja makan. Gadis itu langsung memasangkan helm di kepalanya dan menyalakan motor menuju jalan Perintis Kemerdekaan.
Brak!
Rubi terjatuh saat sebuah mobil melintas tiba-tiba hingga menyebabkan macet di jalanan pagi itu. Di sisi yang sama, Arya Bayu juga sedang menunggu kerumunan orang-orang di depannya untuk memberi jalan agar dia bisa segera sampai di sekolah. karena ada kecelakaan kecil yang terjadi di hadapannya.
Arya Bayu tiba sepuluh menit lebih lambat dari biasanya, sebab sempat terjebak macet selama beberapa menit. Dia memarkirkan motor trail-nya di bawah pohon flamboyan di area parkir, meletakkan helm-nya di sepion motor, lalu berjalan menuju kelas 12 Ipa 1.
"Tumben lu telat, Bro?"
"Tadi ada kecelakaan di jalan perintis kemerdekaan, makanya gua telat," jawab Arya Bayu sambil meletakkan tasnya di bangku.
Beberapa menit kemudian kelas tampak hening saat Bu Rahmi masuk kelas bersama seorang gadis. Arya Bayu terlihat memperhatikan gadis itu dengan saksama, memindainya dari ujung kepala hingga sepatu. Ada senyum mengembang di sana, entah mengartikan apa.
"Mohon perhatiannya, anak-anak! Pagi ini kita kedatangan murid baru, pindahan dari Surabaya, namanya Rubi Anastaya," jelas Bu Rahmi, "Rubi, kamu duduk ... di sebelah bangku Arya."
"Baik, Bu," jawab Rubi singkat.
Dia berjalan sambil membetulkan posisi tasnya dan meletakkannya di atas bangku.
Gadis dengan rambut berkucir kuda dan berkacamata itu telah menghipnotis seorang Arya Bayu untuk terus fokus memperhatikannya. Gadis dengan luka di dahi dan di lututnya itu sungguh telah membuat konsentrasi pria paling populer di sekolah internasional itu pecah.
Setelah semua kembali tenang, pelajaran Ipa pun segera di mulai, Bu Rahmi langsung menuliskan soal ulangan untuk dikerjakan murid-muridnya pagi itu.
"Hey, gua Bayu, dahi sama lutut kamu kenapa?"
"Gak papa, hanya tadi sempat jatuh, ketabrak mobil," jawab Rubi.
"Bahaya itu, kenapa enggak pergi ke ruang kesehatan sekolah?"
"Ini hari pertama aku, aku enggak mau sampai telat masuk kelas."
__ADS_1
"Oh ...."
"Arya, sudah ngobrolnya? Bisa tolong dilanjutkan jam istirahat saja?" ucap Bu Rahmi dengan menatap Arya Bayu tajam.
Begitulah awal Rubi dan Arya Bayu bertemu.
**
Waktu istirahat akhirnya tiba. Rubi memilih duduk di kursi pojok kantin dan memesan satu cup besar es teh manis untuk mendampingi sanwich-nya.
"Hey, gua boleh duduk di sini?" tanya Arya Bayu kepada Rubi.
"Boleh," jawab Rubi sembari membetulkan kacamatanya yang telah melorot hingga ke tengah hidungnya.
Rasa canggung menghinggapi perasaan Rubi, pasalnya dia belum pernah di dekati oleh pria. Selain pendiam, Rubi juga sangat tertutup.
"Ada club bahasa Jepang nanti, mau gak, elu satu kelompok sama gua?" tanya Arya membuka pembicaraan.
Rubi memandangi wajah Arya sejenak lalu mengangguk pelan. Arya tampak terlihat senang mendapati teman barunya setuju untuk bergabung di kelompoknya.
"Tipikal klise sekali Arya ini. Entah ada niat mendekati, atau ada niat lain terselubung?" Batin Rubi.
"Sampai jumpa di klub bahasa, nanti, ya!"
Arya kemudian beranjak meninggalkan Rubi di kursinya. Tak lama berselang datang sekelompok gadis mengelilinginya.
Gadis itu adalah gadis paling populer di sekolah. Namanya Luna, sekelas dengan Rubi di 12 IPA 1. Gadis dengan nilai terbaik di sekolah dan anak berprestasi menurut keterangan Bu Rahmi.
"Dengar baik-baik, ya, anak baru. Menjauhlah dari Arya Bayu. Jika kamu tidak mau mendapatkan masalah dari kami!" bisik Luna lirih di telinga Rubi.
Rubi hanya melirik sekilas dan menatap gadis di hadapannya itu dengan acuh hingga Luna kembali menatap Rubi itu dengan tajam kemudian beranjak meninggalkan Rubi sendirian.
[Kamu susah sekali dihubungi, Bi.]
Sudah hampir dua pekan Rubi sengaja mengabaikan pesan dari pria bernama Luca.
Dia sadar benar bahwa pria itu sangat merindukan Rubi. Namun, sekuat genggam, dia mencoba melebur rasa pedulinya.
Luca hanya seorang teman yang menaruh hati padanya. Kisah mereka terjadi pada ruang organisasi siswa intra sekolah sejak kelas sebelas.
[Bi, kenapa semua pesanku kamu abaikan? Apakah kepindahanmu ada hubungannya dengan aku yang mengungkapkan perasaan padamu?]
Sejujurnya, Rubi pindah sekolah karena dia dikeluarkan akibat membully teman-temannya. Meski Rubi anak yang berprestasi, tetapi sikap arogannya telah membuat dia selalu menindas anak-anak lemah. Ibunya adalah pemilik beberapa swalayan tebesar yang ada di beberapa kota dan selalu sibuk hingga Rubi selqlu sendirian di rumah. Dia selalu membuat onar di sekolah hanya agar dapat menarik perhatian dari Ibunya.
***
__ADS_1
Setelah kepindahannya di sekolah internasional ini, penampilannya berubah cupu, bukan tanpa alasan Rubi melakukannya. Semua itu dia lakukan agar dapat menjadi Rubi yang lebih baik di masa mendatang. Dia ingin menghilangkan image Rubi yang arogan dan sombong untuk membuat ibunya bangga dan menjadi lebih perhatian terhadapnya.
Luca adalah satu-satunya teman pria yang paling dekat dengannya, mereka adalah teman sejak tk dan orang tua mereka pun sudah bersahabat sejak smp.
Rubi mematikan ponselnya, dia sedang malas membalas chat dari Luca. Dia sedang tidak tahu harus ngobrol apa, sebab sejak Luca mengungkapkan perasaannya, Rubi menjadi canggung untuk mengobrol dengan sahabatnya itu.
Bel sekolah berbunyi, seluruh siswa di kelas Rubi meninggalkan ruangan kelas.
"Bi, lu jadi ikut klub bahasa siang ini, kan? Kita barengan aja datang ke kafe tempat anak-anak klub bahasa Jepang ngumpul, gimana?"
Rubi diam. Dari tadi dia terus menatap layar ponsel, dia sedang menunggu telephone dari Gina. Wajahnya gelisah. Dia ingin segera mendapatkan informasi tentang saudara kembarnya, Laluna. Karena dari penyelidikan Gina, saudara kembarnya bersekolah di aekolah ini. Gina adalah seorang hacker, maka pasti akan mudah bagi dirinya mendapatkan informasi yang Rubi butuhkan.
"Bi, kamu jadi ikut, kan?"
"Eh, iya," Jawab Rubi dengan ekspresi kaget.
Mereka berjalan menuju parkiran dan melajukan kendaraan mereka masing-masing menuju kafe kecil di pinggiran kota.
"Kita udah sampai, Bi," ucap Arya Bayu setelah menghentikan motornya di halaman kafe mini di pinggiran kota. Design kafe-nya hangat didominasi warna cokelat. Ternyata Arya Bayu benar-benar jatuh hati pada gadis bernama Rubi itu sejak pertama melihatnya tadi. Memandangnya pertama kali, dari jarak dekat membuatnya seberdebar itu ternyata.
Banyak detik yang terlewat. Arya Bayu masih membiarkan waktu melebur menghiasi kebersamaannya dengan gadis yang baru saja dikenalnya itu.
"Kamu pernah gabung dalam klub bahasa Jepang sebelumnya?" tanya Arya Bayu.
Rubi menggeleng pelan. Ini kali pertama dia ikut klub bahasa.
Tiba-tiba langkah Rumi terhenti, saat melihat gadis yang dicarinya selama ini. Laluna Anastaya. Gadis itu berkerudung abu-abu dengan senyum yang sangat menawan.
"Kenapa kamu–"
"Kenapa menangis, Bi?" tanya Arya sambil menepuk pundak gadis itu untuk membawanya kembali ke alam nyata.
"Eh, enggak apa-apa."
"Ya sudah. Itu anggota kita, namanya Laluna," jelas Arya menunjuk ke arah gadis yang sedang menulis buku di hadapan mereka.
"Ternyata benar, dia Laluna," Batin Rubi.
"Kamu ... mengenaliku?" tanya Laluna saat merasa terus diperhatikan.
"Ah, mana mungkin dia mengenalimu, Lun? Dia anggota baru kita," jawab Arya.
"Bagaimana mungkin aku tidak mengenalimu, Lun? Sudah hampir tiga bulan Rubi terus mencari keberadaannya. Mencari tahu segala hal tentangnya, juga petunjuk tentang siapa Luna, di mana dia tinggal, dan bagaimana dia hidup," batin Rumi.
Dia menggeleng, lantas berkata, "Aku hanya takjub melihat wajahmu. Teduh sekali. Senang bisa bertemu denganmu, Luna."
__ADS_1
***