
Hari ini kedua orang tuaku telah kembali kerumah kami. Mereka terlihat sumringah tiada terkira. Aku juga menyambut hangat keduanya. Aku seperti ratu dirumah ini,sangat dimanjakan dan disuguhkan apapun yang aku inginkan. Ibuku,Ayahku keduanya selalu menyajikan yang terbaik untukku. Tidak jarang mereka juga menata apapun yang dirasa kurang pantas untukku. Seperti warna sprei kamar,selimut bahkan warna pakaian juga selalu diselaraskan dengan mereka.
Aku melihat ibuku sangat sibuk hari ini,beliau menata bunga beraneka warna dan aroma. Ada banyak orang yang membantu,aku tidak tahu apa yang sedang dipersiapkan.
“ ibu,ada persiapan apa ini?“
“ ini adalah ulang tahun kakakmu,ibu sudah menyiapkan gaun untukmu nanti malam sayang “
“ Ulang tahun kakak? Adhan? “
“ iya,, sini kekamar ibu, kamu coba dulu gaunmu “
Aku terbengong patuh mengikuti langkah kaki ibuku.
Hari ini ulang tahun Adhan ? aku bahkan tidak tahu dan belum menyiapkan sebungkus kado untuknya.
“ Ini Zhu,warna kesukaan kakakmu. Semoga cocok untuk malam ini “
“ iya,ibu benar malam ini aku akan menggunakan gaun warna kesukaan Adhan untuk sedikit membuat dia bahagia “
“ kamu bisa mencobanya “ aku segera beranjak untuk memasang gaun pilihan ibuku ini. Lumayan pas dan aku rasa ini cukup menarik perhatian matanya. Dia sangat menyukai biru aqua,warna yang lembut tapi tegas. Bergegas aku mencoba gaun ini,aku ingin segera menghubungi Jinny dan mengajaknya keluar guna membeli sebungkus kado yang tepat untuk Adhan. Tidak mungkin aku tidak memberinya kado di hari ulang tahun,dia sangat baik padaku. Setidaknya aku harus menyamar menjadi adik yang baik. usai mencoba dan ibu mengamininya. Aku berpamitan untuk pergi,namun langkahku sempat terhenti di bibir pintu. Adhan sudah bertengger dihadapanku. Aku tidak menyapa,atau sekedar melempar senyum hanya melaluinya begitu saja. Jujur hingga detik ini sebenarnya aku masih bingung harus bersikap bagaimana kepadanya. Berhasil menghubungi Jinny,aku bersiap untuk pergi bersamanya.
__ADS_1
Kak Firas juga siap menemani untuk memilih kado yang tepat,berjam-jam kami bertiga berputar di pusat perbelanjaan. Akirnya jatuh pandanganku pada sepasang sepatu olahraga. Jinny memilih jam tangan,kak Firas memilih sepatu olahraga dan ini lah pilihan terakir. Aku membungkusnya dengan rapi dan cukup special.
“ tulis kata-kata selamat ulang tahun dan akiri dengan kata “ Love You “ begitu Zhu “
ku jitak kepala gadis ini,dia meringis kesakitan. Apa yang ada diotaknya sehingga aku harus menulis kata itu. Susah payah aku berusaha menghapus cinta untuknya. Bagaimana mungkin aku akan mengucapkannya.
Setelah kado siap,kami kembali kerumah masing-masing. Aku juga mengingatkan kedua kakak beradik itu agar tidak lupa untuk datang tepat waktu. Walau bagaimanapun,hari ini aku harus tegar dan lebih kuat untuk selalu memasang senyum bahagia dihadapan Adhan. Setidaknya aku butuh Jinny untuk bersandar dan berbagi cerita.
Jam berputar tanpa bertanya,waktu untuk acara sudah dekat. Aku bersiap memoles wajahku seadanya,ibu juga membantu untuk aku merias wajah. Dirasa cukup,ibu meninggalkan aku untuk menyambut tamu dan berpesan agar aku segera mengikuti acara. Aku sedikit menata hati,aku harus siap dan memilih senyum yang tepat. Jinny terlihat begitu sumringah,dia mencariku kekamar dan mengajakku untuk mengikuti acara. Aku tidak pernah menyangka akan hadir ditengah acara semeriah ini.
Sebelumnya aku tidak pernah mengikuti acara ulang tahun yang dibuat semeriah ini. Ini acara ulangtahun seorang pria,tetapi dibuat sangat besar seperti acara pernikahan saja. Banyak tamu ayah dan ibu yang menebar senyum. Bahkan ibu dan ayah tidak segan memberi pengumuman bahwa aku adalah putrinya. Ayah sempat menitikkan air mata memberi pengumuman penyambutan kehadiranku ini. Setelah itu ayah datang dan mendaratkan kecupan manis dikeningku sebelum kembali berkumpul dengan tamu-tamunya.
Aku bercanda ria dengan Jinny,mencoba mengomentari ini itu yang kami lihat. Mataku terpanah pada seorang gadis. Rambutnya curly dan panjang. Riasan wajahnya natural,sangat menawan. Aku bukan tertarik pada parasnya yang menawan,aku masih normal. Aku tertarik pada gaun yang dia kenakan. Rasanya aku tidak asing dengan gaun itu. Mataku mengikuti kemana dia berjalan. Rupanya dia menuju arah Adhan berdiri. Aku juga melihat mereka berpelukan hangat dihadapan semua orang.
“ Zhu... “
“ aku baik-baik saja “ jawabku lirih.
Sementara kak Firas tetap berdiri didepanku tanpa kata. Pandanganku masih nanar,kabur tidak jelas. Genangan air dikelopak mata ini sudah menyundul tidak sabar,namun kucoba untuk menahannya sebisa mungkin. Hingga tiba saat peniupan lilin yang sudah disiapkan. Ibu menyiapka kue terbesar yang pernah aku lihat. Ibu memesan khusus untuk acara hari ini. mungkin ada seratus lilin yang harus dipadamkan. Mata Adhan tajam menatapku,sementara aku terpaku melihat legan gadis bergaun biru muda itu melingkar di lengan kanan Adhan.
Jadi,itu sebabnya gaun itu harus kucoba dan dibeli tanpa harus diberikan padaku?
__ADS_1
Aku mengingat dengan jelas saat dia memilih gaun itu dan memintaku untuk mencobanya,dia juga berkata hanya ingin aku mencobanya. Setelah itu aku lihat dikasir dia membeli gaun itu namun tidak dia berikan kepadaku. Jadi untuk gadis itu?
Aku merasa ada yang menyentuh telapak tanganku. Kuarahkan pandanganku pada kak Firas yang dengan setia masih berada disamping kiriku,dia hanya memejamkan mata dan mengangguk lembut. Ayah ternyata sudah berada dihadapanku dan mengembangkan senyum terindahnya. Ayah merangkulku hangat dan membimbingku menuju tempat peniupan lilin. Terlihat alay dan lebay,tapi entahlah mungkin ini bisa membuat suasana bahagia.
“ ini juga acara penyambutan kehadiran putriku tercinta Zhulaikah Al-Fasih “ gerlap tepuk tangan para tamu menyamar bahagia.
Aku mencoba menyuguhkan senyum semampuku. Sementara hatiku bergejolak saat aku harus berdiri beriringan dengan Adhan untuk meniup ratusan lilin ini. Mataku tajam pilu melirik wajah Adhan yang nampak tenang. Semakin tegang jantungku saat ibu meminta Adhan memotong kue dan memberi kami sedikit suapan.
Suapan pertama Adhan berikan untuk Ibu,kemudian ayah dan dia menyodorkan kue itu dihadapanku yang masih menahan gejolak peperangan batin,hati dan otak yang harus bertindak sesuai logika. Entah apa yang dihasilkan dari peperangan itu,hingga aku hanya diam menatap tajam Adhan yang memintaku untuk menggigit sedikit kue yang ada ditangannya. Hingga pada akirnya aku menampik tangan itu dan membiarkan sepotong kue tadi limbung berjatuhan.
Segera aku menahan wajahnya dengan kedua telapak tanganku dan kulandaskan kecupan dikeningnya walau harus berjinjit karena dia tetap lebih tinggi dari ku meski aku sudah menggunakan hak tinggi. Kubuka mataku dan kubiarkan kelopak ini bertatapan dengan kelopak tajam yang sedari tadi membuatku menahan konak. Namun saat tersadar,aku justru gelagapan dan merasa sangat bodoh.
Apa yang aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan?
Aku seolah mempermalukan diriku sendiri dihadapan orang banyak. Aku mencoret mukaku sendiri dengan tinta tidak beraturan.
...-------o0o-------...
\=\=\=\=\= Bersambung \=\=\=\=\=
Kisahnya masih bersambung dear,jangan bosan bacanya ya.. kritik saran komen,like,juga saya harapkan untuk kelanjutan kisah di episode-episode berikutnya.
__ADS_1
Buat kamu yang pengen kasih saran keras bisa email aja di realraraabdullah@gmail.com atau bisa juga ke kimjangmi.**@gmail.com
Kita bisa kenalan biar saling kenal dan tukar pengalaman. Thanks dear, i love love love you so much hehehe