
Dengan rasa marah Rubi kembali ke kelasnya. Dadanya terasa terbakar. Namun, dia harus memastikan dirinya tenang, karena adik kembarnya adalah orang yang sangat sabar dan berpembawaan dingin.
"Luna, kamu kenapa?" tanya Arya Bayu.
"Gak papa, Arya."
"Eh nanti ada pergantian ketos, sepertinya Adik gua bakalan jadi calonnya."
"Oh. Siapa nama adik kamu, Arya?"
"Exel."
"Oke."
Mereka berdua berjalan melewati tangga. Membuat Lusi geram melihat kedekatan Arya dan Luna. Anak-anak sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Jam istirahat sebentar lagi akan berakhir.
Langit tiba-tiba menjadi gelap. Gerimis perlahan turun membasahi lapangan dengan cat warna hijau. Semua menjadi basah, pohon beringin, pohon cemara, ring basket, genting, semuanya basah oleh gerimis kecil yang awet seperti diformalin.
"Hey, jangan melamun!" ucap Arya membangunkan Rubi dari lamunannya.
"Eh, enggak, aku engga melamun, kok."
"Lu mikirin apa sih, Bi? Kamu sedikit berbeda dengan Rubi yang biasanya," tanya Arya.
"Apaan sih? Aku masih sama. Masih Rubi Anastaya."
"Baiklah. Eh, boleh minta bantuan gak, Bi?"
"Apa?"
"Adik gua nyalon jadi ketua osis. Tolong dukung dia, ya?"
"Baiklah."
__ADS_1
"Makasih ya, Bi."
Rubi mengangguk sambil tersenyum. Beberapa menit kemudian, pelajaran dimulai. Semua murid tampak tenang mengikuti pelajaran.
***
Sebuah suara sepatu mendekat ke arah Luna.
"Lun, Bos nyuruh lo nanti balik ke markas. Ada balap liar yang kudu elu ikuti!" perintah Raksa.
Rubi yang sedang menyamar sebagai Luna sontak kaget. Mendengar pria yang tak dikenalnya meminta dirinya untuk ikut balapan liar.
"Lun! Lu jangan diem aja! Kesambet, lu?"
"Kagak, aku ... kenapa harus aku?"
"Sejak kapan lu pakai aku, sama gua? iye, iye, gua inget ini lagi di sekolah, tapi jangan lupa, ye. Nanti abis pulang sekolah bareng gua ke markas."
Cowok itu langsung berlalu meninggalkan Rubi dengan kebingungannya. Rubi langsung mencari keberadaan Luna saudara kembarnya. Dia mencari Luna di kantin, di perpustakaan, di taman, dan tak menemukannya.
"Kayaknya di belakang kantin deh, Kak."
"Makasih, ya."
"Sama-sama, Kak."
Rubi langsung berjalan cepat ke arah belakang kantin. Dia mendapati Luna yang sedang mencuci mangkuk di belakang kantin.
"Lun! Lu keterlaluan!"
"Ada apa sih, Bi?" tanya Luna santai.
"Apa Lu ikut balapan liar?"
__ADS_1
Luna kaget, lalu membekap mulut saudara kembarnya dan menyandarkannya di tembok belakang.
"Kamu tahu dari mana?"
"Emmp, emmp, emmmp, lepasin!" ucap Rubi sembari melepaskan bekapan tangan Luna di mulutnya. kemuduan mengelap mulutnya dengan ujung jilbabnya.
"Basah, tau!"
"Iya, maaf. Kamu tahu dari mana?"
"Tadi ada cowok aneh yang minta kamu ke markas. Gak tau markas yang mana. Dia bilang pulang sekolah nanti dia bakalan jemput kamu," jawab Rubi.
"Nanti kita tukeran lagi, Bi. Aku balik jadi Luna!" ucap Luna sembari melepas celemeknya.
Luna mengambil ponsel di saku roknya dan menghubungi seseorang.
"Raksa, nanti Lu gak usah jemput gua, gua langsung datang ke markas sepulang sekolah!"
pip!
"Eh, Lun. Jelasin sama aku! Kamu mau ke mana?" tanya Rubi.
"Bi, sorry. Aku belom bisa cerita sekarang. Tolong pulang ke rumah mama. Aku balik ke rumah Ayah!"
"Tapi, Lun?"
"Udah deh, jangan banyak tanya. Nanti kapan-kapan aku jelasin."
Bel pulang sekolah telah dibunyikan. Murid-murid satu persatu meninggalkan kelas.
Luna terlihat terburu-buru mengendarai motornya. Rubi mengikutinya dari belakang. Motor Luna memasuki sebuah gang sempit di mana di sana ada sebuah bendungan dengan jalanan yang sudah ramai oleh banyak orang. Hari sudah hampir gelap. Terlihat Luna mengganti pakaiannya setelah keluar dari sebuah rumah kecil. Rubi terus mengikutinya. Luna tampak berwudu dan melaksanakan salat mahrib di sebuah musala kecil.
Beberapa menit kemudian Luna telah siap dengan jaket dan helm-nya. Dia tampak mengendarai motor Yamaha WR 155 R dan melajukannya dengan cepat menuju sebuah kawasan sepi di daerah pinggir laut. Perlahan terlihat kerumunan banyak orang di jalan itu.
__ADS_1
Dengan mata kepala Rubi sendiri, dia menyaksikan dari jauh saudara kembarnya balapan liar melawan para pria. Rubi mengambil ponselnya dan memfoto semuanya lalu dia kirimkan kepada Gina.
["Cari tahu ini perkumpulan apa, Gin?"]