
*
Hari itu Rubi dan mamahnya baru saja kembali ke Surabaya.
"Kita sudah sampai, Bi," ucap mamahnya sambil menggoyangkan pundak Rubi pelan.
Rubi mengerjapkan matanya dan mengambil tas kecil berwarna hitam di sebelahnya. Tangannya membuka pintu mobil kemudian keluar dan menutupnya kembali. Matanya memindai sebuah rumah sederhana bergaya tinyhouse di tengah area persawahan.
Kedatangan mereka di rumah itu disambut oleh Mas Tejo dan Bik Asih. Mas Tejo langsung menurunkan dua koper berwarna hitam dan menariknya menuju rumah, sedangkan Bik Asih membawa kantung plastik berwarna hitam dari dalam bagasi mobil.
Mereka berjalan menuju rumah lama yang telah mereka tinggali selama beberapa tahun terakhir sebelum mereka pindah ke Surabaya. Rubi merasakan suasana rumah ini tampak berbeda. Halamannya terlihat lebih rindang oleh pohon asam belanda yang berdiri kokoh di samping pagar, suara burung-burung yang berkicauan menambah damai pagi yang masih berselimut dingin, bahkan sejuk semilir angin, dan hamparan sawah yang luasnya sangat memanjakan mata ketika dipandang.
"Bagaimana keadaan Bik Asih? Mas Tejo bagaimana?" tanya Nanda kepada dua pengurus rumahnya ketika ditinggal ke Surabaya.
"Alhamdulillah saya baik dan tak kurang suatu apapun," jawab Bik Asih, "saya juga baik, Non," sambung Mas Tejo.
"Syukurlah kalau begitu."
"Tunggu Bik. Itu yang di kantung plastik warna hitam, oleh-oleh buat Bibi dan Mas Tejo, ya!"
"Iya, Non, terima kasih," jawab Bik Asih dan Mas Tejo bersamaan.
Nanda mengangguk pelan. Kemudian berjalan menuju pintu kamarnya dan Rubi mengekori di belakangnya.
"Bi ..., kamu mau bobo sama Mama?"
"Hehe. Enggak. Rubi cuman mau mastiin di kamar Mama aman dan engga ada kecoak, kok."
Nanda tertawa terkekeh-kekeh sambil menggelengkan kepala lalu masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu. Dia tahu persis alasan putrinya mengikutinya. Itu karena Rubi itu sangat penakut terhadap kecoa dan semut. Rubi mendesah mengembuskan napas pelan. Dengan perasaan malas dia berjalan menuju kamarnya.
Rubi meletakkan tas kecilnya di atas kasur. Melepaskan jaket yang dipakainya, lalu meletakkannya di atas kasur. Merebahkan tubuh dan memejamkan matanya.
__ADS_1
Aroma kamarnya masih sama, ternyata Mbok Asih benar-benar mengurus rumah itu dengan sangat baik. Mbok Asih dan Mas Tejo tinggal di rumah yang berseberangan dengan rumah Rubi. Mas Tejo hanya berumur dua tahun lebih tua dari Rubi, tetapi sudah sangat akrab dan bersahabat dekat dengan Rubi adiknya bernama Gina dan dia adalah sahabat baik Rubi.
Rubi tidak pernah manyangka bahwa kepulangannya ke Surabaya akan mengungkapkan tabir rahasia tentang hidupnya. Tentang siapa ayahnya dan kebenaran bahwa dia memiliki saudara kembar bernama Laluna.
Kedatangan pria bernama Aldo malam itu mengundang rasa penasarannya untuk mencari tahu siapa Aldo dan apa hubungannya dengan sang mama. Sampai dia menemukan akta pernikahan mamahnya dengan pria bernama Rivaldo Sigit Permana.
Dia melalui Gina terus menyelidiki tentang siapa Rivaldo Sigit Permana. Gina adalah seorang hacker hingga tak kurang dari tiga bulan, dia telah mendapatkan invormasi tentang siapa Aldo, di mana dia tinggal, dan bersama dengan siapa, hingga Rubi mengetahui bahwa ada anak lain yang dilahirkan mamanya dan mereka kembar. Siapa menyangka bahwa Tuhan berpihak kepada Rubi, sang Mamah memutuskan kembali ke Jakarta.
Sore itu, Rubi telah mengenakan pakaian yang sangat rapi. Dia duduk di kursi teras sambil mengikat tali sepatunya.
"Bi, kamu udah rapi sekali, mau kemana?"
"Rubi mau jalan-jalan, boleh Mah?"
"Sama siapa?"
"Sama Gina, Mah, tuh dia udah dateng," jawab Rubi sambil menunjuk ke arah Gina yang berjalan ke arah mereka."
"Sore, Tante," ucap Gina menyapa majikan dari ibunya.
"Mamah, ih."
"Siyap Tante, soal jewer menjewer Rubi, Gina jagonya," ledek Gina sambil mengangkat tangan kanannya ke dahinya seperti menghormat bendera.
"Udah, Ah. Mama engga asik. Yuk, Gin." ucap Rubi sambil menarik sahabatnya.
"Kami pergi dulu, Tan!" ucap Gina berpamitan.
"Mah, Rubi bawa mobil Mama!"
"Pakai motor aja, Bi. Kamu masih capek, loh!"
__ADS_1
"Enggak, ah! Takut hujan, Mah!"
"Hati-hati kalian!" teriak Nanda mdngingatkan.
Rubi dan Gina membuka pintu mobil, kemudian Rubi segera melajukan kendaraannya menuju sebuah panti asuhan "Cahaya Kasih"
"Gin, lu yakin, Luna tinggal di sini?"
"Gua yakin, Bi."
Rubi mrnghentikan mobilnya di pinggir jalanan depan panti, mereka mengintai keadaan panti sampai seorang pria yang pernah menemuinya muncul dari pintu bersama seorang gadis berkerudung hitam seumuran dengan Rubi. Tanpa bertanya, Rubi bisa memastikan bahwa gadis itu adalah Luna sebab wajah itu benar-benar mirip sekali dengan dirinya.
Dia menyalami sang pria kemudian mencium punggung tanggannya. Gadis itu mengenakkan helm di kepalanya lalu melajukan motornya memasuki jalan raya. Rubi segera menyalakan mesin mobilnya dan mengikuti gadis itu. Beberapa kemudian, motor itu berhenti di sebuah kafe kecil di pinggiran kota.
Setelah memarkirkan motornya, gadis itu masuk ke dalam kafe. Rubi dan Gina juga langsung mengikuti gadis itu masuk ke dalam kafe. Mereka memesan beberapa menu makanan sambil memperhatikan sekeliling.
"Gin, di mana gadis itu? kenapa enggak ada?"
"Enggak tahu, Bi. Mungkin dia ada di toilet."
Setelah menunggu tiga puluh menit, ternyata gadis itu tak juga muncul. Entah kemana menghilangnya gadis itu.
Malam semakin larut dan kedua bocah tadi sudah cukup bosan menunggu hingga memutuskan untuk pergi dari kafe kecil itu.
Rubi meletakkan punggungnya dengan kasar pada sandaran sofabed di ruang tamu.
"Sudah pulang, Bi?" tanya Nanda pada putrinya sambil memberikan segelas air kepada Rubi.
"Iya, Mah. Cape!" jawab Rubi sambil menerima segelas air dingin dari mamanya.
Nanda membuka laptopnya kemudian sibuk dengan pekerjaannya. Sebagai pemilik beberapa swalayan, dia tentu pekerjaannya menyita waktu bersama dengan putrinya terlalu banyak. Sehingga Rubi selalu saja membuat onar di sekolah lamanya agar dipanggil oleh kepala sekolah dan mamahnya bisa datang ke sekolah untuk memarahinya.
__ADS_1
Sayang, kenakalannya tidak menghasilkan kasih sayang yang dia butuhkan dari sang mama, selain dia harus di DO dari sekolahnya. Sebenarnya sang mama sudah sangat kewalahan menghadapi putrinya, tetapi karena pekerjaannya banyak sehingga dia harus tetap kehilangan waktunya bersama Rubi. Nanda berkali-kali menjelaskan kepada putrinya bahwa dia juga ingin selalu bersama putrinya, tetapi dia mengingat masa-masa paling menyeedihkan saat dia harus meninggalkan seorang Rivaldo Sigit Permana.
Pria yang telah menikah dengannya itu lebih memilih kekasihnya daripada dirinya. Aldo bahkan tidak pernah tahu saat istrinya pergi, dia sedang mengandung anak kembar.