
“ kenapa kamu memberiku handphone? “
“ handphonemu rusak kan? aku hanya ingin dengan mudah menghubungimmu . Sudah sekarang lekas tidur sana “
“ tap... heii,, Adhan... “
dia mematikan telephone,aku benar-benar heran pada lelaki satu ini. Dia selalu menyediakan dan menyajikan yang dia rasa terbaik untuku. Membuatku sekilas teringat akan ayah. Ayah juga selalu menebak dan memberi apapun yang aku inginkan. Ibu selalu memberiku lebih dari apapun.
Sudah bertahun-tahun sejak kejadian itu,aku tidak lagi berjumpa dengan mereka. Aku sempat tinggal dipanti asuhan dan pada akirnya aku memutuskan untuk tinggal sendiri. Aku dulu bekerja apa adanya,bahkan sempat menjadi pembantu rumah tangga.
Hari itu,entah hari apa tapi aku menganggap hari itu adalah hari yang paling menyedihkan. Kejadian itu terjadi begitu saja. Aku sedang mencari counter penjual minuman di stasiun. Kecerobohanku sudah ada sejak aku kecil,aku pergi tanpa memberi tahu ayah dan ibu. Aku hanya berniat membeli air dan kembali,ku fikir tidak akan lama. Setelah aku mendapat air minum,aku langsung kembali ke kereta. Aku segera menuju kursi ayah dan ibu. Tapi saat aku menyusuri isi kereta,aku tidak mendapati kedua orang tuaku. Aku sebagai anak berusia tiga belas tahun,memaksakan diri untuk tidak menangis dan tetap tenang mencari kedua orang tuaku. Aku perhatikan satu persatu orang yang duduk di kursi sepanjang kereta ini.
Hingga aku terlelah dan kereta berhenti. Orang bilang ini adalah tujuan terakir dari kereta ini. Aku segera turun dan menunggu kedua orang tuaku,bahkan aku meminta kepada pak satpam yang berjaga untuk membantuku menemukan kedua orang tuaku. Hingga pagi menjelang,aku masih terduduk sendirian di ruas station ini. Jika memang orang tuaku ada disini,pasti mereka mendengarkan panggilan tim informasi. Dan pastinya mereka sudah mencariku,menemukanku serta memelukku kali ini. Aku hanya terdiam tak berbahasa,aku keluar dan berjalan tanpa arah. Tangis tak henti mengiringi langkahku. Aku bingung,bimbang dan resah. Apa yang harus aku lakukan? bagaimana ini bisa terjadi?kenapa aku harus pergi tanpa bilang pada ayah dan ibu? Dimana ayah dan ibu?.
“ ayah,, aku takut,, aku dimana sekarang? ayah dimana? ibu,, “
sembari berfikir keras aku melangkah menyusuri kota asing ini. Aku tidak bisa berbuat apa-apa,aku tidak tahu harus bagaimana. Aku tidak pernah bepergian sebelimnya. Ini adalah kali pertamanya aku bepergian. Kakiku terhenti membaca rangkaian huruf bertuliskan “ Panti Asuhan “.
Seseorang mendekatiku dan bertanya banyak hal. Mungkin iba beliau membawaku masuk dan memberiku makan serta minum. Beliau juga mempersilahkan aku merawat diri dan beristirahat. Aku fikir sembari menemukan jalanuntuk kembali,aku akan tinggal disini sejenak. Hari-hariku berjalan normal disini. Aku bisa makan,minum,jajan dan mendapat layanan pendidikan dengan baik.
Aku menikmati hidupku disini. Mungkin Tuhan punya jalan lain. Kalian pasti bertanya,kenapa aku tidak kembali kerumah saja? pengasuh pantiasuhan sudah mengantarkan aku untuk kembali kerumah. Tapi sesampainya aku disana. Rumah itu sudah di jual dan sudah berganti penghuni. Kedua orang tuaku sudah tidak disanalagi. Ayah dan ibu memang bilang bahwa kami akan tinggal dirumah baru,tapi mereka tidak memberitahuku akan tinggal dimana? Karena kami tidak menemukan kedua orang tuaku,kami memutuskan untuk kembali ke panti.
Ibu panti meninggalkan nomor telephone pada pemilik rumah baruku,dan berpesan agar menghubungi bila ayah dan ibuku kembali. Tapi hingga tahun ini,tidak pernah ada kabar tentang orang tuaku. Saat usiaku sudah pantas untuk bekerja,aku memilih bekerja meski sebagai pembantu rumah tangga. Aku ingin menghasilkan uang dengan keringat sendiri. Aku berusaha hidup lebih mandiri. Ibu panti juga membantuku untuk mendapatkan pendidikan terbaik.
Aku bisa sekolah,aku bisa kuliah. Memasuki semester dua,aku terlepas dari pekerjaanku sebagai pembantu rumah tangga. Aku mendapat pekerjaan yang lebih baik dan lebih santai. Dengan sisa gaji dari pekerjaan sebelumnya,aku bisa membayar kos dan mencukupi kebutuhan hidupku.
“ Zhu,,, Zhu,,, bangun Zhu,,, ZHU “ tubuhku terkoyak,aku segera membuka mata
__ADS_1
“ ada apa Zhu,kenapa kamu menangis? “
wajah Sisil jelas kupandang. Rupanya dia membangunkan aku,tidak sengaja aku mengigau dan menangis. Mungkin dia terganggu dan segera membangunkan aku dari lelap.
“ tidak apa-apa Sil,aku hanya mimpi buruk. Maaf kalau kamu terganggu “
“ tidak,aku juga hendak bangun tahajud. Sebaiknya kamu ambil wudhu dan kita tahajud bareng“
Aku setuju dengan ucapan Sisil,kami segera melaksanakan dua rakaat sunnah bersama. Dalam do’a aku selalu mengingat wajah kedua orang tuaku. Mungkin saat ini aku sangat merindukan mereka. Atau mungkin mereka juga merindukan aku. Semoga kami segera bertemu bila memang mereka masih hidup. Namun bila mereka telah kembali pada-Nya,semoga ditempatkan di tempat terindah bersama.
Usai dua rakaat menjelang dini hari,aku bersiap berangkat kuliah. Sisil membuatkan aku segelas susu dan roti keju. Aku heran saja kenapa hari ini dia membuatkan aku sarapan special begini. Tidak putus disitu,Sisil juga memberiku sebutir apel dan jeruk. Dia bilang aku harus mulai membiasakan diri menenggak makanan sehat.
“ uang darimana untuk semua hal ini?“
“ tenang saja,kamu tinggal makan kenapa protes,cepat makan dan minum susu sampai habis“
“ apa kamu dapat pacar baru ? “
“ Zhu...aku lihat ada handphone baru di meja,itu handphonemu? berapa nomornya?“
“ kamu bisa periksa sendiri aku tidak menguncinya“
“ zhu,,ada pesan dari Adhan“
“ jangan dibaca !“
kebiasaan anak labil satu ini adalah kepo dengan isi pesan orang lain.
__ADS_1
Hari ini aku tidak menjemputmu,aku ada sedikit urusan. Kakimu sudah sembuh kan? kamu bisa jalan sendiri kekampus. Sampai ketemu di kampus
~Adhan
“aku juga tidak memintamu menjemput“
bisikku lirih. Mungkin benar perasaanku,dia akan meninggalkan aku saat gift di kaki ini lepas. Dan hari ini dia mulai menghindar,dia memberiku handphone hanya agar dia tahu aku dimana itu saja. Tapi tidak apa,aku tidak akan serakah lagi. Cukup dengan melihatnya aku sudah sangat bahagia. Aku sudah merasakan perhatiannya,dia juga selalu melindungiku dalam segala suasana selama aku sakit.
Aku menjalani aktifitas seperti biasa. Dari pagi aku belum melihat wajah Adhan sama sekali. Hingga jam makan siang tiba,aku masih belum bisa melihatnya. Apa yang dia lakukan? apa benar dia sedang menghindariku sekarang? berjalanpun aku gontai menuju kantin kampus. Aku tidak memiliki nafsu makan,tapi harus tetap makan agar bertenaga.
“ bu,mie ayam bawang ya“
“ wah,,mienya habis mbak“
“ lhoo,, itu masih banyak bu“ aku menunjuk berbagai macam mie instan yang dipajang.
Aneh sekali terlihat nyata menggunung begitu masih dibilang habis,memangnya aku tidak bisa melihat? hmmm
“ oh,, ini semua sudah dipesan mbak“
“APAH ?? “
akirnya aku memutusnya membeli nasi bali telor ayam. Mengesalkan sekali,aku harus membeli menu dengan harga di atas harga mie instan. Ibu ini juga memberiku banyak sayur.
\=\=\=\=\= Bersambung \=\=\=\=\=
Kisahnya masih bersambung dear,jangan bosan bacanya ya.. kritik saran komen,like,juga saya harapkan untuk kelanjutan kisah di episode-episode berikutnya.
__ADS_1
Buat kamu yang pengen kasih saran keras bisa email aja di realraraabdullah@gmail.com atau bisa juga ke kimjangmi.**@gmail.com
Kita bisa kenalan biar saling kenal dan tukar pengalaman. Thanks dear, i love love love you so much hehehe