
“ kamu sudah bangun, yang mana yang sakit? “
pertanyaannya lembut berbisik di telingaku. Aku hanya menutup mataku dan sedikit bergeleng.
“ sebentar akan aku panggilkan dokter. Kamu tunggu sebentar “
sejenak kemudian,dia datang bersama seorang ber-jas putih lengkap dengan para perawatnya. Mereka memeriksa keadaanku sesaat. Mereka berpendapat tidak ada yang serius dengan lukaku,hanya butuh perawatan dan istirahat total saja. Wajah Adhan sudah tidak setegang saat pertama aku melihatnya. Dia terlihat lebih tenang. Usai berterimakasih kepada awak kesehatan,dia mendekat padaku.
“ kau baik-baik saja kan,mana yang terasa lebih sakit? “
dia menggenggam tanganku lembut.
“ aku baik-baik saja“ masih dengan sangat lemah suaraku melayang.
“ baiklah aku akan pergi sebentar,mencari beberapa makanan dan minuman“
Mataku menerawang mengingat kejadian waktu itu. Siapa yang tiba-tiba mendorongku hingga terjatuh?. Aku masih merasa takut,hingga kuraih kembali tangan Adhan yang beranjakpergi.
“ aku takut sendirian“ Adhan sedikit berfikir,mungkin dia lelah dan belum makan. Dia menatap mataku dengan lugas.
“ baiklah,aku akan disini. Istirahatlah aku akan temani kamu disini“
Dia benar-benar tidak beranjak kemanapun,aku merasa tidak enak dia pasti belum makan sejak tadi. Dia terlihat lelah,mungkin dia menungguku hingga tersadar. Tidak lama kemudian aku mendengar ada yang membuka pintu. Adhan menyapa dengan jelas,itu Jinny aku segera membuka mata dan menyapanya dengan senyuman.
“ Kamu baik-baik saja kan?“ Jinny lembut menyapa,wajahnya masih sangat hawatir. Aku mengangguk tak berbahasa.
“ kak Adhan,aku bawakan sarapan dan beberapa minuman dingin. Lekas makanlah,kakak belum makan kan sejak kemarin“
mataku terbelalak mendengar ucapan Jinny,jadi dia sejak kemarin berada disampingku. Dia bahkan belum makan,tapi aku tetap memintanya tidak beranjak dariku. Sungguh egois sekali aku.
Sebisa mungkin aku memintanya untuk makan,Jinny menjadi alasan aku tidak takut berada diruangan ini. Lagi pula dia hanya makan bekal pemberian Jinny dan tidak beranjak dari ruangan ini sejengkalpun. Pantas saja wajahnya letih begitu,aku benar-benar tidak berperasaan. Orang macam apa aku ini ? kenapa bisa aku memikirkan diri sendiri tanpa memikirkan keadaan dia ?.
Setelah beberapa hari aku dirawat di kamar rumahsakit,akirnya aku diperbolehkan untuk beranjak dari sini. Yang membuat orang lain bingung adalah,dimana aku akan tinggal. Adhan bersikeras tidak mengijinkan aku tinggal dirumah kos karena dia tahu Sisil tidak lagi berada di kamar kos. Sisil harus pergi KKN ke desa terpencil untuk beberapa bulan.
__ADS_1
Sedangkan tangan kanan dan kepalaku masih diperban. Aku pasti tidak bisa melakukan apapun tanpa tangan kanan. Tidak akan ada yang membantuku beraktifitas. Dia juga tidak mungkin membawaku untuk tinggal dirumahnya. Kak Firas menyarankan untuk sementara hingga tanganku kembali normal,aku bisa tinggal di rumahnya.
Satu kamar dengan Jinny tidak akan merubah dan menuai apapun. Berbeda halnya jika aku tinggal di rumah Adhan,pasti akan banyak masalah yang timbul. Kesepakatanpun terjadi,aku tinggal di rumah Jinny. Semua orang dirumah Jinny menerimaku dengan hangat. Mereka juga membantuku mengerjakan segala hal. Terkadang Jinny juga membantuku mencuci muka dan sikat gigi.
Setiap jam makandan minum obat,Adhan datang mengunjungiku. Dia memastikan aku makan dengan lahap dan meminum obat dengan baik. Dia juga yang menyuapiku lantaran tangan kananku tidak berfungsi. Aku harus cuti kerja dan vakum dari aktifitas perkuliahan. Jinny selalu mengulas materi pelajaran dihadapanku. Dia membuatku tidak tertinggal walau harus dirumah seperti ini. Adhan juga selalu menemaniku cek up kerumah sakit.
Kali ini semua kisah hidupku berubah total. Begitu juga dengan kisah hatiku. Aku semakin kuat tertarik padanya,bukankah ini bukti bahwa dia sangat menyayangiku.
“ biasanya,orang dingin seperti kak Adhan itu sangat sulit untuk mengutarakan maksud hati. Kalau dari setiap perhatian yang kak Adhan berikan padamu. Kelihatannya dia memang sangat peduli padamu. Kamu tahu tidak? dialah yang sangat hawatir saat kamu terjatuh waktu itu,wajahnya sangat pucat saat melihat darah keluar dari kepalamu.
Adhan sendiri yang mengangkat tubuhmu dan bergegas membawamu ke ambulance. Keringat dingin keluar dari tubuhnya,dia tidak bisa berkata apapun. Hanya menggenggam tanganmu dan mengeluarkan airmata sepanjang perjalanan.
Dia juga tidak bisa duduk dengan tenang saat kamu berada diruang ICU. Kak Firas mengajaknya ke mushollah sembari menunggu proses pengobatanmu. Bahkan kak Adhan menghentikan langkahnya dan menoleh padaku tanpa bicara. Tapi aku faham maksudnya,dia pasti memintaku untuk tidak meninggalkanmu. Aku hanya mengangguk dan dia kembali melanjutkan perjalanan ke mushollah bersama kak Firas. Aku tahu bagaimana dia sangat hawatir tentang kamu “
aku menyimak sambil berfikir keras menebak perasaan Adhan.
“ dia tidak mengijinkan kami menyuapimu,karena itu setiap jam makanmu dia akan datang dan dia sendiri yang menyuapimu. Dia juga kan yang membantumu meminum obat-obatmu itu “
“ ada apa menatapku seperti itu? kamu bosan dengan makanan ini?“
“ tidak,aku bosan melihatmu disini “
dia terlihat sedikit kesal dengan guyonanku. Aku tersenyum lepas melihat wajah kesalnya.
“ lagi pula,apa kegiatanmu tidak terbengkalai kalau kamu selalu menemaniku? Kamu kemari setiap jam makanku dan memberiku obat,setelah itu kamu pergi. Aku merasa seperti hewan peliharaan “
Entah keterlaluan atau tidak. Tapi Adhan meletakkan piring makanku dan bergegas cepat.
“ hei,, aku belum minum obat,aku tidak bisa minum obat!“
dia tidak menghiraukan aku sama sekali bahkan pergi tanpa menolehku sedikitpun.
“ aku hanya bercanda,kenapa sensitif begitu!“
__ADS_1
aku mengeraskan sedikit suaraku,dia tetap tidak menghirau. Aku hanya menghela nafas,dan memegang ujung kepalaku. Aku berdiri dan berjalan kearah dapur mencari air minum. Aku tidak akan mengejarnya,aku tidak ingin terlihat murahan.
Tapi apa aku sangat keterlaluan?aku hanya bercanda,tapi apa dengan candaan begitu saja dia sudah kehilangan kesabaran?. Susah payah aku mengerjakan pekerjaan dengan tangan kiriku. Pasalnya tangan kiriku selalu gemetaran untuk mengambil benda yang sedikit berat. Tiba-tiba ada yang meraih gelasku dan membantuku meminum isi serta obat-obatanku.
Adhan datang kembali,tanpa melihat mataku sebentar saja. Dia hanya fokus dengan apa yang dia kerjakan,sementara mataku tajam menatapnya. Dia benar-benar tidak ingin melihatku,setelah membantuku dia juga bergegas menjauh. Aku menggapai lengannya dengan tangan kiriku,aku mempertemukan mataku dengan matanya.
“ aku hanya bercanda,jangan semarah itu. Maafkan aku “
Kedua tangannya menyentuh pundakku kali ini,sorot matanya tajam terpusat padaku.
“aku hanya ingin yang terbaik untukmu,jadi jangan pernah berkata apapun yang menyinggung perasaanku. Kamu mengerti?“
“iya,maafkan aku“ akirnya aku berhasil menciptakan senyum di bibirnya.
“Ups,, maaf “
kak Firas terhenti di bibir pintu dapur. Spontan kami menoleh ke arahnya.
“ kalian mau ciuman ya.. jangan disini,nanti ketahuan mama papaku bisa gawat“
Adhan sigap menyentil kepala kak Firas dengan kasar.
“Apa yang ada diotakmu?“
“tapi kalian bertatapan tajam,itu awal dari adegan ciuman seperti film barat“
\=\=\=\=\= Bersambung \=\=\=\=\=
Kisahnya masih bersambung dear,jangan bosan bacanya ya.. kritik saran komen,like,juga saya harapkan untuk kelanjutan kisah di episode-episode berikutnya.
Buat kamu yang pengen kasih saran keras bisa email aja di realraraabdullah@gmail.com atau bisa juga ke kimjangmi.**@gmail.com
Kita bisa kenalan biar saling kenal dan tukar pengalaman. Thanks dear, i love love love you so much hehehe
__ADS_1