
“ jangan menyentuhnya ! “
“ aku hanya memberi pelukan terakir saja, “
“ Hmmm“
Adhan mengangkat kepalan dan menyodorkan mata tajamnya.
Hari ini dia benar-benar menjual mata tajam itu kemana-mana. Aku sempat sangat takut dibuatnya. Setelah itu dia juga menarik tanganku untuk keluar. Aku menoleh memberi bahasa isyarat memohon maaf pada kak Firas,dia hanya menjawab dengan senyum lebar. Aku sungguh merasa tidak enak pada kak Firas. Aku rasa Adhan sangat berlebihan,bukankah Firas adalah sahabat karibnya?. Sepanjang jalan aku hanya diam,aku tidak bisa menuliskan perasaanku untuk kalian. Semua berkecamuk didalam sini.
Hingga didepan rumah kami,Adhan yang membawa semua barangku masuk. Dia juga yang memilih kamar untukku. Kamar tidurku dibuatnya tepat disebelah kamarnya. Tapi kali ini pilihannya tepat. Karena kamarku memiliki pemandangan yang luar biasa. Semua desain interiornya sudah diatur dengan apik dan rapi. Sekali aku membuka jendela kamar,udara segar bisa aku rasakan. Aku bisa melihat kolam renang dan taman rumah dari sini,udara yang aku dapat sangat sejuk.
Mungkin disini aku bisa menenangkan segala yang berkecamuk untuk beberapa hari. Ayah dan Ibu baruku juga membantu untuk merapikan semua barangku. Meski hanya sedikit tapi Ayah dan Ibu tetap ingin membantuku. Mereka menyambutku dengan penuh kehangatan. Ibu tiriku ini bukan ibu tiri yang kejam seperti tertulis dalam cerita dongeng. Ibuku sangat hangat dan penuh kasih. Jika diperhatikan dalam-dalam,dia sedikit mirip dengan ibuku. Kami makan malam bersama,bercanda bersama. Menonton televisi diruang keluarga bersama. Ada aku,Ayah,Ibu dan kakakku Adhan. Aku mencoba bahagia dengan semua ini. memang sudah seharusnya aku bahagia,tapi aku tidak tahu harus memulai bahagia dari sudut mana?
...-------o0o-------...
Ayah mengantarku ke kamar,beliau juga mengecup keningku sembari mengucapkan selamat malam. Ibu tiba-tiba hadir diantara kami,beliau menyodorkan bungkusan kotak rapi nan cantik. Sembari tersenyum hangat memelukku beliau memintaku agar segera membuka kotak berwarna merah berhias pita biru ini. Senada dengan senyumnya yang indah,akupun mengibarkan hal yang sama. Segera kubuka dan kulihat isi dari kotak istimewa ini. Aku terkejut bahagia,beliau memberiku sepatu yang sangat cantik.
Hak tinggi dengan warna biru langit. Benar,biru aqua. Pilihan ibu sangat tepat,ukurannya juga pas. Ada beberapa pakaian yang cantik juga beliau hadiahkan untukku,jam tangan dan yang terakir berada di tangan Ayah. Ayah mengikatnya ditanganku,sebuah gelang indah dengan warna putih. Berkilau dan sangat cantik. Ayah dan Ibuku juga mengecup kedua pipi merahku yang basah. Aku sangat bahagia,kehangatan ini tentu belum pernah aku dapatkan. Aku kehabisan kata-kata untuk mengucap terimakasih.
“ Lekaslah tidur “
“ Mimpi indah ya sayang “
kedua orang tuaku ini segera berlalu dan menutup pintu. Aku masih terpaku,belum bisa merajut perasaan. Segera ku kemasi barang-barang istimewa ini. Aku berjalan menuju kamar mandi,membersihkan diriku dan bersiap untuk merajut mimpi. Seperti biasa aku membasuh mukaku,mengeringkannya dengan handuk dan membuat percakapan kecil di depan cermin. Aku hanya meyakinkan diri dan berusaha menerima kenyataan. Aku mengingat benar apa yang kak Firas ucapkan.
Bagaimanapun,aku harus menghadapi ini semua,cepat atau lambat aku harus menghapus perasaanku terhadap Adhan. Aku harus mulai menumbuhkan rasa yang hanya tumbuh untuk saudara pada umumnya. Memang benar,itu yang harus aku yakinkan pada diriku sendiri. Aku harus mencintai Adhan sebagai kakakku,seperti dia mencintaiku sebagai adiknya.
“ AARRGGHHTT “
aku terjingkat dengan kehadiran sosok aneh yang tiba-tiba muncul. Sementara itu,Adhan keluar dari balik boneka Teddy super besar seukuran tubuhnya itu.
“ Apa yang kamu lakukan? sangat mengejutkanku ! “
__ADS_1
aku tidak bisa menutupi rasa kesalku,sementara empunya hanya tersenyum licik.
“ maafkan aku untuk hari ini,aku pasti membuatmu kesal tadi di rumah Jinny dan aku sudah membuatmu terkejut sekarang “
TUHAN,apa yang ada dibenaknya saat ini? tingkahnya selalu membuatku tidak bisa menghapus rasa tertarikku padanya
“ ini untukmu“ dia menyodorkan teddy bear seukuran manusia ini padaku,aku menerima dengan khidmat. Tidak sepatah katapun aku lontarkan.
“ tidurlah,besok pagi kita jalan-jalan seperti biasa“
dia membelai sedikit rambutku dan beranjak meninggalkan aku. Jika harus begini terus,apa yang harus aku lakukan? aku tidak akan bisa menghapus rasaku padanya. Namun bagaimanapun aku harus sangggup dan mampu.
Jalani saja apa adanya,biarkan mengalir dan jangan dipaksakan. Suatu hari nanti kamu pasti bisa menjalani ini dengan alami dan semestinya
Jinny membisikkan kata-kata ampuh yang menguatkanku,itu sebabnya dia memelukku sangat lama waktu itu. Mungkin benar pesan gadis judas ini. Aku harus menjalani semua dengan apa adanya,nantinya juga akan mengalir alami. Aku bersiap untuk menjalani lautan mimpi. semoga esok akan lebih baik dan bahagia dari cerita hari ini.
Aku sambut pagi baru di rumah ini,kubuka jendela dan kuhirup udara segar dari luar. Namun aku terpanah saat bola mataku menangkap sosok yang membuatku terjerembab dalam lingkaran pesonanya. Dia berkecimpung didalam air. Kubiarkan mata ini menikmati pesonanya.
Haruskah aku turun dan ikut berenang?
“ Selamat pagi sayang“
“ Selamat pagi bu“
“ ayah ada ditaman,kakakmu juga sedang berenang“
“ biar aku bantu ibu“ tanpa persetujuan ibu aku membawa minuman yang sudah beliau tuangkan dalam gelas berukuran standart ini. Aku harus bisa menahan gejolak hati dan menata perasaan agar tidak kentara dihadapan Adhan. Aku berjalan tanpa beban melewati kolam renang,seolah tidak melihat kehadiran Adhan sama sekali. Khusyu’ menuju tempat ayah menikmati pagi dengan bentangan kora dihadapannya.
“ Selamat pagi ayah “
“ selamat pagi juga sayang“
Ayah mengecup keningku dan mempersilahkan aku duduk disampingnya. Aku melihat wajah Ayahku lekat-lekat seolah tak percaya aku bisa kembali bersamanya. Bisa kembali menemukannya. Tiba-tiba aku tersentak dengan percikan air yang menyapa tubuhku. Kuarahkan mataku pada sumber keberadaan air. Mataku tajam menyusup,namun dia terlihat santai dengan gayanya.
__ADS_1
“ ayo berenang!“
“ tidak mau!“
“ Zhu tidak bisa berenang“ ayah menyela.
“ Aku sudah mengajarinya berenang“
Kali ini mata Ayah menatapku penuh tanya mendengar jawaban Adhan,aku hanya menunduk serba salah. Dan menghardik dalam hati.
Bocah kurang ajar,kenapa bicara begitu dihadapan Ayah ??
Entah kapan Adhan bangkit dari air,tiba-tiba dia sudah berada disampingku dan mengangkat tubuhku.
“ HEIIII “ belum hilang rasa terkejutku,Adhan melemparku kedalam air.
“ ADHAN !! “ aku dengar suara Ayah dan Ibu bersamaan. Aku berusaha sebisa mungkin untuk berenang,dengan gaya darurat. Mungkin melihatku kewalahan,Adhan menarik tubuhku dari dalam air. Masih tetap dalam pelukannya,dia menatap mataku lekat. Jantungku tidak karuan dalam posisi ini,nafasku terengah-engah.
“ bukankah kamu sudah bisa berenang? “
“ tapi bukan dengan tiba-tiba begitu “
“ kalau begitu ayo kita berenang“ aku patuh dengan ajakannya. Dia mulai memberiku arahan seperti awal dia mengajariku berenang.
Suasana mengalir apa adanya,dan kecanggungan itu hilang dalam percikan air. Kami bisa tertawa bersama dan sesekali menggoda satu sama lain. keadaan sudah kembali seperti sedia kala dengan candaa-candaan ini. senyumku sudah kembali alami tanpa ada yang dipaksakan.
Selepas kami berenang,sesuai dengan janji Adhan mengajakku jalan-jalan. Kami berbagi cerita seperti dulu. Mengambil gambar dan makan bersama.
...-------o0o-------...
\=\=\=\=\= Bersambung \=\=\=\=\=
Kisahnya masih bersambung dear,jangan bosan bacanya ya.. kritik saran komen,like,juga saya harapkan untuk kelanjutan kisah di episode-episode berikutnya.
__ADS_1
Buat kamu yang pengen kasih saran keras bisa email aja di realraraabdullah@gmail.com atau bisa juga ke kimjangmi.**@gmail.com
Kita bisa kenalan biar saling kenal dan tukar pengalaman. Thanks dear, i love love love you so much hehehe