Klise

Klise
Jatuh Cinta kepada Arya Bayu


__ADS_3

*


Luna dan Rubi saling bersalaman. Rubi terus memperhatikan wajah gadis di hadapannya itu. Sama persis seperti dirinya jika tidak sedang berdandan cupu. Mata yang sama, hidung yang sama, bibir, bahkan lesung pipit mereka pun berada di sebelah kiri


"Ada apa, Bi. Ada yang salah di wajahku?" tanya Luna memegangi pipinya.


Rubi menggeleng, sekilas dia tampak gugup karena Luna menyadari bahwa dirinya telah diperhatikan. Rasa haru menyelimuti hati Rubi, dia tidak menyangka bahwa ada duplikat dirinya di hadapannya.


**


Enam puluh menit telah berlalu dan klub bahasa pun akhirnya telah usai. Rubi memasukkan buku-bukunya ke dalam ransel besar berwarna hitam miliknya, sementara Luna masuk ke dalam ruang ganti. Rubi baru mengetahui bahwa Luna bekerja di kafe itu dari pukul 16.00 hingga pukul 21.00.


"Bi, gua anter pulang, ya?" tanya Arya bayu.


Lagi-lagi Rubi mengangguk. Rubi mulai merasakan nyaman dan tenang di samping Arya Bayu. Entah karena remaja itu sangat perhatian kepadanya, atau memang karena dia telah menyukainya sejak perkenalan di ruang kelas tadi pagi. Sikapnya yang lembut dan perhatiannya yang terlihat tulus, membuat hati Rubi sedikir berdebar, meski sekuat genggam Rubi berusaha menepisnya jauh-jauh. Mereka membawa motor masing-masing hingga Rubi sampai di halaman rumahnya. Rumah mungil dengan design yang sangat sederhana.


Meski mama Rubi adalah pemilik beberapa swalayan di kota itu, tetapi masalah tempat tinggal mereka hanya mau menempati rumah yang menurut penuturan sang mama rumah itu adalah tempat tinggal yang dibeli pertama kali oleh mamahnya setelah sang ayah meninggal dunia. (Itu yang dikatakan mamahnya, hingga malam itu tiba, dan kebohongan sang mama terungkap setelah kedatangan seorang pria misterius.)


Malam itu bumi gelap karena diguyur hujan yang sangat deras. Petir menyambar dan guruh bersautan. Saat sorang pria yang masih terlihat muda berdiri di depan rumah dengan baju basah. Mengenakan pakaian berwarna putih, kebanggaan pria itu sewaktu dia dengan mudah menyiakan seorang wanita saat mudanya. Ya, pria itu adalah mantan squadron angkatan udara. Rivaldo Sigit Permana. Suami dari Nanda Paramitha, mamah dari Rubi Anastaya.


Seorang gadis berumur 17 tahun membuka pintu rumahnya. Wajah pria itu terlihat sangat jelas saat kilatan petir membelah angkasa, kemudian redup kembali dan diikuti suara guntur yang menggelegar, seolah-olah kilat itu ingin menghilangkan penglihatan.


"Siapa, Bi?" tanya mama gadis itu dari dalam rumah dengan suara yang terdengar lembut.


"Gak tahu, Ma," jawab Rumi setengah berteriak.


"Bapak mencari siapa?" tanya Rubi sopan.


Kemudian Rubi mempersilahkan Bapak itu duduk di kursi teras. Namun, pria itu hanya diam, tak menjawab pertanyaan Rubi.

__ADS_1


Karena Rubi tak kunjung masuk, maka sang mama menyusul Rubi ke teras rumah.


"Siapa, Bi?" tanya sang mama. Tatapan mata mamahnya terpaku pada sosok pria di hadapan Rubi yang hampir membuatnya syok setengah mati sedang duduk di kursi teras dengan pakaian yang sangat basah.


"Nanda," ucap pria itu menyebut nama sang mama.


"Aldo?"


"Bi, ambilkan handuk bersih di dalam lemari pakaian Mama," perintah Nanda kepada putrinya.


"Iya, Mah,"


Setelah yakin bahwa mamahnya mengenal pria itu, Rubi langsung melangkah masuk ke dalam rumah. Dia menyalakan lampu teras berwarna putih susu berbentuk kotak. Tanpa diperintah, Rubi membuatkan teh hangat di dapur, sembari mengisi toples kecil dengan keripik dan menatanya di atas baki, lalu mengambilkan handuk bersih di dalam lemari.


Hening


Tak terdengar percakapan sama sekali. Rumah itu adalah rumah kecil hanya dengan 4 ruang. Ruang dapur langsung menyatu dengan kamar tamu, disebelahnya hanya ada dua kamar kecil dan kamar mandi di samping dapur. Jadi mustahil jika percakapan mereka tidak didengar oleh Rubi.


"Apakah itu putri kita, Nan?"


"Bukan, Aldo. Dia putri suamiku," jawab Nanda dengan tegas.


"Ah, kau menikah lagi, ya, setelah aku meninggalkanmu?" tanya Aldo, "berapa umurmu, Nak?" tanya pria itu kepada Rubi.


Sebelum Rubi menjawabnya, Nanda memintanya untuk masuk ke dalam Rumah. Sebagai anak penurut, Rubi mematuhi instruksi orang tuanya.


"Bagaimana kabarmu, Nan? Apakah kau baik-baik saja selama ini?"


"Iya, sangat baik. Seperti yang kau saksikan. Jauh lebih baik dari apa yang kamu bayangkan."

__ADS_1


"Syukurlah,"


" Kamu tahu, aku sekarat, Nan. Aku sakit."


"Lalu? Apa yang kau harapkan dariku, Al? Mintalah Lisa mengurusmu. Bukankah dia wanita yang sangat kamu cintai? dulu dan sekarang?"


"Dia meninggalkan aku, saat aku sakit, Nan. Tepatnya, satu tahun setelah kamu pergi meninggalkanku. Kamu tahu, bertahun- tahun aku mencarimu,"


Kenangan pahit masa silam memeta satu per satu di ingatan Nanda, saat Aldo membawa satu putrinya dari ruang isolasi karena terlahir prematur. Aldo tidak tahu bahwa Nanda melahirkan anak kembar. Sehingga hanya mengambil satu putrinya.


Perih sekali perasaan Nanda jika mengingat kejadian di malam itu. Malam di saat Aldo membawa paksa satu putrinya.


"Ah, adilnya. Kau meninggalkanku untuk Lisa dan sekarang kau ditinggalkan untuk yang lainnya," ucap Nanda disertai senyum semirik.


"Aku minta maaf, Nan. Kembalilah padaku."


"Maaf, Al. Tidak akan semudah itu melupakan Rasa sakit. Aku sudah sangat bahagia tanpamu."


Hening.


Tak terasa air mata Nanda jatuh, meski mencoba menahannya, dia tetap tak kuasa menahan sakit yang kembali menyayat luka lamanya saat menyebut nama Lisa. Wanita yang telah memisahkan dirinya dan Aldo.


Setelah meneguk habis seluruh minumannya, pria itu akhirnya pamit meningalkan Nanda.


"Al, pakailah payung, aku akan mengambilkannya untukmu. Hujannya sangat deras!"


"Terima kasih, tapi, aku tak butuh payung, Nan. Aku lebih membutuhkan kamu."


Aldo menolak bantuan Nanda meski dengan cara yang paling lembut. Menerobos derasnya hujan yang tak kunjung reda. Dia yang dahulu tampak gagah dengan kesombongan, kini begitu lemah tanpa pegangan. Dia bahkan berjalan kaki bukan lagi menaiki mobil putihnya. Dia yang dulu begitu angkuh meninggalkan Nanda dan bayi dalam perutnya tanpa rasa kasihan sedikit saja, kini meninggalkan Nanda disertai kepedihan karena ditolak oleh yang wanita yang dia sia-siakan.

__ADS_1


Dua tahun pernikahan Nanda dan Aldo nyatanya tak mampu menghapus cinta dari masa lalunya. Lisa, seorang dokter cantik yang telah menjadi kekasih Aldo sejak SMP telah menjadi wanita idaman lain milik Aldo setelah tahu Aldo resmi menikahi Nanda karena dijodohkan oleh Ibunya.


Kenyataan pahit terungkap saat Aldo kedapatan sedang bermesraan dengan Lisa di sebuah restaurant. Dengan tegas Aldo memilih meninggalkan Nanda ketimbang membuat Lisa kecewa. Hingga Nanda pergi meninggalkan Aldo dan memilih menenangkan diri di sebuah kota kecil di pulau Jawa.


__ADS_2