Klise

Klise
12. Hujan


__ADS_3

“ tutup mulutmu,kamu fikir ini mudah untukku? “


tentu saja tidak mudah pemirsa. Karena memang sejak awal aku sudah terbuai dalam pesonanya. Bukankah sudah aku jelaskan bahwa aku tertarik padanya sejak pertama bertemu?.


Kak Firas mendekati kami yang dilanda percekcokan kecil. Dia bahkan meminta Adhan untuk pergi dan menggantikannya untuk mengajariku. Tapi Adhan menolak,walau sedikit dingin tapi Adhan tetap telaten mengajariku mengapung. Suasana canggung dibuatnya senyaman mungkin. Susah payah aku harus menghapus rasa canggungku,sampai akirnya aku bisa melakukan pelajaran tahab ini dan mendapat predikat lulus.


Kak Firas dan Jinny sudah mendarat. Mereka sudah merasa cukup kedinginan untuk tetap berada diair. Sedangkan Adhan tidak melepaskan aku sama sekali untuk mendarat di atas sana. Hingga sampai kami di tahap terakir yaitu teknik gerakan. Dia bilang ini adalah teknik final yang harus dikuasai.


Dalam tahap ini dia mengajariku untuk menggerakkan kaki dan tangan. Tidak lupa ritmenya juga harus benar. Usai semua materi dia berikan,dia memintaku untuk berenang jarak pendek beberapa kali. Karena merasa sangat lelah dan kedinginan,aku merengek agar dia mengijinkan aku naik kedaratan. Setidaknya lima belas menit itu sudah cukup. Mungkin tidak tega atau jerah dengan rengekanku,dia mengijinkan aku untuk beristirahat. Aku heran dengan orang ini,tidakkah dia merasa dingin dengan hanya memakai celana pendek dan telanjang dada seperti itu. Awalnya aku sangat risih melihatnya,tapi mau bagaimana lagi. Aku membasuhkan handuk pada semua tubuhku,Jinny juga sudah menyiapkan minuman untukku.


Berselang beberapa menit,aku menyaksikan perlombaan kecil yang dibuat oleh tiga orang perenang ini. Jinny benar-benar hebat,walaupun dia wanita dia tetap bisa mengimbangi dua laki-laki itu. Dan dari sinilah aku mendapat nilai tambahan untuk Adhan. Dia tidak hanya memikatku dengan pesonanya,tapi dia juga sangat mahir dalam berenang. Dia berenang dengan sangat cepat dan sangat cepat pula dalam mengikat hatiku tetap tertuju padanya.


Aku semakin,tidak bisa membuyarkan rasa tertarikku padanya. Dia benar-benar tercipta sangat sempurna. Sepanjang pengamatanku menghitung pori-pori wajahnya,aku mulai tahu hidung panjang itu,bibir sexy,alisnya yang lebat dan tebal,matanya yang sedikit mendekati sipit,tajam dan menusuk setiap dia memandang,pipinya yang tirus dan berlesung.


Tentu membuatku semakin melayang setiap senyum dia kibarkan. Tapi mendapatkan senyum adalah musim semi,bisa ditebak dia jarang senyum. Mungkin hanya saat sedang berdua saja aku bisa menikmati senyum dan tawanya yang membuatku semakin rindu. Aku hampir tidak bisa tidur semalam dibuatnya. Dia benar-benar menulis cerita babak baru dalam lembaran hidupku. Kalau diingat sejak perkenalan pertama hingga hari ini,aku merasa menjadi sosok yang berbeda.


Hingga musim berganti,hidupku juga semakin membaik. Kasih sayang keluarga dapat aku rasakan dengan kental dalam kekeluargaan bersama keluarga Jinny. Papa dan mama Jinny,kerap memberiku hadiah-hadiah kecil seperti yang mereka berikan pada kedua anak mereka. Bahkan terkadang mama Jinny membantuku untuk belajar berpenampilan dengan make-up. Pada dinding rumah ini juga nampak gambarku di berbagai tempat. Meja dan ruang keluarga juga terpajang potret kemesraan antara aku dan keluarga ini. Sedikit melongo kekamar kak Firas,di meja belajarnya juga terselip fotoku bersama Jinny. Dia benar-benar menganggapku seperti adik kandungnya sendiri. Kak Firas juga mulai menghafal apa yang aku suka dan tidak.


Warna,makanan,gaya berpakaian,keadaan serta menghafal apa yang aku takutkan. Dilain kesempatan,aku pernah mendapatkan hadiah boneka sinchan tokoh kartun yang terkenal dengan lucu dari ujung hinga ujung. Alis besarnya hampir miriplah seperti alis Adhan___hahaha___ tapi benanya Adhan dengan Sinchan adalah suaranya.


Kalau suara Sichan identik dengan cempreng tapi lucu. Suara Adhan justru merdu dan mempesona,tapi lupakan dia saat ini. Sudah hampir satu minggu dia tidak menemuiku. Bahkan jam makan siang di kampuspun aku tidak melihatnya. Satu-satunya hal yang paling membuatku dg dig dug saat makan siang di kantin sendiri adalah mahluk raksasa yang biasa kak Firas sebut dengan nama Anita.

__ADS_1


Aku tidak pernah bisa menebak perasaan wanita itu. Kenapa dia terlihat sangat membenciku. Kalau dilihat dari segi aku sering menabraknya,akir-akir ini aku tidak pernah lagi menabraknya. Atau mungkin dari aspek kedekatanku dengan Adhan,dia memang sangat tertarik pada Adhan. Kalau diingat dia memang pernah membentakku di kantin kampus,tapi kalau hanya untuk ingin dekat dengan Adhan tidak perlu untuk mengancam atau membenciku. Cukup selalu terjatuh dalam segala suasana,nanti juga Adhan yang datang sendiri untuk menolong. Bukankah kedekatanku dengan Adhan juga di mulai sejak aku sering terjatuh?__hehehe__


“ Zhu,hari ini kita ke toko buah sebentar ya,Jinny bilang dia ingin makan apel “


aku mengangguk patuh. Hari ini Jinny tidak masuk kuliah karena dia sedang kurang sehat. Sejak pagi dia hanya terlentang malas di ranjangnya. Aku berangkat bersama kak Firas dan pulang juga bersama kak Firas menggunakan motornya.


Mataku mulai menjelajah isi tempat parkir. Tidak sedetikpun aku melihat tanda-tanda kehadiran Adhan,atau kendaraannya saja. Setidaknya bila motor besarnya itu berada disini,pasti empunya juga disini. Dia bahkan tidak membalas pesan dariku,juga tidak menghubungiku.


“ apa yang kamu cari? “


“ motor Adhan,kenapa aku tidak melihat dia selama satu minggu ini kak? “


mataku terbelalak mendengar penjelasan kak Firas. Bagaimana bisa kak Firas tidak memberitahuku,bahkan tidak menyinggung masalah ini sekalipun.


“ tapi dia tidak apa-apa,tidak ada yang parah,sekarang juga pasti sedang berada dirumah “


hatiku semakin tak keruan mendengar semua ini. Apa yang orang-orang fikirkan?aku tidak bisa tenang. Bahkan tidak mampu menguasai diriku sendiri.


Usai membeli beberapa apel untuk Jinny,kak Firas mengantarku ke studio. Aku harus menyampaikan apa pada pendengarku?,aku yang dilingkaran kehawatiran tidak bisa fokus dalam menyampaikan materi. Entah mengapa aku tidak bisa menenangkan diri sama sekali,dalam pikirku hanya ada pertanyaan tentang Adhan. Bagaimana dia?sedang apa dia?apa dia sudah makan?apa dia sudah minum obat? Apa kepalanya sudah tidak sakit? Apa dia sudah ada yang merawat?. Tanpa aku sadari,tetesan air mata dipipi membasahi dan menyadarkan aku betapa dalam perasaan hawatir ini padanya. Betapa aku sangat mempertanyakan keadaannya. Aku melewati masa tiga jam kerjaku dengan rasa bimbang. Tersirat dibenakku untuk datang mengunjungi Adhan.


Tapi bagaimana aku bisa datang kerumahnya sedangkan aku tidak tahu dimana rumahnya. Kuputuskan untuk menghubungi kak Firas dan menanyakan alamat lengkap rumah Adhan. Langit gelap mulai menampakkan dirinya.

__ADS_1


Gelap dan sangat kelam,kilap petirpun dapat aku lihat dengan jelas. Aku tidak tahu harus bagaimana untuk menempuh perjalanan kesana. Tidak satupun kendaraan umum dapat kutempuh. Langit sudah mengungkapkan ceritanya,jerit dan raungan dari langit dapat kudengar. Petir dan guntur ini membuatku semakin menciut. Aku sangat takut dan ketakutan,namun rasa ingin tahuku terhadap keadaan Adhan lebih besar. Aku menerobos hujan dan membiarkan rintiknya membelaiku. Terasa sangat dingin merajam namun tidak sedikitpun aku hiraukan. Sekuat apapun aku bertekat utnuk menemui Adhan. Rasa dingin yang aku rasa saat ini lebih dari biasanya,bajuku yang tipis sudah melekat erat membentuk lengkukan tubuhku. Aku berusaha menenangkan diri dibawah beringin dipinggir jalan. Cipratan air dari kendaraan pengguna jalan juga jelas menerpaku. Rambutku sudah tidak serapi saat pagi menjelang,lepek dan sangat dingin memeras kepala. Kurasa aku sudah kewalahan mengatasi ini semua. Kilauan petir membuatku sangat takut.


TUHAN,,boleh aku menangis? Bukan karena aku tidak kuat dan menyerah pada kedinginan ini. Tapi karena aku merasa sangat bodoh karena tidak bisa berada di samping orang yang selalu ada saat aku sakit dan terluka.


Adhan selalu ada saat aku bosan,dia selalu menjagaku hingga sembuh disaat sakit menyapa,dia juga sangat menghawatirkan aku disaat aku tidak bisa melakukan apapun dengan tangan kananku. Tapi kenapa aku tidak berada dan merawatnya disaat dia seperti ini? Aku bahkan tidak mengetahui dan hanya menghujani dia dengan kekesalan saat dia tidak datang menemuiku? Aku sangat egois. Airmataku berbaur dengan rintik hujan yang turun,gemuruh langit mulai membuatku mencium,aku tidak melihat satu orangpun berada disekitar sini.


Aku tetap patuh berdiri seorang diri dibawah pohon beringin yang rindang ini. Dalam kalutku,aku melihat seseorang datang mendekatiku. Setelah memarkirkan motornya tepat dihadapanku,dia berdiri dan berjalan menujuku. Awalnya aku pikir pasti kak Firas,karena dia orang terakir yang bisa aku hubungi sebelum handphoneku kehabisan baterei,tapi mataku terbelalak setelah orang ini melepas helm yang merekat dikepalanya.


Tubuhku lemas seketika melihat perban masih membalut kepala itu. Degup jantungku tak keruan saat dia semakin mendekat,jemari tangan kananku mengalun berusaha menggapai kepala yang terbalut itu. Dia melepas jaket dan menyampirkannya di tubuhku.


“apa yang kamu lakukan?“


aku tidak menghiraukan pertanyaannya,aku hanya terpaku pada kepala yang terbalut itu.


\=\=\=\=\= Bersambung \=\=\=\=\=


Kisahnya masih bersambung dear,jangan bosan bacanya ya.. kritik saran komen,like,juga saya harapkan untuk kelanjutan kisah di episode-episode berikutnya.


Buat kamu yang pengen kasih saran keras bisa email aja di realraraabdullah@gmail.com atau bisa juga ke kimjangmi.**@gmail.com


Kita bisa kenalan biar saling kenal dan tukar pengalaman. Thanks dear, i love love love you so much hehehe

__ADS_1


__ADS_2