
Karena masih penasaran, Rubi mengikuti Luna setelah tahu ternyata gadis itu bekerja sebagai koki di kafe mini itu. Pukul 21.00, seorang gadis berkerudung hitam bernama Laluna itu keluar dari kafe mini. Rubi sengaja mengikutinya agar tahu di mana dia tinggal. Jalanan tampak ramai oleh hilir mudik kendaraan. Sorot-lampu jarak jauh terkadang sesekali mengaburkan pandangan. Laluna mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan sedang hingga dia berbelok ke sebuah panti asuhan. Dia ternyata hidup bersama anak-anak panti.
Rubi sengaja menggunakan mobil mamahnya agar tidak ketahuan bahwa dia sedang mengikuti Luna. Seorang pria yang Rubi ketahui bernama Aldo itu kebetulan keluar dari rumah menyambut Laluna. Dengan hati yang bergemuruh, Rubi turun dari mobilnya, kemudian memberanikan diri untuk mengucapkan salam kepada mereka berdua.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikummussalam, Rubi? ada apa kamu malam-malam datang kemari?" tanya Laluna heran.
Terlebih Aldo, dia tahu bahwa Rubi itu adalah anak Nanda, istrinya.
"Masuk, Nak," ucap Aldo mempersilahkan Rubi untuk duduk di kursi teras yang terbuat dari kayu.
"Terima kasih, Om," jawab Rubi.
Laluna menemani Rubi duduk, sementara ayahnya masuk ke dalam dan membawakan secangkir teh manis.
"Bi, gimana kamu tahu rumahku? Apakah dari Arya?"
Rubi menggeleng. Dia mengambil sesuatu dari dalam tas kecilnya. Ada akte nikah yang dia temukan di laci rahasia milik mamahnya.
"Apa ini, Bi?"
Akte nikah itu terdapat foto ayahnya dan seorang wanita bernama Nanda Paramitha. Rubi juga memberikan sebuah foto bayi kembar yang lahir pada tanggal 14 Februari, juga sebuah akte kelahiran milik Rubi, di mana di sana tertera nama Rivaldo Sigit Permana sebagai nama ayah kandung untuk Rubi Anastaya.
Laluna memandang Rubi heran ketika Rubi melepaskan kacamatanya dan rambutnya yang terikat kuncir kuda. Laluna memegang wajahnya sendiri karena merasa wajah Rubi memang sangat mirip dengannya.
Aldo muncul membawakan nampan berisi teh manis hangat. Laluna menatap ayahnya, dan memberikan foto dan akte nikah milik mama Rubi. Dia langsung memeluk Rubi.
"Ternyata benar, kamu adalah putriku."
"Kenapa Ayah tidak mencari Rubi dan Mama?" tanya Rubi disertai tangis.
"Maafkan Ayah, Bi ... Ayah tidak tahu bahwa ibumu melahirkan bayi kembar."
"Ibumu meninggalkan Ayah karena kesalahpahaman. Dia mengira Lisa adalah kekasih Ayah."
Mereka bertiga saling memeluk. Rubi sangat lega karena mengetahui ayahnya masih hidup dan punya adik bernama, Luna.
*
Pagi itu, Rubi sengaja menggunakan jilbab di kepalanya.
__ADS_1
"Bi, kamu pake Jilbab?" tanya mamanya.
"Iya, Mah. Boleh, kan?"
"Tentu saja bolehlah. Mama malah seneng kamu mau pake jilbab, Bi,"
"Makasih, Mah," jawab Rubi dengan mata berkaca-kaca.
"Hey ... anak Mama kenapa? kok nangis?"
"Enggak, Mah, Rubi hanya ingin peluk Mamah."
"Baiklah," ucap mamahnya sambil memeluk Rubi erat.
"Udah, sana, nanti kamu telat, Bi!"
"Iya, Mah," ucap Rubi sambil mencium punggung tangan putrinya.
Perasaan Nanda bahagia campur heran atas perubahan sikap Rubi pagi ini. Dia lebih sopan, lebih lembut, dan bahkan mengenakan jilbab.
"Dari mana Rubi punya seragam panjang? Apa dia membelinya tanpa sepengetahuan aku, ya?" ucap Nanda dalam hati.
Namun apapun yang terjadi pagi ini, Nanda sangat bersyukur, putrinya telah berubah.
"Wah, bajuku pas sekali di badan kamu, Bi," ucap Luna sambil memutar-mutar tubuh Rubi.
"Iya, dong, kan aku langsing."
"Baiklah, baiklah. Gimana hari ini menjadi aku?" tanya Rubi kepada Laluna.
"Aku seneng banget, Bi. Bisa ketemu Mama. Kamu gimana saat tinggal sama Ayah dan anak-anak panti? Pasti gak enak, ya? kan gak ada AC?" jawab Laluna.
"Seru, dan pakaian kamu ribet tau. Aku harus bangun pagi-pagi cuman buat pake jilbab. Susah, pake jilbab kaya kamu. Udah gitu, pagi-pagi udah sarapan bareng Ayah dan nemenin Ayah masak, cuci piring dan nyiapin baju-baju anak-anak panti," jawab Rubi.
Mereka berdua tertawa bersama, sampai datang Arya Bayu menegur mereka berdua.
"Eh, kamu ... Rubi? kamu pake jilbab? wow. Kejutan," ucap Arya Bayu.
"Eh, tunggu, tunggu. Sepertinya wajah kalian jadi sedikit mirip deh. Coba, Bi, kamu lepas kacamata kamu!"
Luna yang menyamar menjadi Rubi jadi gelagapan saat Arya Bayu memintanya melepas kacamata.
__ADS_1
"Arya ... kita beda lah, lihat warna mata kita aja enggak sama. Mata aku cokelat, dan Mata Rubi biru," ucap Laluna yang menyamar sebagai Rubi.
"Ah, iya juga sih, tapi beneran deh, kalian mirip."
"Sudah Arya, yuk kita masuk kelas! ucap Rubi yang menyamar jadi Luna.
Semalam Rubi dan Luna memang telah mengantisipasi rencana mereka. Rubi menyuruh Luna menggunakan kontak lens berwarna, dan dirinya menggunakan softlens warna cokelat, karena hanya mata mereka saja yang beda. Rubi memiliki bola mata biru, dan Luna berwarna cokelat.
**
Waktu istirahat tiba. Rubi masuk ke toilet. Tiba-tiba pintu di kunci dari luar.
Brak!
"Heh! Lalun yang bod*h! Sudah gue peringatin sama Lo, berkali-kali, enggak usah sok tebar pesona sama Arya!" ucap Lusiana sambil menendang pintu toilet dari luar.
Rubi yang dikira Laluna oleh Lusiana Bramantyo baru mengetahui bahwa saudara kembarnya Laluna adalah korban bullyying. Lusiana tidak tahu, bahwa gadis yang sedang dibullynya adalah bukan Laluna, dan dia salah memilih targetnya.
Rubi tersenyum semirik mendengar ocehan Lusiana dari luar pintu. Dia menaiki kloset dan memanjat pembatas lalu keluar dari bilik toilet di sebelahnya. Dengan senyum mengejek dia memukul bagian leher salah satu pembully-nya hingga tersungkur.
Lusi dan teman-temannya cukup kaget melihat Laluna memukul salah satu teman mereka.
"Dasar pengecut! beraninya keroyokan dan main belakang! kalau berani kita tatap muka."
Ya, Rubi adalah atlet Taekwondo. Jelas dia tahu caranya bertarung. Lusiana mengambil alat pel di janiator, lalu memukulkannya ke arah Rubi, dan Rubi menangkisnya hingga Lusi terjatuh. Teman-teman Lusi membantunya berdiri kemudian keluar dari toilet bersama-sama.
Rubi mencuci tangannya dan mengeringkannya dengan alat pengering yang menempel di dinding. Dia mulai mengumpat dengan umpatan menggunakan bahasa inggris sambil menatap wajahnya di cermin dengan kesal.
Untuk pertama kalinya, seorang pembully dibully oleh orang lain, yang ternyata hanya anak-anak lemah. Dia langsung menghubungi Gina untuk mencari tahu akun sosial media milik Lusiana Bramantyo. Dia ingin tahu siapa Lusi, dan di mana dia tinggal.
"Kamu salah pilih target, Lusi! ****!" ucap Rubi kesal sambil terus memandangi wajahnya di cermin.
Drrrt! Drrrt.
[Hallo, Gina. Sudah dapat?]
[Sepertinya Lusi itu seorang anak dari Adam Bramantyo. Pemilik perusahaan ternama di Jakarta. cabang Perusahaannya tersebar di Surabaya dan Malaysia, Bi]
[Ya, baiklah. Makasih, Gin. Eh, tunggu, Apakah dia itu putri dari pemilik Lusiana Dept Store?]
[Sepertinya iya, Bi. Eh, udah dulu ya, aku harus masuk kelas.] jawab Gina dari seberang sana.
__ADS_1
"Bagus, ternyata dia adalah anak dari pemilik swalayan saingan Mama!"