Kontrak Pernikahan

Kontrak Pernikahan
BAB 163


__ADS_3

Rangga dan Bintang segera turun dari mobil dan berjalan mendekati rumah berwarna biru tersebut.


Mereka segera menekan bel yang berada di samping kanan pintu rumah itu. Beberapa menit kemudian, seorang laki-laki paruh baya muncul dari balik pintu. Dia merasa heran ketika melihat Rangga dan Bintang berada di depan pintu rumahnya.


"Kalian? Kenapa kalian bisa ada di sini?" tanya laki-laki itu yang merasa heran.


"Maaf Dokter Yoga, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan kepada Anda", jawab Bintang.Kerena memang saat ini dia dan suaminya sedang berdiri di depan rumah Dokter Prayoga.


" Apa ini soal operasi 14 tahun lalu itu?" tanya Dokter Prayoga lagi.


"Benar, Dokter", jawab Bintang.


Dokter Prayoga menghela napasnya sebentar kemudian dia menyuruh kedua orang di depannya itu untuk masuk ke dalam rumahnya.


" Masuklah ",seru Dokter Prayoga kepada keduanya.


Rangga dan Bintang masuk ke dalam rumah tersebut. Dan mereka juga duduk di sofa setelah Pak Prayoga kembali mempersilahkan mereka.


" Soal kejadian 14 tahun lalu,Saya atas nama pribadi mengucapkan maaf yang sebesar- besarnya kepada Anda dan keluarga", ucap Pak Prayoga kepada Bintang.


"Kenapa Anda yang harus minta maaf, jika bukan Anda orang yang melakukan operasi itu", jawab Bintang.


" Walau bagaimana pun operasi itu adalah tanggung jawab Saya. Dan tidak seharusnya saya melimpahkan tanggung jawab saya itu kepada orang lain",tutur Pak Prayoga.


"Dokter aku ingin Anda membaca rekam medis ini. Aku hanya seorang dokter umum, jadi aku takut salah membaca ini", Bintang meletakkan USB yang di berikan oleh Alex tadi pagi kepada Dokter Prayoga.


" Gery,tolong kamu bawa laptopku kemari! ", seru Pak Prayoga sedikit berteriak karena kebetulan saat itu Gery sedang berada di ruang tengah.


Tidak lama kemudian sang asisten datang dengan membawa laptop yang di minta oleg tuannya itu.


" Ini,Pak", kata Gery sambil memberikan laptop yang di minta. Gery melihat ke arah Rangga dan Bintang sejenak.


"Terimakasih,Gery".


Dokter Prayoga segara memasang USB yang Bintang berikan barusan. Dia mulai membaca dengan detail apa yang ada di dalamnya.


" Ini..."


"Awalnya terjadi perdarahan pada operasi tersebut,tapi kemudian itu semua sudah bisa di atasi bukan?" sela Bintang sebelum Dokter Prayoga mengatakan apapun.


Pak Prayoga menatap Bintang.

__ADS_1


" Aku memang hanya dokter umum,tapi aku berencana mengambil specialis bedah. Jadi selama ini aku juga membaca buku-buku yang bersangkutan dengan itu", jelas Bintang.


"Kamu benar perdarahan itu sudah bisa di atasi. Jadi penyebab ayahmu meninggalkan bukan karena itu, tapi karena hal lain", tambah Prayoga yang kembali menatap layar laptop di depannya.


" Lalu apa penyebabnya?" tanya Rangga


"Gagal napas,pasien mengalami gagal napas saat operasi sedang berlangsung" jawab Prayoga yang masih fokus dengan layar di depannya.


"Kemungkinan besar penyebab pasien mengalami gagal napas adalah kelebihan anastesi", tambah Dokter Prayoga.


"Bukankah dosis pemberian anastesi itu atas persetujuan dokter bedah yang bertanggung jawab?" tanya Bintang lebih detil lagi.


"Tapi dari catatan di sini, semua dosisnya pas dan tidak ada yang melebihi standar", jawab Dokter Prayoga.


Bintang dan Dokter Prayoga kembali memperhatikan laporan itu.


" Kenapa aku mempunyai pemikiran lain tentang kasus ini", kata Rangga.


Perkataan Rangga membuat Bintang dan Dokter Prayoga menatap ke arahnya.


"Bukankah dulu Dokter Prayoga sangat terkenal di rumah sakit itu? Dan saat itu rumah sakit Rahardian juga menjadi satu-satunya rumah sakit yang paling populer di kota ini? Bisa jadikan orang yang melakukan itu adalah orang yang sama yang ingin menghancurkan nama baik rumah sakit Rahardian", jelas Rangga.


" Maksud Mas Rangga...orang itu ingin menghancurkan nama baik Dokter Prayoga dan juga merusak reputasi rumah sakit?".


Rangga mendekap tubuh istrinya, ketika melihat air mata yang mulai mengembang di pelupuk matanya.


" Kenapa orang itu begitu kejam? Kenapa dia harus mengorbankan ayahku? Apa salah ayahku?" ,kata Bintang dengan air mata yang membanjiri kedua pipinya.


Dia ingat betul bagaimana kehidupan keluarganya,sepeninggal ayahnya. Ibunya harus berjuang sendirian untuk bisa menyekolahkan dia dan kakaknya.


"Sayang, jangan menangis. Aku janji aku akan membantumu menemukan orang itu", ucap Rangga. Dia semakin mengeratkan pelukannya,saat tangis Bintang semakin menjadi.


" Keadaan kami begitu buruk setelah kejadian itu. Makanya aku dan kakak selalu berusaha untuk membantu ibu bertahan hidup. Aku dan Kak Tari juga berusaha untuk mendapatkan nilai terbaik agar kami bisa melanjutkan sekolah kami", ujar Bintang


Pak Prayoga hanya bisa diam melihat tangis Bintang. Dia semakin menyesali tindakannya dulu.


" Seandainya,aku tidak memilih mengoperasi pasien VIP itu. Mungkin ini semua tidak akan terjadi ", batin Dokter Prayoga.


*****


Bintang dan Rangga tiba di kediaman keluarga Wijaya, pukul 8 malam. Keduanya masih diam di dalam mobil.

__ADS_1


Berkali-kali Bintang menghela napasnya, seolah dia sedang mengeluarkan semua rasa sesak di dadanya.


" Jika kamu masih ingin menangis,maka menangislah. Aku tidak mau saat kita masuk nanti,anak-anak melihatmu dalam keadaan seperti ini. Mereka pasti akan ikut sedih jika melihatmu begini", ucap Rangga sambil membelai rambut panjang istrinya itu. Bintang menyandarkan kepalanya di bahu sang suami. Dia merasa sangat nyaman saat bersandar di bahu tersebut.


"Terimakasih ya Mas,karena kamu selalu ada di sisiku ", ucap Bintang.


" Bodoh,kenapa kamu harus berterima kasih padaku. Bukankah sudah menjadi kewajibanku untuk selalu menjaga dan melindungimu. Aku berjanji padamu aku akan menemukan orang itu dengan cepat dan akan membuat dia di penjara dalam waktu yang lama", kata Rangga.


"Mas.."


"He'emm"


"Apa kamu ingat pertama kali kamu datang ke sekolah? Kamu itu bersikap angkuh dan sangat menyebalkan", kata Bintang.


" Benarkah?"


" Aku kira, aku tidak akam pernah bisa membuatmu jatuh cinta padaku"


"Buktinya sekarang aku mencintaimu kan? Bahkan sangat mencintaimu malah" ucap Rangga.


" Sekarang perasaanku sudah lebih baik,ayo kita masuk ke dalam!" ajak Bintang.


" Baiklah, ayo" jawab Rangga.


Keduanya pun kemudian turun dari dalam mobil. Dan dengan bergandengan tangan, mereka mulai berjalan masuk ke dalam rumah.


Saat mereka masuk, mereka langsung di sambut oleh kedua anak kembar mereka.


"Mommy"


"Daddy"


Panggil kedua anak kembar mereka tersebut seraya berlari menghampiri kedua orang tua mereka.


"Mommy, Daddy kenapa baru pulang?" tanya Mikha.


" Tadi mommy dan daddy ada urusan sebentar di luar, Sayang" jawab Bintang.


" Mommy, Daddy di dalam ada Om dan Oma cantik. Mereka sudah menunggu dari sore tadi" kata Tama.


Bintang dan Rangga saling tatap.

__ADS_1


"Siapa,Nak?" tanya Rangga.


"Aku", jawab seseorang yang sudah berdiri di depan mereka.


__ADS_2