Kontrak Pernikahan

Kontrak Pernikahan
BAB 197


__ADS_3

"Tama...Mikha..,"


Ratih dan Uwa Susi berhenti ketika melihat sosok yang mereka cari. Mereka bernapas lega ketika melihat cucu kembarnya ternyata sedang asyik melihat ikan hias yang di jajakan di depan sebuah kios di depan pasar.


"Tama, Mikha," panggil Ratih seraya berjalan mendekat ke arah mereka. Kedua bocah kembar itupun menoleh ke sumber suara.


"Nenek," kata keduanya bersamaan.


"Kenapa kalian ke tempat ini tidak ijin sama Nenek. Nenek sampai khawatir tadi," kata Ratih sembari mengelus dadanya.


"Maafin kami ya, Nek! Kami kira Nenek masih lama jadi kami ke sini sebentar," ucap Mikha.


"Iya, Nek. Kami ke sini untuk melihat ikan-ikan lucu itu," imbuh Tama sambil menunjuk ke arah ikan hias yang ada di dalam wadah sang penjual ikan.


"Lain kali kalau kalian ingin pergi melihat sesuatu, kalian ijin dulu sama Nenek. Jadi Nenek tidak akan sekhawatir tadi," tutur Ratih.


"Baik, Nek," jawab dua bocah kembar itu bersamaan.


Tama dan Mikha kembali melihat ikan hias yang tadi menyita perhatian mereka.


"Tama mau ikan itu?" tanya Uwa Susi.


"Mau, Nek," jawab Tama dengan mata yang berbinar-binar.


"Mikha juga mau, Nek," Mikha ikutan menyela.


"Bang, tolong beri mereka masing-masing dua ikan ya!" pinta Uwa Susi kepada penjual ikan hias tersebut.


"Iya, Bu."


Penjual ikan tersebut menaruh dua ikan di dalam wadah kantong plastik yang telah di beri air. Dia memberikan satu wadah kantong plastik berisi dua ikan hias itu kepada Mikha dan Tama.


"Terimakasih," ucap Mikha dan Tama.


Setelah membayar ikan-ikan tersebut, mereka kembali berkeliling pasar untuk melanjutkan pencarian mereka membeli oleh-oleh.


*****


(Kediaman Wijaya)


Dinda yang melihat mertuanya sedang duduk sendirian di ruang tengah, berinisiatif membuatkan mertuanya itu secangkir teh hangat. Begitu selesai membuat, Dinda segera membawa teh tersebut dan menghampiri mertuanya.


"Ma, kapan Bintang dan yang lainnya akan pulang?" tanya Dinda.


Dinda meletakkan secangkir teh di atas meja untuk mertuanya. Kemudian, dia duduk di sebelah mertuanya.

__ADS_1


"Katanya sih besok," jawab Mia.


Mia mengambil teh yang baru saja di taruh oleh menantunya dan mulai menyeruputnya.


"Aku benar-benar sudah tidak sabar ingin bertemu dengan dua keponakanku itu," ujar Dinda seraya membayangkan dua wajah imut keponakannya.


"Mama juga sudah kangen dengan mereka," timpal Mia seraya meletakkan cangkir tadi ke atas meja.


"Ohya, bagaimana bulan madu kalian kemarin? Apa sudah ada hasilnya?" tanya Mia.


"Belum tahu, Ma. Aku harap aku juga bisa secepatnya memiliki keluarga bahagia seperti Bintang." Dinda mengatakan itu dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya.


"Kamu pasti akan memilikinya," imbuh Mia.


"Kalian sedang membicarakan apa?" tanya Harry yang baru saja turun dari lantai atas.


"Ayo,Nak. Duduk sini!" seru Mia, dia menepuk sofa kosong yang ada di sebelah kanannya.


"Dimana Yuna, dari pagi Mama kok tidak melihatnya?" tanya Mia kepada anak laki-lakinya.


"Tadi pagi-pagi sekali ibu kembali pulang ke rumah, katanya ada yang harus dia selesaikan."


"Oh, pantas Mama tidak melihatnya sejak pagi," kata Mia.


"Tadinya, ibu mau berpamitan langsung sama Mama, tapi karena perginya buru-buru dia hanya berpamitan sama Harry." jelas Harry


"Ingat ya, Nak. Kamu belum boleh terlalu kecapekkan! Jika kamu merasa lelah kamu harus segera beristirahat, Mama tidak mau kamu ngedrop nantinya," kata Mia mengingatkan.


"Tentu, Ma," jawab Harry.


"Ma, aku dengar Pak Erik dan Kak Nia akan segera menikah apa itu benar?" tanya Dinda yang sedari tadi hanya menjadi penyimak obrolan antara suami dan mertuanya.


"Itu benar, Nak. Mama sangat bahagia karena akhirnya ketiga anak Mama bisa berkeluarga dan hidup bahagia. Setidaknya, Mama akan merasa lega jika suatu saat nanti Mama menyusul ayah kalian," kata Mia di sertai dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya.


"Ma, kenapa Mama bicara seperti itu. Aku yakin, tidak hanya aku dan Mas Harry yang tidak suka mendengar perkataan Mama barusan. Tapi jika Kak Nia, Rangga dan juga Bintang mendengarnya, mereka pasti tidak akan suka," tukas Dinda.


"Sayang, kita ini manusia. Cepat atau lambat kita pasti akan menghadap Sang Pencipta, hanya tinggal menunggu giliran saja," jawab Mia santai.


Dinda dan Harry saling tatap.


"Ma, bukankah kita belum lama berkumpul? Kenapa tiba-tiba Mama berbicara soal kematian. Harry masih ingin lebih lama lagi merasakan kasih sayang dari Mama," protes Harry.


"Iya, Sayang iya. Mama minta maaf! Mama pasti akan berusaha hidup lebih panjang lagi demi kalian semua."


Satu tangan Mia menyentuh pipi anak laki-lakinya dan satunya lagi menyentuh pipi menantunya, Dinda. Mia mendekatkan wajah anak dan menantunya hingga pipi keduanya menempel di pipi sebelah kiri dan kanannya.

__ADS_1


"Mama menyayangi kalian semua," ucap Mia setelah memberikan kecupan di pipi keduanya. Dinda dan Harry membalasnya dengan memeluk tubuh Mia dari samping kiri dan kanan.


"Kami juga menyayangi, Mama," ucap keduanya.


"Terimakasih ya Allah, karena Engkau telah menyatukan keluargaku. Semoga anak-anaku selalu bahagia, meskipun suatu saat nanti aku tidak bersama dengan mereka," do'a Mia dalam hati.


"Kenapa Mama menangis?" tanya Harry saat merasakan ada tetesan air yang mengenai wajahnya.


"Mama hanya bahagia karena akhirnya semua anak mama hidup bahagia," jawab Mia sembari menghapus air mata di kedua pipinya.


"Sudah, sana pergi! Bos itu harus menjadi contoh yang baik bagi pegawainya!" seru Mia kepada putranya.


Harry melirik ke arah jam tangannya, jam itu menunjukkan sudah pukul 09.30 pagi.


"Ma, Harry berangkat dulu ya. Sampai jumpa nanti malam," ucap Harry sembari mencium punggung tangan mamanya.


"Sayang, jaga Mama ya!" titah Harry kepada istrinya. Dinda menjawabnya dengan anggukan.


Sebelum pergi tidak lupa Harry mendaratkan sebuah kecupan di bibir istrinya.


"Bye, Sayang. I love you," ucap Harry.


"Love you too," balas Dinda.


Mia tersenyum melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah putra dan menantunya.


"Nak, Mama tinggal ke kamar ya," ijin Mia kepada menantunya.


"Iya, Ma. Kebetulan Dinda juga mau membantu Mbok Jum di dapur," jawab Dinda.


Mia berjalan masuk ke kamarnya.


"*Kenapa mama nampak seperti orang sakit?" batin Dinda saat menatap punggung mertunya.


"Pasti hanya perasaanku saja," sangkal Dinda kemudian*.


Dinda mengambil cangkir kosong yang ada di meja dan membawanya ke dapur.


*****


(Di dalam kamar)


Mia berjalan duduk di tepi ranjang miliknya, dia membuka laci di meja yang terletak di sebelah ranjang tersebut.


Mia mengambil sebuah amplop yang ada di dalamnya. Mia kembali membuka amplop tersebut, rasa-rasanya dia masih tidak percaya dengan tulisan yang tertera di dalamnya.

__ADS_1


➡️ Hai reader💖, jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak dengan cara like, komen dan votenya ya! Author tunggu🤗🤗🤗


__ADS_2