Kontrak Pernikahan

Kontrak Pernikahan
BAB 51


__ADS_3

Rangga tiba di rumah jam 6 pagi. Dia langsung masuk ke kamarnya, karena dirinya merasa sangat lelah dengan apa yang terjadi. Saat dia masuk, kebetulan Bintang baru keluar dari kamar mandi.


"Baru, pulang, Mas? Katanya meetingnya cuma sebentar kenapa sampai harus menginap segala?" kata Bintang sambil mengambil pakaiannya dari dalam lemari. Dia menghentikan kegiatannya ketika Rangga memeluknya dari belakang.


"Mas, ada apa?" tanya Bintang.


"Tidak ada, aku hanya sangat merindukanmu," jawab Rangga yang makin mengeratkan pelukannya. .


"Mas."


"Temani aku tidur!"


"Tapi, aku kan.... "


Tanpa menunggu Bintang menyelesaikan perkataannya, Rangga membawa istrinya itu berbaring bersamanya.


*****


Rangga dan Bintang baru keluar dari kamarnya setelah jam makan siang tiba. Mereka bergabung dengan anggota keluarga yang lain yang sudah menunggu di meja makan.


"Hari ini kenapa kamu cuti?" tanya Mia.


"Aku capek, Mah. Gara-gara tidak ada Nando kemarin aku harus menyalesikan pakerjaanku hingga malam," jawab Rangga. "Dan hari ini aku ingin menghabiskan waktuku bersama dengan istriku di kamar."


Bintang langsung mencubit pinggang suaminya dan melototinya.


"Kau ini separti pengantin baru saja," cibir kakaknya.


"Memangnya ada peraturannya ya, kalau yang boleh bersama istrinya seharian hanya pengantin baru? Kan enggak," jawab Rangga.


"Ingat, istrimu itu sedang hamil. Jangan buat dia terlalu kelelahan!" Kata Mia mengingatkan.


"Kita hanya tidur bareng, Ma. Masa sampai bisa membuat Bintang kelelahan sih?"


"Iya, kalian tidur bersama, tapi sambil melakukan kegiatan yang membuat kalian lelah."


"Omongan Mama makin ngaco deh, udah ah. Kita nikmati makan siang kita aja!" suruh Rangga.

__ADS_1


"Siapa yang ngaco, lihat leher istrimu sampai banyak stempelnya gitu." Sambil tertawa Rania ikut menambahi ucapan mamanya.


Buru-buru Bintang menutup lehernya menggunakan tangan.


"Sudah kelihatan, nggak usah ditutupi," lanjut Mia. Dia dan Rania tersenyum bahagia melihat itu. Namun, berbeda dengan Celin. Darahnya langsung mendidih melihat kemesraan mereka.


"Celin, ke kamar ya Kak, Ma. Celin mau istirahat," pamit Celin. Dia langsung masuk ke kamarnya.


"Kalian segera kirim foto itu sekarang!" suruh Celin pada seseorang melalui sambungan telpon.


"Untuk sementara aku akan berbuat baik padamu, Bintang. Tapi... bagaimana kalau rencana pernikahan Kakakmu itu gagal?" gumam dengan senyum devilnya.


*****


Sore itu, Bintang sedang duduk santai di teras rumahnya bersama dengan Rangga. Mereka langsung berdiri saat melihat Ema (mamanya Juan) datang sambil menarik Mentari.


"Tante, ada apa ini? Kenapa Tante bersikap kasar terhadap Kak Tari?" tanya Bintang bingung.


"Ada apa? Apa ibumu sudah datang? Aku akan mengembalikan putri kotornya ini pada ibumu. Dan bilang pada ibumu rencana pernikahan kakakmu dengan Juan di batalkan!" kata Ema sambil mendorong Mentari hingga dia jatuh terjerembab di lantai. Mentari hanya bisa menangis, Bintang membantu Kakaknya untuk berdiri.


"Aku yakin, saat Juan tahu siapa wanita ini sebenarnya, dia juga akan menerima keputusan Tante." jawab Ema.


"Mamah salah, karena apa pun keadaan Mentari aku akan tetap menikah dengannya," kata Juan yang baru saja datang bersama dengan adiknya Alex.


"Apa? Jangan-jangan kau sudah tahu tentang semua ini?" tanya Ema pada putranya.


"Iya. Sejak awal aku sudah tahu semuanya karena aku yang membawanya pergi dari tempat itu," jawab Juan.


"Dasar anak tidak tahu diri. Apa kamu sengaja ingin mempermalukan mama?" tanya Ema geram.


Celin melihat keributan itu dari dalam kamarnya, lagi-lagi dia menyunggingkan senyumnya.


"Ma, semua itu hanya masa lalu. Dan Mentari menjadi seperti itu bukan karena keinginannya. Dia ddijebak oleh mantan suaminya." Juan berusaha membela calon istrinya itu.


"Matamu benar-benar sudah dibutakan olehnya." kata Ema marah sambil menunjuk ke arah Mentari.


"Ada apa ini? Kenapa kalian ribut di depan rumahku? Ema apa kamu bisa jelaskan semuanya?" tanya Mia yang baru saja pulang.

__ADS_1


"Menurutmu apa kamu akan menerima jika calon menantumu adalah seorang pelacur?" tanya Ema pada Mia.


"Pelacur? Maksudmu apa?" tanya Mia meminta penjelasan.


"Ya Mia, Kakak dari menantumu ini adalah seorang pelacur!" jawab Ema.


Tidak hanya Mia yang terkejut, tapi orang yang berdiri di belakang Mia juga terjatuh hingga tas ransel yang dia bawa ikut terjatuh.


"Ibu," kata Bintang kemudian berlari menangkap ibunya yang hampir jatuh karena hal yang baru dia dengar.


Mia baru pulang dari stasiun untuk menjemput besannya itu. Karena rencananya setelah pernikahan Mentari, mereka akan mengadakan syukuran 4 bulan kehamilan Bintang.


Rangga segera membantu istrinya membawa mertuanya masuk kedalam rumah dan membaringkan tubuh mertuanya di sofa.


"Ibu! Ibu tidak apa-apakan?" tanya Bintang dan Mentari bersamaan.


"Jelaskan pada ibu apa yang Sebenarnya terjadi?" tanya Ratih meminta penjelasan pada putri-putrinya.


Awalnya Mentari ragu untuk bercerita, tetapi akhirnya dia menceritakan segalanya pada ibunya.


"Ini salah ibu. Seandainya dulu ibu tidak menerima lamaran Iwan, kamu tidak akan nenderita seperti ini," kata Ratih sambil memeluk putrinya.


"Tidak, Bu. Ini bukan salah ibu. Ini sudah takdir Tari, Bu," jawab Mentari yang membalas pelukan sang ibu dengan air mata bercucuran di kedua pipinya.


"Nyonya Ema, Jika memang putriku tidak pantas untuk putramu kami akan menerimanya. Nyonya jangan khawatir karena putriku akan menjauhi Juan," kata Ratih tegas.


"Bagus. Kalau kalian sadar diri," kata Ema.


"Ayo Juan kita pergi!" titah Ema pada putranya. Tapi Juan tetap diam di tempatnya.


"Juan, kau tidak dengar perintah mama?" teriak Ema.


"Ma, tenanglah!" kata Alex sambil mengusap punggung mamanya.


"Aku tidak akan pergi kemanapun tanpa Mentari, dan aku juga tidak akan menikah dengan siapapun kecuali dengan Mentari," jawab Juan.


"Baiklah kalau itu keputusanmu, tapi kau juga harus lihat keputusan apa yang akan mama ambil kalau kamu menikahi pelacur itu." Ema meraih pisau buah yang ada di meja kemudian memotong nadinya sendiri. Juan dan Alex segera meraih tangan mamanya. Alex membuang pisau yang di pegang mamanya, sementara Juan berusaha menghentikan darah yang mengalir dari pergelangan tangan mamanya. Semua orang yang berada di tempat itu panik. Juan dan Alex segera membawa mamanya ke rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2