
Seperti hari-hari sebelumnya, setiap pagi semua keluarga akan berkumpul di meja makan sebelum mereka memulai aktifitas mereka.
Sama seperti pagi ini, Mia dan yang lainnya sudah berada di depan meja makan untuk ritual sarapan bersama.
"Nia, bagaimana rencana pernikahanmu dan Erik?" tanya Mia membuka pembicaraan mereka.
"Sudah hampir selesai, Ma," jawab Rania.
"Kak, apa aku dan Dinda boleh ikut membantu?" tanya Bintang, kemudian dia memasukkan nasi yang ada di atas sendok ke dalam mulutnya.
"Tidak usah, aku tahu kalian semua sibuk. Lagian pernikahanku kali inikan tidak akan di rayakan besar-besaran," ujar Rania.
"Aku ingin pernikahan yang sederhana," imbuh Rania.
"Tapi kami juga kan ingin membantu Kakak," tutur Dinda.
"Aku tahu kalian semua ingin ikut berpartisipasi dalam rencana pernikahanku dan Erik. Tapi sungguh, untuk saat ini aku dan Erik masih bisa menghandlenya sendiri. Kalau aku membutuhkan bantuan kalian, aku pasti akan meminta bantuan kalian," jelas Rania.
"Tapi bener ya, Kak. Jika kakak membutuhkan bantuan kami jangan sungkan, katakan saja!" kata Dinda.
"Iya, pasti," jawab Rania.
"Wah, asikkk," Mikha ikut bersuara.
"Asik kenapa, Sayang?" tanta Bintang sambil mengelap mulut putrinya yang kotor karena makanan.
"Kalau aunty dan auncle menikah berarti akan ada pesta dan banyak makanan enak. Mikha suka dengan itu," jawab Mikha.
Bintang dan yang lainnya menggelengkan kepala mereka, melihat keluguan Mikha.
"Ohya, sekalian Nia ingin memberitahu kalian kalau pernikahan Nia kali ini, Nia ingin menyelenggarakannya di panti asuhan tempat Erik mengadopsi Leon," ujar Rania memberitahu.
"Apapun itu, Kami semua pasti akan menyetujuinya," kata Mia.
"Terimakasih ya, Ma," ucap Rania.
Mia membalasnya dengan sebuah senyuman.
"Din, kapan kamu mulai bekerja kembali di rumah sakit?" tanya Bintang kepada ipar sekaligus teman sejawatnya.
"Mas Harry tidak memberiku izin untuk kembali bekerja di rumah sakit. Dia mau aku menjadi ibu rumah tangga dan mengurus rumah. Lagian gara-gara waktu itu aku kabur ke desa, aku juga sudah di pecat dari rumah sakit tempat aku bekerja dulu," jawab Dinda panjang lebar.
"Apa benar begitu, Nak?" tanya Mia kepada putra Harry.
"Iya, Ma. Aku tidak ingin dia kelelahan, lagian aku juga masih bisa memenuhi segala kebutuhannya," jawab Harry yang masih memegang sendok dan garpu di tangannya.
"Apa kamu tidak mau menanyakan apa yang di inginkan oleh istrimu?" tanya Mia kepada putranya sekali lagi.
__ADS_1
Harry menatap ke arah Dinda sejenak.
"Aku yakin dia akan menerima semua keputusanku," jawab Harry seraya meletakkan sendok dan garpu yang ada di tangannya. Dia sedikit tidak suka dengan pertanyaan yang di ajukan oleh mamanya.
"Aku sudah kenyang, aku berangkat kerja sekarang," kata Harry lagi.
"Harry, bersikap sopanlah terhadap mama!" tegur Rangga kepada kepada saudara kembarnya tersebut.
Suasana sarapan yang tadinya tenang mendadak berubah tegang.
"Mas," Bintang menggenggam tangan suaminya, kemudian dia menggelengkan kepalanya sebagai tanda bahwa dia menyuruh suaminya itu untuk bersikap tenang.
Rangga menghela napasnya kasar, salah satu hal yang tidak dia sukai adalah ketika ada orang yang membentak mamanya.
Harry yang tadinya sudah bangkit dan hendak meninggalkan meja makan, kembali duduk.
"Maafkan aku, Ma! Bukan maksudku untuk bersikap tidak sopan terhadap mama," ucap Harry.
"Tidak apa-apa, Nak. Mama yang salah karena mama terlalu ikut campur urusan kalian," jawab Mia dengan senyum yang seperti biasa dia tampakkan.
"Mama tidak salah, tolong maafkan Harry!" pinta Harry sekali lagi.
"Din, kalau kamu ingin kembali bekerja di rumah sakit. Aku tidak akan menghalangimu, asal kamu bisa membagi waktumu," ucap Harry kepada istrinya, Dinda.
"Terimakasih ya, Mas. Aku pasti akan berusaha membagi waktuku dengan baik," jawab Dinda.
Usai sarapan satu persatu dari mereka berpamitan untuk melanjutkan aktifitas harian mereka.
Harry dan Rania berangkat lebih dulu menuju ke perusahaan mereka masing-masing. Sementara Bintang dia berangkat ke rumah sakit dengan di antar oleh suaminya, tentu saja setelah mengantar kedua anaknya ke sekolah.
*****
Malam itu Bintang di ajak oleh suaminya untuk makan berdua di restoran mewah. Mereka memesan room vip di restoran tersebut. Rasanya sudah lama mereka tidak pernah makan malam berdua.
"Mas, dalam rangka apa kamu mengajakku makan malam di tempat romantis seperti ini?" tanya Bintang kepada suaminya.
Memang ruangan yang di pesan Rangga terbilang khusus, ada berbagai macam bunga di sana dengan lilin di hadapan mereka.
"Aku selalu bilangkan, bahwa setiap hal yang aku lewatkan denganmu sangatlah berarti. Jadi, tidak perlu alasan khusus untuk selalu memberikanmu perlakuan istimewa," jawab Rangga seraya menggenggam tangan istrinya.
"I love you, Sayang," ucap Rangga
"Love you too," jawab Bintang.
"Ohya, bagaimana dengan anak-anak?" tanya Bintang yang tiba-tiba teringat dengan kedua anaknya, apalagi ini sudah waktunya si kembar untuk tidur. Dan biasanya mereka baru akan tertidur setelah di bacakan cerita olehnya.
"Jangan khawatir, bukankah ada mama dan ibu di rumah," jawab Rangga.
__ADS_1
"Tapi tetap saja Mas, aku mengkhawatirkan mereka. Setelah makan kita pulang ya!" pinta Bintang.
"Baiklah, kita akan pulang setelah kita menyelesaikan makan malam kita," jawab Rangga.
Usai makan malam mereka segera kembali ke kediaman Wijaya. Dan ternyata kekhawatiran Bintang benar adanya, kedua anak kembar mereka belum tidur, karena menunggu kepulangan ke dua orang tua mereka.
"Mommy," panggil Mikha dan Tama ketika melihat kedua orang tua mereka kembali. Keduanya berlari menghambur ke arah mommy mereka.
"Mommy kenapa baru pulang? Mikha sudah ingin di ceritakan dongeng oleh Mommy," kata Mikha dengan nada manjanya.
Bintang melirik ke arah suaminya.
"Tadi Mommy ada urusan di luar. Bagaimana apa kalian berdua sudah makan?" jawab Bintang sembari bertanya.
"Sudah Mommy. Tadi grandma dan nenek memasak makanan kesukaan Mikha dan Tama," jawab Mikha.
"Ayo, Mommy sekarang kita tidur! Mikha sudah ngantuk!" ajak Mikha sembari menarik tangan mommynya.
"Iya, Sayang. Ayo!"
Bintang mengikuti langkah kedua anak kembarnya menuju ke kamar. Keduanya langsung terlelap, tidak lama setelah Bintang membacakan cerita untuk mereka.
****
1 bulan kemudian ...
Akhirnya hari pernikahan Rania dan Erik tiba juga, sesuai rencana mereka melakukan pernikahan di panti asuhan tempat anak angkat mereka Leon di besarkan.
Pesta pernikahan tersebut hanya di hadiri oleh keluarga inti dan sahabat dekat mereka.
Erik yang tadinya gugup langsung merasa lega saat para saksi mengatakan sah.
Semua saudara kerabat, teman dan para penghuni panti mengucapkan selamat untuk hari bahagia Erik dan Rania.
"Selamat ya, Nak" ucap Mia kepada anak dan menantunya.
"Selamat ya ,Kak," ucap Bintang, Rangga, Dinda dan Harry bergantian.
"Selamat ya auncle, aunty," ucap Mikha dan Tama.
"Terimakasih semuanya, terimakasih dua keponakan Aunty yang ganteng dan cantik," balas Rania.
Usai menerima ucapan selamat dari keluarga dan tamu undangan, pesta pun kembali di lanjutkan. Namun di tengah-tengah pesta tiba-tiba.
'Hoek..hoek'
🌸 Janganlah takut untuk memperjuangkan cinta, karena yakinlah perjuangan cintamu tidak akan sia-sia. Sama seperti perjuangan Bintang untuk mendapatkan cinta Babang Rangga✌️😁.See you next time🌸
__ADS_1
--End--