Kontrak Pernikahan

Kontrak Pernikahan
BAB 165


__ADS_3

PRANNNNGGGG....


Suara benda jatuh dari luar pintu.Alex dan Bintang segera keluar dan melihat apa yang jatuh di sana.


"Tidak ada siapa-siapa", kata Alex saat tidak melihat siapapun di sana.


" Aneh !?! Bukankah tadi kita sama-sama mendengar ada suara benda jatuh dari luar pintu", kata Bintang yang juga ikut melihat ke sekelilingnya.


"Mungkin tadi petugas kantin yang lewat,inikan jam mereka mengambil piring bekas pasien" jawab Alex.


" Ya sudah deh Lex,aku ke ruanganku dulu",pamit Bintang kepada Alex.


"Aku juga mau menyelesaikan pekerjaanku di dalam", kata Alex.


Bintang berjalan menjauh dari rempat tersebut,sementara Alex dia kembali masuk ke ruangannya.


" Untung saja mereka tidak melihatku",batin seseorang yang bersembunyi di balik tembok.


"Aku juga harus kembali ke tempatku,jangan sampai mereka curiga", dengan langkah terburu-buru orang itu meninggalkan tempat persem bunyiaannya.


*****


Di tempat lain...


Dinda yang kala itu bangun kesiangan,membuka isi kulkas untuk mencari sesuatu yang bisa dia makan.Tapi ternyata isi kulkas miliknya kosong.


" Mending aku pesan makanan online saja deh", Dinda membuka sebuah aplikasi dan memesan makanan di sana. Sambil menunggu makanannya datang, Dinda lebih memilih menyalakan televisi dan menonton acara kesukaannya.


Ting Tong


Bunyi bel apartemennya memaksa Dinda untuk bangun dari posisinya sekarang.


"Cepet banget makanannya datang".


Dinda segera membukakan pintu apartemennya. Namun dia terkejut ketika tahu yang datang adalah Beno. Dinda berusaha menutup pintu apartemen itu kembali,tapi sudah terlambat karena Beno sudah terlebih dulu menahan pintu tersebut dengan tangannya.


Beno mendorong pintu apartemen tersebut dengan sangan kencang. Sehingga membuat tubuh Dinda yang sedang berusaha menahan pintu itu pun terpental.


" Gara-gara kamu dan istri dari Wijaya itu, Aku hidup seperti seorang buronan. Setiap hari aku di kejar- kejar oleh orang-orang suruhan Wijaya. Jadi kamu dan istri Wijaya itu harus membayarnya"


"Apa yang mau kamu lakukan?" tanya Dinda sedikit takut.


"Memangnya apa yang bisa aku ambil darimu selain kemolekan tubuhmu itu", jawab Beno dengan tatapan mesumnya.


" Jangan macam-macam kamu Beno,aku akan menelpon polisi sekarang ",ancam Dinda sambil berusaha berjalan mundur.


Beno terus berjalan mendekati Dinda.


" Kenapa? Bukankah kita sering melakukannya dulu",Beno terus berjalan mendekati Dinda.


Dinda berusaha mendorong tubuh Beno,saat tangan laki-laki itu mulai berusaha menyentuh tubuhnya.


"Brengsek kamu Beno", teriak Dinda.


" Ayo kita buat video percintaan kita lagi" kata Beno sambil menarik baju Dinda.


"Jangan Beno jangan! Tolong jangan lakukan itu", pinta Dinda sambil berusaha mempertahankan bajunya.

__ADS_1


Tapi Beno tetap berusaha menarik baju tersebut hingga baju itu robek di bagian depannya.


" Tubuhmu masih tetap indah seperti dulu",ucap Beno sambil menatap bagian tubuh Dinda yang terlihat dari baju yang robek itu.


Beno menarik tubuh Dinda dan mendorongnya ke sofa.


"Ayo Sayang, kita main-main dulu", Beno mulai mendekati tubuh Dinda. Dia benar-benar tidak tahan melihat kemolekan tubuh mantan kekasihnya itu.


" Jangan...Beno. Tolong jangan lakukan itu. Aku mohon", pinta Dinda dengan wajah ketakutan.Dia juga berusaha menutupi bagian tubuhnya yang terlihat dengan menyilangkan kedua tangannya.


Namun Beno tidak bergeming sedikit pun. Dia tetap berjalan mendekati Dinda yang sudah ketakutan.


Namun saat tinggal selangkah jarak antara dirinya dan Dinda,tiba-tiba ada yang menarik tubuh Beno dan memukul wajahnya.


Bughhhh


" Beraninya kamu ingin melecehkan calon iatriku. Keparat kamu", dengan emosi yang sudah di ubun-ubun Harry menghajar Beno habis-habisan. Bahkan saat tubuh Beno sudah tidak bergerak karena pingsan,Harry masih saja belum berhenti memukulnya.


Dia baru berhenti memukul Beno,saat Dinda memeluknya dari belakang dan menahan dia agar tidak memukul Beno lagi.


" Sayang, jangan lakukan apa-apa lagi terhadapnya", cegah Dinda sambil menggelengkan kepalanya dan menatap mata kekasihnya itu.


"Aku tidak ingin,kamu di penjara karena membunuhnya", kata Dinda lagi.


Seketika emosi Harry mereda,dia melepas jas miliknya dan memakaikannya pada tubuh kekasihnya itu.


Harry menyuruh anak buahnya untuk membawa Beno ke luar dari apartemen kekasihnya itu.


" Pastikan dia di penjara dalam waktu yang lama", titah Harry pada anak buahnya.


"Baik,Tuan. Permisi", jawab salah satu anak buah Harry.


" Apa ada yang sakit?" tanya Harry


"Aku baik-baik saja", jawab Dinda.


" Mas,dari mana kamu tahu kalau Beno datang ke sini?" tanya Dinda,pasalnya tidak biasanya Harry datang tanpa mberitahunya terlebih dulu.


"Rangga memberitahuku,kalau semalam si Beno kabur dari ruang penyekapan", jawab Harry.


" Ruang penyekapan?" tanya Dinda bingung.


"Rangga memberitahuku kalau ******** itu mengancammu. Jadi aku megirim anak buahkau untuk menyekapnya dan menanyakan keberadaan USB itu. Tapi rupanya dia begitu pintar,dia sama sekali tidak mau memberitahuku. Jadi aku menyekapnya. Dan semalam dia berhasil kabur dari ruang penyekapan. Aku tahu kalau dia pasti akan ke sini untuk mencarimu, maafkan aku karena aku sedikit terlambat datang ke sini", tutur Harry.


" Tidak apa-apa,Mas. Yang terpenting,aku baik-baik saja sekarang", jawab Dinda.


"Maafkan aku ya Mas,jika aku tidak melakukan kenakalan itu dulu...mungkin Beno tidak akan seperti ini dan aku tidak akan menyusahkanmu", ucap Dinda dengan wajah sedihnya.


Harry menarik tubuh kekasihnya itu kedalam pelukannya.


" Tidak apa-apa, itu semuakan hanya masa lalu. Dan soal USB itu,aku sudah menemukannya dan sudah menghancurkannya. Jadi dia tidak akan bisa mengancammu lagi" kata Harry.


"Terimakasih ya,Mas", ucap Dinda.


'Kruyuuukkk'


Dinda begitu malu saat cacing cacing di perutnya mulai demo minta di isi.

__ADS_1


" Kamu belum makan?" tanya Harry.


Dinda mengangguk.


" Aku bangun kesiangan,tapi pas mau masak ternyata isi dalam kulkas juga kosong. Jadi aku pesan makanan secara online tadi. Makanya waktu ada yang datang, aku kira makanan pesananku. Ternyata malah si Beno",jawab Dinda panjang lebar.


Ting tong


Bel apartemen Dinda kembali berbunyi.


"Mungkin itu,makanannya datang", kata Dinda.


" Tetaplah di sini", titah Harry.


Harry membuka pintu apartemen tersebut dan memang benar,kali ini yang datang adalah makanan pesanan Dinda.


Setelah membayar makanan tersebut, Harry membawa makanan itu ke hadapan kekasihnya tersebut. Harry duduk di sebelah Dinda dan mulai menyuapinya.


*****


( Rumah Sakit Rahardian )


"Dokter Bintang, ini aku bawakan roti untuk dokter", kata Lina yang baru saja masuk ke ruangan Bintang.


Bintang yang saat itu sedang fokus menatap layar komputer,beralih menatap Lina yang baru saja datang dengan roti di tangannya.


" Terimakasih ya Lin",ucap Bintang sambil menerima roti dari tangan Lina.


Bintang mulai memasukkan roti tersebut ke dalam mulut dan menggigitnya..


"Ohya Lin,apa kamu tahu siapa perawat paling senior di sini?" tanya Bintang.


" Kenapa dokter menanyakan itu?" Lina balik tanya.


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin tahu saja", jawab Bintang sambil mengunyah makanan di mulutnya.


" Perawat yang paling senior kalau tidak salah namanya ibu Diah,tapi dia sudah pensiun dua tahun lalu",jawab Lina.


"Diah?" ,Bintang mencoba mengingat kembali nama itu. Dan dia baru ingat kalau nama itu juga ikut dalam operasi ayahnya dulu.


"Apa kamu tahu di mana dia tinggal sekarang?" tanya Bintang kepeda suster Lina.


" Maaf,Dok saya kurang tahu",jawab Lina.


" Tidak apa-apa Lin. Ohya terimakasih untuk rotinya",ucapa Bintang.


Lina melihat ke arah komputer yang sedang Bintang lihat.


"Itu laporan apa?" tanya Lina.


"Ini laporan operasi ayahku dulu,aku sedang mencoba melihat nama- nama orang yang terlibat di sana. Dan mencocokkan dengan nama perawat dan dokter di rumah sakit ini. Siapa tahu aku dapat petunjuk dari sini", jawab Bintang yang kembali fokus menatap layar komputernya.


" Oh...begitu",ucap Lina.


Lina meremas roknya sendiri.


"Apa pekerjaanmu sudah selesai?" tanya Bintang saat mendapati Lina masih diam di tempatnya.

__ADS_1


" Iya, ini saya mau kembali memeriksa pasien. Permisi, Dokter".


Lina menatap Bintang dengan tatapan aneh, sebelum akhirnya dia benar-benar keluar dari ruangan tersebut.


__ADS_2