Kontrak Pernikahan

Kontrak Pernikahan
BAB 81


__ADS_3

Bintang bangun lebih pagi dari biasanya, dia membantu Mbok Jum memasak di dapur.


Dia berusaha menghilangkan kecurigaannya terhadap suaminya.Apalagi setelah mendengar kata-kata dari Mbok Jum bahwa kunci dari awetnya suatu hubungan adalah saling percaya.


Jika memang pasangan kita masih merahasiakan sesuatu kepada kita,maka berusahalah untuk mengerti.Mungkin saja dia belum bicara karena memang ada alasannya.


Setelah semua masakan sudah tertata rapi di meja. Dia kembali ke kamarnya untuk membangunkan sang suami.


Tetapi ternyata Rangga sudah tidak ada di ranjangnya.


Dia sedang berdiri di balkon kamar,Bintang berjalan mendekati suaminya. Tapi karena sedang fokus dengan pembicaraannya di telpon,Rangga tidak menyadari ke hadiran Bintang di belakangnya.


"Ya,Dok.Aku akan ke sana sekarang dan bicara padanya" kata Rangga dengan orang di ujung telpon sana.


"Dokter? Siapa yang sakit? Apa Mas Rangga sakit?" batin Bintang.


"Sayang, ternyata kamu disini" kata Bintang yang seolah-olah baru saja datang.


Rangga segera menutup telponnya,terlihat dari raut wajahnya dia kelihatan gugup.


"E...Sayang, sejak kapan kamu di sini?" tanya Rangga.


'Apa Bintang mendengar pembicaraanku tadi ya* ?Tapi sepertinya tidak, kalau dia mendengar pasti dia akan langsung bertanya padaku' Rangga berbicara dalam hati*.


' Sepertinya Mas Rangga berharap aku tidak mendengar pembicaraannya,labih baik aku pura-pura saja kalau aku baru datang '


" Baru saja,tadinya aku kira kamu masih tidur tapi ternyata kamu sudah ada di sini"jawab Bintang.


"Mas,kamu duluan gi ke meja makan! Aku mau mandi dulu sebentar sekalian siap-siap,hari ini aku ada kuliah".


" Apa kamu mau aku membantumu mandi Sayang? "goda Rangga.


Rangga menghampiri istrinya dan dan memeluk pinggangnya.


" Mas,badanku bau masakan.Aku mau mandi dulu "


"Aku juga belum mandi Sayang, bagaimana kalau kita mandi bersama?"


Tanpa menunggu jawaban dari Bintang, Rangga sudah menggendongnya.


Rangga melemparkan ponsel yang dia pegang ke atas ranjang,dia membawa istrinya masuk ke kamar mandi.


Mandi yang seharusnya membutuhkan waktu sebentar, malah menjadi lama.


Entah apa yang di lakukan keduanya di kamar mandi,hingga mereka baru keluar setelah satu jam.


Setelah memakai baju,Bintang masih duduk di depan meja rias sambil berusaha menutupi tanda di lehernya dengan alat make up.


"Kenapa Sayang?" tanya Rangga


"Ini semua gara-gara ulah kamu Mas. Akukan harus ke kampus pagi ini,bagaimana caranya aku menutupi ini" gerutu Bintang.


Rangga hanya terkekeh mendengar istrinya menggerutu.


Dia mencari sesuatu di laci untuk menutupi tanda yang di buat suaminya di lehernya itu.


Akhirnya dia menemukan syal dan memakainya.


"Ayo kita ke ruang makan,semuanya pasti sudah menunggu" ajak Rangga.

__ADS_1


Keduanya berjalan beriringan menuju meja makan yang terletak di lantai bawah.


Benar saja kedua orang tua mereka sudah menunggu di meja makan,demikian juga dengan kedua anak kembarnya.


"Mommy, Daddy kenapa lama sekali Mikha kan sudah lapar"


"Iya,Tama juga "


"Maafin Mommy ya Sayang, tadi Mommy harus membereskan kucing liar di kamar mommy dulu" jawab Bintang seraya duduk di sebelah putri kecilnya itu.


Rangga membulatkan matanya,mendengar jawaban sang istri.


'Bisa-bisanya Bintang bilang kalau aku ini kucing liar'


Mia dan Ratih menahan tawanya karena paham siapa yang di maksud kucing liar oleh Bintang.


"Kucing liarnya jantan apa betina?"


"Kucingnya galak tidak, Mom?"


"Dia gigit nggak?"


"Warnanya apa?"


"Terus dimana kucingnya sekarang?"


Tama dan Mikha bertanya secara bergantian membuat Bintang bingung menjawabnya.


"Tama,Mikha tidak usah bahas kucing liar lagi.Lebih baik habiskan makanan kalian setelah itu berangkat sekolah bareng grandma",


Perkataan Mia membuat Bintang bernapas lega.


Setelah kedua anak kembarnya berangkat ke sekolah, Bintang dan Rangga pun berpamitan kepada Ratih untuk berangkat ke kantor dan kampus.


Seperti biasa Rangga hanya mengantar Bintang sampai di pertigaan jalan sebelum sampai kampus.


Sebelum keluar dari mobil,Bintang mencium punggung tangan suaminya dan di balas Rangga dengan mencium kening sang istri.


" Love you suamiku "


"Love you too,istriku"


Setelah mengucapkan itu, Rangga melajukan mobilnya meninggalkan Bintang.


Bintang segera mencegat taksi yang lewat di depannya. Dia menyuruh sopir taksi tersebut untuk mengikuti mobil suaminya.


' Maaf,Mas bukannya aku tidak mempercayaimu.Tapi aku hanya ingin tahu apa yang kamu sembunyikan dariku.


Apalagi tadi pagi aku mendengar kamu berbicara dengan dokter,aku takut kamu kenapa-napa Mas '


Dan benar saja mobil Rangga tidak menuju ke arah jalan menuju kantor, tetapi ke arah lain.


Rangga menghentikan mobilnya di tampat parkir sebuah rumah sakit. Dia turun dari mobilnya dan menuju suatu tempat.


Setelah memberikan uang seratus ribuan pada sang sopir taksi, Bintang segera turun dan mengikuti Rangga.


Sebenarnya kemarin Rangga dan Nando datang menemui dokter yang menangani Lyvia.


Setelah mendengar kabar kalau Lyvia sakit dan tidak mempunyai biaya untuk berobat,Rangga memutuskan untuk menanggung semua biaya pengobatannya.

__ADS_1


Apalagi ibunya Lyvia terus menangis dan memohon agar Rangga mau membantunya.


Rangga memang bersedia menanggung seluruh biaya pengobatan Lyvia, namun dia tidak mau bertemu dengan Lyvia secara langsung. Karena menurutnya jika dia menemui Lyvia itu artinya dia sudah menghianati Bintang dan dia tidak ingin melakukan itu.


Namun tadi pagi Dokter yang menangani operasi Lyvia menelponya dan bilang kalau Lyvia tidak bersedia di operasi sebelum bertemu dengannya.


Akhirnya dengan terpaksa Rangga bersedia datang menemuinya.


Rangga memasuki sebuah ruangan yang di jaga polisi di depan pintu,karena memang status Lyvia yang seorang narapidana.


"Apa yang kamu inginkan?" tanya Rangga saat memasuki ruang rawat Lyvia.


Dengan wajah tanpa ekspresi,Rangga berdiri di depan Lyvia.


"Rangga, aku senang kamu mau menemui ku"


"Tidak usah basa-basi,kenapa kamu ingin bertemu denganku?"


"Rangga, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku di ruang operasi nanti aku hanya ingin minta maaf padamu dan juga pada istrimu Bintang",jawab Lyvia.


" Sudahlah anggap kalau Kami sudah memaafkanmu"


"Terimakasih" ucap Lyvia.


"Rangga, bolehkah aku bertanya padamu satu hal?"


"katakan!"


"Seandainya dulu aku tidak menghianatimu,apa kamu akan tetap mencintaiku?"


Rangga terdiam,karena memang dia tidak tahu jawabannya.


Saat ini yang ada di hati bahkan otaknya hanya satu orang yaitu BINTANG.Bahkan tidak ada ruang sedikitpun di hatinya untuk Lyvia.


"Lyvia, aku hanya bisa menjawab mungkin saja.Karena jika dulu kamu tidak berkhianat, aku juga mungkin tidak akan bertemu Bintang dan aku tidak akan jatuh cinta padanya."


"Aku memang bodoh, hanya karena harta aku menghianatimu.Seandainya aku bisa memutar waktu,aku tidak akan pernah menghianatimu.Aku menyesal" Kata Lyvia di sertai isak tangisnya.


Rangga mendekati Lyvia dan memeluknya untuk memberikan wanita di depannya itu ketenangan.Apalagi sebentar lagi Lyvia akan di operasi.


"Sudahlah, jangan menangis lagi.Lebih baik kamu fokus saja dengan operasimu.Jangan memikirkan hal lain" ,Rangga melepaskan pelukannya.


Lyvia mengangguk, dia menghapus air matanya.


Namun dia terkejut saat mendapati wanita yang cukup familiar berdiri di depan pintu,sambil menatap kearahnya.


"Bintang ..." suara Lyvia lirih,namun masih di dengar oleh Rangga.


Rangga membalikkan tubuhnya melihat ke arah Bintang yang juga menatapnya.


Rangga melangkahkan kakinya untuk mendekati istrinya itu. Tapi satu langkah dia mendekat,satu langkah pula Bintang melangkahkan kakinya mundur.


"Bintang,Aku bisa jelaskan semuanya".


Bintang menatap suaminya dengan deraian air mata.


Dia langsung berlari tanpa mau mendengar teriakan suaminya yang memangilnya untuk memberikan penjelasan.


Rangga terus mengejar Bintang,hingga pada akhirnya....

__ADS_1


" AWAAAASSSSS!!! "


__ADS_2