
PLAAAAKKKKKK
Sebuah tamparan mendarat di pipi Lina,dia bahkan mencengkeram kedua bahu Lina dengan sangat kuat.
"Kamu... ?!? Orang sepertimu tidak bisa di maafkan. Bagaimana bisa seorang perawat yang seharusnya merawat pasien,justru memiliki pemikiran sekeji itu! ", maki Ratih dengan amarah yang meledak.
Bahkan saking kuatnya cengkeraman Ratih,Lina sampai mengaduh kesakitan.
" Aw...sakit ",kata Lina sambil berusaha melepaskan cengkeraman Ratih barusan.Iya,orang yang datang dan menampar Lina adalah Ratih. Dia baru saja tiba saat,Lina mulai berbicara.
Bintang mendekati ibunya dan berusaha menenangkannya.
" Ibu...", panggil Bintang sambil menyentuh bahu ibunya.
Ratih menghempaskan tubuh Lina dengan sanagat kuat,hingga membuat perawat itu jatuh di atas lantai.
"Apa kamu atau ibumu pernah berpikir bagaimana nasib keluarga pasien yang kalian perlakukan seperti itu?!?", tanya Ratih dengan sedikit mengeraskan suaranya. Ratih yang masih di kuasi oleh amarahnya menatap Lina dengan sinis.
" Kamu atau ibumu tidak pernah tahukan bagaimana kehidupan kami setelah suamiku meninggal? Aku bekerja keras sendirian untuk bisa menghidupi kedua putriku,aku mati-matian membanting tulang hanya untuk bisa memastikan kedua putriku bisa melanjutkan sekolah. Dan kamu,kamu tidak merasa bersalah sedikit pun,di mana hati nuranimu?", kata Ratih yang menajamkan ucapannya.
"Ibu,tenangkan diri ibu. Kita pasti akan bisa menghukum mereka", kata Bintang.
" Kamu tahu, kenapa aku tidak melibatkan ibumu pada setiap operasi yang aku lakukan? ", kini giliran Dokter Prayoga yang bertanya pada Lina.
" Karena kamu menanggap ibuku tidak bisa apa-apa,iyakan?", jawab Lina.
"Kamu salah, aku tidak pernah menyertakan ibumu di setiap operasi karena ibumu memang belum mumpuni. Seharusnya ibumu bisa menginstrospeksi dirinya sendiri. Bukannya malah menyalahkan orang lain. Seharusnya dia juga lebih banyak belajar dari suster yang aku libatkan di setiap operasi, bukannya malah iri dan ingin menjatuhkan orang lain", Dokter Prayoga ikut berbicara.
" Sebagai seorang direktur rumah sakit aku mungkin belum baik,karena aku masih mendahulukan pasien VIP ku. Tapi saat aku melakukan operasi, aku selalu berusaha melakukan operasiku itu dengan baik. Aku akan berusaha agar pasienku selamat ",tambah kakek Roman.
__ADS_1
"Lina,tadinya aku hanya ingin permintaan maaf darimu dan juga ibumu. Tapi sepertinya...aku berubah pikiran, aku ingin kamu dan ibumu membayar semuanya di penjara", kata Bintang. Sambil memapah ibunya,Bintang ke luar dari ruang kerjanya.
Tidak lama berselang,Nando datang bersama dengan dua orang polisi.
" Nando, bagaimana dengan ibunya? " tanya Rangga pada tangan kanannya tersebut.
"Perawat Diah,sudah di bawa ke kantor polisi barusan", jawab Nando.
" Kamu tolong urus segalanya dan pastikan agar mereka mendapat hukuman yang setimpal dengan perbuatan mereka", seru Rangga.
"Jangan khawatir, aku akan mengurus semuanya dengan baik", jawab Nando.
" Aku,pergi dulu. Aku harus mengantar Bintang dan ibu pulang ke rumah",kata Rangga.
Rangga menyentuh bahu Nando, sebagai wujud kepercayaannya. Kemudian dia berjalan ke luar meninggalkan ruangan itu. Demikian juga dengan Alex, kakek Roman dan Dokter Prayoga,mereka juga ke luar dari ruangan tersebut.
Sementara Lina,dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Dia dan ibunya harus bersiap menerima hukuman yang sesuai dengan perbuatannya.
*****
"Bu,orang yang sudah mencelakakan ayah akan segera mendapatkan ganjarannya. Jadi ibu tidak usah memikirkan hal itu lagi", ucap Bintang sambil menyodorkan gelas berisi air putih kepada ibunya.
" Ibu sudah mengikhlaskan semuanya. ibu hanya tidak menyangka kalau ada orang yang sebiadab itu", jawab Ratih kemudian meminum air yang putrinya sodorkan tadi.
" Ibu,sebaiknya kita pulang sekarang. Urusan suster Lina,biar Nando yang menyelesaikannya", kata Rangga.
Ratih mengangguk.
"Dokter Yoga,saya minta maaf karena saya pernah menampar anda di depan umum", ucap Ratih saat Dokter Prayoga, Kakek Roman dan juga Alex masuk ke ruangan tersebut.
__ADS_1
" Tidak apa-apa, Nyonya. Saya mengerti perasaan Anda", jawab Dokter Prayoga.
" Nyonya, maaf karena saya telah melimpah operasi suamimu kepada putriku. Mungkin jika itu tidak saya lakukan, kejadian ini tidak akan terjadi ",ucap Kakek Roman.
" Tidak Tuan Roman,siapapun yang mengoperasi suamiku waktu itu,pasti suster Diah,tetap melakukannya. Karena memang dari awal dia sudah merencanakan semuanya. Mungkin sudah menjadi takdir suamiku harus meninggal dengan cara seperti itu ", jawab Ratih.
" Kakek Roman, Dokter Yoga, Kami pamit pulang. Permisi " ,Bintang dan Rangga segera pergi meninggalkan rumah sakit.
*****
( Di kantor polisi )
"Dasar bodoh,kenapa kamu bisa ketahuan", maki Diah,ibu Lina ketika mereka di pertemukan di kantor polisi.
" Itu juga salah ibu,kenapa ibu harus berurusan dengan keluarga Wijaya", jawab Lina.
"Mana ibu tahu kalau orang miskin itu,akhirnya bisa berbesan dengan keluarga Wijaya", kata Diah yang juga membela diri.
" Diam!!", bentak salah seorang penyidik yang sedang membuat BAP untuk mereka.
Kedua ibu dan anak itupun terdiam, apalagi saat melihat tatapan polisi yang lain yang lebih menakutkan dari penyidik di depannya.
*****
Rangga, Bintang dan Ratih tiba di kediamannya sekitar pukul 6 sore. Bintang mengantarkan ibunya masuk ke dalam kamarnya.
"Nak,ingatlah. Kamu adalah seorang dokter dan tugas seorang dokter adalah menyelamatkan pasien. Jadi masalah apapun yang menimpa dirimu nantinya jangan pernah mempermainkan nyawa pasienmu", kata Ratih sebelum putrinya itu keluar dari kamarnya.
" Iya,ibu. Bintang pasti akan mengingat pesan ibu dan akan berusaha menjadi dokter yang baik", jawab Bintang.
__ADS_1
"Ibu bangga padamu,Nak. Ibu juga yakin kalau ayahmu juga bangga memiliki putri sepertimu", kata Ratih.
Ibu dan anak itu pun berpelukan. Rangga mengurungkan niatnya untuk ikut masuk ke kamar mertuanya. Dia ingin memberikan kesempatan keduanya untuk saling menguatkan setelah kejadian di rumah sakit tadi.