
Pada caka warsa 596, pecah perang besar di tanah jawi atau Jawa Dwipa antara dua kelompok besar yang salah satunya memegang teguh prinsip dharma atau kebenaran, peperangan yang sudah terjadi dua hari dua malam masih terlihat sangat berimbang karena jumlah pendekar aliran hitam yang menguasai tanah jawi sangat banyak yang mana tergabung dari beberapa perguruan yang beraliansi menjadi satu
ditengah lautan pertempuran terlihat sepasang pendekar kembar mengamuk tiada yang dapat menghentikan mereka, kekuatan dan ilmunya seperti bukan manusia, banyak korban sudah berjatuhan ditangan mereka berdua
"Mudra dan Madra sang macan watukaru tak kusangka akan bertemu dengannmu disini suatu kehormatan bagi kami berhadapan dengan anda berdua,..
"pasangan pendekar hitam yang legendaris tanah Jawa Dwipa sungguh kehendak dewata aku dan saudaraku bertemu dan akan mengakhiri sepak terjang kalian di dunia persilatan ini,,"
pasangan pendekar itu bernama Ageng dan Nny Darsih, pasangan pendekar yang maha sakti dan membuat gempar di jawa dwipa selama bertahun tahun, namun Nyi Darsih terlihat bertarung sambil menggendong bayi yang baru dilahirkan, namun walaupun begitu kemampuannya masih sangat mengerikan yang membuat nyali lawan akan ciut saat berhadapan dengannya..
Ki Mudra tampak berhadapan dengan ageng dan Ki Madra bertarung dengan Nyi Darsih mereka semua tampak berimbang, namun Ki Madra tampak setengah hati saat melancarkan serangan serangan mematikan karena takut akan melukai bayi yang ada di gendongan Nyi Darsih, sementara Ageng sudah sangat terdesak hanya dapat menahan serangan dari Ki Mudra, dia sungguh tak menyangka betapa tinggi ilmu yang dimiliki Ki Mudra,,
"aku tak menyangka ilmu ilmu watukaru sangat mengerikan, aku sudah merasa di atas angin dengan segala ilmu yang kumiliki namun hari ini mataku terbuka lebar bahwa diatas langit masih ada langit", luka luka ditubuh Ageng kembali pulih saat terkena air sebab dia memiliki ajian belut putih yang sudah sempurna dimana luka separah apapun akan pulih seperti sedia kala kalau sang pemilik ajian terkena air,,..
"Sepertinya kau menguasai ajian belut putih ageng, hari ini akan ku musnahkan dirimu"
hahahahaha..... ageng tertawa kecut karena tau lawannya maha sakti, "jikapun aku kalah olehmu Mudra, aku akan mati dengan tenang, bersiaplah Mudra" Ageng merapal mantra sebelum mengeluarkan ajian lebur sukma, ajian yang sangat ditakuti lawan maupun kawan karena ajian yang menyerang jiwa seseorang sampai hancur,
sheru sakti yogha chara bhumi sastra, Ki Mudra melesat cepat dengan ilmu harimau watukaru ke 9, tepat sebelum tapak Ageng mengenai dada Ki Mudra, Mudra berguling dan melompat seperti harimau dan melesat melewati tubuh ageng,,
uhuk,,,, "apa yang terjadi, serangannya sangat cepat..." terlihat perut dan dada Ageng terkoyak seperti dicakar harimau sampai ususnya terburai di tanah, Nyi Darsih berteriak melihat suaminya bersimpuh sambil batuk darah, "kakang kakang ageng" teriak Darsih berlari tanpa menghiraukan Madra yang sudah bersiap dengan kuda kuda menyerang,
"kakang,,,," isak tangis Darsih memeluk suaminya yang sudah sekarat, "nyai sudahlah kita sudah ditakdirkan untuk kalah, kita sudah terlalu jauh tersesat, ilmu putih yang kita pelajari di gunung merapi telah kita salah gunakan,,,"
"tapi kakang aku tidak dapat menerima semua ini,.." "cukup Darsih, dendam masa lalu terlalu menjerumuskan kita, hanya satu permintaanku semoga putra kita berada dijalan benar kelak,.."
setelah mengucapkan kata terakhirnya Ageng pun menghembuskan nafasnya,,
__ADS_1
"tidak kakang jangan pergi kakang tidaaaak,,," Nyii Darsih berdiri dan menapap Ki Mudra sambil berjalan mendekati dengan tenang,,
" tuan pendekar ku titipkan anakku padamu selama aku berhadapan dengan saudaramu, jika aku kalah tolong rawat putraku dan bimbing supaya tidak seperti kami, hanya itu permintaanku,,"
"baik Nyi akan ku turuti permintaanmu .."
setelah menyerahkan putranya yg masih orok Nyi Darsih pun berjalan gontai, dadanya sesak melihat kepergian suaminya untuk selama lamanya, matanya memerah bibirnya tak henti merapal sebuah ajian tingkat tinggi, Darsih memutuskan menggunakan seluruh tenaga dalamnya untuk serangan terakhir,,..
"bersiaplah Madra aku tak akan berbelas kasih,.."
"ajian geni sungsang hiyaaaaaaaaah ......" Nyi Darsih melesat maju dengan kedua tapak tangan kemerahan seperti bara api,, Ki Madra pun menyambut dengan ilmu sheru sakti tingkat ke sebelas, dan terbukti Nyi Darsih kalah cepat sehingga tubuhnya terkoyak menjadi dua bagian,,...
"kakak sepertinya pertempuran ini akan segera berakhir,"
"benar Madra seperti katamu sudah terlihat banyak pendekar melarikan diri setelah mereka terdesak dan kalah,"
"bagaimana dengan anak ini kakak?"
tanya Ki Madra sambil melihat bayi yang digendong kakaknya,,
"aku akan menitipkanya sementara pada salah satu penduduk dekat watukaru, sampai kelak umurnya cukup kita akan melatihnya sebagai siswa di perguruan chandra parwata,.."
"baik kakak jadi kita akan kembali ke Balidwipa hari ini?.."
"sebaiknya kita tunda dulu, kita harus menguburkan mayat para pendekar ini dengan layak, sebab jika dibiarkan akan menjadi wabah penyakit bagi penduduk yang tak tahu menahu dan yang tak bersalah...."
setelah malam panjang, pagi pun mulai menampakkan semburat sinar di iringi kicauan burung, tampak para pendekar sibuk menguburkan para korban baik dari pihak musuh maupun lawan, tempat ini akan menjadi saksi kalahnya aliran hitam yang hampir menguasai tanah Jawa Dwipa,,,
__ADS_1
setelah selesai menguburkan para pendekar yang gugur, tampak ratusan pendekar dari watukaru beristirahat sambil mengobati luka yang dialami selama pertempuran berlangsung,,..
"Hormat murid guru," salah satu murid menhampiri ki mudra..
"ada apa jaya, apakah semua sudah siap untuk kembali ke watukaru?"
"semua sudah siap guru, kita bisa berangkat sekarang.."
"baiklah mari kita kembali.."
mereka pun melesat bagaikan angin karena ilmu meringankan tubuh yang mumpuni,....
Tak terasa mereka telah sampai di kaki gunung watukaru, semua murid bagaikan menghilang saat melesat menuju puncak barat watukaru dimana letak perguruan yang di pingit bagai tertutup dari dunia luar,,
sementara Ki Mudra dan Ki Madra mengunjungi sepasang suami istri dekat kaki gunung yang tidak memiliki keturunan, mereka menitipkan bayi pada pasangan petani itu,...
melihat kedatangan dua pendekar bagai pinang dibelah dua berjubah kuning nan agung serentak pasangan itu memberi hormat,,,
selamat pagi tuan pendekar, sapa mereka sambil mencakup kan tangan membentuk panganjali sebagai rasa hormat..
"selamat pagi saudara dan saudari, kami datang untuk menitipkan anak ini, kami harap saudara berdua merawatnya dengan baik, kami juga menitipkan seruling ini sebagai perlambang keagungan puncak barat watukaru, dan anak ini kami beri nama HANURAGA ,,...."
kedua pasangan petani itu sangat terkejut mendengar puncak barat watukaru, sebab tak sembarang orang bisa naik ke sana,,..
"baik tuan kami akan menjaga dan merawat Hanuraga "
setelah selesai hormat pada Ki Mudra dan Ki Madra mereka kembali terkejut karena dua pendekar kembar yang bagai pinang dibelah dua itu telah raib entah kemana............
__ADS_1