
saat debu mulai menghilang, pandangan para tetua walet putih terpusat pada seseorang yang melangkah memasuki gerbang yang sudah hancur
"kurang ajar, apakah kau sudah bosan hidup hah berani beraninya kau menghancurkan gerbang perguruan kami"
Mao Sheng Di tertawa pelan melihat keberanian para tetua itu..
"hosh aku tak bermaksud, aku hanya ingin membuat sedikit hiburan, kalian terlalu serius saja hahaha"
ketika salah satu tetua hendak berbicara lagi, ia mengurungkan niatnya karena merasa aneh saat melihat para tetua angin timur yang seperti orang ketakutan
"tetua ada apa, kenapa raut muka kalian seperti itu, apakah kalian mengenal orang ini?"
sambil menunjuk Mao Sheng Di
"a...anu, dia Mao Mheng Di pendekar yang sudah menghancurkan beberapa perguruan itu"
"apa......"
para tetua walet putih tersentak kaget
"bagaimana ini kakang, apakah kita melapor dulu pada sesepuh?"
"suruh salah satu murid melapor, dan kumpulkan semuanya, kita akan hadapi bersama"
"hahahaha......
kalian ingin main keroyokan rupanya, panggil semua cepat, aku sudah tak sabar melahap kalian semua hahahaha"
para tetua dan seluruh murid yang ada di sana merasa heran melihat kepercayaan diri Mao Sheng Di
tiba tiba salah satu tetua walet putih melompat menyerang Mao Sheng Di, tetua itu mendarat di samping kiri dan segera melepaskan serangan tapak kearah rusuk
namun belum sampai tapaknya menyentuh tubuh Mao Sheng Di sudah menangkap pergelangan tangan tetua itu
"hihihi bukankah sangat tidak sopan menyerang seperti itu pak tua"
belum sempat tetua itu menjawab, ia merasakan suatu aliran energi yang masuk ketubuhnya
"apa yang..... aaaakh....."
tetua itu berkelojotan seperti cacing kena garam, sementara tangannya masih dicengkram kuat oleh Mao Sheng Di,
tak sampai lama tetua itu jatuh terkulai dengan tatapan kosong dan tentu sudah tak bernyawa lagi
"hmmm..... tenagamu rendah sekali pak tua, kenapa kau bisa menjadi seorang tetua..."
Mao Sheng Di menggelengkan kepala melihat mayat tetua itu
"jahanam......"
"dia membunuh tetua Kisrun, ayo kita serang" teriak seorang tetua bernama Ki Rakso
segera Mao Sheng Di diserbu puluhan orang termasuk para tetua angin timur, tak berapa lama para murid yang berdatangan segera ikut menyerang, kedua perguruan itu bersatu menyerang pendekar yang menjadi momok menakutkan selama ini
Mao Sheng Di bergerak lincah diantara kepungan lawannya, dengan ilmu tubuh baja milik fang an yang ia serap mao sheng di menangkis berbagai senjata hanya dengan tangan kosong
ia sengaja menyasar para murid terlebih dahulu, hanya dengan satu serangan tapaknya saja murid murid itu tersungkur tak bernyawa
__ADS_1
"sialan, orang ini licin sekali"
teriak Ki Rakso dengan amarah yang tak tertahankan melihat puluhan murid sudah tumbang
saat Mao Sheng Di terus bergerak membabat para murid walet putih dan angin timur, Ki Rakso melancarkan serangan yang sangat cepat dan menebaskan keris pusakanya kearah leher
ctang.......
Ki Rakso melotot melihat keris pusaka yang sudah menemaninya puluhan tahun patah menjadi dua saat mengenai leher Mao Sheng Di
"b...bagaimana mungkin"
saat masih memandangi keris digenggaman nya yang hanya setengah, Mao Sheng Di dengan cepat mendekat setelah merobohkan tiga orang tetua angin timur
"hehehehe kau menggaruk leherku dari belakang pak tua, sernganmu tak lebih seperti gigitan nyamuk bagiku, sekarang gilirangku, bersiaplah"
Mao Sheng Di melesat menyerang, terlihat kedua tapak tangannya memerah seperti bara api
"rasakanlah ilmu Thi Ki ibheng ku ini"
KI Rakso sangat kewalahan dengan kecepatan Mao Sheng Di, baru saja ia hendak melepaskan pukulan kedada Mao Sheng Di sudah berada dibelakangnya dan melepaskan serangan tapak
saat tapaknya menempel dipunggung Ki Rakso, ia merasa seluruh tenaga dan energi kehidupan nya terasa terserap keluar
"aaaaaakh....."
ki rakso m memuntahkan darah dan pandangannya mulai kabur, namun didetik terakhir para tetua yang tersisa tak tinggal diam, mereka segera menyerang Mao Sheng Di
mendapat serangan dari beberapa tetua, Mao Sheng Di melepaskan tapaknya yang menempel dipunggung Ki Rakso,
"huh kurang ajar apa kalian tak bisa menunggu"
Ki Guna segera mendekat dan membopong Ki Rakso ketempat aman...
"Guna, pergilah dari sini pendekar ini bukan tandingan kita"
"bertahanlah kakang, aku akan segera membawamu ketempat aman, kita akan mengobati lukamu"
"uhuk uhuk, tak usah, kau sebaiknya pergi saja cepat, aku......."
"kakang, kakang Rakso....
siaaaaaal, akan kuhadapi keparat itu..."
Ki Guna sangat marah melihat Ki Rakso yang tewas didepan matanya
Ki Guna segera bergabung dengan sisa para tetua yang lain, karena amarah yang menguasai dirinya, serangan Ki Guna menjadi tak terarah, Mao Sheng Di melihat celah dan segera melepaskan pukulan tenaga dalam dan telak mengenai dada kiri Ki Guna
"aaaaahh....."
Ki Guna terlempar jauh, sebelum ia menghantam tanah, tubuhnya ditangkap seseorang dari belakang
"pergilah dan obati lukamu, pendekar itu bakan tandingamu Guna,"
Ki Sumitro sesepuh walet putih memandang tajam ke arah Mao Sheng Di, disampingnya berdiri Ki Marda adik seperguruannya yang menjadi sesepuh Angin timur
Ki Marda memandang nanar melihat semua tetua kedua perguruan dan seluruh murid sudah bergelimpangan tak satupun ada yang bernapas lagi, amarahnya begitu berkobar didalam dada
__ADS_1
Ki Sumitro yang tau kemarahan Marda segera memperingatinya..
"adinda, jangan biarkan kemarahan menguasai hatimu, jikapun kita kalah dari pendekar ini, itu pasti sudah kehendak yang kuasa, jadi mari kita hadapi pendekar jahanam ini"
setelah mengatakan itu, tanpa basa basi lagi Ki Sumitro segera melepaskan kekuatan penuh di ikuti Ki Marda
"oiih menarik, dua pendekar yang lumayan, namun kalian tak lebih kuat dari bocah Fang An itu"
kedua kakak beradik itu tak memperdulikan perkataan Mao Sheng Di, mereka bersama melaju menyerang dari arah berlawanan, mengabungkan tehnik bertarung yang dialiri tenaga dalam
Mao Sheng Di berkelebat kearah Sumitro, namun ternyata hanya tipuan dan betapa kagetnya Marda mendapati dirinya terpelanting ketanah dengan dada sesak
"cepat sekali....."
Sumitro melotot heran melihat kecepatan pendekar didepannya, dia bergegas hendak menolong Marda, namun tak disangka Mao Sheng Di sudah berada dibelakang nya hanya berjarak sepuluh meter darinya, Mao Sheng Di segera mengarahkan telapak tangan
"Thi Ki Ibheng......"
"haaaakh.....
apa yang terjadi, tubuhku......."
Ki Sumitro tak dapat menggerakkan tubuhnya, semua tenaga dalam dan energi kehidupannya terserap keluar dengan cepat
Marda segera bangkit hendak menolong Ki Sumitro yang terlihat kesakitan, namu baru saja ia berdiri...
bugh......
Ki Sumitro terjatuh tak bernyawa, pendekar yang cukup diperhitungkan ditanah Jawa Dwipa kalah begitu saja
"kakaaaaang......."
Ki Marda berteriak sambil menerjang Mao Sheng Di dengan amarah membuncah
namun hanya beberapa gerakan Ki Marda kembali tersungkur, saat hendak bangkit lagi, sebuah tendangan telak mengenai kepalanya dan membuat Marda terseret beberapa meter dengan darah menyembur dari mulutnya
Marda yang tergeletak melihat Guna salah satu tetuanya, ia menggelengkan kepala memberi isyarat agar Guna segera pergi
melihat semua itu, dengan berat hati Ki Guna berusaha kabur dengan sisa tenaga yang ia miliki, sekujur tubuhnya serasa hancur, ia luka dalam parah akibat pukulan Mao Sheng Di
"hahahaha......"
"bagaimana pak tua, apakah kau sudah putus asa, ayolah bangkit dan hadapi aku berikan sedikit hiburan padaku"
Ki Marda berusaha bangkit, ia mengambil sebuah pedang dari jenasah tetua yang berada didekatnya, hatinya hancur saat melihat perguruan angin timur miliknya dikejauhan sudah luluh lantak, didepannya juga pemandangan yang menyayat hati melihat semuanya tewas bergelimpangan
"Hiaaaaaaaaaaaaaaaaaaaattttt........."
"HAHAHAHA"
Mao Sheng Di mengernyitkan dahi meliahat Ki Marda tertawa seperti orang gila namun betapa kagetnya Mao Sheng Di...
"semoga kita bertemu di neraka..."
tiba tiba saja Ki Marda menghujamkan pedang yang sudah di aliri tenaga dalam ke dadanya sendiri sehingga meledakkan tubuhnya berkeping keping
"hah, sialan jika tau dia hendak bunuh diri kuakhiri saja tadi, terbuang percuma tenagamu yang tak ku serap"
__ADS_1
Mao Sheng Di mengoceh sambil menghancurkan apapun yang ada diperguruan itu