
Ditepi sungai, Hanuraga beristirahat sambil melihat pemandangan desanya yang sudah tampak mengecil..
setelah menikmati bekal buatan ibunya Hanuraga hendak melanjutkan perjalanan, walaupun gunung itu terlihat dekat namun ternyata lumayan jauh, bahkan terkesan seperti memperingati setiap orang yang hendak naik agar mengurungkan niatnya..
saat Hanuraga hendak melangkahkan kakinya, dia bertemu dengan beberapa pemuda yang sepertinya sedang tergesa gesah
"ooy huh huh maaf nafasku terasa habis, kata si pemuda yang tiba paling belakang.."
"ah kau lambat sekali, bagaimana guru Wukir mau menerimamu hahaha..."
"sudah sudah kita jangan bertengkar, sebaiknya saling membantu agar kuta semua bisa menjadi murid Ki Wukir.." salah satu pemuda menengahi...
Hanuraga hanya mengernyitkan dahi melihat tingkah ketiga pemuda didepan nya,,,,
"maaf kalian mau kemana?"
"ehehem... maaf saudara saya sampai lupa menyapamu, namaku Rincaksana, kami mau ke rumah Ki Wukir untuk mendaftar sebagai muridnya," Rincaksana menjelaskan sambil memperkenalkan diri..
"perkenalkan aku Hanuraga, semoga saudara semua mendapat apa yang di inginkan ,,,.."
"terim kasih saudara,, tapi ngomong ngomong melihat banyaknya pemuda yang ingin menjadi murid Ki Wukir, apa kau tak akan ikut mendaftar? kulihat sepertinya seperti akan bepergian melihat bawaan mu itu.."
"ah benar saudara, aku ingin naik kepuncak watu karu, aku belum berpikir untuk menimba ilmu kanuragan karena masih ada yang aku cari..."
ketiga pemuda didepannya tampak terkejut mendengar apa yang dikatakan Hanuraga...
"hah apa kau sudah gila, pendekar sakti saja tak ada yang bisa ke sana apalagi dirimu saudara, maaf aku bukan meremehkan mu, tapi aku hanya memperingati, sebaiknya kau urungkan saja niatmu.."
"tekad ku sudah bulat, lagian kedua orangtuaku sudah merestui ku, mungkin setelah berhasil aku mungkin akan ke perguruan Ki Wukir menyusul kalian," Hanuraga menampakkan kan senyumannya ....
"hahahaha baiklah saudara jika itu keputusanmu, mungkin nanti kau malah jadi adik seperguruan kami,, baiklah kami mohon diri, kami ingin cepat sampai ditempat Ki Wukir, berhati hatilah..."
"terimakasih saudara, semoga kalian menjadi pendekar yang pilih tanding..."
Hanuraga melanjutkan perjalanannya karena hari sudah mulai sore, setelah melintasi beberapa sawah milik warga Hanuraga mulai memasuki desa yang sebenarnya sejajar letak dengan desa kedua orangtuanya , Hanuraga sengaja memutar karena ingin menikmati perjalanan walaupun menjadi sedikit menjauh..
Hanuraga menjadi tontonan gadis gadis desa, Hanuraga memang seorang pemuda yang berparas sangat tampan, hal itu membuatnya mendapat tatapan dari para kembang desa, namun Hanuraga tak mengerti akan tatapan itu, ia berpikir dengan heran kenapa gadis dan ibu ibu itu menatapku tajam? ..
__ADS_1
***
tak terasa saat hari sudah semakin sore Hanuraga tiba di hutan dibawah kaki watu karu, tampak kayu kayu besar yang dipenuhi lumut menandakan sinar matahari sulit menembus rimbunnya hutan itu,..
suasana sudah remang dan dingin menusuk tulang, Hanuraga memutuskan mencari tempat yang aman sambil membuat perapian..
"ini pertama kali aku berada diluar dan tidur di hutan gumamnya .."
ingin rasanya memejamkan mata, namun dingin sudah menusuk ke tulang membuat Hanuraga memilih merebahkan tubuhnya dekat perapian yang ia buat..
karena sudah merasa sedikit hangat dan karena lelah sudah berjalan seharian tanpa terasa Hanuraga terlelap dalam tidurnya...
ketika langit sudah memerah menandakan pagi akan segera datang, Hanuraga sudah membuka matanya, setelah duduk sejenak dan memakan bekal Hanuraga memutuskan kembali melanjutkan perjalanan pagi hari...
"sudah jauh rasanya aku berjalan, dan aku belum merasakan keanehan yang sering dibicarakan orang orang desa, walau kadang aku merasa gentar mendengar auman harimau di kejauhan.."
sambil melangkahkan kaki semakin keatas serasa semangat dan rasa penasaran yang semakin tinggi, kadang Hanuraga duduk sebentar sambil melihat indahnya alam yang serasa ada dibawahnya, ranting pinus dan cemara tampak menari ditiup angin, serasa sangat damai hati ini...
***
"sepertinya tempat itu bagus buatku beristirahat" gumamnya dalam hati..
dengan susah payah Hanuraga mencapai tempat datar yang ternyata sebuah lempengan batu,, di sana ia duduk sambil melepas lelah, hatinya tak henti mengagumi indahnya alam, namun tampa disadari sebenarnya Hanuraga sudah sampai di pertengahan...
saat sedang membuat api, samar samar Hanuraga mendengar sayup sayup suara seruling,...
"apakah perasaanku aja atau memang suara seruling..
mungkin angin yang berhembus," pikirnya..
saat sore kabut tebal mulai datang, untung Hanuraga sudah membuat perapian untuk menghangatkan dirinya..
"tadi aku mendengar suara seruling, sekarang kabut datang, apakah ini pertanda aku akan pingsan dan akan terbangun di kaki gunung?"
"jika benar aku akan kembali ke rumah, mungkin ada sesuatu yang tak boleh aku ketahui disini" pikirnya dalam hati..
namun setelah beberapa lama masih tidak terjadi apa apa, Hanuraga memutuskan memakan bekal buatan ibunya yang tinggal sedikit..
__ADS_1
"malam ini bintang terlihat jelas, dingin yang menusuk membuatku menggigil, namun semua kujalani karena getaran hati entah kenapa aku harus naik ke gunung ini, .."
lama Hanuraga bergumam dalam hati sambil merebahkan diri dekat perapian, kadang wajah kedua orangtuanya terlintas dibenaknya membuat hatinya rindu akan mereka..
"ah aku baru pergi beberapa hari, semoga ayah dan ibu baik baik saja.."
karena merasa lelah Hanuraga tertidur dengan pulas ditemani dinginnya malam dan suara suara binatang malam bagaikan pengantar tidur seakan setia menemani Hanuraga muda di gunung watu karu...
sudah tiga hari lamanya Hanuraga pergi untuk kepuncak watu karu, ia dengan sengaja memutari lembah dan lereng gunung untuk menjawab rasa penasaran, getaran hati yang seakan ada yang menarik dirinya untuk terus melangkah...
"sudah hampir siang dan sepertinya aku sudah lewat pertengahan gunung, namun mitos yang dikatakan orang tak ada dan aku tak merasakan nya..."
"HUH"
desah Hanuraga meluruskan kakinya sambil meminum air yang ia bawa..
"sepertinya hanya perasaan ku saja, mungkin saat sampai puncak aku akan istirahat lagi dan segera pulang" batinnya..
Hanuraga melanjutkan kembali, namun langkahnya terhenti sesaat telinganya mendengar alunan nada seruling namun hanya sebentar....
"suara seruling!!" teriaknya bersemangat..
iapun ingat akan seruling yang selalu terselip di pinggangnya, seruling dari bambu yang tipis namun entah kenapa sangat kuat..
semakin ia melangkah kadang sayup sayup ia mendengar suara orang berdoa, kadang suara orang seperti berlatih tanding..
karena semakin penasaran langkahnya ia percepat, tidak peduli semak yang tinggi ia terobos
"apakah di atas sini ada orang"
batinnya sambil terus berjalan..
saat ia melewati semak yang tinggi, Hanuraga melihat jalan setapak yang kecil, ia keheranan karena selama berjalan dari bawah tidak satupun ada jalan setapak..
"apa ini jalur babi hutan, sepertinya bukan, sebaiknya aku ikuti jalan ini, mungkin ada orang yang tinggal dekat sini mengasingkan diri..."
setelah sampai dipuncak barat betapa terkejutnya Hanuraga, matanya melotot dan rahangnya terbuka kebawah, tak percaya dengan apa yang di lihatnya seperti mimpi, beberapa pertapa Yogi dan Yogini sedang berlatih seperti sebuah perguruan dengan murid yang banyak.....
__ADS_1