Ksatria Suling Gading

Ksatria Suling Gading
Mempelajari Dasar Ilmu Kanuragan


__ADS_3

Pagi yang berselimutkan kabut pegunungan,


jauh ditempat latihan para murid yang lain tampak Hanuraga sedang melatih pukulan dan tendangan, dilatih dan digembleng langsung oleh dua mahaguru maha sidhi membuat Hanuraga cepat berkembang selain karena bakatnya yang tinggi dia juga anak yang cerdas....


tak terasa sudah setahun lamanya Hanuraga melatih fisiknya, dan kini ia sudah mulai melatih pukulan dan tendangan agar lebih mantap dan terarah..


setelah berlatih tendangan dan pukulan, Hanuraga melanjutkan dengan berlatih kuda kuda, walaupun ia sudah menguasai dengan baik tapi tetap dilatih dan kali ini ditambah beban berat yang harus ia tahan...


"nak selama setahun kau sudah berlatih,, tahan terhadap siksaan tak mengenal rasa lelah, karena itulah aku bangga padamu,"


Ki Mudra berbicara disela Hanuraga berlatih..


"benar nak, kami akan mengajarkanmu silat dasar yang bernama Stembak, depok dan tiga sari.."


Hanuraga sedikit terkejut mendengar tiga sari adalah dasar, sedangkan Ki Wukir yang menjadi pendekar pilih tanding di desa bawah kaki gunung adalah guru sepuh yang menguasai silat tiga sari..


"baik guru, murid siap .."


Hanuraga pun mulai dilatih oleh Ki Mudra dibawah terik matahari dan angin kencang di atas watu karu...


"perbaiki kuda kuda dan langkahmu, jangan mengalihkan perhatian.."


tampak Ki Mudra membetulkan beberapa gerak yang salah, namun ia cukup bangga melihat perkembangan Hanuraga yang cepat menyerap apa yang diajarkan ...


setelah menguasai seluruhnya, kini Hanuraga disuruh terus berlatih sampai ia bisa memahami silat depok..


sampai matahari terbenam dan dinginnya malam yang mulai datang Hanuraga masih terus mengulangi dari awal sampai ia memahami dengan sempurna...


"aku sudah menguasai dengan baik besok guru akan melatihku yang selanjutnya" batin hanuraga..


ia tampak berlari kecil mendekat gubuknya, setelah membersihkan diri Hanuraga duduk di amben yang terbuat dari anyaman bambu, ia masih membayangkan latihannya tadi sambil memakan talas rebus..


***


di desa Angseri


kentongan kecil berbunyi pagi itu membuat semua murid berlari kelapangan latihan ditengah perguruan ..


"ada apa kita dikumpulkan sepagi ini? bisik murid pada kawannya.."


"aku juga tidak tahu, mungkin guru akan memperkenalkan murid baru" kata Dirga murid senior di perguruan itu..


"selamat pagi semua murid dan guru semua.."


Ki Wukir muncul dari dalam pondok membuat kerumunan murid menjadi hening..


"hari ini aku mengumpulkan kalian karena pihak kerajaan akan merekrut prajurit, aku harap banyak dari kalian terutama murid senior untuk berpartisipasi ..."


kerumunan itu kembali riuh karena akan ada seleksi dari beberapa perguruan dari daerah lain yang ikut ..


"apakah kami akan bertanding melawan murid dari perguruan lain guru?" tanya murid pada Ki Wukir...


"benar, pemilihan ini seperti pertarungan individu antara hidup dan mati.."


kembali kerumunan menjadi riuh dengan suara mereka yang sedikit kaget ..

__ADS_1


"tenanglah, walaupun antara hidup dan mati tapi kalian akan baik baik saja," Ki Wukir tersenyum menatap muridnya..


"bagaimana maksud guru kami akan baik baik saja jika bertarung hidup dan mati.."


"kalian hanya perlu mengalahkan lawan, dan menunjukkan bahwa kalian pantas menjadi seorang prajurit, dan jika kalian bertahan tak kalah sekalipun, kalian mungkin akan menjadi komandan prajurit, dan aturannya kalian tidak boleh saling bunuh..."


banyak murid Ki Wukir yang berminat untuk mengikuti seleksi prajurit...


"guru kapan akan dimulainya pertandingan seleksinya? ..."


"sekitar dua purnama lagi, jadi kalian bersiaplah dan berlatih yang keras agar memaksimalkan apa yang kalian pelajari..."


"baik guru .... jawab mereka semua."


***


Di puncak barat


Hanuraga tampak memperagakan gerak silat depok yang ia latih dihadapan kedua gurunya...


"bagus nak gerakan mu sudah sempurna.. kini giliran ku melatih mu ...."


Ki Madra membawa Hanuraga mempelajari silat Stembak..


"bersiaplah lihat dan ingat gerakan ini.."


Hanuraga memperhatikan setiap gerakan yang diperagakan gurunya, gerakan yang begitu luwes dan bertumpu pada penyerangan yang cepat..


"sekarang bergeraklah, ingat apa yang kau lihat.."


"baiklah guru..."


"jangan terlalu fokus pada kuda kudamu saja, perhatikan arah serangan mu.."


setelah beberapa kali Ki Madra memperbaiki gerakan Hanuraga yang salah ia pun meninggalkan Hanuraga..


"aku akan pergi melatih murid yang lain, kau latihlah terus nak apa yang ku berikan tadi, jika besok kau sudah menguasainya kami akan melanjutkan memberi latihan baru..


"murid akan berlatih dengan giat guru.."


Hanuraga menunduk hormat pada gurunya sebelum kembali berlatih sendiri agar pemahamannya semakin berkembang...


Hanuraga terus mengulangi latihannya, kadang ia hanya istirahat sebentar dan kembali melanjutkan berlatih, dia tidak ingin membuat kedua gurunya kecewa..


kini Hanuraga berlatih dengan leluasa karena sudah mendapat laporan dari dari seniornya Ki Nara, bahwa kedua orang tua angkatnya sudah mengetahui dirinya berlatih di watu karu..


"ayah, ibu semoga kalian sehat selalu.."


Hanuraga terbayang wajah kedua orangtuanya, ada rasa rindu dihatinya namun segera ditepis karena ia ingin pikirannya tak teralihkan saat menempa ilmu kanuragan ...


"nak kau sudah istirahat.."


suara Ki Madra mengejutkan Hanuraga yang sedang duduk dibawah pohon..


"hormat murid guru.. aku hanya istirahat sebentar.."

__ADS_1


"baiklah, sekarang perlihatkan padaku yang kau pelajari tadi.."


Hanuraga langsung melompat dan mengeluarkan jurus Stembak yang ia pelajari..


saat selesai dan memberi hormat pada gurunya, Ki Madra tampak tersenyum bangga..


"bakat mu sangat luar biasa anak ku, kau menguasai dasar yang ku beri hanya kurang dari sehari, kemari ikut aku.."


"kita akan kemana guru?"


"kakakku akan melatih mu di kaki gunung.."


Ki Madra memegang pinggang Hanuraga seperti sedang memeluk..


"guru apa yang..."


belum tuntas hanuraga berbicara Ki Madra sudah melompat..


hanya dalam satu tarikan nafas ia sudah sampai di kaki gunung, disebuah hutan bambu..


tampak wajah Hanuraga pucat pasi saat ia diturunkan gurunya..


"cepat sekali" batin Hanuraga..


"kelak kau juga akan menguasai peringan tubuh nak"


jawab Ki Mudra yang sudah menunggu di hutan bambu itu ..


"hormat murid guru.."


"kudengar kau sudah memahami kedua silat dasar, sekarang kau ku latih tiga sari.."


Ki Mudra memperagakan dengan pelan didepan Hanuraga, gerakan yang pelan namun bertenaga, serangan jarak pendek yang mengalir terus menerus tanpa henti dengan beberapa gerakan dan perubahan bentuk kuda kuda...


"apa kau sudah mengingat semua?"


"sudah guru jawab Hanuraga.."


"sekarang kau pelajari dengan bergerak dan ingat semua yang ku ajarkan.."


Hanuraga meniru sesuai gerakan yang ia lihat, gerakan yang lembut dan bertenaga..


setelah hari menjelang sore Hanuraga kembali disuruh memperagakan tiga sari namun kali ini gerakan yang lembut dirubah menjadi keras dan sangat cepat...


setelah selesai Hanuraga dibawa masuk ke hutan bambu, dimana bambu yang sedikit rapat seperti menyulitkan orang bergerak..


"keluarkan jurus tiga sari mu, anggaplah bambu itu adalah lawan yang mengitari mu" kata Ki Mudra..


"baik guru"H


anuraga kembali mengeluarkan jurus yang baru ia pelajari dengan sungguh sungguh, tampak beberapa bambu hancur saat terkena serangannya..


setelah beberapa lama Ki Mudra menghentikan latihan Hanuraga..


"sudah cukup nak, kau sudah memahami apa yang kau pelajari, sekarang bersihkan tubuhmu dan kembalilah, kami akan pergi beberapa hari jadi kau teruslah latih apa yang kau dapat, setelah kami kembali kami akan menguji mu sekali lagi dan akan melatih mu dengan latihan yang berbeda sebelum kau mulai mempelajari kitab Paiketan Paguron Suling Dewata"

__ADS_1


"baik guru.."


Hanuraga memberi hormat dan segera pergi membersihkan diri dan segera kembali kepuncak barat saat hari sudah gelap.....


__ADS_2