Ksatria Suling Gading

Ksatria Suling Gading
Turun Gunung


__ADS_3

Di suatu pagi yang cerah di lembah watu karu yang sangat sejuk, duduk seorang pemuda tampan dengan rambut panjang sambil meniup seruling mengalunkan irama yang sangat indah,


pemuda itu adalah Hanuraga, kini ia akan segera turun gunung dan mengembara menjelajahi nusa ning nusa (nusantara)..


"sudah sangat lama aku pergi meninggalkan desa dan kedua orang tua angkat ku, bagaimana kabar mereka, semoga saja ayah dan ibu sehat.."


bergumam dalam hati..


Hanuraga berdiri dari duduknya, ia merentangkan tangan,


"ayah ibu aku akan pulang.."


Hanuraga melompat dari pohon ke pohon menggunakan ilmu peringan tubuh, sebenarnya ia mampu sekali lompat untuk sampai ke kaki gunung, namun ia ingin mengenang saat dulu pertama kali mendaki, kadang ia berjalan santai sambil menikmati pemandangan yang sangat indah..


setelah beberapa saat ia sampai pada jalan setapak yang besar..


"hem ..... sepertinya tidak ada yang berubah dengan jalan ini.." gumamnya ...


"apanya yang berubah anak muda, memangnya kau melihat jalan ini berubah..."


seorang kakek tua mengejutkan hanuraga saat ia memperhatikan jalan yang dulu sering ia lewati bersama ayahnya saat pergi berburu..


"ah maaf kek aku hanya merindukan tempat aku dibesarkan.."


" OHH.... kau siapa nak? aku baru pertama ini melihatmu.."


"aku Hanuraga kek.."


"wah kau sudah besar nak dan kau sangat gagah, jauh berbeda saat kau masih kecil, tapi aku juga tidak tau saat masih kecil.kau seperti apa.."


"maksud kakek...??"


"ah lupakan aku sudah pikun hahahaha..."


Hanuraga hanya bengong melihat kakek yang entah siapa dan darimana yang menertawainya..


"sudahlah ...."


Hanuraga kembali melanjutkan perjalanan, ia sangat merindukan kedua orang tuanya..


tak terasa Hanuraga sampai didepan sebuah rumah sederhana dengan halaman yang luas dan nampak asri terawat...


"hem..... sudah lama kutinggal kan rumah ini semua masih tampak sama dan membuatku merindu..."


"maaf tuan apa yang anda rindukan...??"


saat Hanuraga membalikkan badan, ia melihat seorang paruh baya sambil menggendong keranjang ...


"ibu........"


"Hanuraga a... a... anakku...."


Kerti histeris berlari memeluk Hanuraga seakan tak akan melepaskannya lagi, kerti begitu merindukan Hanuraga yang sudah sekian tahun meninggalkannya..


"ibu maaf aku baru bisa menemui mu.."


"tak apa nak, mari masuk dulu, ayahmu pasti akan kaget melihatmu, kau sangat gagah nak.."


"baik bu, mari kita tunggu ayah didalam.."


tak berapa lama Retus kembali dari kebun..


tak seperti biasanya dimana saat ia pulang dari kebun ia selalu disambut istrinya didepan sambil tersenyum, namun hari ini ia merasa aneh..


"apakah Kerti sakit sampai ia tak menyambut kepulangan ku.."

__ADS_1


saat membuka pintu kayu betapa kagetnya Retus melihat seorang pemuda yang duduk sambil memandanginya..


"bagaimana kabarmu ayah, maaf aku mengagetkan mu.."


Retus hanya diam dengan mulut terbuka melihat pemuda yang memanggilnya ayah..


"Hanuraga kau....."


Retus tak bisa melanjutkan kata katanya, ia berlari dan memeluk anaknya itu..


saat makan malam


"ayah, ibu, aku tak akan lama berada di rumah, karena aku ingin mengembara juga atas mandat guruku, agar aku mengenal dengan baik dunia persilatan.."


"begitu kah nak, tapi kapan kau akan berangkat nak?"


"besok pagi ayah, aku ingin melanglang buana dan melihat seperti apa kehidupan sebagai seorang pendekar.."


"hem jika memang kau ingin pergi sebaiknya kau berhati hati nak karena kehidupan sangat keras dan banyak orang jahat diluar sana.."


Kerti menasehati hanuraga, tampak ke sedij diwajahnya ketika mengetahui putranya akan pergi lagi..


"baik bu aku sudah bisa menjaga diri.."


"nak selama bertahun tahun ini kau menempa diri di atas sana apakah kau sudah menguasai ajian yang sakti...???"


Retus sangat penasaran...


"maaf aku lupa mengatakannya ayah, sekarang aku diwariskan perguruan dan aku sudah diangkat menjadi ketua generasi ke tiga..."


Retus dan Kerti sangat kaget mendengar penjelasan putranya..


"nak baru saja aku mau mengajakmu pergi kesebuah kota, dalam beberapa minggu lagi akan diadakan pemilihan pemuda untuk menjadi prajurit kerajaan, bagaimana apakah kau tertarik nak...??"


Retus hanya menghembuskan nafas panjang..


"baiklah nak, semoga apa yang kau lakukan akan selalu membawa kebaikan.."


saat pagi menyingsing, Hanuraga sudah nampak berpamitan kepada kedua orang tua angkatnya..


"hati hatilah dijalan nak, ingatlah untuk selalu dijalan kebenaran.."


"baik ayah, ibu aku mohon diri, jaga kesehatan kalian, suatu saat aku akan pulang kembali.."


Hanuraga akhirnya memulai perjalanan untuk mengenal luasnya dunia persilatan di nusa ning nusa..


***


di suatu desa di bali tengah disebuah hutan yang sangat lebat, terdengar dentingan besi yang bergema diantara sunyi nya hutan,..


terjadi sebuah pertarungan antara perampok yang menghadang rombongan pedagang, pedagang itu hendak ke kota di bali tengah tepatnya kota gianyar


Hanuraga yang tengah duduk ditepi sungai sambil menikmati bekalnya sedikit terkejut, sayup sayup ia mendengar suara pertarungan ..


"apa gerangan yang terjadi, sepertinya ada sebuah pertarungan aku harus melihatnya.."


tak berapa lama Hanuraga sampai dekat pertarungan, Hanuraga melihat dari pohon yang cukup tinggi..


"tampaknya pertarungan itu berat sebelah.."


"serahkan semua barang bawaan kalian maka kalian akan kami biarkan hidup.."


"Cuih.. dasar perampok kami tak akan sudi menyerahkan apa yang kami bawa.."


"hahaha baiklah jika kalian menginginkan kematian maka bersiaplah.."

__ADS_1


tampak lelaki kekar berkepala plontos dan bertampang garang muncul dari belakang para perampok dan memerintahkan para perampok untuk segera menyerang..


"paman berlindung lah dalam kereta aku akan menghadang perampok ini.."


"baik Suma, hati hatilah..."


Suma seorang pemuda yang ikut pamannya segera menerjang perampok yang mendekatinya, pertarungan pun tak terelakkan lagi..


beberapa penjaga sewaan yang mengawal para pedagang sudah ada beberapa yang tersungkur kehilangan nyawa..


Suma menggertak kan giginya kesal, ,,


"jika begini terus habis semua harapanku, paman laril ah cepat, kami tak akan dapat bertahan lebih lama lagi.."


"tapi nak bagaimana dengan dirimu??"


"sudahlah paman, cepat selamatkan dirimu.."


Suma sudah mulai goyah, kuda kudanya sudah tak beraturan, sangat jelas terlihat kemampuan beladiri para perampok jauh di atas mereka.."


saat tersisa 7 orang pengawal termasuk Suma sendiri, ia sudah putus asa dan siap untuk menerima kematian dengan pasrah..


"mungkin sekarang saatnya kematian menjemput ku.."


"hahahaha...... kau tampak seperti tikus yang terpojok anak muda, terlihat begitu menyedihkan..


kami akan memberikan kematian yang cepat dan tak akan menyiksamu, bagaimana? aku baik bukan hahahaha......"


tawa pemimpin kelompok itu begitu mengerikan ditelinga Suma dan rombongannya..


"penggal kepala mereka.."


"baik ketua..."


salah satu dari anak buahnya maju dan menghunuskan pedan sambil menyeringai penuh kemenangan..


"bersiaplah menerima kematian mu hiaaaaatttt...."


Hugh......


para perampok itu bengong melihat temannya terjatuh dengan kepala berdarah..


"apa yang terjadi, segera periksa dia.."


para perampok melihat Suma dan rekannya masih berlutut, pemimpin perampok itu menjadi waspada dan melihat sekeliling untuk memastikan siapa yang melakukannya..


"ketua dia sudah tewas, dan...."


"dan apa, katakan..."


berteriak keras..


"kepalanya kepalanya tertancap buah pinang ketua.."


"apa bagaimana mungkin..


siapa yang melakukannya...."


saat mereka sedang bingung melihat apa yang terjadi, dari atas pohon melompat seorang pemuda dan mendarat dengan halus di samping suma dan rekannya..


"maaf aku melempar terlalu keras, kalian sangat keterlaluan, kalian terlalu jahat.."


para perampok itu sedikit terkejut melihat seorang pemuda yang belum ada dua puluh tahun sudah membunuh dengan cara yang aneh...


"siapa kau nak, jangan ikut campur urusan kami atau kau akan berurusan dengan kami perampok Ketunggeng petak....."

__ADS_1


__ADS_2