
"siapa kau nak, jangan ikut campur urusan kami atau kau akan berurusan dengan kami perampok Ketunggeng petak....."
OOH.... aku tak tahu nama itu apakah itu sebuah perguruan atau organisasi??
Hanuraga menjawab dengan polos karena dia memang tidak mengetahui tentang kelompok perampok yang lumayan ditakuti oleh para pedagang maupun orang yang lewat hutan menuju bali tengah...
"hahaha .... nak sepertinya kau belum tau kebesaran nama kami, kami sangat ditakuti, ketahuilah pemimpin kami sangat kejam.."
"sudahlah cukup basa basi nya, habisi segera anak ingusan itu.."
perintah pemimpin kelompok yang bernama Segara...
gerombolan perampok itu segera menyerbu Hanuraga dengan penuh nafsu membunuh..
"balas kan dendam saudara kita, cincang tubuhnya.."
sudah belasan jurus dikeluarkan para perampok namun belum ada yang bisa mengenai Hanuraga, ia begitu lincah menghindari setiap serangan yang datang padanya, sehingga membuat pemimpin kelompok itu sangat kesal..
tiba tiba ada serangan dari atas, Hanuraga melompat mundur menghindari ayunan kapak yang sangat besar..
"kalian mundurlah dulu.."
Hanuraga berteriak pada suma dan rekannya..
"kau lincah juga anak muda bisa menghindari serangan ku dengan cepat.."
Hanuraga bersiap dengan kuda kuda dan segera menerjang ke depan..
"jurus harimau ke 3"
Hanuraga menerkam bagaikan harimau itu sendiri, dalam sekejap ia merobohkan sebagian perampok..
"sial ilmu anak ingusan ini ternyata lumayan tinggi.."
"serang secara bersamaan..."
"hiaaaaaaaat....."
melihat perampok menerjang secara bersamaan Hanuraga memusatkan tenaga dalamnya sambil merapal sebuah ajian..
tiba tiba pimpinan perampok itu sangat terkejut, karena kapak digenggaman nya seolah bergerak sendiri tanpa bisa ia kendalikan..
semua anak buahnya ia babat membabi buta..
"ketua apa yang kau lakukan, kenapa kau menyerang orang orang kita.."
"aku tak bisa mengendalikan senjataku, seolah kapak ini hidup.."
sampai beberapa waktu hanya tersisa satu orang ia sang pemimpin perampok..
dengan napas menderu dan berusaha berdiri setelah kapak yang ditangannya bisa terlepas..
"a.. ampun ratu (panggilan bangsawan pada masa itu ) aku akan bertobat dan aku berjanji akan berjalan dijalan yang benar.."
Hanuraga menaikkan sebelah alisnya tak mengerti kenapa dia dipanggil ratu...
tak mau ambil pusing Hanuraga menyuruh pimpinan perampok segera pergi setelah mengampuninya..
"maaf, paman apakah anda baik baik saja??"
"hamba baik baik saja gusti ratu.."
sambil membungkuk hormat pada Hanuraga..
"paman jangan panggil aku begitu, aku hanya orang biasa, juga rakyat jelata seperti paman.."
"tapi...."
"benar paman, aku ini hanya orang biasa.."
"baiklah kalau begitu kami ucapkan banyak terima kasih, karena telah menyelamatkan kami dari para perampok, perkenalkan namaku Suma dan mereka adalah pengawal yang aku sewa dari wilayah barat.."
"salam paman aku Hanuraga, apakah tempat ini sering terjadi perampokan?"
"kelompok perampok ini memang sering menargetkan para pedagang, kadang juga orang yang hendak bepergian, tapi kenapa anda melepaskan pemimpin mereka tuan??"
"tadi dia sudah tak berdaya dan berjanji akan berubah jadi aku melepaskan dan memberi kesempatan padanya.."
"dulu dia sudah pernah dikalahkan seorang mahapatih tuan, tapi ia kembali berulah dan memang orang seperti itu tak akan mau berubah, mereka memohon hanya agar dapat kabur dan selamat dari anda.."
Hanuraga sempat memikirkan perkataan Suma tapi ia sudah memberi pengampunan, jikapun ia bertemu lagi dan masih dijalan sesat maka ia tak akan segan lagi..
"baiklah paman aku akan pergi, jaga diri kalian.."
"terima kasih tuan, salam hormat kami ..."
membungkuk dengan tangan pangan jali depan dada...
Hanuraga kembali melanjutkan perjalanan, kemanapun langkah kakinya membawa karena memang ia akan bepergian..
Hanuraga berjalan menyusuri jalan setapak yang sepi, langit sudah menghitam bagaikan malam akan tiba padahal masih siang hari..
"sepertinya akan turun hujan, sebaiknya aku mencari tempat berteduh.."
tepat setelah berkata demikian Hanuraga melihat seorang kakek membawa kayu bakar, diapun menghampiri si kakek..
"maaf kek saya mau bertanya, apakah ada desa dekat sini kek???"
"maaf nak, anda siapa? apakah anda sedang bepergian?"
"benar kek, saya sedang mengembara.."
"memangnya anak ini mau kemana?
apakah mau ke kota atau kemana?"
"entahlah kek, saya hanya mengikuti kemana langkah kaki ini .."
setelah mengamati Hanuraga beberapa saat dan melihat sepertinya hanuraga orang yang baik, kakek itupun mengajaknya ke desa..
"nak kau ini darimana asal mu?"
"maaf kek aku belum memperkenalkan diri..
aku Hanuraga, aku dari kaki gunung Watu Karu.."
__ADS_1
"wah tempat yang sangat jauh ya nak..
mari nak desaku sudah dekat.."
Hanuraga memasuki desa yang sangat asri, para penduduk desa tampak ramai namun hanuraga merasa aneh dengan tatapan dari penduduk..
"kenapa setiap bertemu orang di desa ini selalu menatapku waspada..
apakah ada yang aneh denganku kek??"
"maaf nak, sekarang kami sedang dalam keadaan sulit, kami para penduduk desa ini diteror gerombolan perampok,"
kakek itu hanya bisa mendesah panjang sambil menatap langit..
"perampok.....!!"
"apakah mereka perampok Ketunggeng Petak?"
"betul nak, mereka cukup kejam, makanya aku tak menawarkan dirimu menginap di desa ini karena malam ini mereka akan kembali untuk meminta uang pada kami..
"tenanglah kek, mungkin aku bisa membantumu.."
"jangan gegabah nak, ilmu bela diri mereka cukup tinggi, mereka tak segan membunuh, bahkan jika ada yang tak membayar mereka akan mengambil gadis di desa ini.."
"lalu apakah di desa ini tak ada orang yang melawannya kek?"
"kami tak berdaya nak, jagoan di desa ini sudah lama tumbang hanya dalam berapa gerakan jurus saja, lalu bagaimana dengan kami yang tak menguasai beladiri, bahkan orang yang dikirim kepala desa untuk meminta bantuan tak pernah kembali lagi.."
"sepertinya mereka tinggal tak jauh dari desa ini kek.."
"benar nak, kau lihat bukit itu? mereka mendirikan markas di sana, aku melihatnya saat mencari kayu bakar.."
Hanuraga memandang kearah bukit dengan senyum penum arti...
"minumlah nak..."
kakek itu menawarkan tuak manis pada Hanuraga..
"terimakasih kek.."
sambil masih memandangi bukit yang berada di utara desa itu..
"nak jangan gegabah untuk pergi ke sana..."
kakek itu seolah tau arti tatapan hanuraga..
"aku hanya akan melihat saja kek tak lebih, kakek tenang saja.."
setelah menghabiskan minumnya Hanuraga berdiri dan akan pergi menuju bukit yang dimaksud si kakek..
"terimakasih jamuan ya kek, kelak aku akan kesini lagi, kakek jaga kesehatan .."
"nak berjanjilah kau hanya melihat dari jauh, jangan bertindak sembarangan.."
"baik kek aku mengerti...
sampai jumpa lagi kek...."
kakek itu hanya berdiri melihat Hanuraga yang kian menjauh darinya..
sudahlah semoga dewata senantiasa melindungi mu nak.."
Hanuraga sampai di kaki bukit dan melihat sebuah pemukiman sederhana, di sana nampak sangat banyak lelaki dengan ikat kepala hitam..
tak berselang lama keluar seorang tinggi hitam dengan jubah berwarna selaras dengan kulitnya dan terdapat gambar kalajengking dijubah nya..
"apakah itu pemimpinnya.."
bergumam dalam hati..
Hanuraga melompat turun dan dengan santainya mendekati mereka..
"berhenti...."
"OOH anak muda, apa yang sedang kau lakukan disini.."
salah satu dari perampok itu memandangi hanuraga dari bawah sampai atas..
"kakak sepertinya dia orang kaya yang tersesat lihatlah penampilannya dengan jubah kuning itu.."
"kau benar, hahahaha ayo kita kerjai kalau dia hanya orang biasa kita ajak bergabung kau tidak mau maka bunuh saja..
"hai anak muda, apa gerangan yang membawamu kemari.."
"maaf paman tadi kau bertanya apa yang aku lakukan disini dan sekarang apa yang membawaku kesini?
aku ingin bertemu pimpinan kalian.."
"heh nak jaga bicaramu, ada urusan apa kau dengan pimpinan kami?"
"apakah kalian perampok yang bernama Ketunggeng petak itu??"
"hahaha sepertinya nama kami cukup terkenal, apakah kau ingin bergabung atau ingin membeli jasa kami untuk melenyapkan seseorang, katakan saja nak hahaha...."
"hahaha paman benar, aku kesini ingin menyadarkan kalian agar tidak berbuat kejahatan lagi.."
"cuiiih... kau kira dirimu siapa nak.."
seketika tawa orang itu hilang dan wajahnya menampakkan kemarahan..
saat perampok yang berjaga itu sedang menahan Hanuraga, perampok yang pernah dilepasnya melihat kedatangan hanuraga, ia sangat terkejut dan segera berlari melaporkan pada pimpinannya..
didalam gubuk
brakkkkkk
pintu terbuka cukup keras..
"maaf pemimpin aku melaporkan..."
plakkk....
belum selesai ia berbicara tubuhnya sudah terjatuh ditampar oleh pemimpinnya karena kesal masuk kegubuknya tanpa mengetuk ...
Warta sedang mencumbui tiga gadis saat anak buahnya masuk kegubuknya..
__ADS_1
"lancang sekali kau masuk saat aku bersenang senang.."
"ampun pemimpin beribu ampun pemimpin, akuelaporkan bahwa orang yang membunuh tiga puluh lima bawahanku sedang ada didepan.."
"hem.... apakah dia membawa prajurit?"
"tidak pemimpin, ia hanya seorang diri"
"jadi kau dikalahkan bocah ingusan dan seorang diri pula? sungguh memalukan, ayo akan kutunjukkan caranya mencincang seorang bocah..."
Warta keluar diikuti bawahannya menuju ketempat Hanuraga..
"sudahlah paman, panggil saja pimpinanmu jangan kau basa basi lagi apakah pemimpinnmu takut??"
"besar juga nyalimu nak, cukup aku saja yang mengantarmu ke neraka.."
saat perampok itu mencabut pedangnya, terdengar suara tawa yang sangat keras...
"HAHAHAHAHAHA.........."
"anak muda yang sungguh pemberani..
aku salut akan keberanianmu datang kemari dan menantang kami.."
"apakah kau sudah bosan hidup dan ingin mencoba melawan kami?"
"OOH apakah kau pendekar yang disewa oleh desa itu?"
sambil menunjuk desa dikejauhan....
Hanuraga hanya tersenyum memandang pemimpin kelompok itu ...
"kenapa kau hanya diam nak, apakah sebegitu takutnya kau melihat pemimpin kami?
hahahahaha......"
semua perampok itu menertawakan Hanuraga
"maaf paman hitam, aku hanya tumben melihat seseorang yang tinggi besar..."
"kurang ajar kau bocah, namaku Warta bukan hitam.."
"OOH maaf paman Warta aku Hanuraga, salam kenal kembali paman..."
"kurang ajarrrr..... aku bukan memperkenalkan diri padamu bocah..."
Warta sangat kesal dengan Hanuraga ...
"kalian semua habisi dia.."
"baik pemimpin..."
seketika Hanuraga dikepung dari segala arah,
para perampok itu menyeringai lebar ibarat gerombolan serigala mengelilingi kelinci..
semua perampok itu sangat meremehkan Hanuraga, ..
"nak jangan oernah menyesali perbuatanmu" saat selesai berkata salah satu perampok melompat sambil menebas kearah Hanuraga..
crasss....
"aaaaaaakh..."
perampok yang melopat tadi sudah tersungkur kehilangan nyawa dengan pedangnya sediri yang sudah berada ditangan Hanuraga..
"maaf paman kupinjam pedangmu..
sudah kuperingatkan agar tidak berbuat jahat lagi tapi kalian keras kepala.."
"seraaaang.."
semua perampok yang marah menyerbu Hanuraga, walaupun ia sendirian namun pertarungan berimbang, bahkah para perampok tertekan dengan keindahan jurus pedang Hanuraga...
"serang terus, dia pasti akan lelah dan roboh,,," teriak salah satu perampok..
namun sudah ratusan jurus mereka keluarkan masih belum bisa melukai Hanuraga, jangankan melukai membuat jubahnya tergorespun tidak ada..
sedangkan dipihak musuh sudah banyak yang tumbang tak bernyawa, tidak sedikit yang luka parah, hal ini membuat nyali mereka ciut dan semangatnya menurun...
wajah Warta mengeras menahan amarah, iapun melompat menerjang Hanuraga..
pertarungan kembali terjadi dengan sengit, kini tampak peratrungan sangat berimbang karena Hanuraga ingin mengetahui sejauh mana ilmu milik musuhnya itu...
"bocah sialan kau mempermainkanku dengan menghindar terus.."
"kau saja yang lambat paman hahaha..."
Hanuraga terus memancing amarah Warta sehingga terus menyerang membabi buta..
Warta yang sangat marah karena merasa malu bisa dibuat terdesak oleh pemuda yang belum genap dua puluhan tahun segera melompat menjauh..
ia merapal sebuah ajian...
melihat itu Hanuraga juga bersiap, ia memusatkan pikiran dan mengalirkan tenaga dalam ketelapak tangannya..
Warta berteriak sambil melepaskan sebuah ajian dari mulutnya, udara sekitar menjadi sedikit bereaksi dan terdorong kearah Hanuraga...
Hanuraga juga melepaskan pukulan tenaga dalam....
"Geni anglayang... hiaaaaat..........."
dari pukulan Hanuraga keluar api seukuran buah kelapa dan meluncur sangat cepat kearah Warta menembus ajian yang dikeluarkan Warta..
Dhuaaaaarrr.......
terdengar ledakan cukup keras saat ajian Hanuraga mengenai Warta dengan telak...
saat debu menghilang dan memperlihatkan Warta yang sudah terkapar bersimbah darah, Hanuragapun mendekatinya..
"uhuk.... kau ... uhuk..
tak ku s..sangka aku k..kalah .."
Wartapun menghembuskan nafas terakhirnya..
__ADS_1
melihat pemimpin mereka kalah dan tewas ditangan seorang pemuda, para kelompok perampok yang tersisa lari tunggang langgang, hanya beberapa yang diam pasrah karena memang tak bisa berkgerak karena luka parah yang didapatkannya.....