
Gunung puncak barat
pagi itu setelah Hanuraga mendapatkan wejangan dan pencerahan dari gurunya, Hanuraga bersiap akan memulai latihan pertamanya...
"hari ini akan kuberikan kau dasar latihan, yang pertama kau harus mencari kayu bakar yang lebih kecil sedikit dari badanmu lalu kau penuhi tempat kayu bakar di samping dapur.."
Hanuraga sedikit heran dengan latihan yang diberikan gurunya, "bukankah dulu aku sering membantu ayah mencari kayu bakar batinnya..."
"baik guru"
jawab Hanuraga dan hendak langsung mencari kayu bakar..
"nak kau harus mencari di pertengahan gunung" sahut Ki Madra..
"baik guru" jawab Hanuraga semangat..
setelah mendapatkan beberapa kayu yang hampir sama dengan ukuran tubuhnya, Hanuraga pun segera memikul dan membawanya kepuncak ..
"Hosh Hos ... ternyata naik membawa kayu sangat berat dan melelahkan, tapi aku tak mau mengecewakan guru..."
setelah beberapa kali naik turun mengambil kayu Hanuraga tampak kelelahan dan hampir terjatuh, dia duduk sambil meluruskan kakinya dia ingin mengatur nafas sebentar dan kembali melanjutkan perintah gurunya memenuhi tempat kayu bakar...
tak terasa beberapa minggu sudah Hanuraga lalui, dan kini ia sudah terbiasa membawa beban bahkan sambil berlari kecil menaiki gunung sambil memikul dua batang kayu yang sama besar dengan tubuhnya sendiri..
"nak beristirahatlah, hari sudah sore mari kita makan tapi sebelum itu bersihkan dulu tubuhmu di sungai di kaki gunung.."
Hanuraga tersenyum kecut dia harus turun untuk membersihkan badannya..
"baik guru" jawabnya memberi hormat dan langsung pergi kebawah..
saat sampai dibawah kaki gunung bagian utara Hanuraga melihat sungai yang sangat jernih, Hanuraga langsung menceburkan dirinya...
"Aah segar sekali" sambil membersihkan badan ia tampak memperhatikan sekitarnya, tampak hutan yang asri dipenuhi suara burung yang hendak kembali ke sarangnya membuat Hanuraga enggan untuk menyudahi berendam di sungai itu...
"aku harus kembali, mungkin setelah latihan aku akan kesini lagi untuk melepas lelah" pikirnya..
saat perjalanan keatas Hanuraga kembali menoleh dan ternyata sungai itu mengalir ke sebuah danau yang cukup jauh,
"sepertinya danau itu sangat tenang dan tidak terjamah manusia , suatu saat aku akan ke sana.."
Hanuraga berlari kembali kepuncak...
"salam mahaguru.."
Hanuraga memberi hormat melihat kedua gurunya sudah menunggu ..
"duduklah nak, mari kita makan agar stamina mu kembali pulih.."
"baik guru, maaf membuat guru menunggu.."
"sudahlah, makanlah dulu dan setelah itu istirahlah, besok kau harus kembali latihan..."
"baik guru.."
__ADS_1
***
sementara itu dirumah Hanuraga tampak Retus sedang menikmati jagung bakar sambil menikmati hangatnya perapian karena udara yang beranjak malam sangat dingin ...
"nyi sini jagungnya sudah matang.."
"baik bli,,,"
oh ya bli tadi saat aku disawah, aku melihat beberapa orang berpakaian serba hitam, kukira mereka prajurit yang berlatih..
"lalu siapa mereka nyi?"
sambil mengunyah jagung kerti menjawab, "mereka murid murid Ki Wukir bli, mereka disuruh berlari memutari sawah.."
"oih aku kira apa.." jawab retus sedikit ketus...
"tapi ibu ibu yang sedang ku ajak beristirahat disawah sangat gembira melihat mereka, dan mereka juga menanyakan putra kita bli.."
"maksudmu teman temanmu menanyakan Hanuraga? memangnya ada perlu apa mereka dengan putraku?"
"bukan begituuu,, mereka bertanya kenapa putramu tak menjadi murid Ki Wukir? apa dia tidak memiliki kemampuan atau seorang penakut?"
"lalu apa yang kau katakan?"
Retus masih sibuk mengunyah jagung yang ia bakar sambil mendengarkan cerita istrinya...
"aku bilang saja saat ini anak kita sedang pergi mengunjungi bibinya .."
"ah kau ini nyi, bukankah saudaramu lelaki semua?"
suara kerti tertahan saat mendengar ketukan pintu ...
Retus dan Kerti saling berpandangan..
"siapa malam malam begini bli?"
"aku juga tidak tahu nyi, apa ada yang meminta tolong malam begini" Retus bangkit dari duduknya mendekati pintu..
"siapa disitu" tanya Retus sedikit waspada sambil memegang arit ditangannya?
"malam saudara, saya temannya hanuraga..." jawab suara dari balik pintu...
Retus mengernyitkan dahinya, dia membuka pintu tanpa mengurangi kewaspadaan nya..
saat dia melihat sosok itu Retus sedikit kaget, karena orang itu seperti pertapa tapi mirip pendekar...
"maaf tuan apakah putraku membuat masalah?"
tanya Retus sedikit bingung..
"bolehkah saya masuk kedalam tuan?" tanya orang itu..
"silahkan" jawab Retus mempersilahkan...
__ADS_1
"maaf kedatangan ku malam malam mengganggu istirahat kalian, perkenalkan saya Sibar murid Ki Nara Utama.."
"maaf tuan pendekar, tuan darimana dan ada perlu apa dengan putra kami..?"
jawab Kerti sedikit bingung..
"aku diutus kesini atas perintah mahaguru, putra kalian saat ini ada dipuncak barat watu karu, ia di didik langsung oleh mahaguru, aku menyampaikan ini agar kalian tidak mengkhawatirkan nya...."
Retus tampak bernafas lega,
"lalu bagaimana apakah dia baik baik saja disana?"
"dia baik baik saja, mungkin akan sangat lama akan bisa kembali mengunjungi kalian..
baiklah aku hanya menyampaikan apa yang diperintah guruku, aku mohon pamit.."
"mari ku antar" jawab Retus sambil membukakan pintu, saat diluar Sibar memberi hormat pada mereka dan segera pergi kembali ke watu karu...
"semoga kelak kau menjadi orang hebat nak, .." batin Retus menatap gunung yang disinari terangnya bulan...
***
pagi itu Hanuraga sudah menerima tugas dari Ki Mudra untuk mengambil air di sungai tempat ia mandi kemarin, ia harus memenuhi sepuluh gentong besar dalam satu hari...
"baik guru, jawab hanuraga tanpa membantah..."
"anak ini sangat baik dan oenuh semangat..."
"benar kakak, sikapnya sangat dewasa diumur yang semuda itu" timpal Ki Madra..
Hanuraga terus berlari naik dengan hati hati, karena tadi ia sempat terpleset dan air dikedua ember kayu nya tumpah, ...
"aku harus bisa memenuhi tempat air sebelum matahari terbenam" Hanuraga menyemangati dirinya sambil terus berlari kecil..
butuh perjuangan bagi Hanuraga, saat hari sudah sore ia baru bisa memenuhi delapan tempat air yang lumayan besar...
"hem.... cukup memuaskan" kata gurunya memandang Hanuraga yang kembali berlari turun mengambil air...
tak terasa sudah hampir 2 minggu Hanuraga hanya berlari mengambil air..
kadang ia juga berganti membawa kayu dan kembali membawa air, semua ia jalani dengan patuh dan tanpa mengeluh sedikitpun..
saat pagi keesokan harinya, Hanuraga mengambil dua ember kayu dan hendak turun kekaki gunung mengambil air, namun langkahnya terhenti saat kedua gurunya memanggil...
"salam mahaguru", Hanuraga membungkuk memberi hormat dengan kedua tangan panganjali didepan dadanya ...
"hari ini kau tidak akan mengambil air ataupun kayu lagi, aku akan melatih kuda kudamu" kata Ki Madra..
"baik guru, jadi aku sudah bisa mulai latihan?"
"kau sudah berlatih dari kemari saat pertama mengambil kayu nak, itu melatih fisik dan nafasmu.."
Hanuraga baru mengerti setelah ia juga merasakan perubahan pada dirinya, otot yang mulai terbentuk dan tubuh yang terasa ringan..
__ADS_1
hari itu Hanuraga digembleng dengan latihan kuda kuda pertama yang terdiri dari beberapa bentuk kuda kuda, satu kuda kuda baru boleh ia ganti ke bentuk lain setelah habis satu dupa..
dan semua ia lakukan dengan patuh walau kadang ia hampir mencapai batas kekuatan nya, namun ia tahu semua itu untuk melatih fisiknya agar siap jika menerima latihan berikutnya.....