Ksatria Suling Gading

Ksatria Suling Gading
Pertemuan dengan mahayogi kembar


__ADS_3

Setelah berhasil menguasai keterkejutan nya, Hanuraga memberanikan diri mendekati orang orang yang tampak sedang berlatih, ia ingin tahu kenapa ada banyak orang disitu sedangkan orang lain tidak bisa mencapai puncak barat...


saat ia sampai di halaman tampak seorang tua mendekatinya..


tampak raut muka kakek itu sangat penasaran dengan sosok Hanuraga, seorang pemuda bisa sampai ke pesraman mereka..


"nak apakah kau tersesat?" tanya si kakek sambil penuh selidik memandangi Hanuraga...


"salam kek, namaku Hanuraga aku hanya mengikuti kata hatiku yang seperti ingin naik kesini"


jawab hanuraga jujur..


"apa...!!" dengan sedikit kaget kakek itu berpikir, apakah murid lain tidak berjaga sampai ada orang yang bisa lolos kesini..


"maaf kek apa ada yang salah" suara Hanuraga membuat kakek itu kembali memandangi nya dari ujung kaki sampai rambut...


namun betapa terkejutnya kakek itu melihat seruling pusaka yang terselip di pinggang pemuda itu...


"pantas anak ini bisa sampai kesini, Dewata telah menentukan jodoh untuk perguruan ini" batin kakek itu, dan ia pun segera bersujud hormat pada Hanuraga...


"kakek apa yang kau lakukan"


teriak Hanuraga sambil berusaha membangunkan si kakek dari sujud nya..


suara Hanuraga memancing perhatian di perguruan itu, sehingga ratusan Yogi dan Yogini serentak datang dan bersujud dihadapan nya, dan entah darimana datangnya ratusan murid lain tiba tiba ikut bersujud dihadapan Hanuraga...


"apa yang kalian lakukan"


Hanuraga keheranan, ia bingung mendapati situasi didepan nya...


lidahnya terasa kelu tak dapat berkata apalagi karena semua orang didepan nya masih bersujud, namun dua bayangan kuning berkelebat sangat cepat bagai angin dan dihadapan nya berdiri dua orang kembar bagaikan pinang dibelah dua...


"aku tak menyangka di usiamu yang semuda ini kau sudah datang kemari anakku, sungguh suratan takdir membuatmu berjodoh..."


seketika semua orang yang bersujud pada Hanuraga bangun dan memberi hormat pada dua orang kembar itu..


"salam mahaguru" suara mereka serempak..


"kembalilah berlatih.."


"baik mahaguru.."


merekapun kembali setelah hormat pada sang Maha Guru..


"hormatku mahaguru" kata Hanuraga kepada pendekar kembar maha sakti itu..


sorot mata kedua Maha Yogi itu sangat tajam bagaikan menembus jiwa namun terasa hangat dan damai...


"Hanuraga adalah namamu, kau ku titipkan pada pasangan petani di lembah bawah, dengan seruling sebagai pertanda mu" kedua Maha Yogi itu berkata dengan wibawa dan penuh senyum..


Hanuraga akhirnya yakin, bahwa kedua Maha Yogi ini yang menitipkan nya..

__ADS_1


"hormatku kek eh ...."


Hanuraga bingung harus memanggil apa, karena dalam bayangan nya orang yang menitipkan nya adalah pendekar sakti yang berumur tua dan berambut putih, tapi dihadapan nya dua Maha Yogi ini tampak sangat bugar tidaklah tua namun banyak Yogi dan Yogini yang berusia tua menyebutnya mahaguru...


"namaku Ki Mudra dan dia saudaraku Ki Madra, sekarang puncak barat adalah rumahmu dan semua murid disini adalah saudaramu.."


"baik mahaguru, .."


"minumlah air ini nak, dan beberapa ubi talas rebus juga beberapa sirih, itu akan mengembalikan stamina mu, puas lah dengan apa yang ada, bersyukurlah dengan anugrah Dewata.."


Hanuraga duduk sambil memakan ubi talas yang diberikan Maha Yogi yang kini menjadi gurunya...


"orangtua mu dulu menitipkan mu padaku nak,,"


suara Ki Mudra membuyarkan lamunan Hanuraga..


"kini kau akan kami latih disini sampai kau menjadi pendekar pilih tanding, kami sudah melihat sinar diubun ubunmu saat masih bayi, kau akan menjadi penerusku kelak nak, apakah kau sanggup...?"


Hanuraga bersujud dikaki kedua Maha Yogi menandakan dia menjadi murid puncak barat, ..


terjawab sudah apa yang menjadi pengganjal dihatinya, namun Hanuraga senang karena bertemu dengan kedua Maha Yogi yang membawanya dari tanah Jawa Dwipa...


"sekarang beristirahat lah nak, besok kau akan mulai latihan pertamamu.."


"baik guru"


jawab Hanuraga sambil hormat kepada gurunya..


***


sementara itu dirumah Hanuraga..


"bli apa kau tidak khawatir pada putra kita, dia sudah hampir lima hari menuju ke gunung Watu Karu dan belum kembali..."


"tenanglah nyi, dia akan baik baik saja"


jawab Retus sambil mengunyah makanan dekat perapian karena dinginnya sore yang berkabut...


"tapi bli aku masih kawatir padanya, bagaimana kalau dia bertemu harimau, atau tersesat, mungkin jatuh kelembah curam..."


"sudahlah nyi, kau terlalu berpikir yang tidak tidak, apa kau lupa dua orang kembar yang menitipkan Hanuraga pada kita juga dari gunung itu, dan dia memberikan seruling pusaka itu juga, jadi kau jangan berpikiran seperti itu..."


"lalu aku harus bagaimana bli..?"


"kau doakan saja yang terbaik buatnya, aku yakin dia sudah sampai dipuncak, jika tidak dia pasti pulang kembali..."


"aku hanya merindukannya bli, semoga dia baik baik saja.."


"hahaha kau ini nyi, kelak dia pasti akan kembali, kita hanya bisa bersabar dan mendoakan nya.."


"kita belum tau kabarnya, bisa bisanya kau tertawa bli huh.." jawab Kerti ketus sambil meninggalkan suaminya masuk ke kamar...

__ADS_1


Retus menarik nafas panjang sambil memandangi perapian didepann nya,


"semoga kau menemukan jatidiri mu nak, kami hanya bisa mendoakan mu"


batin Retus sambil menghisap rokok dari kulit jagung...


***


Pagi itu susana masih redup, angin bertiup sangat lembut namun dingin menusuk tulang, matahari belum menyinari puncak barat, namun Hanuraga sudah duduk dihadapn dua gurunya..


"Hanuraga, perguruan ini bernama PAIKETAN PAGURON SULING DEWATA , kami berdua adalah sesepuh generasi ke dua guru kami bernama Wiku Dharmo, beliau adalah murid pertama dari Ki Suling yang menciptakan semua ilmu adiluhung ini, mulai hari ini kau resmi menjadi siswa perguruan ini.."


"baik mahaguru, aku akan berlatih dengan disiplin"


jawab Hanuraga dengan yakin penuh semangat..


"adapun kau harus mengetahui, kau dilarang berkelahi dengan sesama murid, menghormati semua seniormu dan menghargai juniormu..


dan selama kau ku didik disini kau akan tinggal disini dan kelak kau akan bisa turun gunung.."


"baik mahaguru, namun bagaimana dengan kedua orangtua angkatku, mereja akan mengkhawatirkan ku karena tak tau kabarku guru"


jawab Hanuraga agak sungkan..


"tenanglah, akan ada murid yang menyampaikan pada mereka, kau fokuslah berlatih.."


"baik guru, aku akan selalu mematuhi perintah guru dan akan berlatih dengan disiplin..."


"bagus, aku menyukai semangatmu"


jawab Ki Madra dengan penuh senyum..


Hanuraga melihat dua gurunya itu bagaikan satu orang, mereka berdua sangat kompak bahkan tampak sangat sulit membedakan keduanya...


tatapan Hanuraga ditangkap oleh gurunya dengan senyuman..


"apa kau penasaran dengan kami berdua, ??"


"maaf guru, murid hanya sedikit heran kenapa tetua juga memanggil anda dengan guru?"


"mereka semua memang murid kami, sebagian besar saudara seperguuanku sudah lama meninggal kan dunia ini.."


jawaban Ki Mudra membuat Hanuraga semakin penasaran..


"kami dulu mempelajari sebuah ilmu dari salah satu Kitab perguruan ini.."


"ilmu atau ajian itu bernama bayangan mimpi dimana setelah mempelajari ajian ini kami berdua harus bertapa sekian tahun, dan membuat kami abadi, kelak aku akan menceritakan padamu.." jawab Ki Mudra..


"diusiamu yang sangat muda rasa ingin tahu mu sangat besar anakku.." Ki Madra menimpali ..


"terima kasih guru sudah menjawab rasa penasaran ku.."

__ADS_1


"hmm... bersiaplah sebentar lagi kita mulai latihan dasarmu...."


__ADS_2