
Hanuraga menghembuskan nafas melihat jasad Mao Sheng Di, Hanuraga lalu membuat makam untuknya sebagai penghormatan pada lawan, saat hanuraga hendak pergi salah satu dari pendekar aliansi menghentikannya
"Anak muda, kami dari perguruan pisau api ingin mengajakmu bergabung dengan perguruan kami"
Tanpa basa basi lagi salah satu tetua yang bergabung dengan aliansi langsung mengajak Hanuraga untuk bergabung, karena akan banyak yang tertarik pada kemampuan Hanuraga
"Maaf, bukan maksudku untuk....."
"Nak, sebaiknya kau ikut ke perguruan lembah pedang milik ku saja, kau akan menjadi tetua pertama, juga kau tak akan kekurangan apapun"
"Heh tak bisa begitu, aku mengajaknya lebih dahulu untuk bergabung pada perguruan pisau api"
Semakin lama semakin banyak yang menawarkan perguruan nya pada Hanuraga, dan hal itu membuat hanuraga semakin pusing
"Maaf para tetua, aku tidak bisa menerima tawaran kalian semua, aku sudah memiliki perguruan, jadi aku tidak bisa bergabung pada perguruan manapun"
Setelah mendengar apa yang dikatakan Hanuraga tadi, banyak para tetua yang cukup tersinggung
"Sombong kau anak muda, baiklah jika kau memang menolak tawaran kami yang halus ini maka kami akan mengajak dengan cara kasar"
"Wah .... kalian memaksaku ya, bukankah kalian semua ini dari perguruan aliran putih, tapi sikap kalian seperti orang orang sesat"
Saat para tetua itu yang begitu emosi hendak menyerang hanuraga, terdengar suara tawa yang keras dari belakang
"Hahahaha anak muda yang pemberani, aku ingin melihat seperti apa orang yang mengalahkan tapak iblis"
dari belakang kerumunan aliansi melompat seorang pendekar yang terlihat cukup tua dan ringkih, ia mendarat tepat didepan Hanuraga dan mengamati Hanuraga dari atas sampai bawah
kehadiran orang itu membuat semua perkumpulan pendekar itu mundur menjaga jarak, siapa yang tak mengenal kehebatan orang tua dari gunung kidul itu ia bernama Arya Geni Pamungkas
ia sudah malang melintang di dunia persilatan, dan dikenal dengan nama Ki Geni, ia menguasai dua ajian sakti, yakni rawa rontek dan lembu sekilan, kedua ajian ini dikuasainya dengan sempurna namun sayang ajian rawa rontek baru ia kuasai dengan sempurna ketika ia sudah berusia senja
itu semua karena ia baru menemukan kitab milik gurunya saat ia sudah menjadi pemimpin perguruan, dan sejak ia menguasai ilmu itu, Ki Geni seakan tak terkalahkan
__ADS_1
Ki Geni sengaja tak turun tangan saat mendengar sepak terjang pendekar tapak iblis, karena dia menunggu seseorang yang dapat mengalahkan pendekar itu maka ia akan menjajal ilmunya, karena selama ini Ki Geni tak pernah mendapatkan lawan tanding
"mohon maaf kakek, siapakah gerangan kakek ini?"
"Ohohohoh kau tak mengenalku anak muda? "
"benar kek, aku benar benar tidak tau siapa anda"
"hem hampir semua pendekar dari semua golongan mengenal akan siapa diriku, apakah kau baru keluar dari goa anak muda? )
"maaf aku memang tak mengenal siapa anda, karena aku bukan orang Jawa Dwipa"
Ki Geni mengernyitkan alisnya mendengar perkataan Hanuraga, ia menebak Hanuraga berasal dari daratan Swarna Dwipa karena memiliki kemampuan yang cukup mumpuni
"oh jadi kau bukan dari Jawa Dwipa, apakah kau dari Swarna dwipa anak muda?"
"bukan kek, aku bukan berasal dari Swarna Dwipa tapi aku dari Bali Dwipa"
"aku berasal dari puncak barat watu karu"
Ki Geni sedikit tersentak saat mendengar nama watu karu, karena selama ia berkeliling mencari lawan tanding Ki Geni pernah mendengar tentang kehebatan orang orang yang berasal dari perguruan yang terletak di watu karu
"jika benar kau dari sana, maka aku ingin menjajal ilmu Kanuragan mu anak muda"
"maaf kek, aku tak bisa, aku hendak melanjutkan perjalanan menuju Swarna Dwipa"
"baik baik, tapi temani lah orang tua ini barang sebentar sedikit meregangkan otot yang kaku ini, hehehe"
Hanuraga tak menanggapi perkataan Ki Geni, ia memberi hormat dan berbalik hendak pergi dari sana
namun baru beberapa langkah, ia mendengar Ki Geni berteriak marah padanya
"lancang kau anak muda, jika ingin pergi dari sini hadapi aku terlebih dahulu"
__ADS_1
setelah selesai berkata pada Hanuraga, Ki Geni melompat dan langsung mengarahkan pukulan dengan balutan tenaga dalam
Hanuraga tidak menghindar, tapi ia membalas pukulan dari Ki Geni, saat pukulan mereka beradu menimbulkan angin yang cukup kencang, Ki Geni melompat menjaga jarak sambil tersenyum dingin pada Hanuraga
"tak ku sangka kau mampu menahan pukulan ku secara langsung, padahal aku menggunakan beberapa persen tenaga dalam pada pukulan ku, sepertinya kau akan mampu bertahan beberapa menit setelah aku menyerang mu lagi hahaha"
"baiklah kek, karena kau yang memaksaku, maka gunakanlah semua kemampuan yang kau miliki"
"hah ,, sombong sekali kau bocah, anak kemarin sore menantang diriku ini agar menggunakan semua kemampuan? hahaha bermimpi lah bocah, jangan sampai kau menangis memohon ampun padaku"
"baik jangan salahkan aku jika kau tak mampu menahan serangan ku kakek tua, jangan sampai sakit pinggang mu kambuh"
"edan, kau pikir sehebat apa dirimu hah"
Ki Geni terpancing emosinya setelah mendengar ejekan Hanuraga, baru kali ini ada yang berani mengatainya demikian
sepertinya pertarungan kedua pendekar beda generasi itu tak akan terelakkan lagi, Ki Geni yang sudah kadung emosi mengeluarkan ajian lembu Sekilan nya, tampak kulit keriputnya yang coklat menjadi kehitaman
dengan ilmu ini tak ada senjata tajam yang mampu melukai dirinya, karena kulitnya akan kebal dan keras seperti baja
Ki Geni tertawa keras sambil menunjuk hanuraga, ia begitu meremehkan Hanuraga, ia berpikir anak semuda itu hanya baru tau sedikit ilmu Kanuragan, kemenangan nya melawan tapak iblis hanya sebuah keberuntungan
"persiapkan dirimu bocah edan, aku tak pernah berbelas kasih pada semua lawan lawan ku, hahaha"
"aku sungguh tak mengerti jalan pikiranmu orang tua, bahkan aku tak menyinggung mu, namun kau memaksa untuk bertarung denganku, aku akan meladeni mu dengan sepenuh hati, sepertinya aku perlu membuat isi kepalamu bisa berpikir dengan benar"
semua pendekar yang ada ditempat itu sangat menyayangkan kata kata Hanuraga karena berani memprovokasi pendekar yang sangat disegani di tanah Jawa Dwipa
mereka semua melihat kasihan pada Hanuraga, di usia yang masih muda dia sudah mendapatkan lawan yang sangat tangguh, bahkan beberapa keraton akan berpikir dua kali jika ingin menyinggung Ki Geni
namun di satu sisi ada sedikit keraguan di hati Ki Geni saat ia merasakan beberapa detik aura yang keluar dari tubuh Hanuraga, namun pikirannya segera ia tepis karena ia berpikir selama ia menjadi pendekar, tak ada satupun yang mampu bertahan lama setelah melawan nya
Ki Geni melesat, begitupun Hanuraga juga melesat maju menghadapi Ki Geni
__ADS_1