Ksatria Suling Gading

Ksatria Suling Gading
Maafkan aku


__ADS_3

Witra terkejut saat mendengar suara pertarungan, ia sangat penasaran apa yang terjadi didalam goa tempat pemimpin dari kelompok perampok ini, ia sangat ingin melihat ke sana namun apa daya kaki dan tangannya terikat..


tuan apa kau baik baik saja? Gunantra menghampiri Witra dan segera memotong tali yang mengikatnya,..


"Gunantra,,,,, bagaimana kau bisa disini, lalu Hanuraga apakah dia kedalam goa sendirian?"


"betul tuan, aku disuruh membantu melepaskan tuan dan para prajurit lainnya.."


"jangan jangan suara pertarungan itu ....."


Witra terdiam saat suara pertarungan itu berhenti..


"kita harus membantu pemuda itu, kita tak bisa membiarkannya menjadi bulan bulanan orang keji itu, Gunantra ayo kita bergegas kedalam sana.."


"tapi tuan hanuraga memintaku jangan ke sana dan menyuruhku membebaskan semua tahanan.."


belum sempat Witra menjawab, suara pertempuran kembali terdengar dari dalam goa namun hanya beberapa saat sebelum mereda kembali...


Witra dan Gunantra saling pandang karena tak mengerti apa yang terjadi..


"bagaimana ini tuan, jujur aku juga khawatir pada Hanuraga.."


"aku juga merasa demikian tuan, eh jadi pemuda itu bernama Hanuraga??"


"hah kau ini, bukankah kau kesini bersamanya lalu kenapa bisa kau sampai tak tau namanya??"


"aku diselamatkan olehnya tadi ketika aku diseret kesini tuan, dan aku belum tau namanya..."


"hemm baiklah mari kita bebaskan mereka dulu baru kita susul masuk kedalam goa.."


"baik tuan aku akan ....."


gGunantra terkejut melihat belasan anggota perampok keluar dari dalam goa, seketika Witra dan Gunantra mengambil pedang dan bersiaga..


namun beberapa perampok hanya melewatinya membuat Witra semakin bingung,


tapi ada seorang perampok tua yang berhenti dan memberi hormat pada Witra..


"tuan Witra maafkan atas semua kesalahanku padamu dan semua penduduk desa, aku merasa sangat menyesal.."


setelah berucap dan tanpa menunggu jawaban Witra perampok tua itu pergi begitu saja..


"apa sebenarnya yang terjadi?"


Gunantra semakin bingung begitu juga Witra..


setelah membebaskan semua anggota prajurit, Witra dan Gunantra hendak bergegas kedalam goa bersama puluhan prajurit, namun belum sampai mereka masuk Hanuraga sudah keluar dari dalam sambil tersenyum, ...


"tuan apakah kau baik baik saja, bagaimana para tahanan?"


"a..anu sebenarnya apa yang terjadi? lalu suara pertarungan tadi apakah berasal dari sini?"


"sudahlah tuan, mereka tak akan kembali ke desa, jadi mari kita bebaskan tahanan wanita dan kembali ke desa.."


"apa.... masih ada tahanan wanita? lalu dimana mereka ditahan?"


"mereka ditahan dibalik bukit ini agar tersembunyi, mari kita ke sana..."


saat sampai dibalik bukit, Witra dan Gunantra terkejut melihat ada belasan gadis yang ditahan, pantas beberapa gadis di desanya ada hilang, bahkan dari desa sebelahnya..


setelah membebaskan semua tahanan, Gunantra dan hanuraga kembali ke desa, sementara Witra dan prajuritnya memeriksa semua tempat barangkali ada tahanan yang tersisa..

__ADS_1


saat masuk kedalam goa, Witra dan Gunantra sangat kaget melihat bekas pertarungan, beberapa mayat tampak di tanah, saat Witra membalikkan mayat berbadan kekar ia sangat kaget, Kunta yang terkenal sakti terkapar tak bernyawa....


"apakah mungkin hanuraga membasmi orang ini seorang diri?"


dia merasa ragu jika orang yang mengalahkan Kunta dan anak buahnya adalah seorang pemuda, tapi hanuraga memang masuk sendirian..


"sudahlah, yang penting mereka tak semua sudah dikalahkan dan tak akan bisa berbuat kejahatan lagi.."


Witra bergumam dalam hati..


"kalian semua, kuburkan semua mayat ini, jangan sampai menimbulkan penyakit.."


"baik tuan..."


jawab prajurit


sementara itu di desa


Gunantra dan Hanuraga sedang berjalan bersama, mereka sudah menyuruh para tahanan wanita untuk kembali pulang pada keluarganya..


"maaf tuan, namaku Gunantra, terimakasih sudah menyelamatkanku sebelumnya.."


"sudahlah, kita memang harus saling membantu sesama.."


"tuan mampirlah sebentar ke rumahku, aku ingin menjamu anda sebagai rasa terimakasih.."


"tidak usah repot repot begitu, aku hendak melanjutkan perjalanan juga.."


"memangnya ada hendak kemana tuan?"


"entahlah, aku hanya mengikuti kemana langkah kaki ini membawaku.."


melihat ketulusan Gunantra, Hanuraga mengiyakan saja dan mengikuti Gunantra menuju rumahnya..


saat sampai, Gunantra menyuruh hanuraga masuk, ia lalu berlari ke dapur dan mulai membuat makanan ..


sementara Hanuraga menunggu sambil memperhatikan sekeliling rumah..


"rumah bergaya Bali dan tampaknya rumah orang yang cukup berada, tapi kenapa Gunantra berjualan kayu bakar.."


hanuraga berpikir sambil memandangi rumah itu..


saat masih melihat lihat, pintu terbuka dan tampak seorang gadis yang masuk membawa sayuran..


"tampan sekali...."


gadis itu tertegun melihat hanuraga dalam rumahnya, setelah mengerjap kan mata beberapa kali ia tersadar dan mengambil balok kayu dan diacungkan pada hanuraga..


"siapa kau, kenapa kau ada di rumahku hah OOH jangan jangan kau perampok juga, aku akan berteriak agar kau ditangkap.."


"maaf anda siapa, kenapa anda juga masuk ke rumah temanku lalu mengancam ku begitu?"


"rumah temanmu? ini rumahku dan jangan sembarangan, aku juga tak punya teman lelaki, kau jangan berbohong padaku.."


mendengar keributan diruang tamu, Gunantra bergegas keluar..


"adik kau kemana saja.."


Gunantra menghampiri adiknya sambil mengelus kepalanya..


"maaf kak aku baru datang dari kebun, mengambil beberapa sayur dan ku tukar juga dengan sepotong daging kak.."

__ADS_1


"oh Uhuk hem, adik perkenalkan temanku Hanuraga, tuan ini adikku Ginantri.."


Gunantra memperkenalkan adiknya pada Hanuraga..


Hanuraga mengangguk sambil tersenyum membuat Ginantri salah tingkah dan mukanya memerah..


"m...maaf atas sikapku tadi tuan, aku kira kau ...."


"sudahlah tak usah dipikirkan, aku memakluminya, aku pun juga akan demikian jika ada orang asing di rumahku.."


setelah berbincang cukup lama, Hanuraga dan Gunantra menyantap makanan bersama yang disajikan Ginantri..


"tuan menginap lah semalam disini aku tau tuan lelah dan butuh istirahat,"


Gunantra sekilas melirik adiknya yang terus memandangi hanuraga..


"aku sudah cukup merepotkan kalian, tak enak aku selalu merepotkan.."


Gunantra yang mendengar itu merasa tak punya pilihan, sebenarnya ia bermaksud mendekatkan adiknya dengan Hanuraga..


"tuan aku memiliki satu permohonan, semoga tuan tak tersinggung.."


"bicaralah.."


"begini tuan, aku bukanlah seorang pendekar, aku juga sudah tak memiliki orang tua, jadi aku merasa tak akan sanggup melindungi adikku jika terjadi hal seperti kemarin lagi, mereka menginginkan adikku.."


"maaf aku tak mengerti,??"


hanuraga mengerutkan kening mendengar yang dikatakan Gunantra..


"aku mohon tuan membawa adikku bersamamu tuan.."


"emm... maafkan aku Gunantra, aku belum bisa menerima murid, dan perguruan ku cukup jauh dari sini, aku juga masih akan berkelana mengelilingi nusa ning nusa.."


"maaf tuan maksudku..."


Gunantra tampak ragu ragu mengeluarkan kata katanya...


"lalu maksudnya?"


"anu, tuan maukah kau menerima adikku sebagai istrimu.."


mendengar itu Ginantri hanya bisa menunduk dengan muka merah padam dan hati yang berdebar..


"oh... hahaha... maaf maaf, sungguh maafkan aku Gunantra, saat ini aku belum berpikiran sejauh itu, apalagi aku masih ingin berkelana jadi maafkan aku.."


mendengar itu Ginantri merasa sangat sedih, hatinya merasa hancur.. tanpa sadar air matanya menetes membasahi pipinya..


"jangan terlalu dipikirkan adik, lagipula kita baru saja bertemu, jikapun berjodoh kita akan bersatu, aku masih mengemban tugas dari maha guru jadi aku belum sempat memikirkan tentang pernikahan.. jadi maafkan aku.."


tak terasa sudah cukup lama hanuraga berada di rumah Gunantra, ia berpamitan pada kedua kakak beradik itu, ...


"Gunantra, jika tuan Witra datang sampaikan salam ku padanya, aku mohon diri, jaga diri kalian baik baik.."


"terimakasih tuan, semoga perjalanan mu dilancarkan.."


"terimakasih, suatu saat aku akan mengunjungi kalian,.."


setelah itu Hanuraga berbalik pergi meninggalkan desa untuk kembali berkelana..


Gunantra hanya bisa memandangi punggung Hanuraga yang semakin menjauh meninggalkan desa mereka....

__ADS_1


__ADS_2