
Hanuraga yang melompat bukannya beradu pukulan, tetapi ia menghindar kesamping beberapa detik sebelum pukulan Arya Geni mengenai dadanya
Hanuraga menyerang rusuk kanan dengan serangan tapak, serangan nya begitu cepat dan telak mengenai sasaran
DENG..........!!
Saat tapak Hanuraga mengenai Arya Geni, terdengar seperti suara benturan logam
Arya Geni menepuk pakaian nya sambil tersenyum sinis kepada Hanuraga
"sepertinya tenaga dalam mu cukup kuat anak muda, hahaha ayo serang aku lagi"
"ternyata kau memakai ajian kekebalan kakek tua, berhati hatilah jangan sampai kau termakan kesombongan mu sendiri"
Hanuraga kembali bersiap menyerang, namun ia sengaja menunggu dan memperhatikan Arya Geni yang merapal sebuah ajian
tiba tiba Arya Geni menyerang dengan sangat cepat, kecepatan nya bertambah beberapa kali dari serangan pertamanya
namun Hanuraga masih dapat melihat dengan jelas arah serangan Arya Geni, Hanuraga menggeser sedikit tubuhnya miring kesamping dan beberapa saat pukulan Arya Geni melewati pipinya
karena kesal serangannya selalu dihindari, Arya Geni menyerang dengan cepat dan terus mendesak Hanuraga, tetapi Hanuraga dengan cepat menangkap pergelangan tangan Arya Geni dan membantingnya dengan sangat keras
belum sempat Arya Geni berdiri Hanuraga sudah memukul kepalanya dan kembali membanting Arya Geni sampai terlempar cukup jauh
saat Arya Geni berdiri dan hendak menyerang, ia dikagetkan dengan serangan jarak jauh yang sudah akan telak mengenainya, tanpa bisa dihindari lagi Arya Geni mencoba menahan namun serangan Hanuraga terlalu kuat
BOOM .......
Tanah dibelakang Arya Geni meledak dengan sangat keras, sedangkan Arya Geni memuntahkan darah sambil memegangi perutnya
kumpulan pendekar yang menonton dari kejauhan hanya bisa membuka tutup rahangnya karena terkejut tak menyangka pendekar yang ditakuti di tanah Jawa Dwipa dijadikan bulan bulanan seorang anak muda
tampak lubang seukuran kepalan tangan menembus perut Arya Geni sampai ke punggung, darah mengalir dari lukanya yang parah, namun beberapa saat kemudian Arya Geni malah tersenyum kearah Hanuraga
"hahaha tak ku sangka kau berhasil melukaiku dengan parah anak muda, kau orang pertama yang membuatku seperti ini, namun sayang aku harus melenyapkan mu"
tiba tiba luka ditubuh Arya Geni sembuh dengan sangat cepat, bahkan kembali seperti semula tanpa ada goresan sedikitpun
"hahaha bagaimana anak muda, apakah kini kau akan menyerah, setinggi apapun ilmu Kanuragan yang kau miliki, akan sia sia dihadapan ku"
"menakjubkan, ternyata kau menguasai ajian rawa Rontek kakek tua, sepertinya akan cukup merepotkan"
__ADS_1
"hus ,, merepotkan katamu?, jangan terlalu meninggikan dirimu nak, apakah kau merasa akan mampu mengalahkan diriku, aku bahkan sudah melewati batas hidup manusia, selama ini tak ada yang mampu menandingi ku"
"benar katamu kakek tua, kau berumur panjang karena ajian yang kau kuasai dengan sempurna, kau tak mudah dibunuh bahkan kau tak akan bisa mati, dan aku yakin kau baru menyempurnakan ilmu itu di usia mu yang sudah tua"
Arya Geni terperangah mendengar perkataan Hanuraga, bagaimana mungkin anak berusia muda sepertinya mengetahui akan ilmu yang dirinya kuasai, ada perasaan bimbang dihatinya, karena dahulu ia pernah berhadapan dengan seorang pendekar dari Watukaru dan dirinya hampir dibinasakan, tetapi ia masih diberi kesempatan
Arya Geni berpikir dulu ia hampir dikalahkan karena kedua ajian yang dia kuasai belum sempurna, berbeda dengan sekarang dimana kedua ilmu yang ia pelajari begitu sempurna membuatnya jumawa
"diam anak muda, jika kau memang mampu mengalahkan ku majulah"
"baiklah, akan ku kabulkan keinginanmu keinginanmu kakek tau, aku akan mengalahkan mu"
kedua tangan Hanuraga mengeluarkan cahaya biru yang samar dengan memancarkan energi yang sangat kuat dan panas
Arya Geni yang merasakan kekuatan energi itu Marasa sedikit gentar dihatinya, namun ia segera menyerang lebih dahulu
Arya Geni terus melancarkan serangan cakar dan pukulan, namun selalu ditepis dengan mudahnya oleh Hanuraga
Hanuraga membuat gerakan mengecoh dan memperlihatkan celah yang terbuka lebar, Arya Geni tak menyianyiakan kesempatan dan segera menyerang kearah leher hanuraga dari arah kanan
namun sepersekian detik Hanuraga memutar tubuhnya dan mencengkram tangan kiri Arya Geni dan menarik sambil menyerang kearah siku
Crassssh ...... Aaaaahhhh......
"apakah kau ingin tanganmu ini kembali kek?"
Hanuraga menyodorkan potongan tangan pada Arya Geni, Hanuraga masih memegang potongan tangan itu sehingga tak bisa kembali menyatu pada Arya Geni
"kembalikan tanganku bocah edan, atau..."
"atau apa? kau bilang aku tak akan bisa mengalahkan dirimu, hari ini akan kukalah kan dirimu dan membuatmu mengerti bahwa di atas langit masih ada langit
setelah mengatakan demikian, tiba tiba potongan tangan yang dipegang hanuraga terbakar api berwarna biru dengan cepat sampai menjadi abu dan tertiup angin
Arya Geni tercengang melihat apa barusan yang terjadi, kini tangan kirinya tak akan bisa disatukan dan dia benar benar cacat
kini Arya Geni benar benar merasa takut dan ada sesuatu yang bergejolak dihatinya
"akhirnya aku akan bisa melepas raga ini, jangan sungkan menyerang ku anak muda"
Hanuraga sedikit heran mendengan perkataan Arya Geni, namun ia tetap waspada menyambut serangan Arya Geni
__ADS_1
walaupun hanya dengan satu tangan namun serangan Arya Geni tetap cepat dan terarah,
Arya Geni mengeluarkan seluruh kemampuan yang ia miliki
Hanuraga menunduk kan badan saat tendangan Arya Geni menyasar kepalanya, Hanuraga menendang dada Arya Geni dengan telak sehingga ia terlempar ke udara
dengan cepat Hanuraga menyerang tangan kanan Arya Geni sampai putus dan membakarnya menjadi abu
saat Arya Geni belum siap, ia sudah mendapat pukulan tenaga dalam di dada kirinya, Arya Geni kembali terlempar dan memuntahkan darah
kini ia sudah tak memiliki tangan, namun ia berdiri dengan gagah dan tersenyum pada Hanuraga
"nak kau memang digdaya, sekarang akhiri lah diriku ini dengan tinju api mu itu, agar semua kepedihan dihati ku ini musnah"
"apa maksudmu kakek tua?"
"ketahuilah anak muda, sebelum aku mempelajari kedua ajian ini, aku memiliki seorang kekasih, kami berdua begitu bahagia, kami memang sepasang pendekar, namun kami hidup damai tanpa mengusik siapapun, kami berdua memutuskan untuk hidup sederhana, namun suatu hari kekasihku di sergap segerombolan pendekar aliran putih, mereka menggagahi kekasihku lalu membunuhnya, kau tau betapa sakitnya hati ini"
"lalu apa yang terjadi setelah itu, apakah kau membalaskan dendam kesemua pendekar?"
"benar anak muda, semenjak kematian orang yang ku kasihi aku begitu membenci pendekar, mereka mengatasnama kan aliran putih tapi kelakuan mereka sesat, setelah aku menguasai ajian ini aku begitu terlena dan membabat setiap pendekar yang ku temui, namun ada seseorang yang kembali mengisi hatiku, akan tetapi aku yang hidup lama melihat kematian demi kematian orang yang aku cintai, aku berpikir menyempurnakan ajian agar aku bisa membuat pasanganku juga hidup lama, tapi aku terus gagal"
"hari ini aku menemukan mu, dan aku meminta padamu, tolong akhiri hidupku, aku ingin bertemu dengan kekasihku di alam sana,"
Hanuraga tersentuh hatinya mendengar perkataan Arya Geni yang penuh penyesalan mempelajari ilmu Rawa Rontek dengan sempurna
"ilmu yang kau pelajari tidaklah buruk kek, dengan ilmu itu kau menjadi digdaya namun kau akan melihat kematian setiap orang yang kau kasihi, kau hanya perlu menguatkan jiwamu, memahami kehidupan, kau bisa melakukan Tapa Brata yoga Samadi untuk mencapai moksa"
"aku sudah pernah mencoba apa yang kau katakan anak muda, namun aku tak sanggup, bayang bayang wajah orang yang ku kasihi dan orang yang pernah aku binasakan selalu membayang bayangi ku, aku pernah beberapa kali mencoba mengakhiri hidup ini, tapi kare ajian yang sudah mendarah daging dalam diriku, aku tak bisa mati, aku mohon padamu anak muda, akhiri lah hidupku ini"
"baiklah kakek, aku akan membakar ragamu, persiapkan dirimu"
Hanuraga merapal sebuah ajian, seluruh tubuhnya memancarkan cahaya kebiruan namun samar, Hanuraga segera melesat dan mengarahkan pukulan kepada Arya Geni
Arya Geni menyambut serangan Hanuraga dengan penuh senyum, ia sudah siap menuju alam baka, terdengar ia bergumam kecil sebelum pukulan Hanuraga mengenainya
"Marni aku datang, tunggulah kakang di sana"
Dhuarrr....
Pukulan hanuraga telak mengenai dada Arya Geni membuatnya hancur dan terbakar seketika menjadi abu tanpa sisa,
__ADS_1
Hanuraga mencakup kan tangan memberi penghormatan terakhir pada Arya Geni
"semoga kau tenang di alam sana kakek tua"