Ksatria Suling Gading

Ksatria Suling Gading
Melanjutkan Perjalanan


__ADS_3

Setelah kekalahan Arya Geni, Hanuraga melirik sekilas ke arah perkumpulan para pendekar yang dari tadi menyaksikan pertarungannya


"aku harap kalian merubah sikap, jangan hanya menyandang aliran putih atau lurus tetapi moral kalian masih sangat jauh dari kata aliran putih, aku harap jika kita kelak bertemu kembali kalian sudah berubah"


setelah mengatakan demikian Hanuraga melompat dengan peringan tubuh tingkat tinggi sehingga ia seperti terlihat sedang terbang


"benar kata anak muda itu kakang, kita terlalu menjalankan ego, kita dibutakan dengan kekuatan yang belum seberapa ini"


"benar katamu Wasto , aku juga merasa malu pada diriku yang sudah tua ini, melihat anak muda yang sangat bijak, hem sudahlah, mari kita kembali ke perguruan masing masing"


mereka semua pada akhirnya membubarkan diri, dan berita tentang Hanuraga menyebar dengan cepat seperti angin


seorang pemuda yang mengalahkan dua pendekar sakti, banyak yang meragukan kabar itu bahkan banyak yang mencemooh, namun tak sedikit juga yang percaya


Hanuraga kini kembali melanjutkan perjalanan, ia ingin menjelajahi Nusa Ning Nusa mencari pengalaman dan menyebarkan kebenaran,


tak terasa ia sampai di sebuah dermaga, banyak kapal kapal pedagang yang berlabuh, kapal itu terlihat dari berbagai daerah luar Jawa Dwipa, ada beberapa kapal dari Tionghoa juga berlabuh di sana


Hanuraga berjalan menuju pelabuhan itu, ia berkeliling sebentar melihat sibuknya para pedagang


"maaf tuan, apakah ada penjual makanan didekat sini?"


"oh maaf aku tak melihat kedatangan anda anak muda, kau jalan saja sampai ke ujung sana, di sana ada penjual makanan, nasi liwet nya terkenal sangat enak"


sambil menunjuk ke arah ujung pelabuhan


"terimakasih tuan"


Hanuraga berjalan menuju arah yang ditunjuk oleh nelayan yang ia tanyai,


saat dalam perjalanan ada beberapa pasang mata yang mengawasi pergerakan Hanuraga


"eh kau cepat laporkan pada kakang Laksono, sepertinya pemuda itu cukup kaya, aku akan mengawasinya "


"baik kakang Dirga, "


gerombolan perampok yang menyamar menjadi nelayan dan kuli angkut itu mengikuti Hanuraga dari kejauhan, sementara salah seorang dari mereka melaporkan kepada ketuanya akan ada mangsa baru


Saat Hanuraga sampai, ia melihat warung sederhana dengan beberapa pengunjung yang sedang menikmati makanan di sana


namun saat hanuraga hendak mendekat untuk memesan nasi liwet yang katanya sangat nikmat, datang beberapa orang berbadan kekar dan menenteng parang menuju warung itu


mereka menggebrak meja dan berteriak keras


"kami belum mendapat uang keamanan dari kemarin, apa kalian ingin aku menghancurkan tempat ini"


"maaf den, kami belum mendapatkan uang lebih beberapa hari ini, karena aku harus membeli obat untuk ayahku yang sakit"

__ADS_1


"hohoho jadi begitu rupanya cah ayu, baiklah aku tak akan meminta uang padamu selama satu gerhana, tetapi kau ikut denganku, hehehe"


salah satu begundal itu menjilati bibirnya sambil memelototi kedua bukit ranum Ni Wati


mereka sudah lama mengincar untuk dapat menggagahi gadis muda penjual nasi itu


"permisi aku pesan nasi liwet dan air minum"


Hanuraga berkata pada ni Wati dan segera menuju meja yang bersebelahan dengan jendela yang menghadap ke laut


"hohoho ada anak tak tau diri yang mengganggu kita, ayo kita datangi"


segera ke lima begundal itu menuju meja yang ditempati Hanuraga, mereka juga duduk dan menatap Hanuraga dengan pandangan melecehkan


"hai anak muda, dari mana asal mu apakah kau tak tau siapa kami ini hah?"


"aku tak tau, jadi sebaiknya kalian perkenalkan diri"


Hanuraga menjawab tanpa melihat mereka, hal itu membuat para begundal itu menjadi sangat marah


salah satu dari mereka menaruh parang besar di leher Hanuraga untuk menakutinya


"anak muda kau memiliki wajah yang rupawan namun sayang kau akan segera binasa jika tak menyerahkan semua yang kau bawa pada kami"


"benar nak, kasihanilah nyawamu, agar kau nanti bisa merasakan kehangatan gadis hahahaha "


Hanuraga memegang bilah parang yang tajam dengan perlahan sambil melihat kelima begundal itu


"jangan kasar begitu paman, jika kalian lapar mari kita makan, akan aku traktir"


"sudah ku bilang kau masih sok jagoan dihadapan kami"


saat begundal itu ingin menarik parangnya ia merasa parangnya seperti menempel dan tak bisa digerakkan, padahal hanya dipegang dua jari oleh Hanuraga


Hanuraga menggerakkan sedikit tangan nya membuat golok itu hancur berkeping keping, para begundal itu kaget bukan kepalang, mereka sadar telah salah sasaran, dan segera bersujud memohon ampun


namun saat Hanuraga lengah salah satu dari mereka melemparkan pisau kecil yang sangat beracun, namun hanuraga meniupnya dan kembali melesat sangat kencang ke arah begundal itu


melihat temannya yang tewas oleh senjatanya sendiri, mereka mengeroyok hanuraga, namun hanya dalam beberapa saat tiga begundal itu tewas ditangan hanuraga


kini tersisa pemimpin begundal itu yang sudah membasahi dirinya, ia mencoba untuk kabur namun terasa sangat sulit, jadi ia memutuskan untuk melawan


diluar warung itu para perampok masih menunggu Hanuraga dari kejauhan, namun tiba tiba mereka melihat pemimpin begundal yang terlempar dari dalam warung


"kakang sepertinya pemuda itu memiliki kemampuan yang lumayan, sebaiknya kita ikuti bersama ketua, akan bahaya jika kita hanya membawa sedikit orang"


"benar katamu, cepat panggil kakang Laksono, biasanya jika seorang pendekar bepergian ia membawa harta yang lumayan hehehe"

__ADS_1


Hanuraga kembali duduk di meja yang lain, karena meja sebelumnya telah hancur


saat pesanannya datang Hanuraga bertanya apakah ada kapal.yang akan berangkat, dan ternyata ia harus kembali menemui nelayan tadi untuk mendapat informasi


setelah menghabiskan makanannya Hanuraga kembali mendatangi nelayan tadi, namun yang ditemuinya adalah beberapa orang yang hendak berangkat


"maaf tuan, apakah saya boleh ikut menumpang?


"mau kemana tujuanmu nak, kami akan berlayar menuju Swarna Dwipa, jika kau juga ke sana silahkan ikut"


"terimakasih tuan, berapa aku harus membayar?"


"sudahlah, kau tak usah membayar asal kau juga ikut menjaga kapal ini, tadi juga ada rombongan pendekar yang naik, mereka juga menumpang di kapal ini"


"terimakasih tuan, kalau begitu aku akan bergabung dengan mereka"


Hanuraga segera menaiki kapal yang sebentar lagi akan berangkat, ia menuju bagian belakang kapal dimana para penumpang yang ikut sedang duduk menikmati tuak


melihat kedatangan Hanuraga Laksono tersenyum cerah, sambil meneguk tuak di gelas bambu ia terus memperhatikan Hanuraga


"sepertinya kita akan untung besar kali ini, lihatlah dia datang sendiri ke kapal ini"


"betul kakang Laksono, selain kita bisa menjarah kapal ini sepertinya anak muda itu putra orang ningrat dan tentunya akan membawa banyak harta sebagai bekalnya "


"hahaha kali ini kau bisa berpikir bagus cungkring, hahaha kita akan berpesta ditengah laut nanti kulihat banyak wanita di kapal ini"


saat kapal mulai jauh dari pelabuhan Laksono memanggil Hanuraga


"hai anak muda, kemari lah bergabung bersama kami, kenapa kau diam saja di sana"


"UMM baik"


Hanuraga melangkah mendekati Laksono yang menyodorkan tuak padanya


"minumlah, kau pasti suka hehehe"


Hanuraga meraih gelas itu dan mencicipi tuak yang diberikan Laksono, ia merasa tuak nya dicampur sesuatu, tanpa ragu Hanuraga meneguknya sampai habis


"terimakasih tuan, aku mau melihat pemandangan laut dahulu"


"hei nak jangan terlalu dekat nanti kau bisa tercebur hahaha"


"bagaimana kakang, apakah ia meminumnya?


"tentu saja, kita tunggu dia melemah maka kita akan dengan mudah membunuhnya, apa kau sudah menyebar racun Pelemah otot dengan benar?"


"sudah kakang, aku sudah menyebarkan di semua makanan yang ada"

__ADS_1


"bagus, kalau begitu mari kita nikmati tuak ini sambil menunggu hahaha"


__ADS_2