Ksatria Suling Gading

Ksatria Suling Gading
KITAB WARISAN PERGURUAN


__ADS_3

pagi itu, dibawah sinar matahari pagi yang masih keemasan karena baru menampakkan sinarnya menerangi seluruh tanah Bali Dwipa, tampak Hanuraga duduk didepan kedua gurunya..


"anakku ketahuilah, bahwa kini kau sudah melewati semua dasar dan tehnik awal yang kami ajarkan padamu, adapun kami akan melatih mu dengan tingkatan yang lebih sulit lagi sebelum kau mempelajari inti dari ilmu yang adiluhung puncak barat Watu Karu.."


"baik guru tapi..??"


"tapi apa nak? bicaralah.."


Hanuraga tampak sedikit ragu namun akhirnya ia memberanikan diri bertanya..


"aku ingin tahu tentang ilmu adiluhung itu guru, aku ingin memiliki gambaran agar bisa memahami saat aku mempelajarinya.."


"Hem... ku akui kau adalah anak yang cerdas tapi aku tidak mau terburu buru nak, kau harus mempelajari segala sesuatu tahap demi tahap.."


"pengetahuan itu sangat luas, ibaratkan tubuhmu adalah sebuah cangkir kecil yang mana jika di isi air terlalu banyak maka akan tumpah dan menjadi percuma, apa kau paham nak?"


"aku mengerti guru, maafkan karena rasa keingin tahuanku.."


"baiklah kami tetap akan memberimu beberapa gambaran, tapi tidak ke intinya karena belum saatnya bagimu nak..


warisan adiluhun ini berupa tujuh puluh dua kitab jurus beladiri maha sakti, dan enam ribu enam ratus ilmu tenaga dalam maha dasyat,


setiap jurus ada beberapa langkah dan setiap jurus terdiri dari 18 tingkatan jurus yang harus kau pelajari, dimana jurus pertama sampai ke enam belas jurus adalah jurus biasa dan dua sisanya adalah jurus pemungkas yang dirahasiakan.."


nafas Hanuraga tertahan mendengar cerita gurunya, ada puluhan jurus yang didalamnya ada beberapa jurus lagi dan ribuan bentuk tenaga dalam..


ia sadar tidak mudah mempelajari sesuatu dan rasa semangat dalam dirinya membara untuk mempelajari semuawarisan adiluhung itu..


"nak, apa kau mendengarku...?"


suara Ki Mudra membuyarkan lamunan Hanuraga..


"maaf mahaguru aku sedikit kaget mendengar warisan warisan perguruan ini.."


"hahaha sudahlah jangan dipikirkan, nanti kau juga akan mempelajarinya, warisan ini adalah peninggalan mahayogi KI SULING beliau yang menciptakan semua jurus dan ilmu ilmu yang mahadasyat ini, dan telah diwariskan turun temurun kepada yang berjodoh, aku adalah generasi kedua, adapun mahaguru pertama bernama Wiku Dharmo, beliau dari daratan jambhu dwipa atau india yang diangkat murid sekaligus sesepuh pertama oleh mahaguru Ki Suling.."


ada rasa bangga dalam diri Hanuraga ia berjodoh untuk mempelajari ilmu yang adiluhung ini, namun ada sedikit rasa penasaran yang masih mengganjal hatinya, kedua mahaguru kembar didepannya tampak masih muda dan bugar sedangkan banyak murid atau tetua yang nampak lebih tua darinya..


"apa ada sesuatu yang menganggu pikirannmu nak, ??"


"eh maaf guru aku ...."


"katakan saja nak, kami akan menjawab apa yang ingin kau tahu..."


"guru, aku sedikit heran kenapa murid guru tampak lebih tua dari guru, walau banyak juga yang berusia muda?"


Ki Madra dan Ki Mudra terdiam memandang muridnya, namun akhirnya Ki Mudra memberitahu muridnya akan apa sebenarnya yang terjadi pada dia dan adiknya..

__ADS_1


"dulu ketika masih dibawah mimbingan mahaguru Wiku Dharmo, kami berdua mempelajari kitab yang hanya dapat dipelajari dan dilatih oleh orang kembar yang sehati, ilmu itu hanya dapat dipakai satu kali, dan itu menukar roh kami berdua, bisa dikatakan kami berdua abadi..."


Hanuraga tercengan mendengarkan penuturan gurunya, namun ada rasa bangga menjadi murid langsung dari dua Maha Yogi kerbar yang maha sakti itu..


"nak hari ini kau ku latih memperdalam dan merasakan tenaga dalam, kau akan dibimbing adik ku.."


"baik guru, aku sudah siap menerima ajaran mahaguru,.."


Hanuraga pun mengikuti kemana Ki Madra membawanya...


sampai ditebing yang tinggi Ki Madra menyuruh hanuraga menggantung dengan kedua kaki dan kepala menghadap kebawah..


berkali kali Hanuraga mencoba dan bertahan beberapa jam dan kembali turun, namun setelah sekian kalinya akhirnya hanuraga mampu bertahan dan menggantung seperti kalong, ..


Ki Madra tersenyum melihat muridnya, dan berpesan agar fokus sebelum meninggalkan nya..


Hanuraga terus berusaha memfokuskan pikiran dan menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh dari pohon..


tak terasa dua hari berlalu, Hanuraga tampak masih menggantung diatas pohon, pikirannya larut dalam semedi dan merasakan hawa hangat yang mengalir keseluruh tubuhnya, merasakan alam dan menjernihkan pikirannya, semakin larut dalam semedinya Hanuraga semakin merasakan kekuatan alam yang mengalir kesetiap inci tubuhnya...


berbulan bulan sudah berlalu semenjak Hanuraga menggantung diatas pohon, kini Ki Madra datang dan membangunkan Hanuraga dari semedinya,..


"nak bangunlah, kau sudah berhasil dan kini kau akan berlatih ketahap selanjutnya.."


Hanuraga membuka matanya dan melompat turun menhadap gurunya..


"kau sudah hampir 9 bulan mengantung disana nak,,, jawab hanuraga sambil tersenyum.."


"apa...!!!"


Hanuraga kaget karena dia hanya merasa melewati beberapa hari saja diatas pohon..


"hari ini kau istirahat lah nak, besok kau akan mulai latihan yang berikutnya.."


"baik guru, Hanuraga memberi hormat dan mengikuti Ki Madra kembali kepondoknya...."


***


jauh di suatu desa yang cukup ramai, kehidupan masayarakat nampak menggeliat, banyak pendatang dari desa desa kecil mengunjungi desa tersebut untuk mencoba mendaftar sebagai prajurit, namun banyak juga yang datang untuk menciba peruntungan dengan berdagang memampaatkan situasi yang ramai...


nampak dilapak yang menjual makanan tradisional sepasang suami istri sedang bercincang..


"nyam nyam nyam andai saja nyam nyam anak kita nyam nyam..."


"habiskan dulu ubi rebusmu bli baru bicara, huh.."


Kerti sedikit marah melihat tingkah suaminya berbicara saat mulut dipenuhi makanan..

__ADS_1


"huk eeem.. maaf aku terlalu semangat..


andai putra kita ikut mencoba peruntungan mungkin dia akan lolos dan menjadi prajurit yang gagah.."


"bagaimana bisa bli, anak kita belum cukup umur untuk bisa masuk sebagai prajurit.."


"hah kau tak tau saja, kalau yang dibawah umur akan dilatih dulu, seperti memasuki perguruan silat, dan setelah cukup umur akan dijadikan prajurit kerajaan.."


"ooh jadi begitu, yah semoga saja Hanuraga dalam keadaan baik, itu saja sudah membuatku senang, kalau jadi prajurit dia bisa dalam bahaya.."


"kau ini terlalu mengkhawatirkan semuanya, bahkan aku kau larang dulu saat ingin mendaftar.."


"yasudah mari kita berkeliling, aku ingin melihat lihat.."


"lalu bagaimana dengan buah hasil kebun yang akan kita jual bli?"


"Hem yasudah kau jual saja, aku mau melihat sabung ayam hehehe..."


"huh kau ini bli, yasudah hati hati dan jangan ikutan berjudi..."


"baik baik, aku mengerti hahaha...."


***


saat pagi menyingsing, dan sinar sang surya mulai menghangatkan menerpa puncak barat Watu Karu, tampak Hanuraga sudah siap menemui kedua gurunya untuk memulai latihan berikutnya..


"hormat murid mahaguru.."


Hanuraga menangkupkan tangan menyapa kedua gurunya yang duduk dengan tenang menghadap ke barat..


"selamat pagi nak, hari ini aku akan melatih mu, apakah kau sudah siap??"


"aku sudah sangat siap guru.."


"bagus, aku suka semangatmu, ayo ikuti aku.."


Ki Mudra membawa Hanuraga kesuatu tempat yang sedikit lapang, banyak semak belukar tanpa adanya pohon yang tinggi..


"nak sekarang kau harus melakukan segala sesuatu dengan merayap seperti hewan melat selama seratus delapan hari.."


Hanuraga sedikit terkejut namun ia tetap akan menjalaninya dengan semangat..


"baik guru, aku akan melakukannya.."


"fokuslah, serap kekuata alam melalui tanah.."


Hanuraga mulai merangkak dan dia akan berjuang untuk tidak berdiri selama waktu yang diberikan oleh gurunya..

__ADS_1


__ADS_2