
Malam semakin larut, hawa dingin mulai menusuk tulang, kabut mulai membatasi pengelihatan, begitu hening, seakan sesuatu akan segera terjadi, para penumpang kapal tampak biasa saja, mereka merasa cuaca cukup bersahabat malam ini
" Wara, pergilah berkeliling kau amati semua penumpang, jika sudah ada tandanya segera laporkan padaku"
"baik ketua, aku mohon diri'
Laksono hanya membalas dengan anggukan, dia yakin malam ini akan kembali menangkap mangsa besar, bahkan lebih besar dari perompakan yg pernah ia lakukan selama ini,
itu karena sebagian besar penumpang merupakan pedagang dan saudagar kaya yang dikawal pendekar yang kemampuannya jauh dibawah anak buah Laksono.
saat sedang berkeliling, Wara melihat sudah hampir semua penumpang merasakan efek racun pe lemah tenaga yang dia sebar di maknan dan minuman
"kakang sepertinya kita malam ini akan panen besar, lihatlah tampang pendekar pengawal itu hahaha"
"pelan kan suaramu Sunu, ayo kita kembali dan kita laporkan pada ketua"
"baik kakang, bagaimana kalau kita lewat sebelah kapal, aku ingin melihat situasi di sana juga"
"baik ayo cepatlah, aku sudah tak sabar, hehehe"
"ah kau ini kakang, aku tau apa yang kau pikirkan, setidaknya sisakan satu putri pedagang itu satu untuk ku"
"hahaha, baik baik Sunu kau memang bawahan ku yang paling tau pikiran ku, kau tenang saja"
saat mereka melintas didepan kapal yang sepi, mereka melihat seorang pemuda yang tengah tiduran sambil melihat bintang di atas langit malam
"Hem , anak muda apa yang kau lakukan disini?"
Hanuraga hanya melihat sepintas lalu menjawab sekenanya
"aku sedang beristirahat paman,"
"kakang sepertinya selain mabuk pemuda ini terlalu banyak minum tuak yang sudah kita racun"
"sepertinya begitu, ayo kita biarkan saja, kita laporkan dulu pada ketua"
Wara dan Sunu segera kembali untuk melaporkan semuanya
"ketua, tuan Wara ingin menghadap"
"suruh dia masuk"
"baik ketua"
"Hem, Wara sepertinya kau menemukan mangsa besar malam ini"
"benar ketua, bagaimana ketua bisa tahu?"
"kau sudah lama mengikuti ku Wara, raut mukamu tampak bersemangat, sepertinya putri saudagar dan pedagang itu cukup cantik sampai kau bersemangat"
"hahaha kau benar ketua, malam ini kita akan berpesta besar"
"baiklah kalau begitu kalian bisa bergerak sekarang, ayo kita ambil harta kita, hahaha"
"baik ketua"
saking semangatnya anak buah Laksono, mereka segera berhamburan untuk mengumpulkan para penumpang,
namun ada sepasang pendekar bersaudara yang tak terkena racun.
"kakang windu, sepertinya kecurigaan ku pada orang orang yang mengaku pendekar aliran putih itu benar,"
"betul katamu Dimas, aku juga merasakan hal yang sama, gerak gerik mereka sangat mencurigakan, sebaiknya kita ..........."
__ADS_1
Bruak
"cepat keluar atau kalian akan kami kirim ke neraka"
Windu dan Dimas menurut dan mengikuti untuk melihat situasi...
saat mereka sampai, sudah ada banyak orang berkumpul, termasuk para pendekar bayaran serta pra pengawal bangsawan duduk menjadi satu,.
mereka hanya bisa pasrah saat dikumpulkan, karena mereka sama sekali tidak bisa mengeluarkan tenaga dalam.
" hei kalian berdua cepat duduk dibarisan para pecundang ini"
"cuih , kalian para perompak mengaku sebagai pendekar lurus, sangat memalukan"
"benar Dimas, sekumpulan perompak seperti kalian harus segera kami musnahkan"
wara menyeringai menanggapi ejekan dua orang didepannya, sambil menggelengkan kepala ia mendekati dua orang itu.
"sepertinya ada dua pahlawan kesiangan malam ini, jadi ...."
"hahaha , apakah kau pemimpinnya, sangat memalukan dan bodoh, jelas ini sudah malam kau bilang siang"
seketika wajah Wara merah padam, namun ia menghembuskan nafas menahan emosi, ia ingin sedikit bermain dengan dua orang ini
"sepertinya ada dua tikus yang luput dari racun penghambat tenaga, anak anak silahkan kalian bermain sepuasnya pada dua tikus ini"
Windu dan Dimas dikelilingi belasan bawahan Wara, mereka semua mengacungkan senjata ke depan dan menatap bengis dua pendekar didepannya
"bersiaplah kakang, kita akan habisi mereka semua"
"baiklah, mari kita berjuang"
dua saudara se perguruan itu mencabut masing masing pisau kembar dari balik pakaiannya, dan segera memasang kuda kuda kokoh menandakan sip bertarung.
di depan kapal
"sepertinya aku akan ke sana melihat apa yang terjadi"
dalam sekejap Hanuraga sampai dan berjalan dengan santai menghampiri salah satu bangsawan yg duduk, Hanuraga melihat ratusan orang terduduk dengan wajah pasrah.
"maaf tuan, kenapa anda tidak melawan, bukankah anda dikawal beberapa pendekar?"
"ah anak muda kau membuatku terkejut, bagaimana kami bisa melawan, kami semua diracun entah dengan apa, lihatlah pengawal ku, bahkan untuk membela diri saja dia tak mampu"
Hanuraga mengangkat sebelah alisnya melihat pengawal bangsawan yang mukanya babak belur hampir tak bisa dikenali, mereka meringis memegangi muka yang tampak seperti habis disengat lebah.
"heh kau anak muda cepat duduk"
Wara yang melihat Hanuraga berdiri memperhatikan para anak buahnya membentak Hanuraga.
"aku ingin menyaksikan pertarungan berat sebelah ini tuan"
Hanuraga menjawab tanpa menoleh kearah Wara, hal itu membuat wara marah dan hampir menyerang Hanuraga, namun dihalangi.
"biarkan saja dulu kakang, setelah menghabisi dua tikus itu, kita akan ku liti tikus muda itu"
"huh baiklah Cungkring terserah kau saja"
tampak dua pendekar yang dikeroyok bawahan Wara sudah mulai kewalahan, beberapa luka sudah menghiasi di sekujur tubuh mereka, bukan lagi belasan orang, tapi hampir 30 orang mengeroyok dua pendekar bersaudara itu..
baru saja Wara menikmati menonton dua pendekar yang dikeroyok, ekor matanya melihat Hanuraga berjalan mendekati pertarungan.
"dasar Curug, mengganggu saja, kalian hentikan dulu menghajar dua tikus itu"
__ADS_1
Wara geram melihat Hanuraga yang berjalan santai seolah menganggap dirinya tak ada.
Hanuraga mendekati Windu, ia memapah pendekar itu sambil tersenyum ramah, tampak Windu lebih parah dari adik seperguruannya, .
"anak muda, sebaiknya kau diam saja di sana, mereka sangat licik, aku khawatir kau akan segera dibunuh, kami saja tak sanggup menghadapi mereka yang keroyokan"
"tenang paman, istirahatlah dulu, biar aku selesaikan sebentar,"
Hanuraga memapah Windu menuju pojokan di ikuti Dimas, dengan wajah bingung mereka hendak bertanya, namun tatapan tegas Hanuraga membuat mereka berdua bungkam.
"apakah kalian tidak malu mengeroyok seperti ini, oh aku lupa, perompak seperti kalian tak akan menjunjung nilai ksatria, sungguh memalukan"
"tutup mulutmu bocah, aku sendiri akan merobek robek mulutmu dan meminum darahmu, tikus sepertimu berani menghina kawanan macan, hahaha"
sekitar dua ratusan orang berdiri dibelakang Wara, menatap Hanuraga dengan kasihan,.
"Hem, sepertinya semua anak buahnya sudah datang, lalu dimana ketua mu, apakah dia sedang bersembunyi?
"beraninya kau...."
"hahaha aku disini nak, tak ku sangka kau tak terkena racun, padahal kau meminum sendiri minuman yang kuberikan padamu"
saat setelah suara tawa berhenti, Laksono melompat dan mendarat dengan mulus didepan Wara, .
"haru ini merupakan hari sial bagimu nak, andai kau diam saja dan tak ikut campur, mungkin aku bisa melepaskan mu"
"heh......"
Laksono terpancing emosinya saat melihat Hanuraga tak menanggapi apa yang di katakan, anak muda itu malah membantu kakek tua untuk berdiri dan memapahnya kesamping.
"Wara, kau habisi pemuda itu, maka kau bisa sepuasnya mengambil gadis gadis itu"
"baik ketua, akan ku cincang tubuhnya"
Wara melompat dan melayangkan pukulan berselimut tenaga dalam ke arah Hanuraga yang masih memapah kakek tua itu,.
"dasar tak sabar, hiyaat "
Hanuraga menahan pukulan Wara dengan tangan kosong, Wara sangat kaget, namun dia lengah, serangan tapak sudah mendarat di dadanya.
Bhuag
"Akh "
Wara terlempar dan jatuh tepat di kaki Laksono.
"ke...ketua d...dia.... Huk Huk...."
Wara tak sanggup lagi berdiri, dia bersandar sambil memegangi dadanya ..
Laksono cukup terkejut, pemuda didepannya ternyata bukan orang sembarangan.
"kalian semua mundur lah"
Laksono menatap tajam Hanuraga, dan melepaskan aura yang mencekam,
wussh .....
"bersiaplah nak"
Laksono melompat dan mengarahkan tapak yang terlihat membara ke arah Hanuraga.
"Ajian Geni Anglayang"
__ADS_1
"Hiyaaaat"
.............