Ksatria Suling Gading

Ksatria Suling Gading
Siluman Penguasa Hutan


__ADS_3

Hanuraga terus melangkahkan kakinya memasuki hutan, berbagai jenis binatang ditemui, kadang ada beberapa hewan buas yang mendekat namun hanya merasakan aura dari hanuraga binatang buas itu segera pergi menjauh....


semakin kedalam hutan semakin lebat, bahkan sinar matahari tidak menembus karena rimbunnya pepohonan yang menjulang tinggi...


hutan ini benar benar tidak terjamah manusia, bahkan jalan pun sangat sulit karena tebalnya semak belukar...


hanuraga melompat dari pohon ke pohon, semakin masuk kedalam dan mendekati sumber energi yang ia rasakan,..


"sepertinya sudah semakin dekat, aku dapat merasakan tekanan energi yang semakin kuat.."


Hanuraga bergumam dalam hati sambil memandangi sekitarnya..


tiba di suatu tempat yang sedikit lapang diantara sebuah tebing, Hanuraga melompat dan menemukan sebuah goa,..


"sepertinya energi itu berasal dari dalam goa ini..


akan ku periksa.."


Hanuraga melangkah masuk, semakin dalam semakin kuat tekanan energi yang dirasakan..


saat sampai didalam ada seperti ruangan kecil, di sana tampak seseorang yang duduk bermeditasi, tubuhnya sampai dililit tanaman merambat..


Hanuraga memperhatikan orang tua itu, sepertinya beliau masih hidup dan sedang bermeditasi..


dari energi yang dirasakan sepertinya pertapa ini dari aliran putih, sebaiknya aku tak mengganggu dan segera pergi..


baru saja hanuraga hendak berbalik, orang tua itu membuka matanya menatap hanuraga..


"apa gerangan yang membuatmu sampai ketempat ku mengasingkan diri anak muda.."


"maaf sudah mengganggu tapa Brata mu tetua, aku sampai disini karena merasakan energi yang terpancar sampai ke pinggiran hutan..."


"hemmmm.........


sepertinya kau lumayan mumpuni anak muda, jangankan manusia, binatang buas tak akan berani mendekat kesini apalagi sampai masuk kehadapan ku..


apa tujuanmu kesini, kalau kau hendak berguru padaku maaf saja aku tidak menerima murid, kau bisa pergi dari sini.."


"aku datang kesini hanya karena rasa penasaranku akan energi yang lumayan kuat terpancar sampai jauh, aku tidak bermaksud mencari guru..."


"OHH hahaha apakah kau merasa begitu hebat dan sakti anak muda sampai kau merasa tidak perlu mencari guru lagi..


sepertinya kau berasal dari perguruan tertentu melihat dari jubah yang kau kenakan itu dan juga........"


orang tua itu sedikit melotot melihat seruling yang tergantung di pinggang hanuraga..


"juga apa tetua, kenapa anda berhenti?"


"a...apakah kau dari bali dwipa?"


"benar tetua, kenapa anda bisa menebak asal ku, apakah tetua juga bisa meramal?"


pertapa tua itu sedikit berkeringat dingin, saat ia menatap mata hanuraga seketika punggungnya terasa dingin..

__ADS_1


"apa hubunganmu dengan kedua pendekar kembar dari Watukaru, ???"


"beliau berdua adalah guruku tetua, apakah tetua mengenal beliau?"


"lalu seruling itu, kenapa kau membawanya?"


Hanuraga mengerutkan dahi, karena pertanyaannya tak dijawab, merasa aneh dengan itu, hanuraga hanya menjawab tanpa bertanya..


"seruling ini diwariskan padaku oleh kedua guruku.."


perlahan lahan pertapa tua itu mundur, tampak ketakutan tersirat di mukanya, matanya menatap hanuraga seperti melihat iblis kematian


"maaf tetua kenapa anda seperti ketakutan, aku bukanlah orang jahat.."


"benarkah kau kesini hanya lewat, dan bukan kesini ingin membunuhku?"


"tentu saja aku hanya lewat, aku tidak mengenal anda tetua, mohon penjelasannya..."


akhirnya pertapa itu menjelaskan kenapa ia sangat takut saat mengetahui hanuraga murid dari ki Mudra dan ki Madra..


"ketahuilah nak, dulu saat aku masih muda, aku begitu dihormati sebagai pendekar pilih tanding dimasa jaya ku, karena itulah aku terlena dan menjadi orang yang angkuh, tanpa kusadari aku tersesat kejalan yang salah, aku tanpa rasa berdosa begitu mudahnya membunuh orang, banyak perguruan yang menentang ku, namun mereka semua hampir dapat aku kalahkan, saat aku berada dipinggir hutan ini, aku bertemu kedua gurumu, aku bertarung melawan salah satu dari gurumu, mereka begitu sakti, tak ku sangka aku dikalahkan dengan mudah, sampai kedua kakiku terluka parah dan hampir lumpuh, bahkan kau bisa melihat sekarang kondisi kakiku ini..."


Hanuraga memperhatikan kedua kaki pertapa itu, ia prihatin melihat kondisinya..


"lalu apa yang terjadi selanjutnya tetua?"


"mereka memberikan aku kesempatan kedua, aku tersadarkan akan apa yang aku perbuat selama ini, makanya aku mengasingkan diri dalam goa ini.."


Hanuraga merasakan niat tulus dari pertapa tua itu, melihat sorot matanya yang penuh dengan penyesalan..


"apa yang kau lakukan a....."


ucapan pertapa itu terhenti saat ia merasakan aliran energi memasuki kedua kakinya, perlahan kakinya kembali sembuh..


"tetua, aku juga memberimu kesempatan merubah dan menebus perbuatan mu dulu, jika kau masih dijalan salah suatu saat kita akan bertemu dalam situasi yang berbeda...."


pertapa itu tertegun dan mengucapkan terimakasih dengan tulus..


tanpa berkata lagi Hanuraga segera keluar goa dan kembali memasuki hutan larangan...


saat tiba di suatu tempat yang tidak ditumbuhi pohon, hanuraga merasa ada lesatan energi mengarah padanya, hanuraga segera melompat..


duarrr.....


tempatnya berpijak meledak menerbangkan debu dan bebatuan...


"siapa yang menyerang, aku tak merasakan kehadiran seseorang disini.."


saat Hanuraga masih mengamati sekitar sambil berpikir, kembali lesatan energi mengarah padanya dari arah depan..


Hanuraga juga melepaskan pukulan tenaga dalam, dua energi berbenturan menimbulkan ledakan cukup keras....


"hahahaha....

__ADS_1


lumayan manusia...


tak ku sangka ada manusia yang cukup mumpuni berani datang ketempat ku.."


suara tawa serak menggelegar namun tak terlihat seorangpun..


Hanuraga merasakan sesuatu berada dibalik pohon yang sangat besar sedang mengawasinya..


"keluarlah, jika tidak aku akan mengeluarkan mu dengan paksa..."


"oh begitu, cobalah kalau kau bisa.."


suara itu menantang Hanuraga...


Hanuraga melepaskan pukulan tenaga dalam kearah pohon yang sangat besar..


se larik cahaya segera menghantam pohon itu sampai roboh..


sebelum pohon itu hancur, sekelebat bayangan hitam melesat keluar..


"Cih ternyata kau mengetahui keberadaan ku anak manusia, aku terlalu meremehkan mu hahaha tapi kau bukanlah tandingan ku..


katakan padaku, apa tujuanmu memasuki daerah kekuasaan ku..."


Hanuraga memandangi mahluk tinggi besar, seluruh badannya hitam legam dengan rambut terurai panjang dan taring yang mencuat diantara bibirnya...


"aku kesini hanya melintas saja..


hanuraga menjawab sekenanya.."


"jangan berbohong padaku manusia, pasti kau menginginkan sesuatu yang ada disini..."


"aku sudah bilang padamu, aku hanya lewat ke desa sebelah, aku sedang mengembara dan hendak menuju tegaldlimo..."


melihat tak ada kebohongan dari sorot mata Hanuraga lelembut yang bernama Tejasura itu memperlihatkan sebuah pusaka yang banyak di incar oleh para pendekar...


"kenapa kau mengeluarkan sebuah keris, aku hanya meminta lewat bukan keris..."


hanuraga sedikit jengkel dengan tingkah Tejasura..


"hehhhh...... bagaimana dengan ini,"


Tejasura kembali memperlihatkan sebuah mustika seukuran kepalan tangan anak kecil dan mengeluarkan cahaya redup ....


"aku semakin bingung denganmu hantu, aku hendak lewat dan kau menyerang ku, kini kau seperti seorang pedagang saja.."


"hah.... aku bukan hantu, aku ini raja lelembut disini bocah manusia..."


"lalu apa tujuanmu memperlihatkan benda itu, aku tidak tertarik sama sekali..."


"aku hanya menguji mu saja, kau sepertinya orang yang sudah mumpuni dan begitu digdaya akan ilmu kanuragan, baiklah jika kau hanya lewat silahkan, semua bangsa lelembut disini tak akan mengganggumu, namun jangan kau berbuat sembarangan..."


"tentu saja, aku bukanlah orang yang gila akan benda seperti tadi, terimakasih sudah mengijinkan aku lewat..."

__ADS_1


Hanuraga segera melesat kembali meninggalkan hutan larangan...


Tejasura masih berdiri ditempatnya, baru kali ini ia melihat manusia yang tak tertarik dengan benda benda pusaka dan mustika yang dijaganya, setelah sekian lama Tejasura menghilang entah kemana......


__ADS_2