Ksatria Suling Gading

Ksatria Suling Gading
Kaki gunung watukaru


__ADS_3

Pagi hari yang sejuk sedikit berkabut terlihat seorang anak kecil sedang membantu ayahnya mengumpulkan kayu bakar, sudah 8 tahun sejak peperangan di tanah Jawa Dwipa berlalu..


"Hanuraga"


"ia ayah aku masih mengikat kayu bakar, ada apa ayah?"


"nak kau terlalu banyak mengikat kayu, apa kau mampu memikul nya?"


"tak apa ayah hehe, aku sudah bisa mengangkatnya ayah, ayah tenang saja.."


"jangan memaksakan dirimu nak, nanti kau kelelahan dan aku yang dimarahi ibumu, kau duluan saja nak ayah masih mau melihat jebakan yang kita pasang kemarin, mudahan ada babi atau kijang yang terperangkap.."


"baik ayah, berhati hatilah aku akan menunggu di rumah,.."


pagi itu Kerti baru saja selesai menanak nasi, dia masih ingat dan selalu terbayang apakah anaknya akan dijemput tetua dari puncak barat, bagaimanapun kerti sangat menyayangi hanuraga, dia sudah menganggap hanuraga sebagai anak kandungnya sendiri, karena sejak menikahi suaminya ketut retus mereka belum memperoleh keturunan..


"ibu... aku sudah pulang..."


suara hanuraga membuyarkan lamunan kerti dan segera menyambut anak kesayangannya..


"nak kau sudah pulang, kenapa kau sendirian, ayahmu dimana?" sahut kerti sedikit khawatir..


"tenanglah bu, kemarin aku dan ayah memasang perangkap babi dan kijang siapa tau ada yang kena hehe..."


"kau ini nak, ayahmu sudah mengajarimu memasang jebakan hewan ya, bukannya ibu menyuruh ayahmu mengajari menanam padi gaga ?"


"hemmm anu bu, kemarin ayah sudah mau mengajakku ketempat menanam padi gaga, karena hujan deras kami berteduh di gubuk yang dibuat ayah, sambil menunggu hujan reda ayah mengajariku cara membuat jebakan hewan.."


"baiklah kita tunggu ayahmu pulang dulu, nanti kita makan bersama, ada sesuatu hal yang mau kami sampaikan padamu nak, sekarang beristirahatlah dulu.."


"baik bu, aku permisi dulu.."


menjelang sore Retus pulang membawa se ekor babi hutan dan beberapa ikat kayu bakar, tubuh kurusnya terlihat masih kuat memikul beban yang dibawanya...


"nyai bantu aku,," suara Retus terdengar diluar rumah sederhana mereka..


"ah bli sudah pulang, mari aku bantu memindahkan kayu bakar, bli langsung saja potong babi hutannya.."


"iya, ambilkan aku minum dulu nyi, oh ya panggilkan juga anak kita aku mau mengolah hasil buruan ini bersamanya.."


"baik bli, tunggulah sebentar..."


***

__ADS_1


malam hari


"nak mari makan, ayahmu sudah menunggu, ayo kita makan bersama..."


"baik bu, aku segera ke sana aku baru habis mandi bu.."


"baiklah jangan lama, ada sesuatu yang ingin kami bicarakan denganmu nak.."


malam itu suasana tenang dan damai, penuh canda dan kegembiraan dimeja makan, tampak kesederhanaan yang sangat damai menghiasi keluarga kecil tersebut, namun suasana berubah menjadi tegang saat Retus mulai berbicara serius, bahkan raut wajah kerti tampak sedih..


"nak, malam ini kami ingin memberi tahukan sesuatu padamu, ini menyangkut asal usul mu.."


"maksud ayah??" tampak hanuraga kebingungan dengan wajah polosnya..


"aku dan ibumu..." suara Retus tertahan, bahkan air mata mulai menetes di wajah kerti..


"katakan ayah, ada apa sebenarnya.."


Retus menarik nafas panjang sebelum kembali berbicara..


"nak, kami ingin memberitahumu, kami hanya mengemban tugas nak.."


"tugas? maksud ayah?"


Retus seperti enggan melanjutkan perkataannya, bagaimanapun hanuraga yang ia rawat sejak kecil sangat ia sayangi....


"jangan bercanda ayah, jika ayah dan ibu bukan orang tua kandungku lalu siapa lagi,?"


"nak kami memang bukan orang tua kandungmu," lanjut kerti sambil menatap wajah bingung anak angkatnya..


"kamu dibawa kesini oleh seseorang, dan menitipkan pada kami untuk merawat mu seperti anak sendiri walaupun kami tidak memiliki keturunan nak,,," tampak Kerti mulai terisak menahan sedih..


"nak orang yang menitipkan mu juga memberikan benda ini padamu, dan menyuruhku memberikannya jika saat kau berumur 8 tahun,"


Retus melanjutkan katanya sambil menyerahkan sebuah bungkusan pada hanuraga,...


"ayah, ibu apa ini, kalian jangan bercanda, walaupun benar aku bukan anak kandung kalian rasa cinta kasih sayangku tak akan pernah berkurang,,,.."


Hanuraga tampak menerima bungkusan berwarna kuning dengan penasaran, dalam benaknya pun bertanya, apa gerangan yang dibungkus ini, terasa sangat ringan saat ku pegang......


"bukalah nak," suara retus membuyarkan lamunan hanuraga...


ketika hanuraga membuka bungkusan itu dengan perlahan, tampak sebuah seruling dari bambu sepanjang tiga jengkal tangan...

__ADS_1


"ayah kenapa aku dititipkan seruling ini? dan siapa orang yang menitipkan aku pada kalian beserta seruling ini?" tanya hanuraga penasaran bahkan merasa tidak mungkin sebab ia sangat menyayangi kedua orang dihadapannya...


"kami juga tidak tau nak, mereka sepasang saudara kembar, sepertinya seorang pendekar,"


jawab retus membuat anaknya kaget,


"kami hanya diberitahu itu saja, dan kelak kau akan bertemu dengannya, dimana, kapan dan bagaimana caranya kami tak tahu nak..."


hanuraga hanya terdiam mendapati jawaban dari ayahnya,,


"baiklah nak tak usah terlalu kau pikirkan, aku dan ibumu tak pernah menganggap kau anak titipan atau semacamnya, bagi kami kau tetaplah putra kami,"


retus memegang pundak hanuraga membuat hatinya kembali tenang..


"sekarang istirahatlah, hari sudah larut nak," kerti memecah lamunan kedua orang didepannya..


"baik bu, ayah, aku mohon diri,"


setelah hormat pada kedua orangtuanya hanuraga kembali kekamarnya, merebahkan diri di dipan sederhana beralaskan tikar, dinginnya malam yang menerobos lewat gedek bambu sedikitpun tak mengusik hanuraga, karena pikirannya dipenuhi pertanyaan dan hidupnya merasa penuh misteri setelah apa yang disampaikan kedua orang tuanya tadi, ..


karena larut dalam pikiran tanpa sadar hanuraga sampai tertidur karena lelah sendiri dengan pikirannya....


pagi hari yang masih sejuk walaupun mentari sudah mulai meninggi ditimur, hanuraga sudah tampak duduk termenung sambil melihat seruling yang dipegangnnya...


"suamiku, apakah tak apa membiarkan anak kita sendirian sampai bengong begitu?"


"tak apa nyai, biarkan saja mungkin dia juga butuh sendiri, diumur yang semuda itu sikapnya cukup bijak dan dewasa, aku yakin kelak dia akan menjadi orang besar..."


"aku akan kekebun sambil mecari kayu bakar, kau awasi saja anak kita.."


"baik bli, aku akan kedapur dulu, bli hati hatilah..."


semenjak hanuraga diberikan seruling itu pada kedua orangtuanya, hatinya selalu bingung, ada rasa ingin mengetahui akan siapa yang menitipkan dirinya beserta seruling itu, namun siapa lagi yang akan ditanya, sebab kedua orang tua angkatnya pun tak mengetahui identitas dua orang yang dimaksud...


"kemana aku harus mencari, kepada siapa aku harus bertanya? Oh Dewata tunjjukkanlah kemurahan hatimu.."


setiap hanuraga duduk dihalaman rumahnya sambil menghadap gunung, ia selalu memiliki perasaan ingin naik keatas, namun selalu dilarang kedua orangtuanya...


setelah Retus sampai di rumah dan disambut istrinya, kerti pun menyampaikan kekhawaturan terhadap putranya..


"bli, semenjak kita memberikan seruling itu padanya anak itu selain melamun kadang selalu meminta ingin naik ke watukaru, namun aku selalu melarangnya bli...."


"aku akan bicara padanya nanti nyi, sekarang biarkan saja dulu, mungkin dia hanya ingin menghilangkan kebimbangan hatinya...."

__ADS_1


namun dalam hati retus berpikir apakah sudah waktunya nak kau akan keatas watukaru .......


__ADS_2