Ku Tikung Dia di Sepertiga Malam

Ku Tikung Dia di Sepertiga Malam
Part 12 | Alhamdulillah


__ADS_3

"Seseorang pernah bilang padaku, cinta yang dipendam itu seperti bom waktu. Menunggu untuk dihentikan paksa atau meledak dengan sendirinya dan berkahir menyakitkan. Melukai orang lain dan pastinya diri sendiri."


~Cintadanrahasia~


♡♡♡


Ditengah asiknya Zihan dan Zahra saling bercerita tiba-tiba Windi datang menghampiri keduanya, lebih tepatnya menghampiri sang putri.


"Apa, Bun?" tanya Zihan setelah sang bunda ikut duduk disebelahnya.


"Ikut bunda yuk," ajaknya.


"Kemana?" tanya zihan.


"Udah ikut aja nanti juga tau," ajaknya lagi.


Zihan melirik ke arah Zahra, "Zahra?"


"Udah enggak papa yuk, Ra ikut aja," tutur Windi.


"Gak papa, Han gue juga mau cabut kok ada urusan. Maaf, Tan aku gak bisa," tolak Zahra.


"Bener nih gak mau ikut?" tanya Zihan memastikan.


Zahra mengangguk, "Iya, Zahra pamit pulang dulu, assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam Warahmatullahi wabarokatuh," jawab Zihan dan Windi berbarengan.


♡♡♡


Windi mengajak Zihan pergi ke sebuah tempat yang mampu membuat, ia merasa heran aneh dan kebingungan. Pasalnya untuk apa sang bunda mengajak ia ke butik yang menjual banyak baju kebaya pernikahan?


"Ayo masuk malah bengong disini!" ujarnya yang menarik lengan Zihan memasuki butik.


"Mau ngapain kesini, Bun?" tanya Zihan penasaran sekaligus bingung.


"Udah kamu duduk dulu disini bunda mau ketemu sama yang punya butik dulu," titahnya, Zihan hanya bisa menuruti titah bundanya, dia duduk di salah satu sofa panjang yang memang disediakan di butik ini.


"Ini toh anaknya cantik yah," ucap seseorang yang datang bersamaan dengan sang bunda.


Zihan hanya tersenyum tipis mendengar pujian yang terdengar sangat berlebihan ditelinganya itu.


"Kok sendirian mana calonnya?" tanyanya celingukkan, dan pertanyaan itu sukses membuat Zihan mematung tak mengerti.


'Calon?' batinnya tak mengerti dan bertanya-tanya.


"Masih dijalan mungkin bentar lagi nyampe," jawab sang bunda yang membuat Zihan cengo seketika.


"Hah!" pekik Zihan kaget bahkan setengah berteriak.


"Biasa aja kali, Han," ujar bundanya.


'Biasa aja! Hello maksudnya bunda apa coba? Ngajak gue ke butik terus pas datang kesini ditanyain calon, hey calon apaan? Calon gubernur, calon walikota atau calon presiden? Calon apa coba!' Rasanya kepala Zihan ingin meledak seketika memikirkan apa yang baru saja bundanya katakan.


"Udah kamu coba gih sana," titah bundanya searaya menyodorkan sebuah kebaya berwarna putih ke arah Zihan.


"Gak mau!" tolak Zihan.


'Apa-apaan sih tiba-tiba ngajak ke butik terus nyuruh nyoba kebaya, permainan macam apa yang tengah bunda rencanakan' pikirnya sudah berkelana kemana-mana.


"Coba dulu, Han kalau kebesaran atau kekecilan kan bisa di perbaiki lagi," desak seorang perempuan setengah baya yang Zihan yakini sebagai pemilik butik.

__ADS_1


Zihan menarik lengan sang bunda untuk menjauh dari sang pemilik butik.


"Bunda apa-apaan sih tiba-tiba ngajak Zihan kesini terus nyuruh nyoba kebaya pengantin segala. Bunda hallu! yah, Zihan itu gak punya pasangan," cerocos Zihan.


"Kalau bunda mau liat Zihan nikah. Iya nanti Zihan juga bakal nikah, tapi gak sekarang juga kali, Bun! Calonnya juga gak ada mana bisa nikah," lanjut Zihan mengomel tak jelas.


Zihan seperti sudah kehabisan kata-kata setelah mengetahui bahwa ia akan menikah dengan seseorang yang tak pernah ia ketahui wujudnya. Bagaimana mungkin kedua orangtuanya, menerima lamaran tanpa tanpa sepengetahuan dirinya? Lalu bagaimana dengan cintanya yang selama ini ia pendam?


"Zihan gak mau, Bunda," tolak Zihan untuk yang kedua kalinya.


Windi membawa tubuh putri sulungnya kedalam dekapannya. Namun, Zihan berontak tak mau, dia masih belum terima dengan keputusan sepihak kedua oran tuanya.


"Tuh calonnya udah datang," ucap Windi spontan saat retinanya menangkap sosok laki-laki tampan yang tengah berjalan ke arah mereka.


Zihan spontan langsung melepaskan pelukannya dan memutar tubuhnya untuk melihat sosok yang dimaksud sang bunda.


Deg! Jantungnya seperti berhenti mendadak saat melihat sosok yang kini ada dihadapannya. Ia tak bisa berkata-kata apa-apa lagi kerongkongannya tiba-tiba saja kering kerontang, dan itu membuat dia kesulitan untuk berkata-kata.


"Maaf telat," ucapnya yang langsung menyambar tangan Windi untuk disalami.


'Mantu idaman,' batin Windi semringah bahagia.


"Enggak kok," sahut Windi.


Zihan? Ia masih diam mematung dan membeku ditempat, otaknya masih mencerna setiap scen adegan yang baru saja terjadi padanya.


"Ayo, Han fitting baju dulu," ajak Windi menggandeng lengan putrinya sedangkan Zihan, ia hanya bisa mengikuti kemana pun langkah bundanya. Kakinya sudah lemas dan logikanya sulit untu mempercayai apa yang baru saja dialaminya.


Windi menyodorkan Zihan sebuah kebaya berwarna putih yang sangat cantik dan kelihatannya akan sangat cocok untuk dia kenakan.


Entah ada dorongan darimana Zihan melangkahkan kakinya begitu saja ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya.


Tak ada ekspresi apapun yang Zihan berikan atas pujian sang bunda yang sangat hiperbolis itu. Raut wajah datar tanpa ekspresi mewakili suasana hatinya yang kini tak menentu.


'Pokoknya gue harus minta penjelasannya' tekad Zihan dalam hati, dia sudah tidak tahan untuk memberondong kedua orang yang sedari tadi menampilkan senyum bahagianya sedangkan dia hanya bisa memasang wajah datar kebingungan.


♡♡♡


Setelah sampai didepan rumahnya, Zihan keluar begitu saja dari mobil dan masuk kedalam rumah dengan langkah tergesa-gesa tak sabaran. Mendaratkan bokong di sofa empuk miliknya, dengan tangan yang sudah menyilang didepan dada dan jangan lupakan juga wajah datar dan masamnya.


"Jelasin semuanya!' tuntut Zihan setelah kedua makhluk yang membuat dirinya kebingungan tiada tara itu datang menghampirinya.


Mereka hanya terkekeh mendengar ucapan Zihan yang terdengar sangat ngotot dan menuntut dengan ekspresi yang sangat tidak bisa dijelaskan.


"Buruan jelasin!" Nada suara Zihan sudah naik satu oktaf.


Mereka ikut duduk di sofa Windi yang duduk disebelah Zihan, sedangkan laki-laki itu duduk berhadapan dengan Zihan dan Windi.


"Anak bunda lucu banget sih," kekehnya yang sumpah demi apapun membuat kadar kejengkelan dan kekesalan Zihan kian bertambah besar.


"Lucu? Udah deh, Bunda. Zihan perlu penjelasan kalian, bukan basa-basi!" ucap Zihan dingin dengan suara ketusnya.


"Mau minum apa, Nak?" tawar Windi pada sang calon menantu.


"Udah deh, Bun jangan buang-buang waktu, jelasin semuanya sama Zihan sekarang juga!." ucap Zihan keukeuh.


Windi tak menggubris tuntutan sang putri, ia malah pergi melenggang ke dapur untuk membuatkan minuman untuk sang calon menantu.


Zihan mendelik tajam ke arah laki-laki yang ada dihadapannya. "Jelasin semuanya sama gue!"


"Tak perlu penjelasan ataupun alasan untuk menghalalkan seorang gadis pujaannya selain karena Allah," tuturnya yang membuat hati Zihan menghangat. Tapi itu tak bertahan lama, karena dengan cepat logikanya menolak dan menuntut dia untuk melanjutkan sesi introgasinya.

__ADS_1


"Bukan itu yang gue mau denger dari loe," ujar Zihan menuntut lebih penjelasan dari seseorang yang ada dihadapannya. Yang tak lain dan bukan adalah calon suamianya.


"Cukup Allah dan aku yang tau, karena Allah lah aku bisa berada disini," tungkasnya.


"Mau kemana?" tanyanya melihat Zihan pergi melangkahkan kakinya begitu saja.


"Cukup aku dan Allah yang tau, kemana kaki aku melangkah," jawab Zihan menirukan jawaban calon suaminya.


'Aku?' Hatinya menghangat dan berdesir hebat saat sang pujaannya merubah panggilan mereka menjadi --aku kamu--.


Laki-laki itu hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah polah Zihan yang sangat kekanak-kanakan.


"Loh kok sendirian, Zihannya mana?" ujar Windi dengan nampan yang sudah berisi segelas minuman dan beberapa makanan ringan.


"Maklumin aja, Nak mungkin Zihan masih belum bisa menerima semuanya. Masih shock kayanya," lanjutnya seraya memindahkan apa yang dibawanya di atas nampan ke atas meja.


Laki-laki itu mengangguk maklum dan tersenyum. "Yaudah, Tan kalau gitu aku pamit dulu," pamitnya.


"Kok buru-buru banget sih?" sela Windi.


Laki-laki itu tersenyum ramah pada sang calon mertua. "Nanti aku juga bakal tinggal disini, Tan. Sekarang ada urusan mendadak."


Windi mengangguk maklum dan tersenyum.


"Assalamualaikum, Tan," pamitnya seraya mencium punggung tangan Windi.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh," jawab Windi.


♡♡♡


Zihan merebahkan tubuhnya diatas kasur empuk miliknya, menatap langit-langit kamarnya kosong yang menerawang entah kemana.


Pintu kamar Zihan tiba-tiba saja terbuka lebar dan menampilkan sosok sang bunda yang seharian ini membuatnya jengkel dan kesal bukan main.


Dengan cepat Zihan langsung membelakangi sang bunda saat bundanya itu duduk ditepi ranjangnya.


Windi mengusap pucuk kepala Zihan dengan sayang. "Kamu marah sama bunda?"


Zihan tak berniat untuk menyahut ucapan bundanya, ia masih bertahan dengan gemingnya.


"Bukankah dia yang selalu ada dalam doa kamu, lantas kenapa setelah Allah mengabulkan doa kamu. Kamu malah seperti ini?" tanyanya lembut selembut kain sutra.


"Apakah kamu ingat nak kisah Putri Zulaikha yang mengejar-ngejar cinta Nabi Yusuf? Allah malah menjauhkannya, tapi ketika Putri Zulaikha mengejar cinta Allah. Allah dengan begitu mudahnya mendekatkan Putri Zulaikha dengan Nabi Yusuf. Begitulah cara Allah dalam menjodohkan setiap hambanya, bagi Allah sangat mudah untuk membolak-balikkan hati hambanya. Bersyukurlah karena Allah telah mengabulkan doamu," jelas Windi panjang lebar.


"Kamu memang tidak pernah memperlihatkan rasa cinta kamu untuknya tapi kamu berjuang bersama Allah di sepertiga malam-Nya. Kamu tau dia hanyalah seorang hamba yang hatinya berada ditangan Allah maka dari itu kamu memintanya langsung kepada Allah. Bukan mengemis cinta dihadapannya melainkan, dihadapan Allah dan sepertiga malam yang menjadi saksi cinta kamu," lanjutnya.


"Tapi kenapa bunda gak ngomong dulu sama Zihan?" sahut Zihan yang masih betah membelakangi bundanya.


"Bunda kira Zihan udah tau langsung dari orangnya," ucapnya enteng yang mampu membangkitkan tubuh Zihan untuk duduk dan berhadapan dengan Windi.


"Ayah sama Bunda menerimanya, karena kami tau kamu mencintainya," tutur Windi.


Zihan langsung mendekap erat tubuh bundanya, air mata sudah tak bisa ia bendung lagi. "Makasih Bun."


Windi tersenyum dan membalas pelukan putrinya tak kalah erat.


♡♡♡


Setelah melaksanakan sholat malam, Zihan menengadahkan kedua tangannya. Tangisnya kembali pecah tatkala mengingat begitu indah rencana Allah dalam menjodohkannya dengan dia yang sudah lama bertahta di hatinya.


"Ya Allah ya Rohman ya Rohim, Alhamdulillah ya Allah,terimakasih atas semua nikmat yang telah Engkau berikan untukku. Betapa besardan banyak nikmat yang telah Engkau berikan untukku. Rabbana Aatinna fiddun yaahasanah, wa fil aakhirati hasanah, waqina adza ba naar. Allahumaghfirlliiwaliwaalidayya warham humma kamaa rabbana nii shaghiraa. Aamiin AllahumaAamiin." Doanya seraya mengusap permukaan wajah dengan kedua telapak tangannya.

__ADS_1


__ADS_2