Ku Tikung Dia di Sepertiga Malam

Ku Tikung Dia di Sepertiga Malam
Part 16 | Waktu


__ADS_3

"Jam memang bisa dibeli tapi waktu tidak akan pernah bisa. Maka dari itu pergunakanlah waktu dengan sebaik-baiknya. Orang yang beruntung adalah dia yang mampu membagi waktunya."


♡♡♡


Beberapa hari belakangan ini Zihan sibuk bahkan sangat sibuk menekuni pekerjaannya sebagai, pustakawan bahkan tak jarang dia selalu melewatkan santap pagi dan malam bersama dengan sang suami. Bukan karena lalai akan tugasnya sebagai, seorang isteri tapi karena memang pekerjaannya yang menuntut ia untuk selalu pulang larut dan berangkat pagi buta.


Seperti malam ini Gibran lagi-lagi harus menikmati santap malamnya seorang diri. Menikmati makan malamnya hanya dengan semangkuk mie instan. Miris! Pengantin baru yang seharusnya lagi manis-manisnya, tapi tidak dengan Gibran.


"Assalamualaikum Mas," salam Zihan menguar menelusuri rungu Gibran yang masih asik mengaduk-ngaduk mie-nya dengan tak selera.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh," sahut Gibran.


Hati Zihan tersentil! saat melihat lagi lagi dan lagi sang suami memakan mie instan karena kelalaiannya sebagai seorang isteri.


"Maaf Mas," lirihnya mencium punggung tangan sang suami.


"Duduklah," ujar Gibran agar Zihan duduk disampingnya.


"Maaf," ucapnya.


Gibran menggenggam tangan sang isteri, "Udah, gak perlu ada yang dimaafkan."


"Maaf, Mas aku udah gagal menjadi istri yang baik untuk kamu," lirihnya dengan terisak.


Hati Gibran sakit sangat sakit melihat tangisan sang isteri yang begitu menyesali perbuatannya, "Ssstt.. jangan nangis lagi yah," dengan lembut Gibran menghapus buliran bening itu dari mata sang istri.


"Aku gak becus! jadi istri kamu Mas. Aku--"

__ADS_1


"Ssstt, udah jangan ngomong gitu lagi mas ngerti kok," potong Gibran cepat.


Zihan menunduk dalam tak berani menatap manik mata teduh milik sang suami. Ia menyadari bahkan sangat menyadari kesibukan dirinya akhir-akhir ini. Bukan tanpa sebab ataupun alasan, ini semuanya karena pekerjaan yang menuntut dirinya untuk bekerja secara ekstra. Rasanya kepala Zihan ingin pecah memikirkan tugasnya kini. Dan yang paling Zihan sesali adalah kelalaiannya serta keteledorannya terhadap sang suami yang seharusnya kini ia prioritaskan.


"Aku tidak akan melarang kamu untuk bekerja tapi apa boleh aku minta sesuatu hal sama kamu?" tanya Gibran.


Zihan menganggukan kepalanya pasrah atas apapun yang akan diminta oleh sang suami asal jangan menyuruh ia resign dari pekerjaannya sebagai, pustakawan karena itu adalah keinginan dan cita-citanya sedari dulu.


"Mas, hanya meminta sebagian waktu kamu," ujar Gibran. Ia pun seorang suami yang merasa harus diperhatikan dan dilayani oleh istrinya.


Zihan mengangguk, "Insya allah."


Tanpa disangka dan diduga Zihan langsung berhambur memeluk sang suami, "Makasih, Mas."


Gibran tersentak kaget dengan pelukan tiba-tiba yang diberikan oleh sang istri tapi detik berikutnya ia membalas pelukan Zihan seraya menciumi pucuk kepalanya.


الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا


♡♡♡


Berhubung hari ini adalah hari libur waktunya untuk bersantai-santai di rumah bersama dengan keluarga tercinta. Pagi-pagi seusai sholat subuh Zihan langsung berkutat dengan berbagai macam perkakas dapur untuk memasak santap pagi spesial untuk sang suami tercinta.


Zihan tersentak kaget saat merasakan ada sebuah tangan kekar yang menempel apik dipinggang rampingnya, "Mas ngagetin aja sih," tuturnya.


Yang ditegur hanya cengengesan gak jelas dan malah semakin mengeratkan pelukannya seraya menempelkan dagunya di bahu sebelah kanan Zihan, "Akhirnya makan enak lagi pagi ini," kekehnya.


Zihan mematikan kompornya membalik tubuhnya menghadap sang suami menggenggam erat tangan sang suami, "Maafin Zihan, Mas insya Allah mulai hari ini dan seterusnya Zihan akan masakin makanan yang enak untuk mas," ucapnya.

__ADS_1


"Iya sayang," sahut sang suami menangkap wajah cantik milik sang istri.


"Sekarang mas tinggal duduk manis aja tunggu masakan Zihan matang oke!" ucapnya dengan senyuman termanis.


Gibran menurut saja ia langsung mendaratkan bokongnya di kursi meja makan, meneliti setiap pergerakan lincah sang istri yang sangat pandai dalam hal dapur. Kini semuanya sudah siap dimeja makan dengan telaten Zihan melayani sang suami, mengambilkannya makanan.


♡♡♡


Sejuk semilir angin menyapa kedua insan yang kini tengah berada di taman belakang rumahnya. Menikmati waktu kebersamaan yang sempat beberapa hari lalu hilang karena kesibukan masing-masing. Namun kini waktu seakan menebus semuanya, walau hanya berdiam diri dirumah tapi setidaknya itu bisa mengganti waktu yang telah hilang dan takkan pernah terulang.


"Mas," panggil Zihan yang kini tengah menyandarkan kepalanya dibahu sang suami.


"Apa sayang?" sahutnya membelai pucuk kepala Zihan.


"Apa Mas keberatan sama profesi aku sekarang yang terlalu sibuk?" tanyanya ragu penuh dengan kecemasan.


Gibran terlihat mengelengkan kepalanya ragu, jujur dari lubuk hati terdalam Gibran ia menginginkan Zihan untuk berhenti bekerja dan fokus untuk menjadi seorang ibu rumah tangga. Tapi ia tak mau egois dan mengekang Zihan karena keinginannya, "Mas tidak akan melarang ataupun membatasi kegiatan kamu asalkan satu pesan, Mas. Kamu harus bisa membagi waktu antara pekerjaan kamu dengan kewajiban kamu sebagai istri," tuturnya.


"Makasih, Mas," sahut Zihan merasa senang dengan respons sang suami yang tak membatasi geraknya.


Keduanya larut dalam obrolan santai sesekali tawa dan canda mewarnai perbincangan keduanya.


'Terimakasih ya Allah karena telah menjadikan dia sebagai imamku,' batin Zihan.


Waktu yang terbuang dengan percuma tidak akan bisa terulang. Pergunakanlah waktu dengan sebaik-baiknya. Bijaklah dalam mempergunakan waktu yang telah Allah berikan, jangan biarkan waktu terbuang sia-sia hanya karena kehidupan dunia semata. Prioritaskan yang memang sudah seharusnya diprioritaskan. Utamakan yang memang sudah seharusnya diutamakan.


"Kamu harus jaga kesehatan jangan sampai kesibukan kamu menjadikan kamu lupa akan betapa pentingnya menjaga kesehatan," nasihat gibran untuk sang istri.

__ADS_1


"Siyap 86," kekehnya seraya memberi hormat layaknya hormat kepada bendera merah putih.


"Istri, Mas memang cerdas," ujarnya mengecup pucuk kepala Zihan.


__ADS_2