
“Jika aku tahu rasanya berdamai dengan
masa lalu seindah ini, mungkin sudah lebih dulu aku melakukannya.”
♡♡♡
Suasana kebahagian masih meliputi Zihan dan Gibran, rasanya kata syukur belum cukup untuk mengungkapkan rasa syukur mereka kepada Allah. Semuanya begitu indah dan sempurna.
“Assalamualaikum,” salam seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruang rawat Zihan.
“Wa'alaikumussalam,” sahut semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut.
“Zahra, gue kangen,” ungkap Zihan memeluk tubuh sahabat sekaligus kakak iparnya penuh kerinduan.
Zahra mengurai pelukan mereka. “Perasaan dua bulan lalu kita ketemu deh,” ucapnya
yang membuat semua orang tertawa. Iya, dua bulan lalu atau lebih tepatnya pada
saat Zahra melahirkan anak pertamanya.
Mungkin jika Zahra tidak terjatuh di kamar mandi kini dia juga tengah masa pemulihan
pasca melahirkan. Tapi Allah berkata lain, pada saat usia kandungan Zahra menginjak bulan ke-tujuh, dia mengalami pendarahan akibat jatuh di lantai kamar mandi. Dan alhamdulillah-nya Allah masih memberi Zahra waktu lebih lama lagi untuk hidup di dunia bersama dengan suami dan putra mereka yang baru berusia dua bulan. Muhammad Farzan Khalif Prasetya, adalah nama putra pertama mereka yang terlahir prematur. Meskipun prematur tapi bayi mungil itu tumbuh menjadi bayi yang memiliki tubuh gempal.
Zihan mendelik sebal dengan jawaban yang baru saja dilontarkan Zahra. “Kan, itu udah lama, Ra,” selanya.
“Iya, deh iya. Terserah ibu muda aja,” ujar Zahra.
“Loe juga sama,” cetus Zihan. Meskipun mereka kini saudara ipar, tapi mereka
tetaplah mereka, yang sangat heboh dan apa adanya di depan semua orang yang
dikenalnya.
“Loe udah baikan, kan?” tanya Zahra penuh perhatian. Zihan mengangguk mantap,
keadaannya memang sudah mendingan dan baik-baik saja.
“Alhamdulilah kalau gitu,” katanya dengan senyuman manis yang menghiasi wajah cantik berserinya.
“Halo, Ganteng apa kabar?” sapa Zihan pada putra kecil Zahra dan Galang yang kini berada dalam gendongan Galang.
“Baik, Aunty,” sahut Galang dengan suara khas anak kecil yang dibuat-buatnya.
“Zihan, Ayah sama Bunda pulang dulu,” ucap Windi.
“Iya, Bun hati-hati di jalan,” sahut
Zihan.
“Zaka juga pulang, Kak,” timpal Zaka.
Zihan mengangguk, lantas menyalami kedua orang tuanya. Setelahnya Yulia, dan Prasetya juga pamit pulang. Hanya Zahra dan Galang yang belum pulang. Tadi putra mereka sudah ikut dibawa pulang oleh Yulia dan Prasetya, karena rumah sakit bukanlah
tempat yang bagus untuk bayi mungil seperti Farzan.
“Loe gak pulang dulu, Ran. Baju loe udah kaya gembel,” celetuk Galang yang membuat
__ADS_1
dua ibu muda itu tertawa bahagia.
“Loe mah, Kak ngehina gue mulu kerjaannya,” sahut Gibran.
“Iya, ganti baju dulu gih Mas,” titah
Zihan.
“Iya, nanti juga ada yang nganterin baju kok ke sini,” sahut Gibran yang
tadi sudah menghubungi sopir kantornya untuk membelikan dia pakaian.
“Nyuruh-nyuruh mulu loe mah kerjaannya,” ledek Galang.
“Bukan gitu, Kak. Gue gak mau ninggalin
istri sama anak gue,” katanya seraya melirik istri dan putrinya yang sedang
berada di dalam box bayi.
“Permisi, Pak ini pakaian yang tadi bapak minta,” ucap seorang laki-laki paruh baya
dengan seragam sopirnya menyerahkan sebuah paper bag berisi satu setel pakaian.
“Terima kasih,” ucap Gibran mengambil alih paper bag-nya. Laki-laki paruh baya itu hanya mengangguk dengan seutas senyumnya, lalu keluar dari ruang rawat, Zihan.
♡♡♡
Suasana ruang rawat Zihan sepi senyap karena seluruh keluarga besar mereka sudah pulang, dan tinggallah Gibran sang suami yang siap sedia membantu dia mengurus putri pertama mereka. Pintu ruangan rawat Zihan terbuka dan muncullah sosok seorang perempuan cantik dengan balutan ghamis dan khimar dengan warna senada, yang dipadukan dengan plat shoes berwarna hitam, tak ketinggalan sling bag dengan motif bergaris warna hitam putih.
“Maaf ganggu,” ucapnya setelah berdiri tepat di samping bed Zihan. Zihan hanya tersenyum ramah. “Enggak papa santai aja.”
“Gue.ke sini cuman mau liat keadaan Zihan,” katanya. “Makasih yah, Sis udah dateng,”
sahut Zihan pada perempuan bernama Siska, yang tak lain dan bukan adalah
perempuan yang selalu membuat Zihan naik darah karena menahan amarah.
“Kedatangan.gue ke sini juga buat minta maaf sama kalian, terlebih lagi sama loe, Han. Gue udah banyak nyakitin loe,” ucapnya tulus dan menyesal. Dia sadar bahwa perbuatan dan kelakuan dia selama ini sudah melukai banyak hati, dan dia berharap orang-orang yang telah dia sakiti berkenan untuk memberikan maafnya.
Melihat betapa hancur dan rapuhnya Shakira, adik semata wayangnya yang selalu kena bully teman-teman sekolahnya membuat Siska sadar bahwa karma itu ada. Dan bukan dia yang merasakan balasan atas perbuatan buruknya, melainkan adik yang sangat dia cintai menjadi korbannya.
Zihan tersenyum bahagia mendengar permintaan maaf Siska. “Gue udah maafin loe sebelum loe minta maaf sama gue,” ucap Zihan begitu tulus dan ikhlas. Karena memang dia tak pernah menaruh dendam
pada Siska. Kesal, jengkel, dan marah memang dia rasakan. Tapi dia cukup tahu
diri, dirinya jauh dari kata sempurna dan sudah menjadi hal yang wajar bahwa
ada orang yang tak suka dengan dirinya, termasuk Siska. Perempuan yang tak
pernah absen membully dan memperlakukan Zihan dengan tidak manusiawi.
Siska meneteskan air mata haru dan bahagianya karena sudah menerima maaf dari Zihan. “Maksih, Han makasih.” Zihan mengangguk dan lagi-lagi memberikan senyuman.termanisnya. “Udah lupain aja.” Dalam hati Siska tak henti-hentinya mengucap kata syukur. Allah masih berbaik hati padanya.
“Mas,” bisik Zihan seraya mengguncangkan lengan sang suami dengan sorot mata yang
sulit untuk diartikan. Mengerti dengan tatapan istrinya. “Iya, Sis gue maafin
__ADS_1
loe. Tapi loe juga harus maafin gue.”
Kerutan.di kening Siska menunjukkan bahwa dirinya tidak mengerti dengan maksud dan perkataan Gibran. “Pas acara reuni dulu gue sengaja ngiyain ajakan loe buat pergi bareng, karena dulu gue dilanda rasa cemburu pas liat Zihan dianterin
pulang si Irfan,” ungkap Gibran.
Zihan mendelik tak percaya dengan kejujuran suaminya. Sorot matanya menuntut agar.Gibran menjelaskan semuanya. “Iya santai aja,” sahut Siska dengan seutas senyumnya. 'Karena gue juga manfaatin loe buat manas-manasin Irfan.
Bukannya dia yang kepanasan ini malah gue yang jadi kebakaran,’ lanjut Siska dalam hati. Dia tak mampu untuk membongkar isi hatinya yang sudah lama menaruh perasaan lebih pada
Irfan kepada orang lain. Cukup dirinya saja.
“Selamat atas kelahiran anak pertama kalian, gue ikut bahagia,” tuturnya mencoba
mengalihkan topik pembicaraan. “Thanks, Sis.”
“Namanya siapa, Cantik?” tanya Siska begitu manis pada putri kecil Zihan dan Gibran.
“Nadhira, Aunty Sis,” jawab Zihan dengan menirukan suara bayi.
Siska tertawa bahagia melihat kebahagian yang terpancar jelas di wajah Zihan dan
Gibran. Hatinya ikut berbahagia, ada kepuasaan tersendiri dalam dirinya.
Mungkin jika dulu dia bisa bersikap baik seperti sekarang ceritanya tidak akan
seperti ini. Tapi dia sadar bahwa tak sepantasnya terus menerus meratapi masa
lalu dan menyesali hal yang telah terjadi.
Kita.hidup di masa sekarang bukan masa lalu, tidak akan pernah ada yang bisa merubah.dan menghilangkan masa lalu. Jadikanlah masa lalu sebagai cerminan diri dalam.memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
♡♡♡
“Maksud, Mas tadi apa?” todong Zihan setelah Siska pulang. “Bukan apa-apa,” sahut.Gibran. Zihan mendengus kesal, memulai mode diam seribu bahasanya.
“Itu masa lalu, Han udah lewat juga. Kalau mau marah telat,” ucap Gibran yang tak
mau lagi membahas masa lalu. Zihan masih bertahan dengan gemingnya, menuntut
sang suami untuk menjelaskan duduk perkaranya. Gibran menghela napas kasar. “Udah dong, Han. Jangan mulai deh.”
“Itu cuman masa lalu, pas kita di undang ke acara reuni Siska ngajak aku buat
dampingin dia. Ya, karena waktu itu aku dalam keadaan bad mood ya udah aku iyain aja ajakan dia. Sekalian buat kamu
panas, ehk taunya malah aku yang kepanasan karena ngeliat kamu sama Irfan,” jelasnya.
“Kenapa harus pake manfaatin Siska segala, Mas!” sela Zihan. “Ya, ‘kan itu masa lalu.
Udahlah lupain aja lagian si Siska-nya juga gak masalahin soal ini. Kok jadi
malah kamu yang ribet.”
“Bukan gitu, tapi kan....”
“Udahlah, Han jangan ngajak berantem dulu. Aku butuh istirahat,” potong Gibran cepat.
__ADS_1
Zihan menghela napas pasrah. “Ya udah, maaf.”
Gibran hanya mengangguk lantas merebahkan tubuhnya di sofa yang ada di ruang rawat Zihan. Kondisi fisiknya masih lelah dan tak ada waktu untuk berdebat hal yang tidak penting seperti tadi.