Ku Tikung Dia di Sepertiga Malam

Ku Tikung Dia di Sepertiga Malam
Part 19 | Egois


__ADS_3

"Apa aku harus mengikuti keinginan suamiku atau malah mengikuti egoku?"


♡♡♡


Berhubung pekerjaan yang sangat menumpuk dan mengharuskan Zihan untuk bekerja lembur, dan itu menyebabkan ia harus pulang telat bahkan sangat telat dari biasanya, lebih tepatnya pukul sembilan malam.


Dengan langkah ragu ia memasuki rumahnya. Gelap! Kesan pertama pada saat ia memasuki rumah yang ditinggalinya bersama dengan sang suami. Tangannya meraba saklar lampu namun belum sempat ia mendapatkan saklarnya tiba-tiba saja lampu menjadi terang benderang.


Zihan menangkap sosok sang suami yang bersidekap seraya menyandarkan bagian tubuh sebelah kanannya di tembok, "Masih inget jalan pulang? Aku kira kamu udah lupa! dan tersesat! dijalan!" ucapnya dengan sorot mata tajam.


Zihan enggan untuk sekedar menatap sorot mata sang suami ataupun berniat menjawab ucapan sang suami yang menyerupai sindiran pedas untuknya.


"Apa aku tidak bisa memenuhi semua kebutuhanmu! sampai-sampai kamu harus bekerja sampai larut malam begini!" ucapnya dingin penuh dengan penekanan.


"Jawab!" tegasnya.


"Ma.. Maaf, Mas," hanya kata maaf yang terlontar dari mulut Zihan.


"Cukup! Jangan menampilkan air mata kamu didepan aku. Semuanya tak akan baik-baik aja hanya dengan air mata kamu!"


Gibran sudah tersulut emosi ia langsung pergi berlalu begitu saja meninggalkan Zihan yang sudah mulai terisak, 'Maafkan aku, kamu harus memilih antara pekerjaanmu atau pernikahan kita,' batinnya sebenarnya sakit teriris setiap kali melihat tangis serta isakan yang keluar dari bibir ranum milik sang istri, tapi ia harus tegas karena ia adalah kepala keluarga yang sudah seharusnya membimbing serta menafkahi segala kebutuhan sang istri baik lahir maupun batin.


Pergi bukan untuk lari dari masalah melainkan untuk menenangkan pikirannya, ia takut akan kembali melontarkan kata-kata yang menyakitkan untuk istrinya, maka pergi dengan diam seribu bahasa adalah caranya untuk meredam emosi yang kini menguasai.


Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan apabila seseorang marah hendaklah ia diam, Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallambersabda:


إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ.


"Apabila seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam."


Zihan tersungkur di lantai menyandarkan punggungnya di tembok menyembunyikan kepala diantara kaki yang ia tekuk dan menangis dengan isakan pilunya.


Apa salah jika aku ingin meniti karierku sama sepertimu? Apakah salah? Kamu memang suamiku imam pilihanku tapi apakah pantas kamu membentak serta memperlakukanku seperti ini. Jeritan hati Zihan terdengar sangat memilukan.


Kamu Egois! Aku ini istrimu bukan mainanmu. Aku berhak untuk memilih karierku sama sepertimu. Egonya terlalu tinggi tak bisa menerima semuanya.


Tangis sudah tak bisa dibendung lagi sampai tanpa sadar ia terlelap masih dengan posisi yang sama seperti tadi. Pikirannya kacau dipenuhi ego yang terlampau tinggi dan keras kepala yang sudah menjulang tinggi juga.

__ADS_1


♡♡♡


Pagi telah menyapa menggantikan malam yang gelap gulita, menggantikan bulan yang terang benderang dengan sinar mentari penuh kehangatan.


Gibran tersentak kaget melihat sang istri yang tertidur dengan posisi kepala yang disembunyikan diantara lekukan kakinya yang ditekuk.


"Bangun!" ucapnya menepuk pelan bahu sang istri. Hatinya merasa tersentil! Bisa-bisanya ia membiarkan sang istri terlelap dengan posisi tak layak sedangkan ia tidur dengan nyenyak.


Dengan perlahan Zihan mengangkat kepalanya mengerjapkan mata untuk menyesuaikan cahaya yang masuk tiba-tiba, "Mas," lirihnya.


Melihat mata sembab serta wajah lusuh sang istri membuat hati Gibran kembali merasakan sakit serta menyesali perlakuannya semalam. "Bangunlah," ucapnya lembut membantu Zihan untuk berdiri.


Baru beberapa langkah kaki Zihan melangkah tiba-tiba saja ia kembali merasakan pusing serta tubuhnya limbung jatuh dalam dekapan sang suami. Gibran tersentak kaget mendapati tubuh sang istri yang sudah tak sadarkan diri dengan sigap dan langkah cepat ia langsung membawa tubuh Zihan menuju kamar mereka.


Membaringkan tubuh Zihan di ranjang, melepaskan kerudung serta sepatu yang masih Zihan kenakan. Setelahnya ia bangkit mencari minyak kayu putih untuk dioleskan disekitar hidung serta leher Zihan agar segera sadar dari pingsannya.


Zihan mengerjapkan matanya saat ia mencium sesuatu yang menyeruak indera penciumannya.


"Tidurlah," ucap Gibran saat melihat Zihan akan bangkit dari posisi berbaringnya.


Gibran pergi berlalu begitu saja meninggalkan Zihan yang masih terbaring lemah tak berdaya.


"Setega itukah kamu, Mas meninggalkan aku yang kini tengah dalam keadaan seperti ini," lirihnya air mata tak terasa kembali membanjiri wajahnya yang sudah pucat pasi.


Suara handel pintu dibuka menyapa rungu Zihan dengan cepat ia menghapus air matanya, 'Kamu kembali, Mas,' batinnya tersenyum bahagia mendapati sang suami yang datang kembali dihadapannya.


Gibran datang dengan membawa nampan berisi air putih serta beberapa lembar roti serta obat untuk sang istri. Ia membantu Zihan untuk duduk, "Makan," titahnya menyodorkan selembar roti kehadapan Zihan.


Zihan menggeleng tak mau lidahnya terasa pahit dan menolak makanan yang Gibran sodorkan.


"Makan!" tegasnya tak ingin menerima penolakan ataupun bantahan dari Zihan.


Dengan terpaksa Zihan mengambil selembar roti itu dari tangan Gibran dan memasukan kemulutnya.


"Mas, minum," ucapnya seperti berbisik namun Gibran masih bisa menangkap jelas apa yang dikatakan oleh istrinya.


"Aku harus berangkat kerja ada meeting mendadak pagi ini," ucapnya setelah Zihan meminum obat yang diberikan olehnya.

__ADS_1


Zihan hanya mengangguk pasrah, "Iya, Mas."


"Assalamualaikum," pamitnya.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh," sahut Zihan menyalami punggung tangan Gibran. Zihan tertegun kaget melihat Gibran yang pergi berlalu begitu saja tanpa sempat mencium keningnya seperti biasa.


♡♡♡


Setibanya di kantor Gibran langsung terduduk lemah di sofa yang berada di ruangannya, ia mengusap wajahnya kasar, "Gue benci keadaan seperti ini," ucapnya frustrasi.


Lelah! Ya, Gibran lelah menghadapi sifat keras kepala yang Zihan miliki. Selalu saja seperti ini jika menyangkut tentang pekerjaan yang Zihan geluti dan sangat ia cintai.


Resign! Hanya itu yang Gibran inginkan, bukan tanpa alasan ia menyuruh Zihan untuk berhenti bekerja tapi itu semua karena kondisi fisik Zihan yang akhir-akhir ini selalu drop dikarenakan pekerjaannya yang selalu saja menumpuk. Berangkat pagi dan tak jarang pula pulang larut malam, hal itu lah yang semakin membuat Gibran khawatir dengan kesehatan sang istri. Sudah beragam cara ia lakukan agar Zihan bersedia untuk berhenti dari pekerjaannya namun tetap saja hasilnya nihil tak berarti apa-apa.


Menjalani rumah tangga memang tak semudah kelihatannya banyak kerikil kecil yang menghalangi tak jarang pula batu besar menghadang langkah biduk rumah tangga yang dijalani. Menjadi kepala keluarga serta imam rumah tangga membuatnya harus banyak belajar lagi pada sang papah dan ayah mertua. Menghadapi sifat keras kepala istrinya membuat ia kehabisan akal bahkan mungkin kehabisan stok kesabaran.


Suara ketukan pintu menyadarkan Gibran dari lamunannya tentang masalah rumah tangga yang kini menghampirinya.


"Masuk!" titahnya dan menampilkan sosok seorang perempuan yang tak lain dan bukan adalah Saras--sekertarinya.


"Maaf pak ada beberapa berkas yang harus ditandatangani," ujarnya.


"Simpan di meja," sahut Gibran.


Sarah menyimpan berkas-berkas itu, "Maaf, Pak lima belas menit lagi meeting akan dilaksanakan," ucapnya dan langsung pergi berlalu dari ruangan Gibran setelah ia pamit terlebih dahulu pada atasannya.


♡♡♡


Zihan merasakan sekujur tubuhnya terasa sakit serta kepalanya yang berdenyut hebat. Berada di rumah seorang diri adalah hal yang sangat tidak disukainya. Bosan! Ya, kini yang ia rasakan menikmati rasa sakitnya seorang diri dengan luka lebar yang menganga dirongga dada membuat ia semakin merasakan sakit yang luar biasa.


Fisik sudah pasti dan kini hatinya pun ikut merasakan sakit yang sama bahkan lebih parah. Mengingat perlakuan serta bentakan yang dilayangkan Gibran untuknya, begitu sangat menyakitkan.


Apa yang harus aku pilih? Pekerjaan atau pernikahan? Aku gak bisa memilih diantara keduanya, karena aku menginginkan keduanya. Hidup itu pilihan! batinnya bersuara agar Zihan segera memutuskan pilihannya.


Aku memang mencintaimu tapi aku juga mencintai pekerjaanku. Jika saja kamu berlapang dada untuk mengijinkan aku tetap berkarier betapa bahagianya aku berada di sampingmu. Jeritan hatinya.


Apa harus aku meninggalkan dia yang aku cintai?

__ADS_1


__ADS_2